
Sudah tiga hari dari kejadian naas tersebut. Ilham sudah berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian dan luka memar sudah sedikit menghilang dari wajah cantik Tira. Sesuai permintaan Arsyad, setiap berangkat dan pulang kantor akan Arsyad jemput dan antar ke rumah Tira. Tira tak enak hati, bukan hanya Arsyad yang harus kerepotan tiap pagi tapi juga takut ada pandangan orang lain tentang mereka berdua.
" Ra, ko' udah masuk sih. Kalo masih sakit, istirahat aja " Nana menempelkan telapak tangannya pada kening Tira untuk mengukur suhu tubuh Tira.
" Alhamdulillah, udah baik. Makasih yah udah mau di repotin. Oyah, selama gw ga masuk, ada yang cariin ga ? " Tira merapihkan dokumen yang ada dimejanya yang sudah menjulang tinggi.
" Ngga ada " ucap Nana sambil mengerjakan tugasnya.
Mentari sudah berada tepat diatas bumi. Sinarnya yang terang menyinari. Jam pun berjalan, menunjukan waktu untuk beristirahat sejenak. Didepan lift sudang mengular antrian yang panjang. Pintu lift terbuka, tiga orang keluar dari lift. Semua menunjukkan hormat pada kedua orang tersebut dan ekspresi ke gemasan untuk anak berusia empat tahun yang rambutnya terikat dua.
" Bira " teriak anak kecil tersebut yang sontak membuat keriuhan diantara para karyawan yang ada disana. Mendekati Tira dengan wajah manisnya.
" Kasih " membalas pelukan kasih.
" Mau kemana Ra ? " tanya Umi, sementara pria yang ada dibelakangnya sudah masuk terlebih dahulu dengan barang bawaan cukup banyak.
" Mau makan siang Mi " ucap Tira, sambil memperhatikan ekspresi bingung orang yang berada disekitarnya.
" Umi udah masak banyak. Tira makan bareng sama Umi yuk " ajak Umi
" Ngga usah Mi. Terimakasih, Tira sudah ada janji sama temen Tira " menyenggol lengan Nana yang berada disebelahnya. Nana mengerti akan kode tersebut, lalu mengangguk.
" Tapi gapapa ko' Ra. Nanti aku makan sama yang lain aja " Nana pergi meninggalkan Tira.
Arsyad keluar dari pintu, melihat Tira dan Umi yang ada didepan meja resepsionis.
" Arsyad, kamu ga bilang sama Tira. Kalo Umi ajak makan siang " tanya Umi, tak peduli dengan orang-orang yang semakin aneh melihat Tira dan Arsyad. Mereka berbisik berasumsi tentang hubungan special diantara keduanya.
" Maaf, lupa Mi "___" Ayo, Kasih sama Paman " ajak Arsyad pada Kasih yang sedang berayun tangan manja dengan Tira.
" Ok. Paman. Ayo Umi, Bira " ajak Kasih dengan polos.
***
" Ayo Ra, makan yang banyak. Ini Umi loh yang masak semua " ucap Irsyan
" Iya. Bang " Tira tak begitu menikmati makan siangnya. Bukan karena makan siangnya tidak enak. Tidak, tidak. Masakan Umi tidak perlu diragukan lagi. Ia hanya bingung dan malas untuk menjelaskan hubungannya dengan Arsyad jika ada yang bertanya.
__ADS_1
" Eh bengong. Makan dulu " Arsyad menyenggol lengan Tira dengan lengannya untuk membuyarkan lamunan Tira.
" Apa makanannya Tira ga suka ? Padahal ini makanan kesukaan Arsyad loh " ucap Umi
" Enak Mi. Enak banget ko " ucap Tira sambil mengunyah makanan tersebut.
" Nanti Umi ajarin cara masaknya. Biar pas udah nikah, kamu bisa bikinin buat Arsyad. Jadi kalo Arsyad minta makan, bukan ngerengek sama Umi, tapi sama kamu Ra " canda Umi yang membuat satu ruangan tersebut tertawa.
" Tapi Tira ga bisa masak Mi " ucap Tira jujur. Jika Tira yang masak, yang jadi bukan ayam teriyaki tapi ayam kegosongan.
" Tenang aja. Kamu akan diajarin dari level kinder sampai master " ucap Abi yang sedari tadi hanya menikmati masakan istrinya.
" Tenang aja. Serahin aja semuanya sama Umi " ucap Arsyad dengan bangga.
" Yey, Eyang Umi yey " ucap Kasih bangga dan hanya ikut-ikutan orang dewasa didalam ruangan sambil mengangkat dua tangannya. Seperti berselebrasi dari sebuah kemenangan.
***
" Jadi sejak kapan lo dekat sama Pa Arsyad " ucap Shifa tak suka, yang melihat Tira sedang mencuci tangan di wastafle disalah satu toilet. Tira tersenyum tanpa memberi jawaban, lalu pergi meninggalkan Shifa.
Benar, orang-orang yang melihatnya berbisik, bahkan sengaja meninggikan suara agar terdengar Tira.
Bentar lagi, aku bisa jadi manusia no satu dikantor yang paling banyak hetersnya nih.
" Ra, jadi kamu tunangan kamu Pa Arsyad " ucap Angga dengan sedih. Sudah dapat dipastikan, jika bersaing dengan Arsyad, pasti Ia akan kalah. Meskipun pernyataan cintanya sudah ditolak, tetap saja Ia masih tak rela jika Arsyad adalah tunangan Tira.
Lagi, Ia hanya tersenyum tanpa berniat untuk menjawab.
" Eh, coba liat IGnya. Pasti dia punya IG kan " Tira menjadi tranding topik. Bahkan akun media sosial sengaja dicari untuk mengetahui kebenaran. Sayangnya, akun IG nya di privasi, sehingga hanya follower yang sudah di accept yang dapat melihat postingannya.
" Nih, ketemu, yah di private " ucap fans garis keras Arsyad yang kecewa.
" Coba cari Pa Arsyad " masih terus berusaha
" Kalo dari fotonya yang ini. Tapi ini juga di private " ucapnya penuh kecewa lagi.
Yah, teriakan kecil dari rasa kecewa para wanita fans garis keras Arsyad. Dan Shifa, ketua fans base Arsyad terlihat sangat kecewa. Sedangkan para pengagum Tira, tak terlalu banyak berharap. Apa lagi jika laki-laki yang menjadi saingannya adalah Arsyad. Anak kedua dari pemimpin perusahaan ditempat mereka bekerja.
__ADS_1
***
Jam yang tertera di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah tak ada orang lain diruangannya. Tira masih berusaha menyelesaikan perkerjaan. Pekerjaan yang ditinggalkan selama beberapa hari ini.
Ia menundukkan kepalanya dan bersender pada ujung meja. Tanpa sadar membawanya ke alam mimpi.
" Ra, bangun " seseorang mengguncangkan pundaknya. Ia melihat orang tersebut. Dengan mata yang meredup dan tinggal 5 watt. Ia berusaha mengerjakan pekerjaannya kembali.
Rasa kantuknya pun tak kunjung pergi. Dan menguap sampai berkali-kali.
" Udah yuk. pulang aja. Besok lagi " pinta Arsyad yang tak tega, melihat Tira tertidur dengan kondisi duduk, menghadap layar komputer.
" Ini laporannya belum selesai " tapi matanya kembali terpejam.
" Siap-siap dulu. Aku juga mau siap-siap " Arsyad beranjak menuju ruangannya.
Tira kembali tertidur, sebelum mematikan layar komputernya. Benar-benar sudah tak bisa menahan kantuknya.
Arsyad kembali kemeja Tira. Ia mematikan layar komputer dan merapihkan dokumen dimeja Tira.
" Ayo, bangun " Arsyad menyadarkan Tira dari mimpinya. Tira berjalan tak seimbang, guntai hampir menyentuh lantai. Dengan sigap, Arsyad membantunya berdiri. Berjalan beriringan saling memegang tangan. Benar-benar tak peduli jika ada yang melihat. Bahkan mungkin sudah seharusnya karyawan yang disana sudah harus tahu, agar bisa saling menjaga sikap. Sikap terhadap Arsyad maupun pada Tira.
Tapi untungnya tak banyak orang disana. Hanya manusia beton yang tak sengaja melihat mereka berdua.
Ehemmm. dehamnya dengan sengaja.
Arsyad berbalik arah melihat orang dibelakangnya. Benar saja, manusia beton tersebut masih sangat santai dengan sikapnya
" Udah go public yah ternyata " Ucapnya dengan senyum mengesalkan.
" Cepet halalin Pa. Sebelum keduluan Angga loh. Hahahah, saya hanya bercanda Pa " sungguh candaan yang mengesalkan
______________________________________________
Bersambung ...
Terimakasih sudah membaca sampai episode ini. Ceritanya masih akan terus berlanjut. Dan ini masih menuju klimaks yah temen-temen.
__ADS_1
see you 💙