
Rayan dengan ketiga temannya melewati sebuah jalan perumahan. Dengan penerangan lampu jalan yang berjauhan, sehingga jarang sekali ada yang memilih jalan tersebut. Rayan diboncengi Didit. Sedangkan Arif dan Fajar. Dua motor berjalan beriringan.
" Eh , ada yang jatoh tuh " ucap Didit mengagetkan ketiga sahabatnya.
" Weh tolongin yuk " ucap Fajar memberi aba-aba.
Keempat remaja pria tersebut mendekati seseorang yang tergeletak dipinggir jalan yang terlihat tak bergerak.
Wajah pria tersebut tak dapat dikenali karena terlalu banyak darah menyelimuti wajahnya. Rayan memperhatikan motor tersebut. Dugaannya benar, bahwa Ia mengenali pria malang yang tergelak tak berdaya dipinggir jalan.
Rayan mengangkat kepala dengan wajah darah di pangkuannya.
" Mas, bangun Mas. Ini Rayan Mas. Mas sadar Mas " Rayan memukul pelan pipi lelaki tersebut, memastikan bahwa masih tersadar.
" Yan siapa Yan ? " tanya temannya terlihat khawatir.
" Dit. Ayo bantu gw antar kerumah sakit. Jar, Rif. motor ini lu bawa ke rumah gw yah " ucap Rayan menunjuk motor yang banyak retak disisi body yang berwarna biru tersebut.
" Nanti kalo nyokap atau bokap lu tanya hw bilang apa ? " tanya Fajar.
" Bilang aja, gw lagi ke rumah sakit. Setelah sampe rumah sakit, gw bakal telefon orang rumah. Udah ngomong gitu aja Jar " jawab Rayan
Keempat remaja tersebut memapah pria malang yang dikenali Rayan, naik keatas motor. Membantunya dengan penuh hati-hati. Sesuai instruksi Rayan, mereka bertiga mengikuti.
***
" Siapa yang sakit Yan " tanya nya dengan wajah yang terlihat bingung.
Rayan hanya menggenggam erat tangan sang kakak. Dan sesekali melihat ekspresi yang kebingungan dan ke khawatiran tanpa menjawab. Mereka berdua berjalan melewati lorong rumah sakit. Berjalan berdua tanpa ada orang lain disekitarnya. Hanya aroma obat-obatan yang menyeruak dirongga pernafasan.
Mereka masuk kedalam lift dan menuju ke lantai 3. Pemandangannya pun tak jauh berbeda dengan di lorong tadi. Hanya ada dua petugas yang masih berjaga dimeja dengan pakaian seragam putih - putih. Meraka berjalan menjauh dari lift dan menuju suatu tempat yang hanya Rayan ketahui.
Ia bisa melihat dari jauh ada beberapa orang yang duduk berdekatan didepan pintu sebuah ruangan. Semakin dekat semakin terlihat jelas. Ia bisa mengetahui siapa orang-orang tersebut.
" Mamah, Ayah " ucapnya pelan. Karena suasana cukup sepi dan hening. Panggilan dengan suara kecil itu pun terdengar jelas.
__ADS_1
" Mba " itu yang diucapkan pertama kali. Merentangkan kedua tangannya untuk memeluk putri tercintanya.
" Mah, ada apa ? Mah ? Kenapa ada Umi dan Abi disini " tanyanya, setelah melihat jelas kedua orangtua dari sang kekasih.
Tak ada yang mampu menjelaskan, hanya ada tangisan dan air mata. Tiga pria didepannya pun juga tak berbicara. Semua diam seribu bahasa. Namun jelas, garis ke khawatiran muncul diwajah mereka.
" Mah ada apa Mah ? Umi kenapa ? Kenapa semuanya ada disini ? Ada yang bisa jelasin sama aku " pintanya dengan memohon.
" Yan, jawab. Ada apa ? " Ia mendekati Rayan dan mengguncangkan tubuh adiknya. Ia menangis, larut dalam kesedihan yang Ia tak ketahui.
Lelaki dengan pakaian khas rumah sakit keluar dari ruang operasi. Pakaiannya berwarna hijau, dengan tutup kepala seperti show cap, dan masker yang sudah diturunkan didagu, namun masih tergantung dikedua telinga, membuka suara.
Semua menatapnya, menunggunya memberi sebuah kabar. Kabar bahagia tentunya yang diinginkan.
" Bagaimana Dok ? " tanya Abi dengan cemasnya.
" Korban kehilangan banyak darah, ada benturan keras dikepala. Kami sudah melakukan yang terbaik. Semoga Allah menjabah doa kita semua " tutupnya dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.
" Terimakasih Dok " Dokterpun pergi setelah memberikan penjelasan.
" Suster gimana anak saya ? " kini yang bertanya adalah Umi.
Gimana anak saya ? Kata tersebut membuat hati Tira berdebar tak menentu. Pertanyaan sedari tadi Ia lontarkan tak ada yang mampu menjawab. Bibir dan lidah seakan kaku terkunci.
Anak ? Siapa ? Siapa maksud Umi ?- Tira
" Semua operasi sudah berjalan dengan baik. Namun, saat ini masih terus dipantau keadaannya. Korban, masih belum sadar. Salah satunya karena efek dari obat bius " jawab suster
" Apa semua baik-baik saja ? Kapan anak saya bisa sadar ?" tanya Abi
" Kita akan lakukan yang terbaik. Untuk efek dari obat bius tersebut bisa sampai 3 jam. Namun, kami masih terus memantau perkembangannya. Dan setiap perkembangan, akan segera kami informasikan. Permisi Bapa Ibu " ucap suster, meninggalkan wajah-wajah penuh ke khawatiran.
Tring... suara ponsel berbunyi. Ia mencari sumber suara tersebut. Ia melihat sekelilingnya yang masih diam. Umi dan Mamah, terlihat tegar karena menguatkan. Ayah, Abi dan Rayan duduk diam dan hanya terdengar kalimat tasbih memuji keagungan sang Illahi pencipta Bumi.
Umi mengambil sebuah benda dari tasnya. Dan mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
" Waalaikum salam. Bang "
" Abang dirumah aja, jaga Kasih "
" Iya Bang, iya. Umi pasti kabari " jawabnya pada seseorang diseberang telefon dengan suara bergetar.
" Jadi yang ada didalam itu Arsyad ? " ucapnya dengan badan sedikit bergetar karena lemas. Jika Umi berbicara dengan Abang Irsyan, pasti yang didalam adalah Arsyad. Karena Umi dan Abi hanya mempunyai dua anak saja.
Mata kantungnya tak mampu membendung air bah dari matanya. Telapak tangannya menutup mulut untuk mencegah suara tangisan. Badannya benar-benar lemas. Tergeletak seperti tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri. Dengan cepat Rayan menangkap tubuh yang gontai itu.
" Mba, kita semua berdoa yang terbaik untuk Mas Arsyad. Mas Arsyad pasti bisa sembuh Mba " bisiknya pada telinga sang Kakak.
" Jahat kamu, jahat. Kenapa kamu ga bilang ? Apa kamu sengaja " Tira memukul berulang kali Rayan. Rayan tak membalas, bahkan pukulan tersebut terasa seperti usapan dari orang yang tak memiliki tenaga, bahkan hanya untuk berdiri.
" Mba, kita semua berdoa. Mba juga harus berdoa untuk kesembuhan Mas Arsyad yah " sarannya yang dilakukan berulang ulang.
***
Sudah pukul empat pagi, sebentar lagi ayam akan berkokok menyambut sang mentari. Arsyad sudah dipindahkan diruang inap. Namun kesadarannya belum kembali.
Tira hanya bisa menangis dan berdoa dari balik kaca. Menahan tangisan sangatlah menyusahkan. Berkali-kali Ia menahan tangis, dengan kurang ajarnya air mata tersebut tetap meleleh membanjiri pipi tanpa permisi.
Rayan dan Ayah berjalan mendekat. Dibawanya beberapa gelas plastik yang berisi teh hangat yang dibeli dari kantin rumah sakit.
" Mba minum dulu " Rayan menyerahkan gelas yang berisi teh tersebut. Namun Tira menolaknya hanya dengan gerakkan tangan tanpa suara.
Yang diinginkannya adalah kesadaran dan kesembuhan Arsyad. Seperti semua doa dari orang-orang disekitarnya saat ini.
" Mba harus tetap minum. Mba harus tetap sehat. Mba mau lihat Mas Arsyad sehatkan ? " ucap Rayan
" Mas Rayan pasti juga sedih, kalo Mba Tira kaya gini. Ihhh jelek sekali " canda Rayan untuk membuat sedikit senyuman di wajah Tira. Sayangnya, usahanya tak berhasil.
______________________________________________
Bersambung ...
__ADS_1