PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI

PUTRI SENJA Dan REMAH ROTI
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Minggu sore pada waktu dan tempat yang dijanjikan. Selepas waktu Asar, Arkais bergegas mandi, berkaca, dan menyemprotkan minyak wangi. Ia langsung berangkat, Aura bukan tipe gadis yang suka menunggu. Besok Arkais akan berangkat ke Yogyakarta, pertemuan ini sangat penting baginya.


Sore berwajah cerah sumringah, langit biru bersih tanpa awan. Jalanan ramai oleh muda-mudi yang saling memadu kasih, serta keluarga yang pulang setelah liburan akhir pekan.


Taman kota, tempat favorit Aura selain pantai.


Sambil berjalan menuju lokasi, Arkais mencoba menebak alasan Aura memilih taman kota daripada kafe atau tempat lainnya. Sesampainya di taman, ia langsung menuju bangku yang berada di bawah pohon akasia tua. Sejak lulus kuliah, bangku itu adalah tempat duduk favorit Aura ketika menyepi bersama buku-buku kesukaannya.


Aura menoleh seakan tahu dan sadar akan kedatangan Arkais. Ia melambaikan tangan, selengkung garis terbit dari bibir tipisnya. Lengkungan yang selalu bisa melenyapkan segala lelah Arkais setiap kali beban yang bertumpuk-tumpuk di dalam kening dan dadanya hendak menyeruak keluar. Sebenarnya, keduanya tidak terlalu percaya dengan yang namanya ikatan batin. Tetapi, kebetulan ini selalu terjadi berkali-kali, terlalu sering untuk disebut kebetulan.


Aura menggeserkan tubuh, memberi ruang di kursi untuk Arkais. Ia menatap Arkais dengan tatapan sayu, seperti seorang anak kecil yang melihat boneka kesayangannya sedang sedih. Lalu seperti biasa, ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh.


"Apa kamu baru saja kehilangan sebuah coklat manis dari kantongmu Ark?" Tanya Aura dengan mata berbinar.


Arkais tersenyum mendengar pertanyaan aneh itu. Jalan pikiran Aura memang susah ditebak. Imajinasinya kadang melampaui batas akal sehat, setiap kali Arkais berkata imajinasinya tidak masuk akal. Ia selalu menjawab, "imajinasi memang tidak boleh masuk akal."


Perdebatan itu selesai, Arkais kalah telak.


"Sebuah coklat manis dari kantongku ya Ra? Emmm," Arkais pura-pura berpikir.


"Enggak, sepertinya aku kehilangan satu truk permen lolipop, aku juga kehilangan segudang boneka yang setiap malamnya bisa mengajakku bicara," tambahnya sambil terkekeh.


"Boneka itu mengajakmu bicara? Itu terdengar mengerikan Ark," ujar Aura dengan wajah kaget.


"Dan pertanyaan anehmu itu terlalu menggelikan Ra." Arkais tidak mau kalah.


Mereka tertawa, menghapus segala sedih yang mereka bawa dari rumah. Tidak ada yang lebih menyenangkan dan menenangkan selain menjadi gila sementara, melupakan segala beban kehidupan yang tidak ada habisnya.

__ADS_1


Mata mereka menatap langit terang berwarna mambang kuning. Gumpalan awan juga turut berwarna jingga pekat. Ada tiga warna dalam satu hamparan langit, ada dua hati yang masih saling memendam rasa. Hati milik dua tubuh yang saling duduk berdekatan dengan mata menatap langit yang sama dan membayangkan hal yang sama pula, membayangkan wajah mereka berdua.


Entah sadar atau tidak, tangan mereka telah saling menggenggam di atas buku. Perasaan hangat mengalir deras menuju jantung mereka yang berdebar kencang. Arkais terkejut ketika merasa genggaman Aura semakin erat dan kuat. Arkais merasa ada yang tidak beres, kepalanya menoleh, menatap wajah Aura yang masih menatap langit.


Iia mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Aura sadar Arkais sedang menatapnya, tetapi dia enggan menurunkan pandangannya dari langit. Ia takut air mata yang kini sedang ia bendung akan jatuh tumpah tidak tertahan lagi.


"Ra?" suara Arkais terdengar lirih di telinga Aura.


Ia sadar Arkais sudah menyadari ada yang sedang bergemuruh di dalam dada dan kepalanya. Aura memilih tidak menjawab, ia memilih tetap mendongak ke langit.


"Kamu tahu gak Ra? Bertahun-tahun aku menunggu Tuhan memberi pertanda, bertahun-tahun juga aku menyusun kata demi kata untuk menyampaikan apa yang selama ini aku coba ingkari. Entah sudah berapa ratus malam aku lewati dengan berdoa agar Tuhan mengizinkan aku hidup bersamamu di semesta yang nyata, bukan hanya di dalam semesta milikku sendiri. Aku sudah hampir putus asa dengan segala kerumitan kata ganti aku dan kamu yang berharap berubah menjadi kata ganti kita." Seketika runtuh sudah semua tembok yang menjulang tinggi mengurung keberanian Arkais selama ini.


Tidak ada jawaban dari Aura. Langit tidak lagi mampu menolongnya untuk membendung tangis yang telah penuh di tepian matanya. Langit jingga itu tiba-tiba buram, semua warna menjadi samar-samar. Bibirnya bergetar, genggaman tangannya semakin kuat. Air mata itu akhirnya tumpah, mengalir deras lewat ujung matanya. Kepalanya masih mendongak ke atas, berharap langit mengatakan sesuatu. Berharap langit mengatakan bahwa segala yang ia tunggu-tunggu telah hadir, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Arkais kebingungan, ia menghela napas panjang, mencoba menguasai diri. Air mata itu bisa berarti dua jawaban baginya. Pertama, itu adalah airmata atas jawaban yang diharapkan, sedangkan yang kedua airmata itu merupakan jawaban sebaliknya.


Aura menurunkan kepala, membasuh airmatanya dengan punggung tangan. Lalu ia menoleh ke arah Arkais sambil tersenyum. Jantung Arkais berdetak sangat cepat, semesta terkadang memang kurang ajar. Seorang kesatria baru saja tunduk oleh pesona bidadari.


"Aku juga selama ini melakukan hal yang sama Ark, dari senja menjadi fajar aku selalu menulis puisi tentang kamu di langit-langit kamarku. Dari musim hujan hingga pancaroba aku selalu berharap kamu berkata bahwa kamu mencintai aku. Terima kasih Ark, aku juga ingin merubah kata ganti aku dan kamu menjadi kita,"


Tuhan Sang Mahacinta, semesta menyimpan banyak rencana. Senja di taman kota, langit tiga warna, dan orang-orang asing yang tidak saling kenal menjadi saksi atas pernyataan perasaan mereka.


Namun, tiba-tiba suasana menjadi begitu canggung, mereka takut untuk saling menatap. Meskipun tangan mereka masih saling menggenggam erat. Dunia sudah mulai temaram, pelan-pelan beranjak menuju gelap. Satu persatu pengunjung taman pulang. Beberapa masih bertahan.


Arkais berdiri dengan tangan mereka masih menggenggam erat tangan Aura lalu berkata, "Sebentar lagi adzan Magrib, pamali di luar Magrib-Magrib. Nanti diculik alien."


Aura mengangguk, ia mengambil buku yang tergeletak di sebelahnya. Lalu mereka berjalan menuju parkiran dengan saling melempar lelucon atau membahas hal-hal ringan seperti biasanya. Sekarang, tanpa perasaan aneh dan canggung. Genggaman tangan tu masih terasa hangat di hati, mengiringi langkah kaki yang diselingi tawa.

__ADS_1


Sebelum pulang ke rumah, mereka memutuskan untuk pergi mencari makan malam. Seperti biasa, mereka selalu ribut menentukan tempat makan mana yang akan mereka tuju. Bahkan perlu menghabiskan waktu setengah jam lebih berkeliling-keliling hanya untuk memutuskan mereka akan makan apa dan dimana.


"Kamu aja deh Ark yang nentuin," ujar Aura dengan nada memelas.


"Gimana kalau makan tongseng kambing level lima?" Arkais memberi tawaran dengan penuh semangat.


Sebagai pecinta makanan pedas, tongseng level lima di tempat favoritnya memang sangat direkomendasikan.


"Enggak ah, masa tongseng lagi. Aku mau makan yang lain, gak mau makan nasi," ujar Aura.


Arkais sebenarnya sudah menduga percakapan ini akan seperti apa. Debat kusir yang pasti akan dimenangkan oleh Aura. Meski demikian, ia tetap saja mengikuti kemauan gadis kesayangannya itu.


"Emmm, gimana kalau kita makan sate padang aja?" tawar Arkais lagi.


"Gak mau juga, aku pengen makan bakso deket simpang itu lo Ark. Kamu masih ingatkan?"


"Kenapa gak bilang dari tadi aja sih Ra kalau mau makan bakso," Arkais menjawab dengan suara yang terdengar seperti menahan dongkol di hatinya.


Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, perdebatan itu pasti akan dimenangkan oleh Aura.


"Tadikan belum pengen apa-apa, barusan pengennya, Kamu gak mau ya?" tanya Aura dengan nada kecewa.


"Mau kok mau, udah lama juga aku nggak makan bakso."


"Okee, kemoonn!" Teriak Aura kegirangan.


Bakso menjadi penutup pertemuan mereka, hari yang sangat membahagiakan bagi seluruh semesta yang menanti-nantikan episode ini. Di perjalanan pulang, Aura meminta agar Arkais mengambil jalan yang lebih jauh. Ia bilang ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Arkais. Bintang-bintang berkedip manja, bermain mata menggoda sepasang sahabat yang kini telah menjadi kekasih. Romantis sekali, seperti drama di sinema berepisode di televisi. 

__ADS_1


__ADS_2