
" Kamu dimana sih ? Kenapa ga mau angkat telfon aku ? Kamu ngehindar yah ? Apa jangan-jangan kamu selingkuh ? Cewe mana yang berani godain tunangan aku ? Dimana perempuan itu ? Siapa namanya ? Biar aku kasih pelajaran " pertanyaan yang begitu bertubi-tubi sampai tak sempat untuk menjawab.
hufff, hanya selaan nafas yang terdengar.
" Kenapa masih ga dijawab ?Jadi bener kamu selingkuh ? " nadanya sudah tak begitu tinggi seperti yang tadi. Namun terdengar suara isakan dari sana.
" Allahu Akbar, siapa juga yang selingkuh. Gimana mau jawab kalo kamu ngomong terus dari tadi " jawabnya dengan kesal sambil mengusap wajahnya.
" Kasih hp nya ke Nad. Aku mau bicara " tekan Satya, lalu Gita menyerahkan ponsel tersebut kepada empunya. Masih dengan isakan tangis, karena panggilannya tidak dijawab oleh sang pujaan hati.
" Halo, Ka " ucap Nad dengan agak ragu
" Awaasss, kamu Nad " ucapan singkat yang membuat bulu kuduk Nad berdiri. Entah ini cobaan atau ujian yang menimpah Nad saat ini. Atau ini jalan takdirnya untuk jadi penengah bagi sang Kakak dan calonnya. Dengan kata lain, Ia seperti buah simalakama. Memilih salah, tidak memilih juga salah. Apapun yang terjadi, Nad selalu salah.
" Apa yang Satya katakan ? " tanya Gita dengan wajah sayu yang dihiasi bengkak diarea kelopak matanya yang sudah beberapa jam menangis.
" Nanti, Kak Satya akan ngomong sama Kak Gita " ucapnya dengan meyakinkan. Meskipun kata yang diucapkan jauh berbeda dengan yang dilontarkan sang Kakak. Nad yakin, Satya akan menemui calon istrinya yang childish ini.
" Kakak pulang sama siapa ? " tanya Nad, melihat Gita sudah berdiri dari posisinya.
" Kakak pulang sendiri ? Ini sudah malam loh Kak " Nad, melihat jam pada layar ponselnya yang menunjukkan pukul 11 malam.
" Gita, aku yang anter aja " ucap pria yang baru muncul dari dapur rumah Nad. Pria yang sudah lama sangat Nad kagumi. Pria yang baik hati, yang suka sekali mengantarkan makanan ke rumah Nad. Siapa lagi kalau bukan Arya.
Gita mengangguk dan tersenyum. Arya pria yang baik. Baiknya seperti diberi formalin, awet banget. Dari dulu sampai sekarang. Ia menjadi pria baik, bahkan menjadi lebih baik setiap harinya.
" Dah Nad " lambaian dua muda mudi dibalik kaca mobil. Mobil melaju meninggalkan rumah besar tersebut.
Melihat Arya tersenyum pada Gita, hati Nad rasanya sakit. Sakit sekali. Rasa sakit diselingkuhi waktu itu tak ada apa-apanya dengan yang dialaminya sendiri.
Ini semua gara-gara Ka Satya.
Kalo sampe Mas Arya sama Ka Gita jadian. Aku ngga ridho dunia akhirat.
Aku sumpahin Ka Satya, punya pacar yang gendut, pipi tembem, pakai kaca mata, penampilannya ga menarik sama sekali. Nad
druggggg, suara gemuruh dari atas langit bersuara. Seakan doa jelek Nad terkabul, seperti sinetron di channel ikan terbang.
__ADS_1
Azab bagi Kakak yang tidak peka, sehingga bakal calon PDKT sang adik ditikung oleh calon istri sang kakak.
***
- Di Mobil -
" Jangan nangis lagi Git " ucap Arya menenangkan
" Temen lu tuh, suka ngilang gini. Kita kan mau nikah " ucap Gita menangis tersedu-sedu
" Mungkin Satya butuh waktu " Arya mencoba kembali menenangkan, sambil sesekali melirik Gita yang memainkan ujung roknya.
" Apa Satya selingkuh ? " tanya Gita tak terduga membuat shock Arya.
" Ehhh... Satya ga pernah aneh-aneh ko'. Cuma kerjaan aja yang lagi banyak " Arya berkata jujur
" Tapi kenapa dia ga pulang kerumah sih ? Dia ga peduli banget sama aku. Kamu, yang bukan siapa-siapa aja peduli aku " Gita berkata jujur, Arya menanggapinya dengan senyuman.
" Coba kalo Satya kaya kamu. Care banget jadi orang. Bisa nenangin, bisa diajak diskusi. Bisa jadi temen ngobrol " ucap Gita memuji Arya. Yang dipuji hanya terlihat memperlihatkan senyum saja tanpa berkata.
" Lu normal kan ? " lagi, pertanyaan shock terapi, sehingga membuat Arya mengerem dadakan.
" Aduuuh " jerit Gita, jika tak mengenakan seatbelt, mungkin kepalanya sudah mencium kaca depan mobilnya.
" Sorry " jawab Arya tak enak hati, jantungnya masih berdebar-debar. Haruskah Ia mengutarakan perasaannya kini ?
" Gw yang minta maaf, harusnya gw ga tanya kaya tadi. Bener deh, gw ga maksud menyinggung perasaan lu. Gw cuma ... " mulut cerewet Gita terhenti, ketika kecupan manis, mendarat dikeningnya.
" Ya ?? " Gita salah tingkah. Ia tak percaya apa yang dilakukan oleh Arya terhadapnya.
" Gw normal. Dan orang yang gw suka, sebentar lagi akan nikah. Apa yang bisa gw lakuin ? " Arya menatap dalam mata Gita. Gita masih shock tak percaya.
Apa yang dimaksud Arya itu, gw ?
Arya mengusap kepala Gita, Ia sangat gemas dengan ekspresi yang Gita tunjukkan. ini pertama kalinya, Gita merasakan ungkapan tulus dari Arya. Sejujurnya, Ia bahkan lebih menyukai perilaku Arya dibanding Satya terhadap dirinya. Jika Ia dan Satya bertengkar, Arya akan selalu jadi penengah.
" Yang gw omongin, itu beneran. Tapi tenang aja. Tapi gaada yang tau, selain ... " Arya melirik Gita
__ADS_1
" Aku ?? " tanya Gita menunjuk dirinya dan Arya pun mengangguk.
" Kenapa kamu ga bilang ? "
" Gw juga gamau jadi pengganggu hubungan orang lain. Ga perlu khawatir, semua akan baik-baik saja " ucap Arya
" Kalo gw yang ga baik-baik aja gimana ? "
" Maksudnya ? " tanya Arya tak mengerti
" Gw bingung. Dari awal gw kenal sama lu dan Satya, gw seneng banget. Apalagi pas gw tau akan tunangan sama Satya. Rasanya gw jadi orang paling beruntung di dunia " Arya masih mendengarkan tanpa bertanya mengeluarkan satu kata pun. Mulutnya diam membisu.
" Tapi setelah sekian lama, gw ngerasa " __" Apa yang gw cari di Satya, malah gw dapetin dari lu "
" Ketika gw kesel, gw marah, gw butuh temen untuk cerita, butuh seseorang untuk mendengarkan, butuh nasihat, butuh asupan hal-hal baik, lu selalu ada didekat gw. Ga peduli itu siang atau malam. Lu sibuk atau senggang , lu selalu ada buat gw. Gw jadi heran sendiri, tunangan gw itu, lu atau Satya " Gita mulai menitikan air matanya lagi. Walau tangisnya tak sekencang yang tadi, tapi jelas bahwa tangisan kali ini benar-benar karena ungkapan dari hati yang terdalam.
tittttt.... bunyi klakson dari mobil belakang. Mereka tersadar, cukup lama mobil terhenti dipinggir jalan. Arya segera melajukan mobilnya kembali. Tak ada yang mulai berbicara, sampai mereka tiba disebuah apartment mewah di Jakarta. Arya mengantarkan sampai basement apartment tersebut.
" Udah sampe " ujar Arya memulai pembicaraan.
" Makasih Ya. Makasih udah dengerin curhatan gw yang lebar seluas lapangan GBK. Yang sebenarnya unfaedah untuk orang lain " senyum Gita, sambil membuka seatbelt yang dikenakan.
" Mau dianter sampa atas ? " tanya Arya.
" Ngga usah. Maaf ga bisa ajak mampir, anak gadis ga boleh ajak laki-laki main ke kamarnya " ucap Gita mencairkan suasana.
" Ok. Hati-hati ya Git " Gita keluar dari mobil, lambaian tangan mengisyaratkan perpisahan malam ini.
______________________________________________
Bersambung ...
Bocoran cerita dikit deh 🙈
Nextnya, akan dijelasin kenapa Arya malem-malem bisa dirumah Satya.
Stay tune yah
__ADS_1