
Walaupun Rendi sangat mencintai Amara,Tapi dia tetap merasa bersalah atas kejadian malam itu, Rendi akan mengajak bicara Wisnu secara baik-baik, Tapi sepertinya tidak sekarang karena Rendi tahu kalau Wisnu pasti masih sangat emosi.
Sementara untuk Amara Rendi sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk terus mengawasi Amara dan melaporkan kejadian apapun yang terjadi pada Amara, Dia tidak mau Amara kesusahan karena masalah yang terjadi.
Wisnu yang begitu emosi mengacak-acak barang yang berada di kamar, Rasanya dia masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat semalam orang yang begitu dia cintai tidur dengan tetangga sekaligus bos di kantornya, Setelah meluapkan semua amarahnya Wisnu terdiam sejenak tidak tahu harus berbuat apa, Dia lalu memutuskan untuk pergi ke kantor untuk memberikan surat pengunduran diri karena Wisnu sudah tidak mau berurusan dengan Rendi atau bertemu lagi dengannya.
Amara mulai menata hatinya dan menguatkan diri sendiri dia memang sedih, Tapi hidup harus terus berlanjut saat Amara membereskan baju dan barangnya ternyata di dalam koper ada telepon genggam dan juga dompet Amara yang berisi beberapa lembar uang.
"Ternyata kamu masih peduli dengan aku mas, Aku harap suatu saat nanti kamu akan memaafkan aku... " Amara berbicara sendiri sembari menangis dan memegang telepon dan dompetnya.
Amara mengusap air matanya dan berusaha tegar lagi lalu dia bersiap dan pergi kerumah bu Sri,Setelah mencari dan bertanya pada beberapa orang akhirnya Amara menemukan rumah ibu Sri.
"Assalamualaikum permisi..." Amara sembari mengetuk pintu.
Tidak lama kemudian ibu Sri membuka pintu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ternyata Amara mau masuk dulu tidak..?" tanya ibu Sri.
"Emmmm tidak perlu bu kita berangkat sekarang saja supaya saya bisa langsung kerja.. " jawab Amara.
"Baiklah kalau begitu kita berangkatnya jalan kaki saja ya, Sekitar sepuluh menit juga sampai.." kata ibu Sri.
"Oh iya bu.. " Amara mengikuti ibu Sri.
Tidak lama mereka akhirnya sampai di toko ibu Sri, Setelah tokonya dibuka ibu Sri memberi tahu tugas dan pekerjaan Amara disana juga tersedia gudang dan lemari kecil yang bisa Amara gunakan untuk menyimpan tas dan teleponnya.
"Baik bu saya mengerti, Kalau begitu saya mulai untuk membersihkan rak dulu.. " Kata Amara setelah mendengar penjelasan dari ibu Sri
Amara membersihkan satu persatu rak yang ada tidak lupa Amara juga membereskan barang-barang yang kurang rapih, Saat Amara sedang melakukan pekerjaannya tiba-tiba dia merasa pusing dan hampir jatuh tapi tertahan oleh rak yang berada di sampingnya ibu Sri melihat Amara yang hampir jatuh itu dan menghampirinya.
"Amara kamu kenapa?Apa kamu sakit nak..? " tanya ibu Sri khawatir.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu mungkin saya hanya perlu duduk dulu sebentar..." jawab Amara sembari memegang kepalanya.
"Apa kamu sudah sarapan..?"
"Emmm belum bu.. " Amara baru ingat kalau dia belum sarapan dia memang tidak selera makan karena memikirkan masalahnya.
"Ya sudah sebentar ibu pesan makanan lewat ojek online dulu ya, Kamu duduk saja dulu jangan memaksakan untuk bekerja..." kata ibu Sri dengan ramah.
"Terimakasih ya bu nanti saya ganti uang ibu maaf saya malah merepotkan..." Amara tidak enak karena ibu Sri begitu baik padanya.
"Sudahlah jangan memikirkan yang lain kamu istirahat saja dulu di gudang sebentar lagi pasti sampai makanannya.. "
Ibu Sri langsung memberitahu orang suruhan Rendi tentang kejadian Amara yang hampir pingsan, Orang itu langsung melaporkannya pada Rendi.
"Halo, Pokoknya kamu belikan makanan yang banyak untuk Amara dan juga beli obat asam lambung karena Amara pasti terlambat makan di tambah dia sedang banyak beban pikiran jadi asam lambungnya naik.." kata Rendi di telepon dia begitu khawatir mendengar tentang Amara tadi.
__ADS_1
Sudah tahu dari dulu asam lambungnya sering naik,Tapi masih saja tidak teratur makan kamu memang tidak pernah berubah Mara, Kata Rendi berbicara sendiri.
Selamat membaca 😉