
Tira melangkahkan kakinya ke sebuah gedung tinggi pencakar langit. Dengan rasa bahagia dan penuh syukur. Kerja keras, usaha dan doanya dikabulkan oleh Sang Illahi pencipta alam semeta.
" Selamat pagi, perkenalkan ini ibu Zatira Amalia, beliau yang akan menjadi sekretaris untuk Pa Satya " ucap Aan pada karyawan disana. Memperkenalkan satu persatu ke setiap divisi. Begitu seterusnya, sampai selesai.
" Ibu Zatira, mari saya antar ke ruangan Pa Satya " ucap Aan lagi dengan ramah dan diangguki oleh Tira.
***
" Selamat Pagi Pa Arya. Ibu Zatira sudah bisa bergabung hari ini " ucap Aan
" Selamat pagi Ibu Zatira. Selamat bergabung" sambut Arya yang berdiri dari kursinya dan mengulurkan jabat tangan.
" Pagi Pa. Terimakasih " Tira membalas uluran tangan Arya
" Apa Pa Satya ada diruangan ? " tanya Aan.
Belum sempat Arya menjawab, Satya sudah keluar dari ruangannya.
" Pagi Pa Satya. Ini .. "
Satya mendekat ke arah Aan. Dan mengulurkan tangannya.
" Selamat bergabung Zatira "
" Terimakasih Pa " jawabnya penuh semangat.
" Pa Aan, tolong antarkan Zatira ke tempatnya. Dan Pa Arya, bisa dibantu, menyerahkan beberapa dokumen untuk dipelajari oleh Zatira " ujar Satya penuh wibawa.
" Baik Pa "
" Mari, saya antar ibu " jelas Aan
Dihari pertamanya tidak ada yang special. Ia hanya membaca dokumen yang tersusun rapih yang diserahkan oleh Arya.
Sesekali, Arya mengunjungi meja kerja Tira yang persis berada didekap pintu masuk ruangannya bekerja. Berbeda dengan Satya, yang justru tampak acuh dengan sekretaris barunya. Mungkin karena kesibukkan hari ini. Atau Ia masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Tentang wanita cantik bak model di catwalk dengan wanita bertubuh sintal. Namun, keduanya adalah orang yang sama.
***
Pukul 7 malam, biasanya dijam sekarang ini, Ia menikmati makan malamnya dengan keluarga tercinta. Namun, sudah hampir 1 bulan ini, Ia harus menikmati makan malamnya sendiri.
Tira, mengambil sebuah foto yang terpajang diatas nakas disisi ranjangnya.
" Syad, hari ini, hari pertama ku kerja di perusahaan GIANT CORP. Kamu tahu kan perusahaan itu ?? " menarik nafas yang cukup panjang, lalu menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
" Kamu tahu kan, pria kemeja abu-abu yang pernah aku cerita ? Aku sudah tahu dong namanya " ucapnya penuh bangga
" Dan, hari ini, aku jadi sekretarisnya " namun kalimat penuh bangga tersebut sangat kontrak sedan mimik wajahnya. Air mata turun, tanpa mampu dibendung.
Dan sejak malam itu, ketika Tira bertekad bulat dengan sangat berusaha menjaga dirinya dengan sesuatu yang salah. TIDAK TERLIHAT CANTIK, TIDAK TERLIHAT MENARIK. Ia mengkonsumsi makanan manis dan minuman manis yang jauh dari kata sehat. Dari soft drink dengan berbagai merk terkenal. Dengan berbagai rasa buah bahkan Cola. Serta berbagai minuman kekinian. Dari Mulai Boba pinggir jalan sampai Boba yang dijual elit Mall Mall besar. Dan membiarkan dirinya tidur dengan perut yang penuh. Bukan hanya penuh, tapi juga terasa sakit. Hal tersebut dilakukan agar kenangan indah masa lalu tergantikan dengan rasa sakit diperutnya untuk mengantarkannya ke alam mimpi.
***
Dilain tempat
Sebuah keluarga dengan formasi lengkap duduk dengan mengitari meja makan. Sungguh pemandangan luar biasa untuk keluarga mereka. Semua menikmati makan dengan tenang. Setelah lontaran umpatan dari gadis bernama Nad.
" Seorang pria tampan, tinggi dan pintar terlihat buruk rupa karena patah hati. Rambut berantakan, kusut dan seperti tak terurus " sindir seorang gadis belia untuk pria yang duduk didepannya.
" Heiii, siapa yang kamu maksud ? " matanya menatap pada gadis ABG tersebut.
" Nad, selesaikan makan mu " ucap sang Mamah
" Udahlah Kak. Putus satu tumbuh seribu. Ngapain sih, udah ga jaman galau kali. Sekarang mah jamannya Tik Tok an " kembali memasukkan suapan makan malamnya.
" Makanya, jadi cowo tuh jangan selow bangetlah. Pacar ditikung dipengkolan baru tau rasa " sindiran lagi Ia lontarkan.
" Siapa yang ditikung ? Siapa juga yang berani nikung ? " kini tatapannya naik menjadi level 3 yang berarti SIAGA bagi penerima tatapan tersebut.
" Entah apa yang merasuki mu, hingga kau tega menghianati ku, yang tulus mencintaimu " Nad bernyanyi dan melakukan gerakan seperti dalam vidio Tik Tok, sejurus tatapan yang amat tak bersahabat. Nad berlari menuju kamar. Namun, masih menggoda sang Kakak. Dengan suara fals dibawah rata-rata dan tarian yang memalukan.
" Satya "
" Apa yang dimaksud sama Nad ? "
" Ngga Mah, itu cuma ngeledek aja "
" Jadi kamu sama Gita gimana ? "
" Ngga gimana-gimana "
" Jadi, kapan rencana kamu sama Gita kedepannya ? " tanya pria paruh baya tersebut.
" Hmmmm ..Satya belum tau Pah " ucapnya jujur, meski sebenarnya enggan sekali membicarakan statusnya dengan wanita yang sudah menjadi tunangannya tersebut hampir selama satu tahun ini.
" Kenapa kamu belum tau ? "
" Masih banyak hal yang harus Satya pikirin dari pada .... " ucapnya menggantung
__ADS_1
" Dari pada pernikahan kamu dengan Gita ? " .... " Apasih yang buat kamu lama-lamu nunda nikah sama Gita ? " tanya sang Papah dengan penasaran.
" Gita itu cantik, baik , dari keluarga terhormat, terpandang, pintar dan kita semua tau bibit bebet bobotnya. Belum lagi ..... " penjabaran sang Mamah terpotong oleh ucapan Satya.
" Belum lagi, perusahaannya menjadi salah satu pemegang saham terbesar dari perusahaan Papah " ujar Satya dengan sedikit bibit menarik keatas. Senyum yang mengejek.
" Pernikahan tak sebercanda itu " lanjutnya lagi. Lalu berdiri berniat untuk meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berada di meja makan.
" Siapa yang bilang pernikahan kamu bercanda ? "
" Satya akan pilih calon Satya sendiri. Meskipun itu bukan Gita " ucap Satya sedikit dengan nada.
" Tidak ada yang bisa menentang pilihan Papah " titahnya dengan berapi-api.
" Yasudah, kalo gitu. Papah aja yang nikah sama Gita " ucapnya terakhir sebelum melangkah menjauh.
" Satya " panggilan namanya yanh diucapkan dengan nada cukup tinggi oleh kedua orang tuanya.
***
Dikamarnya, Satya menyilangkan kakinya diatas kasur untuk dijadikan tumpuan laptop yang digunakannya. Ia membuka email. Tatapan kosongnya menerawang, seorang wanita yang baru saja Ia pekerjakan sebagai Sekretarisnya tersebut.
" Hmmm.. Cantik "... " Tapi kenapa Ia berbeda sekali yah ? "
Pertanyaan tersebut selalu berulang-ulang dan menari-nari dipikirannya. Tak habis pikir, mengapa wanita yang dulu sangat terlihat cantik, kini berubah seperti itu. Namun, alibi dari pemikirannya sendiri, belum mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Ia ingin mengetahui, tapi tak mungkin jika harus bertanya pada yang bersangkutan.
Sesekali, Ia mengingat kejadian di meja makan tersebut. Memijat pangkal hidungnya. Sedikit meredakan rasa sakit kepalanya.
------------------------------------------------------------------------
Heyhoo readers ku ...
long time no up date heheheh
Sebenernya benang merah untuk cerita ini sudah aku dapat hihih.
Tapi kenapa ga update- update ?
Banyak alasannya guys... Salah satunya dari kebijakan NT ( kalian sudah pada tau lah yahh )
Yasud, tapi karena aku (terkadang bisa) baik hati, aku mau tamatin satu novel ini.
Tapi, semoga niat ku tak berubah yah
__ADS_1
Semoga kalian masih berkenan membaca coret-coretan dari imajinasi ku ini.
Terimakasih 💙