
Sudah berbulan-bulan lamanya, semuanya sudah berubah. Dari cara berpakaian, selera makan dan juga bentuk tubuh.
" 68.3 huh " angka yang terlihat dari timbangan otomatis tersebut.
Pipi, lengan, kaki serta badannya sudah membesar.
" Mba, ayo makan " teriakan Mamah yang terdengar sampai kamar. Entah kenapa, sekarang hobi Mamah memanggil dari jarak jauh.
Suasana meja makan yang kini telah berubah. Biasanya format yang terisi ada empat orang. Ayah, Mamah, Tira dan Rayan. Tapi makan malam ini dilewati tanpa kehadiran Ayah.
" Mah. Tira mau bicara serius " terang Tira memulai obrolan diselingi suapan makan.
" hmm. Kenapa Mba ? " Mamah berusaha mengunyah makanan yang sudah masuk kedalam mulutnya.
" Tira mau kerja lagi Mah " ucapnya
" Mau kerja dimana ? Kan, Mba juga sudah kerja "
" Mau kerja di Jakarta " ucapnya dengan jelas
" Apa ? " Mamah dan Rayan terlihat kaget berbarengan.
" Iya. Di Jakarta " ucapnya lagi meyakinkan.
" Ngga boleh. Lagian kenapa harus jauh banget sih. Disini kan ada. Kenapa harus di Jakarta ? " Mamah sudah menunjukkan ekspresi tidak setuju.
Tira tak menjawab pertanyaan Mamah, Ia memilih masuk ke kamar setelah selesai makan dan membantu mencuci piring.
Ia membuka kembali, layar laptopnya dan melihat isi emailnya. Sudah satu bulan ini, Ia mencoba mencari pekerjaan. Bukan tidak ingin mengembangkan usaha sang Ayah yang saat ini sedang tak stabil. Tapi karena tuntutan ekonomi yang semakin tinggi. Adiknya, Rayan di tahun ini sudah lulus SMA dan butuh biaya yang cukup besar untuk kuliah. Ia tahu, bahwa Rayan mempunyai otak yang tak cukup pintar, jadi berharap pada beasiswa rasanya terlalu muluk dan berlebihan, meskipun Rayan sudah terlihat lebih rajin belajar.
Dan dari usahahnya sebulan ini mencari pekerjaan, ada beberapa balasan email mengenai schedule interview. Namun, Ia tertarik pada sebuah kota yang pernah menjadi tempat tinggalnya dulu, yaitu Jakarta.
***
Sang Ilahi sangat baik. Pagi ini Mentari terbit dengan cahaya yang sangat indah.
" Pagi Pak. Gimana perkembangan sekretaris yang saya ajukan ? " tanya nya pada Pa Aan, seorang HRD yang bertugas untuk merekrut calon karyawan baru.
" Pagi Pa. Di Jam sepuluh pagi ini, akan ada proses psikotestnya Pa " jelas Aan
" Baik. Saya tunggu perkembangannya. Terimakasih "
" Sama-sama Pa " lalu sambungan telfon terputus.
__ADS_1
***
" Rin. Makasih banyak yah. Udah bantu gw. Gw udah ngerepotin lu " ucap Tira tak enak hati
" Kaya sama siapa aja sih. Kan kita temenan udah lama. Lagian gw juga seneng ko' bisa ngebantu sekalian ketemu sahabat lama gw yang semakin cantik ini " tuturnya
" Oyah. Kalo Bonyok lu tau, pasti mereka khawatir Ra. Coba lu telfon dulu orang rumah " Rina mengingatkan.
( BONYOK, singkatan dari Bokap Nyokap )
Tira sudah menjelaskan kepada Rina, mengenai tujuannya ke Jakarta dan Rina pula yang membantu mencari kost untuk tempat tinggal selama di Jakarta. Rina merupakan tetangga sekaligus sahabat Tira. Mereka berteman dari TK sampai SMA kelas 10. Karena ketika kelas 11, Tira dan keluarganya pindah ke kota yang Ia tinggali sekarang.
" Iyah. Pasti gw kabarin " ucap Tira, meski sebenarnya ada perasaan bersalah, mengenai kepergiannya yang tak diketahui keluarganya.
Mobil berhenti didepan sebuah gedung tinggi. Gedung bertingkat dipusat kota.
" Pulangnya mau gw jemput ? " tawar Rina.
" Terimakasih. Nanti naik ojek aja "
" Good luck girl "
" Thanks. Hati-hati " lambaian tangan mengakhiri pertemuan tersebut.
***
Dilihatnya beberapa wanita yang mungkin saja akan jadi saingannya dalam melamar pekerjaan. Ada yang menggunakan rok yang bisa dibilang cukup mini dan adapula yang menggunakan make up cukup berlebih. Dan satu lagi ada yang terlihat sangat anggun, bahkan dari cara berbicaranya yang samar-samar terdengar.
" Selamat siang semuanya "
" Siang Pa " ucap 5 orang wanita secara serempak disebuah ruangan yang sudah disiapkan, setalah resepsionis mengantar mereka.
" Perkenalkan, Saya Aan. Dan seperti yang sudah saya jelaskan di email sebelumnya. Maka tahap awal, dilakukan psikotest terlebih dahulu, sebelum interview dan medical check up "
Aan menjelaskan semuanya, sebelum psikotest dimulai. Ruangan tersebut kembali hening dan terdengar suara, ketika Aan menjelaskan kembali. Kurang lebih dua jam untuk proses test tersebut.
" Terimakasih semuanya. Karena sudah jam 12 siang. Untuk hasilnya akan diinformasikan lebih lanjut " ucap Aan.
Sesuai arahan Aan, semua keluar dari ruangan tersebut dan diantarkan sampai depan resepsionis. Tira mengambil ponselnya dari saku, dan melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari orang tua dan adiknya. Bahkan pesan WA yang begitu menjengkelkan. Siapa lagi kalau bukan Rayan.
Rayan :
09.47 - Mba dimana ?
__ADS_1
09.51 - Dicariin Mamah tuh
09.54 - Mba dimana ? Angkat telfonnya
09.57 - Kata Mamah mba ngga ke bengkel
10.00 - Jawab BIAWAK JUMBO
10.16 - Awas yah, buat masalah
10.17 - Awas, kalo pulang tiba-tiba nangis
10.17 - Mba, berantem aja yuk. Dibanding Rayan yang dibuat nangis sama Mamah
10.18 - Mba, nama lu, gw coret dari KK ni
11.17 - Ga usah pulang sekalian
11.54 - Mba, beneran kabur
11.54 - Kalo mau kabur, sekalian bawa baju yang banyak. Gausah balik lagi
11.54 - Mba, ga lucu tau
11.56 - Kaka lucknut
Tira tertawa membaca pesan yang begitu panjang. Rayan terlihat perhatian begitu berjauhan. Namun, imajinasi tentang kebaikan sang adik, lebur seketika melihat kalimat terakhir yang disampaikan.
Tira :
Eh Kadal gurun, sekate-kate lu ngomong
Pesan tersebut yang dikirimkan ke Rayan. Dan sebuah gambar patung selamat datang, yang berada di lingkaran air mancur. Foto tersebut diambil ketika lampu merah sebelum melewati patung tersebut.
Karena ada pukul 12 siang tersebut, banyak karyawan menggunakan lift. Sehingga mereka antri untuk dapat menggunakan lift untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Ada yang menekan tombol G, B ada pula yang menekan angka 1.
Melihat antrian yang mengular, Tira mengingat kenangannya beberapa bulan lalu. Ketika Ia menjadi salah satu staff disebuah perusahaan. Dan kenangannya akan kebahagian mempunyai teman-teman baru. Serta cintanya yang kian bersemi. Yah, cinta tumbuh terkadang tak disadari dan kadang juga tak bisa dikendalikan. Dan sakit karena patahnya cinta juga terkadang membuat orang menjadi lupa, berbeda dan bahkan gangguan jiwa. Dan tak jarang, ada yang memilih untuk mengakhiri hidup yang sudah diberikan gratis oleh sang Ilahi.
Ia melihat sekelilingnya yang sudah mulai sepi, karena sudah memasuki lift. Dan sedikit terkejut melihat seorang yang pernah Ia jumpai beberapa bulan lalu. Laki-laki dengan kemeja biru, waktu itu. Dimana laki-laki yang berbaju abu-abunya ?
Senyumannya mengembang mengingat masa itu.
______________________________________________
__ADS_1
Bersambung ....