PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Liburan


__ADS_3

Aura menggeleng cepat, ia menolak keras tawaran Arkais mendaki Bukit Kaba di Rejang Lebong. "Tidak, itu terlalu melelahkan. Kita bukan cuma mau datang ke satu lokasi Ark."


Arkais memajukan tubuhnya, mencoba merayu Aura. "Tapi, kamu bisa lihat senja dari atas sana Ra."


"Melihat senja dari atas gunung?" Aura mengernyitkan dahi.


"Iya Ra, bakalan keren tuh, bisa jadi pengalaman baru."


Aura menimbang-nimbang tawaran itu, ia masih belum bisa mengikhlaskan keinginannya untuk melihat matahari tenggelam di sepanjang pantai Bengkulu. Ia belum bisa membayangkan, apa jadinya melihat senja tanpa ditemani suara debur ombak, suara desir pasir, aroma laut, dan bayangan matahari tenggelam yang membelah lautan.


Sejak tadi, Rin dan Gio hanya menjadi pendengar yang baik dalam diskusi. Mereka tidak banyak bicara setelah menyampaikan rencana-rencana mereka.


Sebelumnya, Adagio menyampaikan konsep liburannya yaitu mengajak sahabat-sahabatnya itu untuk ikut tur keliling provinsi Bengkulu. Tur yang ia maksud adalah kegiatan amal berupa pertunjukan musik akustik di taman kota atau tempat wisata yang ada di kabupaten-kabupaten. Menurutnya, mereka bisa melaksanakan konser musik sambil jalan-jalan. Hanya Rin yang menyetujui tawaran itu. Sedangkan Aura dan Arkais dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua tahu jika Adagio memiliki jadwal naik panggung, maka mereka tidak akan punya waktu bermain bersama. Setelah pertunjukkan musik selesai, Gio pasti lebih banyak menghadiri undangan para penggemarnya. Mereka tidak mau kalau akhirnya mereka hanya menjadi tim sorak dalam pertunjukkan musik Adagio. Itu sangat menyebalkan jika dibayangkan.


Rin memiliki rencana perjalanan yang paling seru, yaitu pergi liburan di Pulau Enggano. Pulau di tengah lautan yang biasa ditempuh selama 12 jam lebih dengan menggunakan kapal feri. Itu memanglah sebuah tawaran yang menggiurkan dan menantang. Tetapi, melihat cuaca beberapa pekan terakhir lebih banyak memperlihatkan badai angin. Mereka akhirnya berpikir ulang, tidak satupun dari mereka yang pernah menempuh perjalanan laut lebih dari dua jam.


Mereka saling pandang satu sama lain. Hampir sejam lebih mereka berdiskusi. Namun belum ada satupun rencana yang disetujui semua orang.


"Ra, dari semua pantai di Bengkulu, pantai mana yang paling ingin kamu datangi untuk melihat matahari tenggelam?" tanya Arkais memecah hening.


"Antara Pantai Kaur dan Pantai Mukomuko."

__ADS_1


"Kamu gimana Rin, selain Enggano ada gak destinasi lain yang pengen kamu kunjungi?" Rin menerawang, mencoba mengingat destinasi lain yang ingin ia kunjungi.


"Mungkin ke air terjun Curug Sembilan di Bengkulu Utara," ucap Rin pelan.


"Jangan tanya aku Ark," sergah Adagio melihat Arkais hendak memalingkan wajah ke arahnya.


Arkais mengelus dagunya, ia kembali menatap Aura, "Ra, sangat melelahkan kalau kita harus menempuh perjalanan Kaur-Bengkulu Utara dalam waktu satu atau dua hari."


"Hemm, begini Ra, di dekat desaku di Argamakmur ada sebuah tempat yag sangat elok untuk menikmati matahari tenggelam." Arkais mencoba menawarkan solusi lain.


"Pantai Lais?" Aura mendengus kecewa.


"Bukan, di area persawahan Kemumu. Kamu bisa melihat matahari terbit dari balik gunung sekaligus matahari tenggelam dengan horizon laut yang membentang luas. Bagaimana?"


"Tapi, kalau masih ada sisa waktu kalian harus mengantarkan aku ke Kaur ya," ujar Aura pelan.


Semua orang tersenyum. sepakat sudah. Mereka akan pergi ke Bengkulu Utara tepatnya di kota kelahiran Arkais dan Adagio, kota Argamakmur.


Seminggu kemudian, mereka bersiap untuk liburan selama beberapa hari di Argamakmur. Arkais dengan senang hati menawarkan diri menjadi tuan rumah. Orang tua Arkais juga tidak keberatan, mereka merasa senang akhirnya Arkais memiliki sahabat lain selain Adagio. Bahkan kedua orangtuanya sangat penasaran dengan sosok Aura dan Rin.


Dalam perjalanan ke Argamakmur, Rin terlihat amat bahagia. Ia terkesima dengan pepohonan dan suasana pedesaaan. Wajar saja, ia adalah anak orang kaya. Pemilik saham terbesar di beberapa perkebunan sawit di Sumatera dan Kalimantan. Ia bahkan lebih mengenal seluk beluk Kota Jakarta daripada Bengkulu. Jika mau, ia bisa saja bolak-balik Jakarta-Bengkulu sehari tiga kali. Namun, hingga hari ini ia masih tidak menjawab jika ditanya kenapa ia memilih kuliah di Bengkulu.


Meski begitu, Rin bukan tipe gadis manja. Dengan latar belakang keluarga yang sangat mungkin untuk memberikan kehidupan super mewah, ia tidak malu naik motor sederhana milik Aura, berpanas-panasan ketika berkeliling kota, masuk ke pasar tradisional, atau makan di lapak-lapak pinggir jalan.

__ADS_1


Menjelang pukul tiga sore, mereka berangkat menuju Kota Argamakmur. Estimasi waktu yang akan mereka tempuh akan menghabiskan waktu satu jam. Adagio tidak bersama mereka dalam perjalanan itu, ia bilang akan menyusul setelah selesai latihan musik bersama teman-temannya.


Sore itu hari sangat cerah, jalanan tidak terlalu ramai. Mereka melewati pedesaan yang masih asri, perkebunan dengan berbagai jenis tanaman, jembatan dengan sungai deras dan bebatuan besar di dalamnya.


Arkais yang mengiring mereka dari belakang melihat Rin begitu antusias selama perjalanan. Apalagi ketika mereka bertemu dengan segerombolan kerbau yang sedang menyeberang jalan. Jika tidak dihalangi oleh Aura, Rin sudah turun untuk menyentuh kerbau-kerbau itu.


Sejam kemudian, mereka memasuki area persawahan. Aura mengendurkan tarikan gas motornya. Mereka terkesima dengan pemandangan yang disajikan oleh pemandangan alam desa Kemumu. Kanan kiri jalan diapit oleh dua sungai irigasi yang mengalir deras, banyak orang yang mandi atau duduk di pinggir sungai. Kepala mereka sedikit menengadah, menatap sebuah bukit yang berdiri gagah. Sebuah bukit yang terlihat seperti gunung bertopi awan.


Aura dan Rin terlihat sangat menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata mereka. Arkais hanya tersenyum, gas motor Aura semakin mengendur hingga akhirnya berhenti di tepi jalan. Rin melompat dari atas motor, lalu merentangkan kedua tangannya. Beberapa petani yang berada di dekat sana menoleh ke arah Rin. Rin tidak peduli, ia menarik napas panjang, udara di Kemumu masih sangat segar meski telah sore.


Aura menyusul Rin, melakukan hal yang sama. Lalu mereka sibuk berswafoto, Arkais hanya berdiri di atas motor, ia melipat tangan di depan dada sambil memerhatikan tingkah laku dua sahabat barunya itu.


Setelah puas berswafoto, mereka melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah Arkais, mereka disambut oleh kebun kecil berisi bunga rosella yang menjulang tinggi, ujung-ujung dahannya melengkung dengan bunga merah gelap menggantung di antara daun-daun. Pohon bunga rosella itu hampir menutupi rumah Arkais.


"Assalamualaikum," ujar Arkais dengan suara agak keras sambil melepas sepatu sebelum masuk ke rumah.


"Waalaikumsalam" sahut beberapa suara dari dalam rumah.


Tidak lama setelah itu, ibu dan ayah Arkais muncul dengan senyum mengembang. Mereka menyambut kedatangan Rin dan Aura dengan sangat ramah. Setelah sedikit berbasa-basi, mereka mempersilahkan keduanya masuk ke dalam. Ayah Arkais mengingatkan agar mereka mengunci setang motor.


Rumah Arkais tidak semewah rumah Rin yang memiliki lebih dari sepuluh kamar tidur, halaman rumah yang bisa digunakan untuk bermain futsal, serta kolam renang di belakang rumah. Rumah Arkais hanyalah rumah sederhana yang dikelilingi tanaman obat, sayuran, dan bunga warna-warni. meski sederhana, rumah Arkais sangat nyaman dan menenangkan.


Setelah selesai menata barang di kamar, Aura dan Rin duduk di ruang tamu. Mereka memandangi monokrom yang tergantung di dinding. Ibu Arkais keluar dengan membawa es teh dan pisang goreng, mereka mengobrolkan banyak hal sore itu.

__ADS_1


Malam harinya, mereka membahas perjalanan besok sampai pukul sembilan. Setelah itu para gadis masuk ke kamar dan beristirahat. Sedangkan Arkais memilih menyelesaikan novel yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu.


__ADS_2