
Seorang pelayan mendekati meja mereka dan mengambil pesanan mereka. Membacakan kembali pesanan untuk memastikan.
“Bagaimana kabar ibumu?” Jilena bertanya setelah pelayan pergi. “Apakah kamu sering bertemu dengannya?”
Noah mengangguk. “Ya, aku masih bertemu dengannya ketika ibuku tidak sibuk dengan klub dan organisasinya, atau bepergian."
"Dia presiden Klub Taman Lembayung, bukan?"
“Tidak, itu ibu tiriku. Kenapa kamu bertanya?”
“Aku akan meliput Pertunjukan Bunga minggu depan untuk dimuat dikoran, jadi aku pikir aku akan—akan mewawancarai ibumu. Kalau tidak salah nama ibumu Ratih bukan? ”
“Betul. Ibuku akan berada di sekolah menengah Minggu sore ini untuk persiapan lelang minggu depan. Mungkin kamu harus merangkum berita tentang kegiatan pengumpulan dana itu. Mereka mencoba mendapatkan dana untuk merenovasi auditorium.”
“Aku menyukai auditorium tua itu—detail hiasan dan tirai burgundy yang tebal. Gedung itu seperti gedung opera.”
"Betul sekali. Bukankah kita pernah pergi kesana menonton pertunjukan musik, kalau tidak salah, kita pernah kesana dua kali?”tanya Noah.
"Ya, kita pernah kesana—dan ada Tomi juga, ingat?" Jilena tersenyum mengingatnya.
“Kami menghabiskan banyak waktu bersama-sama,” kata Noah.
__ADS_1
Kemudian pikirannya kembali ke ibu Noah lagi. “Apakah ibumu tahu tentang Mariana setelah kamu tumbuh dewasa?”
"Wah, itu agak tiba-tiba." Noah mengerutkan kening. “Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?”
“Aku sedang memikirkan wawancara yang ingin aku lakukan dengannya, dan aku pikir aku—mungkin bisa membunuh dua burung dengan satu batu—” Jilena meringis. "Pilihan kata-kata yang salah ya, Maksudku mungkin aku bisa mengajukan beberapa pertanyaan untuk kasus Mariana. Untuk menghemat waktu, kau paham?”
“Aku tidak tahu apakah ibuku mengenalnya. Ibu dan ayah bercerai saat aku berumur tujuh tahun. Jika dia bukan bagian dari orang kaya di sekitar sini, ibuku tidak akan berteman dengannya.”
“Dia bisa saja menngenalnya secara kebetulan. Dia bisa mengenalnya dari bank mungkin. Bukankah Mariana bekerja di bank milik keluarga?" menatap kearah wajah Noah.
Jilena memperhatikan kedipan persetujuan di wajah Noah. Dia mengangkat bahu. "Tidak ada ide." Dia mencondongkan tubuh lagi, alisnya menyatu—kerutan diwajahnya terlihat jelas. “Kamu tidak berpikir ibuku ada hubungannya dengan kematian Mariana, bukan?”
Seandainya, jika Jilena dapat membantu menyelesaikan pembunuhan itu, dan menjadi yang pertama menerbitkan cerita, itu akan menjadi keuntungan bagi karirnya. Mungkin suatu hari nanti dia bisa meninggalkan kota kecil yang tenang ini dan pergi bekerja di surat kabar lain di kota besar.
"Jadi, kemana kamu pergi selama ini dan melanjutkan kuliahmu?" Noah bertanya, sudah jelas dia mencoba untuk mengubah topik pembicaraan. Jilena menceritakan bahwa dia melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi dan mengambil jurusan jurnalistik. Noah mengatakan dia melanjutkan kuliahnya sambil melanjutkan karir bermain sepak bola sampai lututnya patah pada tahun pertama.
Dia lulus menyelesaikan kuliah dijurusan bisnis, dengan asumsi ayahnya mengharapkan Noah untuk kembali ke Kota Lembayung dan mengambil alih semua bisnis keluarga. Dan ternyata benar, kini Noah mengelola semua bisnis keluarganya.
Mereka mengobrol tentang pengalaman kuliah mereka dan berbagai pekerjaan yang mereka tekuni, keduanya dengan sangat hati-hati menghindari pembicaraan tentang kehamilan yang tidak terduga dan bayi yang dia serahkan untuk diadopsi.
Itu disimpan saja untuk di diskusikan nanti ... jauh dikemudian hari.
__ADS_1
Sudah jelas bukan bahan percakapan yang dia inginkan di tempat umum. Pasti akan ada tangisan, bahkan mungkin beberapa teriakan dan kata-kata marah. Tidak, lebih baik tidak membicarakannya di restoran ini di mana ada banyak mata dan telinga yang mengintip. Tidak diragukan lagi, saat ini dia yang duduk berdua dengan Noah akan menjadi bahan pembicaraan gosip kota jauh sebelum pagi.
Jilena dan Noah mengenang prom dan kegiatan lainnya yang mereka ingat pernah dilakukan bersama . Mereka bahkan tertawa beberapa kali mengingat beberapa kenangan kejenakaan gila dari teman-teman mereka.
Jilena tanpa sadar memilin-milin rambut hitamnya yang panjang dengan jarinya, dia merasa sedikit pusing mengingat kenangan masa lalu itu. Namun, dia merasakan desiran aneh dalam dirinya, perasaan yang dulu pernah dia rasakan bersama Noah.
Saat makanan sudah habis dan percakapan pun terhenti, Jilena merasa sangat nyaman dengan Noah. Tidak kenangan buruk yang diungkit malam ini, tidak ada luka lama yang terungkap. Sekarang, dia bisa bertemu dengannya di sekitar kota dan merasa tidak canggung atau kaku seperti yang terjadi malam ini.
Noah mengantarnya pulang dan mengantarnya sampai kedepan pintu. Saat itu pukul sembilan lebih sedikit. Mereka berhenti di beranda, berdiri tepat di bawah lampu, dan mengucapkan selamat tinggal. Noah membungkuk dan tiba-tiba mencium Jilena di bibir. Sebelum dia sempat bereaksi, suara derit ban mobil membelah udara.
Keduanya, baik Noah dan Jilena menoleh ke arah jalan, melihat mobil polisi berpacu menjauh. Jonathan yang sudah berjanji akan datang kerumah Jilena jam sembilan malam, melihat saat Noah mencium bibir Jilena. Seketika itu juga Jonathan langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Jilena merasa sangat gelisah sekarang karena telah pergi makan malam dengan Noah. Dan karena terlalu bersemangat bicara ditelepon dengan Tante Dewi, Jilena sampai lupa kalau Jonathan akan mampir kerumahnya sekitar pukul sembilan, setelah giliran kerjanya selesai. Ya Tuhan. Jonathan melihat Noah menciumnya. Sekarang dia pasti sudah salah paham. Jilena merasa malu.
Jilena membuka kunci pintu, dan gemerincing kunci menarik perhatian Noah dan berjalan kembali mendekati Jilena. Dia melemparkan senyum menawannya pada Jilena. "Selamat malam, Noah.” kata Jilena melangkah masuk.
"Apakah kamu tidak akan mengundangku masuk?" tanya Noah yang berdiri didepan pintu.
Untuk kedua kalinya malam itu Noah menanyakan itu. Dia sangat ingin bahkan berharap Jilena akan mempersilahkannya masuk kedalam rumah dan menghabiskan waktu bersama. Namun Jilena tidak menginginkannya karena dia takut akan jatuh dalam jerat pesona Noah lagi. Jika derit ban mobil Jonatha tidak menyadarkan dirinya, dia mungkin—benar-benar telah menyuruh Noah masuk kerumahnya.
Hubungan keduanya membaik malam ini. Jika dia mengijinkan Noah masuk kedalam rumahnya, mungkin malam ini akan menjadi malam yang sangat menyenangkan—membayangkan bibir Noah yang mencium bibirnya, memeluknya sesaat, dan mereka menghabiskan malam bersama sehingga pertahanannya akan runtuh dan tubuhnya akan terjerat pada pesona sentuhan Noah sama seperti yang terjadi dimasa lalu. Tapi tidak! Dia tidak bisa membiarkan dirinya ditarik kembali dalam jerat pesona Noah.
__ADS_1