
Susu jahe yang dinikmati sudah habis. Dan begitu pula dengan segelas kopi yang dinikmati Arsyad. Malam semakin larut, rasa dingin kian menyambar.
" Tadi pas diballroom, ada yang tanyain aku ngga. Atau ngomongin kejadian tadi gitu ? "
" Ngga ada. Mereka lagi sibuk sama bagi-bagi doorprize "
" Oyah, doorprize. Hmmm. Aku gagal deh dapat doorprize " ucapnya kecewa
" Emang kamu berharap apa sih ? Belum cukup apa, apa yang aku ucapin. Masih aja berharap doorprize " candanya menggoda Tira
" Beda tau. Kalo dapat doorprize, meskipun kecil nilainya tapi bahagia banget. Berasa beruntung aja, gitu "
" Kalo yang tadi aku ucapin ? "
" Hmmm, luar biasa. Seperti ada meteor yang jatuh. Tapi rasanya bahagia banget. Ngga bisa diukur oleh apapun "
" Ra, kamu udah makan ? " melihat wanita yang bersandar dipundaknya
" Belum. Kamu udah ? "
" Udah. Kamu kenapa ngga makan ? "
" Tadi kan aku habis dari toilet. Trus ada kejadian tadi. Aku langsung kejar kamu aja. Ngga sempet juga mikir makan "
" Yaudah, makan yuk "
" Aku boleh pinjam hp kamu. Hp sama tas aku masih dimeja. Aku mau telfon, ke hp ku" ucap Tira
Arsyad menyerahkan ponselnya pada Tira. Dicarinya nama Tira disana.
" Hah. Sayang " nama kontak Tira pada ponsel Arsyad. Senyum kecil seperti bulan sabit terpancar dan Arsyad hanya membalas dengan senyuman. Kekagetan Tira cukup beralasan. Sebelumnya nama pada kontak ponselnya adalah ZATIRA, itu yang Tira tahu. Namun semenjak kejadian di salah satu Dept. Store, Arsyad mengganti nama kontak Tira menjadi SAYANG, seperti yang Ia ucapkan pada waktu itu.
Tuttt... nada terdengar dari ponsel itu
Tuttt... kedua kalinya
Tuttt... ketiga kalinya dan tak ada yang mengangkat.
" Ngga ada yang angkat nih " mulai gusar, takut ponsel dan tasnya hilang diambil oleh tangan tak bertanggung jawab. Meskipun karyawan disana tidak pernah tersangkut atau terdengar mengambil barang orang lain. Bukankah harus tetap waspada ? Dan Tira melakukan hal ceroboh. Meninggalkan ponsel dan tasnya ditempat keramaian.
" Coba telfon Nana " saran Arsyad
Tira mencari kontak Nana pada ponsel Arsyad. Tak lama segera Ia hubungin no tersebut.
tuttt.. panggilan tersambung
" Na, ini gw Tira. Tolong liatin dimeja gw yang tadi. Hp sama tas gw tadi disana " instruksi Tira pada Nana.
" Iya. iya. Nanti gw jelasin yah "
" Makasih ya Na " panggilan terputus.
" Syad, Makasih " menyerahkan ponselnya pada Arsyad dan segera dimasukkan ke dalam saku celana.
__ADS_1
" Udah ketemu ? "
" Udah. Udah disimpenin sama Nana "
" Ayok " Arsyad berdiri dari kursinya
" Kemana ? "
" Makanlah. Kan mau belum makan. Ayo cepetan " Arsyad meyerahkan tangannya didepan Tira. Tira menerima uluran tangan tersebut. Menggenggamnya dengan erat.
Berjalan berdua bergandengan tangan. Sungguh hal yang indah untuk insan yang sedang dalam buai asmara. Berjalan beriringan dan kepala disandarkannya dipundak Arsyad.
" Ra, kamu mau makan apa ? "
" Ngga tau. Ngga makan juga ngga apa-apa "
" Jangan diet ah, nanti kamu sakit "
" Ngga diet. Aku ngga lapar. Rasanya akan kenyang terus, kalo sama kamu kaya gini terus. Heheh "
" Ih. Belajar gombal dari mana sih ? "
" Dari kamu. Hahahah "
Mereka berdua berjalan sambil bercerita panjang. Tentang hal-hal indah dan rencana mereka untuk kejenjang yang lebih serius.
***
Mereka duduk disebuah meja yang bersebelahan dengan jendela. Pemandangan dari tempat tersebut cukup indah. Lampu-lampu dari rumah warga dan jalan menyala kecil dari kejauhan. Hotel yang dipilih berada di perbukitan, sehingga bisa melihat pemandangan rumah warga dibawah bukit tersebut.
" Kamu mau makan apa ? " ucap Arsyad membuka buku menu restaurant tersebut.
" Hmmm. Bingung nih " masih mencari menu yang mengunggah seleranya.
" Nasi goreng ayam mau ? " mencoba memberi saran.
" Hmmm. Ngga deh. Aku mau yang menghangatkan "
" Ada. Pelukan aku " goda Arsyad merentangkan tangannya.
" Ih apa sih " matanya melotot, mencoba menepis tangan Arsyad.
" Aku mau soto ayam aja. Minumnya air mineral. Kamu mau apa ? " menutup buku menu.
" Aku teh anget aja "
" Mas " panggil Arsyad pada pelayan. Memberi tau apa saja pesanannya.
***
Tira memakan soto ayamnya dengan lahap. Benar benar menikmatinya. Mungkin karena terakhir kali hanya makan siang ketika outbond, kali ini rasanya sangat lapar. Hingga tak sadar tingkahnya diperhatikan oleh sepasang mata didepannya.
" Pelan - pelan makannya " mengusap cipratan kuah soto dipinggir bibir Tira dengan sebuah Tisu dimeja tersebut.
__ADS_1
" Ah iya "
" Alhamdulillah " ucap Tira mengelus perutnya yang sudah terisi.
" Mau nambah ? " tawar Arsyad
" Ngga. Makasih. Udah kenyang " Tira menggeser mangkuknya ke sebelah.
" Ra, ucapan aku yang tadi, itu serius loh "
" Hmmm. Aku juga nanggapinnya serius "
" Jadi kamu bener, mau nikah sama aku ? "
" Iya, sayang. Aku mau nikah sama kamu "
" Kalo besok aku lamar kamu. Kamu mau ga ?"
" Jangan besok juga. Kan aku juga harus ngomong sama Mamah sama Ayah "
" Ko' kamu yang ngomong. Aku kan yang ngelamar kamu. Aku yang harus ngomong sama Ayah dan Mama kamu "
" Emang kamu mau, pas ngelamar aku, aku masih pake daster, rambut di untel-untel. Kan ga mungkin lah "
" Iyah juga yah "
" Emang kamu mau bilang sama Ibu Bapak kamu kapan Ra "
" Belum tau " mengangkat kedua pundaknya
" Ko' belum tau sih "
" Yah belum lah. Kamu aja ngomongnya baru tadi. Yah paling aku nunggu waktu yang tepat juga. Lagian akhir-akhir ini, kita juga masih pulang malem "
" Emang kamu mau ngomong sama Umi sama Abi mu kapan ? "
" Belum tau. Tapi segera "
" Oyah, tadi Abi kamu liat ga ? "
" Liatl ah, Abi aja duduknya pas disamping aku. Bang Irsyan juga "
" Abi kamu ngomong apa ? Tanggapan Bang Irsyan gimana ? "
" Abi ngga ngomong apa-apa. Justru Bang Irsyan malah ngedukung aku. Buat cepet-cepet halalin kamu "
" Oh jadi Bang Irsyan yang kasih ide. Jadi kalo Bang Irsyan yang ngga kasih ide. Kamu juga ngga bakal lamar aku, gitu ? " mendengus dengan kesal
" Ngga gitu. Tapi karena Bang Irsyan, aku jadi semangat mau cepet-cepet ketemu orang tua kamu Ra "
______________________________________________
Bersambung ...
__ADS_1