PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Luluh-Beku


__ADS_3

Bersembunyi dan tidak peduli adalah zona aman.


Bunyi bel menghentikan kegiatan membacanya tepat di kalimat itu. Arkais menggigit jempolnya, entah kenapa hari ini perasaan hatinya begitu kacau. Ia melewatkan mata kuliah hanya dengan membaca buku yang tidak berkaitan sama sekali dengan mata kuliah yang sedang berlangsung. Hingga kelas usai dan ia bergegas menuju ke tempat sakralnya di lantai tiga perpustakaan.


Setelah menyebrangi jembatan penghubung dan menemukan seekor burung ayam-ayaman keluar dari persembunyiannya. Langkah kaki Arkais berhenti di muka pintu perpustakaan, di tangga ke tujuh. Entah ruh mana yang berbisik membujuknya untuk pergi ke danau kampus. Selama ini ia hanya melihatnya ketika melintas, tidak pernah benar-benar duduk di taman pinggir danau.


Ia melihat jam di tangannya, sejam lagi perpustakaan tutup. Tanggung rasanya jika harus naik ke atas. Ia memalingkan tubuh, melangkah menuju danau kampus yang hanya berjarak 300 meter dari perpustakaan. Ini pertama kalinya ia melalui jalan perpustakaan-danau dengan berjalan kaki. Ada perasaan aneh ketika ia menyebrangi simpang gedung mahasiswa FISIP dan Pertanian yang ternyata sangat ramai. Ia seperti baru saja sampai di sebuah kota asing.


Ia menyapu pandang ketika sampai di pinggir danau, matanya jeli mencari tempat paling aman dan nyaman. Matanya dengan tajam dan akurat melakukan pemindaian situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan pada lokasi sekitar danau. Hasil pemindaiannya menangkap sebatang pohon yang cukup rindang, sepertinya tempat itu cukup layak untuknya. Ia bergegas menuju ke naungan pohon itu, duduk di bawahnya dan mulai mengeluarkan buku yang masih terbungkus plastik. Sebuah novel keluaran terbaru dari salah satu penulis favoritnya.


Arkais mengeluarkan perkakasnya, ia mulai memasang earphone lalu memutar lagu instrumental dalam daftar lagu kesukaannya. Diselingi gesekan senar biola, ia memandang danau kampus yang tenang di bawah matahari sore. Sejenak ia memejamkan mata dan menghela napas panjang, lalu menceburkan diri ke dalam buku.


Ia begitu khusyuk menyerap kata demi kata, menikmati peristiwa demi peristiwa yang ditulis dalam novel itu. Berganti peran dari satu tokoh ke tokoh lain. Ia begitu menyukai saat-saat ketika ia tersedot ke dalam dimensi imajinasinya sendiri. Bertemu dengan para tokoh buatan para penulis, menjalani petualangan penuh tantangan hingga akhir cerita yang seringkali penuh kejutan.


Dalam ketenggelamannya, ia benar-benar terlepas dari rotasi bumi dan tidak lagi menyadari orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Bahkan waktu berjalan lebih cepat di luar dunianya. Lagu dalam daftar putarnya berhenti, tetapi ia belum sampai di akhir cerita. Dengan berat hati ia menarik diri untuk kembali ke dunia nyata. Ia menatap warna air danau yang kini berwarna lebih keemasan dari sebelumnya. Matahari telah tenggelam hampir sempurna, ia mengemasi barang-barangnya lalu bersiap untuk beranjak pulang.

__ADS_1


Ketika berdiri, tidak sengaja matanya menangkap sesosok gadis di seberang danau, duduk diam seperti sedang menuliskan sesuatu di buku yang tersandar di paha kanannya. Ia terlihat begitu menikmati aktivitas itu. Arkais tersenyum nakal, sebuah ide jahil melintas di kepalanya. Ia mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke seberang danau. Batu itu mendarat dengan sempurna hingga mengagetkan si gadis. Sebenarnya perbuatan iseng itu ia lakukan untuk mengingatkan sang gadis bahwa hari telah sore. Gadis itu terlihat kelagapan dan bergegas pergi. Mungkin ia termakan rumor cerita horor di danau ini. Arkais masih senyum-senyum sendiri di jalan pulang ke indekosnya sambil berusaha mengingat wajah samar-samar gadis itu.


Hari ini adalah tempat baru, suasana baru, keberanian berbuat hal baru dan sebuah wajah baru yang samar terngiang-ngiang di kepalanya.


Keesokan harinya Arkais bangun lebih pagi. Tidak ada yang istimewa di malam sebelumnya, tidak ada mimpi aneh yang membuatnya harus bangun tengah malam. Arkais bangun seperti biasa dengan perasaan yang biasa-biasa saja dan menjalankan aktivitas seperti biasa juga. Tetapi yang berbeda adalah sesuatu di dalam kepalanya. Wajah samar-samar itu menjadi residu yang cukup tebal di gelas ingatannya. Ia berusaha mengabaikannya dengan cara memasak sarapan pagi. Banyak hal yang harus ia selesaikan hari ini, residu ingatan semacam itu hanya akan merusak konsentrasinya.


Kegiatan masak sarapan pagi yang sakral terganggu oleh bunyi nyaring gawainya. Dengan perasaan kesal ia mengambil gawai itu, sebuah nomor asing muncul di layar. Ia mengengernyitkan dahi, jarang sekali ada nomor asing menelpon kecuali para penipu yang menawarkan hadiah dengan tebusan tidak masuk akal. Ia bimbang antara mengangkat atau mengabaikan panggilan itu. Ia memutuskan untuk mengangkat panggilan itu ketika gawainya berbunyi untuk kedua kali.


"Halo,"


"Siap Tuan Editor yang terhormat."


"Jangan lupa berikan ruh dalam setiap tulisan-tulisanmu itu. Ada beberapa bagian yang terasa teramat sepi seperti kuburan."


"Iya Tuan Editor."

__ADS_1


"Oke Ark, selamat pagi."


"Pagi."


Arkais melemparkan gawainya ke atas tempat tidur. Suara khas itu adalah milik seorang lelaki aneh yang ia juluki sebagai Tuan Editor. Tuan Editor adalah teman sekelasnya di kampus. Mereka saling kenal sejak secara tidak sengaja si Tuan Editor membaca puisi dalam buku Arkais yang tertinggal di kursi kelas. Lalu selama berhari-hari ia membujuk Arkais untuk bergabung dengan UKM Jurnalistik. Ia mengatakan bahwa Arkais memiliki bakat menulis. Arkais awalnya tidak terlalu mengapik orang itu hingga ia geram juga direcoki setiap hari. Dengan berat hati akhirnya ia mengiyakan permintaan si Tuan Editor.


Beberapa bulan yang lalu Arkais ditantang untuk menulis sesuatu di luar genre-nya. Ia ditantang untuk menulis sebuah artikel tentang partai poltik yang semakin gencar masuk dalam lingkungan kampus dan berhasil menguasai organisasi-organisasi kampus yang cukup besar, terutama organisasi keagamaan.


Arkais secara terang-terangan menolak tantangan itu, ia bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Baginya terserah saja jika partai politik mau masuk kampus dan menguasai organisasi apapun. Toh, itu menunjukkan kualitas organisasi tersebut. Ia merasa bahwa sebagai mahasiswa seharusnya mereka tidak perlu diingatkan dengan sebuah artikel atau apapun. Mereka yang mengizinkan partai politik ikut campur dalam organisasi kemahasiswaan berarti telah tersesat atau mungkin mereka memang memiliki tujuan lain selain menyuarakan kebenaran.


Baginya, mahasiswa yang kehilangan kenetralan dan memilih berpihak pada salah satu partai atau elire politik adalah mahasiswa yang tidak memiliki pondasi kuat. Seharusnya, jika tidak bisa netral mereka bisa memilih untuk mendirikan pihak yang tidak berpihak pada kubu-kubu yang sedang berseteru. Lalu berusaha untuk menjadi lebih kuat dari semua kubu sehingga bisa berdiri secara independen.


Tetapi, Tuan Editor tetap bersikukuh. Menurutnya, sebagai manusia terpelajar, organisasi mahasiswa harus berpihak karena keberpihakan akan membantu orang-orang yang memiliki kualitas sebagai pemimpin serta mendapatkan momentum yang tepat bisa menduduki kursi-kursi penting di pemerintahan. Seperti biasa, perdebatan kusir itu tidak pernah berujung pada kesimpulan yang memuaskan kedua belah pihak. Sehingga Arkais terpaksa mengiyakan daripada terus diteror. Ia mengerjakan artikel itu dengan asal-asalan, dengan data seadanya sampai membuat Tuan Editor geram dan menyuruhnya mengulang hingga beberapakali.


Pagi ini ternyata Tuan Editor masih menerornya dengan deadline artikel itu. Ia kembali ke dapur sambil mengurut dahi. Ia mencoba membayangkan rekontruksi perasaan takut orang-orang itu. Perasaan takut akan sesuatu yang mereka prediksi sendiri.

__ADS_1


Menurutnya akan lebih baik jika membiarkan sesuatu itu berjalan sesuai dengan keadaannya. Arkais menyesap kopinya sambil menatap langit pagi, ia berjanji tidak akan menyelesaikan artikel itu apapun yang terjadi. Jika memang nanti akan ada bentrokan besar di kampus, biarkan saja. Bukankah demokrasi muncul dari keadaan darurat.


__ADS_2