Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 22. ACARA PEMAKAMAN


__ADS_3

Hari Jumat tiba dan gereja dipenuhi dengan tamu undangan pada saat keluarga telah masuk. Jilena bersumpah dia merasakan tatapan orang-orang tajam kearahnya. Penduduk kota mencintai ibu dan saudara perempuannya, dan mereka menghormati ayah dan tantenya. Tapi jilena? Dia bisa berasumsi bahwa mereka melihatnya sebagai domba hitam keluarga, orang yang lari entah kemana. Jilena terus berjalan. Dia mencoba untuk mengabaikan perasaan itu. Kemungkinan besar tidak ada satupun dari orang-orang itu bahkan tahu siapa dia.


Seorang wanita paruh baya yang duduk di grand piano hitam mengkilap mulai memainkan piano dengan lembut, dan peti mati terbuat dari mahoni yang sudah jadi sudah dipajang di depan gereja.


Peti tertutup, jilena tahu peti itu akan dibuka segera dan dia harus melihat wajah pucat dari ayahnya. Berjalan bersama keluarganya ke depan, dia mengenali beberapa orang saat tatapannya berkeliaran— ada walikota, teman-teman ayahnya, Tuan Arsyanendra dan istrinya, dan Noah. Matanya beralih ke depan sesaat ketika Noah melihatnya.


Acara pemakaman akan dimulai sebentar lagi. Jilena gelisah saat dia duduk di baris pertama didalam gereja dengan anggota keluarganya, Jari kakinya mengetuk lantai dengan gugup, merasakan tatapan Noah tajam padanya. Rangkaian acara untuk pemakaman telah disiapkan, sebagian besar oleh Tante Dewi, tetapi dengan beberapa masukan dari ketiga gadis itu. Musik, pembicara, pidato. Kemudian orang-orang akan mengantri untuk melewati peti mati terbuka untuk melihat Rafael Ginanjar dan mengucapkan selamat tinggal terakhir mereka.


Jilen harus bertahan ditempat duduknya selama enam puluh menit berikutnya, pikiran Jilena terbayang wajah sang papa yang sama-samar dan kata-kata yang mengiang. Ramira meremas tangannya beberapa kali selama acara, membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinganya sesekali, tapi Pikiran jilena begitu gelisah sehingga kata-kata temannya tidak bisa dipahami.


Akhirnya, pendeta turun dari podium dan membuka bagian atas peti mati, membuat tubuh jilena bergetar. Dia memejamkan matanya erat-erat, menarik napas perlahan dan *******-***** tangannya. Ya Tuhan! Aku tidak ingin melihatnya, tidak seperti ini.


Sebaliknya, dia ingin melihat papa yang dia kenal sebagai seorang gadis, papa yang memberinya tunggangan kuda di punggungnya dan membuatnya tertawa. Orang yang membawanya memancing di teluk dan bermain sepatu roda di Taman. Mereka seharusnya tidak pernah pindah ke kota ini. Air mata hangat mengalir di matanya dan jatuh di pipinya. Sarah menyerahkan dia tisu, dan Ramira memegang tangannya.


Pendeta memberi isyarat agar keluarga itu memulai berjalan ke depan untuk melihat dan memberi penghormatan terakhir. Saat itu giliran jilena, dia tidak bisa melakukannya, tidak bisa. Matanya kabur tidak sanggup menatap wajah sang paps, pandangannya fokus di ujung lengan bajunya, tepat di atas tangannya yang terlipat — itu—yang terbaik yang bisa dia lakukan. Bibirnya membentuk ucapan selamat tinggal tanpa suara, beberapa tetes air mata jilena jatuh ke pipi dan jaket sang papa yang terbujur kaku didalam peti.


Jilena berjalan mengikuti saudara perempuannya menyusuri lorong menuju bagian belakang gereja, Jilena terus menunduk. Ketika dia mendekati barisan belakang, sebuah tangan terulur dan dengan lembut menggenggam jarinya.


Jilena mendongak dan melihat Jonathan, berdiri tegak disampingnya mengenakan setelan jas biru tua, ekspresi wajahnya muram. Jilena tersenyum kecil padanya saat dia melepaskan tangannya dan dia terus berjalan.


...**...


Setelah kebaktian pemakaman, para wanita di gereja menyiapkan prasmanan makan siang di aula gereja. Jilena merasa lega karena tidak harus melihat semua orang di rumah ayahnya atau rumah Tante Dewi. Saat orang-orang mulai mengambil makanan mereka, Jilena berdiri di dekat pintu dan mengamati


Ramira pergi ke The Upper Spot pagi itu, seperti biasanya, dan memanggang kue mangkuk wortel favorit ayahnya dengan krim keju frosting. Ramira telah membawa kue-kue itu ke dapur gereja sebelum kebaktian dan diletakkannya di salah satu meja panjang.


"Apakah kamu mau cupcake?" tanya Ramira, mendekati Jilena.


Jilena terus memperhatikan kerumunan, tidak bereaksi terhadap pertanyaan itu. "Apakah kamu pikir papa benar-benar mengenal semua orang ini?”


“Tentu saja. Ayahmu cukup terkenal di kota ini, juga dihormati. Kenapa kamu bertanya?”


"Tidak apa-apa." Jilena menggelengkan kepalanya. “Aku merasa aku hampir tidak mengenalnya. Orang-orang ini mungkin mengenal papa lebih baik daripada putrinya sendiri. ” Dia berbalik dan menatap mata Ramira. “Kau mengenalnya lebih baik daripada aku.”


“Mungkin, tapi kamu harus tahu dia menyayangimu. Aku ingat dia mengatakan beberapa kali betapa bangganya dia bahwa kamu bekerja di sebuah surat kabar besar dan kamu pergi ke berbagai tempat.”


"Itu tidak terdengar seperti papa." Apakah Ramira mengada-ada untuk membuatnya merasa lebih baik, mengatakan padanya apa yang ingin dia dengar? Dia pasti tidak pernah mengatakan hal seperti itu pada jilena.


"Oh lihat. Ada Keenan Hadinata.” Senyum cerah menghiasi wajah Ramira.


"Dia melambai pada kita." Perhatiannya dengan cepat teralihkan. "Aku akan pergi berbicara dengannya.”


Jilena memperhatikan saat Ramira berjalan ke tempat Keenan berdiri. Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka? Apa Ramira adalah kekasihnya? Ramira memang pantas mendapatkan pria yang baik.


“Cupcake?”


Jilena berputar ke arah suara pria itu. “Jonathan.” Dia menyeringai. Dia mengulurkan cupcake di piring plastik kecil. “Cupcake ini enak.”

__ADS_1


"Nanti saja."


"Aku akan menyimpannya untuk Vino kalau begitu." Dia menurunkan piringnya. “Sekali lagi, aku sangat berduka tentang papamu."


"Terima kasih. Aku sangat menghargai kedatanganmu. Senang melihat wajah tampanmumu, wajah yang tidak asing." Kehangatan yang tiba-tiba mengalir dalam dirinya setiap kali berdekatan dengan Jonathan, membuat jantungnya selalu berdegup kencang.


"Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaanmu sebelum aku kembali bekerja." Tangan Jonathan menyapu lengannya dan dia merasakan percikan api.


"Aku menghargai itu." Jilena tersenyum padanya. “Aku berharap kita bisa bicara lagi."


"Ya, aku sangat senang jika kita bisa bertemu nanti. Mungkin aku akan membawa Vino." Matanya berbinar memandang wajah Jilena, gadis cantik yang dicintainya.


"Baiklah. Pasti sangat menyenangkan bertemu Vino."


“Kamu tahu, aku telah mendapati hal sangat penting pada kasus mayat yang sedang aku selidiki dan aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu.” Saat jilena mengucapkan kata-kata itu, kilau di matanya redup.


"Oh begitu. Kamu hanya menginginkanku untuk mencari informasi dari orang dalam, dan aku pikir kamu hanya berniat memanfaatkanku atau mungkin kamu hanya tertarik pada tubuhku.”


Pipinya terbakar. “Aku… aku… yah, tidak, maksudku—”


Dia tertawa. "Aku hanya bercanda, jilena."


Jilena mencubit lengan Jonathan. “Jonathan Benedictus! Kamu tidak pernah berubah. Selalu saja mengejekku.” Meskipun, pria itu telah berubah dalam banyak hal lain — siapa pun bisa melihat itu namun sikap suka usilnya pada Jilena tidak berubah.


“Aku harus pergi, bagaimana kalau aku mampir ke tempatmu setelah shift ku berakhir, sekitar jam sembilan?"


“Baiklah. Aku akan ada di ruang kerja papa nanti. Hei, aku teringat sesuatu, apakah kamu tahu siapa yang bisa membuka kunci?"


"Tentu saja tidak. Aku tidak bisa membuka laci di meja antik papa, Tante Dewi sangat marah saat kubilang akan membuka paksa laci itu. Aku pikir kamu mungkin kenal seseorang yang bisa membuka laci yang kunci, bisakah aku tahu nama dan nomor ponselnya.”


“Tidak mungkin aku membiarkanmu membawa seorang pria asing ke rumahmu. Astaga, jilena. Untuk seseorang yang sangat pintar, kadang kamu bisa sangat bodoh.” Dia menyeringai.


'Orang pintar yang kadang bodoh' kata-kata itu sering kali diucapkannya pada Jilena ketika mereka di sekolah menengah. Jilena membalas dengan mengepalkan tinjunya dan menggoyangkannya ke arahnya main-main. "Hei, Jo, kamu mau ini?"


Jonathan menangkap tinjunya dengan tangannya. "Bagaimana dengan tukang kunci?"


“Aku memikirkan itu, tapi aku lebih suka seseorang yang bisa menutup mulut tentang apa pun yang mereka lihat di laci.”


“Dengarkan aku baik-baik, aku akan membawa peralatanku dan aku akan membuka laci terkunci itu untukmu, tapi sekarang aku harus bekerja." Jonathan sedikit membungkuk dan menciumnya di dahi.


Seorang pria, berdiri di dekat mereka berdeham. Jilena dan Jonathan menoleh ke arah suara itu.


"Apakah aku mengganggu kalian?"


"Halo, Noah," sapa Jilena, melipat kedua tangannya ke belakang, dada berdebar kencang melihat pria di hadapannya.


“Noah.” Jonathan bertubuh tinggi kekar, setinggi seratus tujuh puluh lima, lebih tinggi dari Noah setidaknya tiga inci.

__ADS_1


“Aku kesini untuk mengucapkan belasungkawa pada Jilena.”


Jonathan mendorong pintu terbuka dan pergi, meninggalkan Jilena untuk menyelesaikan urusannya dengan Noah.


"Aku tidak bermaksud mengusirnya," kata Noah dengan nada sarkasme.


"Apakah aku mengatakan itu?"


“Jangan khawatir, kamu tidak bilang itu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Suaranya terdengar tenang dan matanya melihat ke arah kerumunan saat jilena dengan kaku menyandarkan punggungnya ke dinding dan menyilangkan tangan di depan dada.


Noah menyandarkan tangannya ke dinding di belakangnya dan mencondongkan tubuh membuat wajah keduanya berdekatan.


Mantan pacar yang sudah menyakitinya datang menyapa dan menyampaikan belasungkawa?


Tatapan Jilena melihat kewajah Noah dan matanya bertemu dengannya. Dia sekarang hanya beberapa inci darinya. Mata hitam dan rambut coklat bergelombang itu mengingatkannya kembali ke masa remajanya, seolah-olah dia berdiri di hadapan pria itu sebagai gadis berusia tujuh belas tahun, yang sedang jatuh cinta. Dadanya mulai berdebar kencang dan dadanya sesak, tiba-tiba ruangan terasa pengap dan panas.


Memaksa dirinya untuk berpaling, matanya beredar mencari keberadaan Ramira atau Sarah atau Tante Dewi—siapa pun yang bisa menyelamatkannya saat ini. Tapi matanya tidak bisa menemukan mereka.


Noah pasti merasakan betapa tidak nyamannya Jilena, dia menjauhkan diri dari gadis itu dan meluruskan posisinya. “Aku masih ingin bertemu dengamu dan bersamamu lagi. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Banyak hal telah berubah, untuk kita berdua.”


"Aku tidak yakin-"


"Dengar," potongnya. "Jika kamu akan tinggal di kota ini dan bekerja di surat kabar, aku ingin kita berteman, supaya tidak canggung setiap kali kita bertemu."


Dia benar. Mereka akan terus bertemu satu sama lain—Kota Lembayung adalah kota kecil—Tante Dewi bahkan mengatakan hal yang sama. Mungkin jika dia menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, perasaan sakit hati dan terluka dari masa lalu itu akan hilang dan mereka hanya bisa berteman. Mungkin jika sering bertemu Noah, membangkitkan luka masa lalu setidaknya rasa cinta tidak akan pernah ada.


"Bagaimana menurutmu?" Apakah aku sudah gila dengan berkata seperti itu? Bisa-bisa pria ini akan beranggapan lain?


"Bagaimana kalau aku mengajakmu makan malam, malam ini?" Jilena membuka mulutnya untuk protes, dengan cepat Noah menekan beberapa jari ringan di atas bibir jilena.


"Tidak ada yang istimewa," janji Noah menurunkan tangannya. “Hanya makan malam antara dua teman lama. Apa kamu setuju?"


Matanya terpaku oleh tatapan mata Noah, bibirnya kesemutan karena sentuhan jari pria itu. Haruskah aku mempercayainya lagi setelah sekian lama—atau lari darinya? Jilena membenci apa yang dia rasakan setiap saat kali mereka bertemu— perasaan antara ingin muntah melihat wajah tampan itu dan perasaan hatinya yang berdebar kencang. Jika kota Lembayung akan menjadi tempat tinggalnya lagi, mungkin dia harus berusaha berdamai dengannya, demi dirinya sendiri. Jika tidak bisa berdamai menjadi teman, tidak ada seorangpun yang bisa mengatakan dia tidak dicoba.


"Baiklah. Jemput aku jam enam.” Jilena berkata sambil melangkah menuju kerumunan untuk menemukan keluarganya, meninggalkan Noah berdiri sendirian di dekat pintu. Jilena merasakan Noah sedang mengawasinya pergi, dan melirik sekilas dari balik bahunya untuk memastikan. Rasa dingin, gugup mengalir di punggungnya saat melihat matanya tanpa terus mengikutinya. Jilena tidak yakin apakah harus merasa senang atau kesal.


Ramira dan Sarah berkerumun dalam percakapan dengan Tante Dewi di dekat meja prasmanan dan dia berjalan ke arah mereka. Apa yang akan mereka pikirkan tentang keputusannya untuk makan malam dengan mantan kekasih? Mungkin yang terbaik adalah tidak mengatakan apapun


...**...


Sudah hampir jam lima ketika Jilena duduk di meja kerja papanya dan membuka laptopnya. Dia telah menjanjikan Keenan akan membuat sebuah cerita tentang sang papa dan acara pemakaman, sedikit informasi latar belakang tentang dia. Dia membuat cerita, dan setelah mengirimkan artikelnya melalui email, dia duduk dalam diam dan merenungkan pembunuhan Mariana, ibu Ramira.


Sebelas tahun yang lalu, Ramira berusia delapan belas tahun dan lulus dari sekolah menengah ketika ibunya mengatakan bahwa dia dan pacarnya akan pergi untuk kehidupan yang lebih menarik di kota lain. Tanpa adanya keluarga, Ramira tahu dia sendirian di dunia ini, jika bukan karena keluarga Ginanjar.


Jilena memejamkan mata dan membiarkan imajinasinya menjadi liar dengan teori-teori. Dia suka menyebutnya permainan. Bagaimana jika pacar Mariana membunuhnya? Mariana dan pacarnya sering mabuk dan pacar terakhirnya telah mengubahnya menjadi pecandu narkoba.


Daripada langsung menuju ke kota tujuan, bagaimana jika mereka pergi ke danau untuk pesta terakhir? Setahunya remaja dan mahasiswa kampus sering melakukan itu, tetapi akankah—Mariana dan kekasihnya juga melakukannya?

__ADS_1


Bagaimana jika dia overdosis? Atau, bagaimana jika dia dan pria itu bertengkar memperebutkan sesuatu dan dia tidak sengaja membunuhnya?


 


__ADS_2