
Meja di sudut ruangan, sebuah jendela besar yang menghadap ke parkiran perpustakaan. Sepi yang menenangkan. Telah lama Arkais tidak berkunjung ke tempat favoritnya ini. Sejak ia bertemu Aura, ia kini memiliki lebih banyak tempat favorit, terutama tempat-tempat yang menyajikan panorama senja terbaik di kota Bengkulu.
Ia menarik kursi yang diselimuti debu tipis. Selama ia tidak berkunjung sepertinya tidak ada yang pernah menduduki kursi itu. Dadanya mengembang menghirup aroma ruangan yang masih tetap sama seperti dulu, keheningan juga membuatnya cepat kembali akrab dengan rasa nyaman.
Ia mengeluarkan komputer jinjing dari tasnya beserta dengan headphone dan sebuah buku catatan berwarna hitam yang belum juga penuh selama setahun terakhir. Ia menengadah, menatap langit-langit perpustakaan yang biasa-biasa saja. Di sana ia melihat banyak sekali ide-ide berterbangan menembus plafon dan awan-awan yang menaunginya. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata, lalu mencoba mengumpulkan ruh para leluhur dari segala penjuru. Ia ingin minta restu kembali ke dalam dunia imajinasi.
Beberapa saat berlalu, bola matanya bergerak cepat. Tiba-tiba wajahnya jatuh tertunduk, ia menghela napas panjang. Ia mengutuki diri sendiri. Bayangan wajah Aura yang baru saja melintas di kepalanya membuat segala ritual sebelum menulis menjadi buyar seketika. Ia mengurut glabellanya sambil melirik ke arah gawai yang tergeletak di atas meja. Lampu pemberitahuan pesan masuk belum berkedip.
Arkais tertawa kecil, ia mengakui kebiasaan barunya itu sebagai kebodohan. Apa yang sebenarnya ia harapkan dari Aura. Ia kembali membuat sebuah labirin pemikiran yang rumit di kepalanya, mencoba untuk membatasi pikirannya sendiri. Ia berusaha untuk menolak merasa diperlakukan secara istimewa, ia berusaha untuk menolak merasa dianggap lebih, dan ia dengan tegas menolak untuk berharap lebih.
Arkais menatap meja di seberang, tempat dulu Aura sering duduk dan asik sendiri. Ia kembali menghela napas, lalu menarik pandangannya dari meja kosong itu. Ia mengusap wajah, mencoba kembali fokus pada tujuan awalnya datang ke perpustakaan. Ia mengenakan headphone, memutar musik secara acak, lalu merapatkan kursinya ke arah meja.
Komputer jinjing di hadapannya telah menyala, garis hitam yang berdiri berkedip-kedip itu telah siap meninggalkan jejak kata-kata pada lembar kerja yang kini masih putih bersih. Cukup lama Arkais menatap garis yang berdiri berkedip itu. Ia termangu, lalu lintas di kepalanya macet total. Ide-ide yang tadi berterbangan menguap entah menjadi apa. Lagu-lagu yang biasanya mampu mengiringi arus pikirannya kini terdengar seperti kaleng rombeng, berisik.
"Tidak biasanya Tuan Remah Roti terlihat murung," Arkais terlonjak kaget dengan kemunculan Aura yang tiba-tiba.
"Eh, Ra. Kamu ngapain di sini?"
"Loh, emangnya gak boleh aku ada datang ke sini?"
"Ya boleh sih, ini kan tempat umum."
"Kamu terganggu ya Ark?"
"Enggak ko Ra,"
"Kalau terganggu ya gak apa-apa juga sih. Aku emang niat gangguin kamu." Ujar Aura sambil tertawa.
__ADS_1
"Heh?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Arkais dengan ekspresi wajah bego.
Sudah lebih dari enam bulan mereka kenal, makin terbuka sisi-sisi tersembunyi yang mereka perlihatkan. Kata orang, semakin seseorang nyaman dengan keberadaan orang di dekatnya. Ia akan menunjukkan lebih banyak sisi tersembunyi dalam dirinya. Arkais mulai berpikir, apakah ini pertanda Aura nyaman dengan keberadaannya?
Arkais menatap mata itu, mata indah yang kerap membuatnya terjebak dalam berbagai persepsi. Ia memandang wajah itu lekat-lekat, direkamnya semua bagian wajah Aura hingga ia bisa hapal jumlah tahi lalat yang menghiasi rupa manis itu.
"Ark?" Aura mengibaskan tangannya di depan mata Arkais.
Arkais sengaja menahan matanya untuk tidak berkedip, dalam hati ia tertawa melihat tingkah Aura. Ia terus mematung.
"Ark, kalau kamu kesurupan aku gak akan nolongin loh." Aura melipat tangannya di atas meja, kini ia membalas tatapan Arkais.
Mereka mulai beradu pandang dengan sengaja, saling berusaha keras untuk tidak berkedip. Semacam lomba tahan kedip. Bibir Aura bergerak-gerak, ia berusaha menahan tawanya. Sedangkan Arkais masih tetap tenang mematung, ia yakin bisa melakukan ini sepanjang hari.
Pertarungan tatap-tatapan itu semakin sengit, hampir sepuluh menit dan tidak ada yang mau mengalah. Mata Arkais mulai bergerak sedikit, mencari objek lain yang bisa ia pandang di mata Aura. Sejak awal ia tidak selalu memandang lurus ke arah mata Aura. Tatapannya selalu berpindah, dari kening, hidung, alis, pipi, sesekali kembali ke mata Aura tetapi tidak lama.
Kompetisi saling menatap itu membuat pandangan mereka hanya terfokus pada orang yang ada di hadapan mereka. Sejak lima menit lalu, Rin sudah duduk di antara mereka sambil menopang dagu. Melihat Arkais dan Aura secara bergantian. Ia tidak paham dengan apa yang sedang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu.
"Kalian kenapa?" tanya Rin sambil ketakutan.
"Kamu yang ngagetin Rin," ujar Arkais dengan tertawa. Ia menepuk jidat lalu kembali duduk.
"Tadi waktu aku datang, aku lihat kalian sedang saling menatap. Tadinya mau aku cie-ciein gitu. Tapi, aku lihat kalian serius gitu waktu tatap-tatapan. Aku pikir kalian lagi berkomunikasi secara batin."
"Komunikasi secara batin apaan Rin. Tuh sih Arkais ngajak adu pandang sama aku." Aura menimpali.
"Eh, kalian gak takut apa?" tanya Rin dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Takut apa?" sahut Arkais dan Aura bersamaan.
"Mitosnya, jika kita bertatapan dengan lawan jenis selama beberapa menit, maka kita akan jatuh cinta dengan orang tersebut. Kalian gak takut saling jatuh cinta gitu?"
Arkais dan Aura beradu pandang. Rona merah menghiasi wajah mereka.
"Atau jangan-jangan kalian sudah saling jatuh cinta?" wajah Rin terlihat sumringah ketika mengutarakan pertanyaan itu.
"Eh enak aja, enggak ya Rin!" sergah Aura sambil membuang muka ke arah jendela.
Arkais tidak menyahut, ia hanya menggeleng sambil menahan tawa.
Sore itu, mereka membahas tentang rencana kegiatan selama liburan semester. Rin mengusulkan sebuah rencana perjalanan mengunjungi beberapa air terjun terbaik yang ada di Bengkulu. Sedangkan Aura mengusulkan sebuah rencana perjalanan menikamti senja di pantai-pantai indah yang ada di Bengkulu. Mereka memberi gambaran perjalanan yang sungguh menggiurkan. Di tengah-tengah keseruan Rin dan Aura, tiba-tiba Arkais menyeletuk.
"Apa semua perempuan itu suka jalan-jalan?" Pertanyaan aneh lain dari Arkais yang membuat Rin dan Aura kembali bersitatap.
"Memangnya selama ini liburan semester kamu seseru apa sih Ark?" tanya Rin dengan sewot.
Arkais memandang langit-langit perpustakaan, mencoba mengingat apa saja kegiatannya selama liburan semester. Selama ini ia hanya menghabiskan waktu membaca buku di kamar, sesekali keluar memancing, melakukan eksperimen memasak, atau berjalan-jalan ke hutan belakang rumah. Ia mencoba mengingat lebih keras, hal lain apa yang ia lakukan selama liburan semester. Setelah cukup lama merenung, tidak ada hal lain yang ia lakukan selain hal-hal yang ia ingat tadi.
"Makan, baca buku, nonton film bajakan di internet, masak, ke kebun..." Arkais menyebutkan semua itu sambil menggerak-erakkan jemari tangannya.
"Yaelah Ark, keluar dong dari zona nyamanmu." Ujar Rin menggebu-gebu.
Arkais mengangkat bahunya sambil tersenyum aneh.
Sebelum pulang, perdebatan mereka hanya menghasilkan kesepakatan yang menyatakan bahwa mereka akan melakukan sebuah perjalanan liburan sebelum menghadapi kesibukan luar biasa di semester berikutnya. KKN, PPL, bimbingan skripsi, sepertinya akan sulit bagi mereka bisa menikmati hidup dalam situasi seperti itu. Mereka berencana bertemu lagi di minggu depan dengan rencana yang akan ditawarkan untuk perjalanan liburan mereka.
__ADS_1
Aura dan Rin terus membujuk Arkais untuk mengajak Adagio dalam obrolan santai mereka menuju parkiran. Arkais sudah berkali-kali menjelaskan betapa sibuknya si artis itu, tetapi mereka terus memaksa. Akhirnya Arkais mengiyakan permintaan itu dengan berat hati.
Malam menjelang, bintang bermunculan satu persatu. Tangan Arkais menggapai udara, di langit itu, terlampau banyak angan-angan yang ia gantungkan. Di antara bintang-bintang itu, ia menaburkan mimpi-mimpi sejak ia belum mengenal tanda baca. Namun, hari ini ia merasa hampa. Ia masih setubuh makhluk kecil yang eksistensisnya berada di antara ada dan tiada. Ia yang lebih suka terasing tiba-tiba ingin keluar sebagai sosok yang diakrabi semua orang. Ia yang lebih suka kesendirian, tiba-tiba ingin mejadi pusat perhatian seluruh manusia. Ia kembali mempertanyakan keberadaannya sendiri.