
Mendengar ucapan Tante Dewi membuat Jilena mengingat obsesinya sendiri dengan Tuan Muda Noah Arsyanendra. Dimasa lalu, gadis itu sangat terobsesi dengan Noah Arsyanendra. Seperti dihipnotis oleh pesona wajah tampan dan berkharisma yang dimiliki pria itu membuatnya tak berdaya jatuh dalam pelukannya.
Memang diakui pesona para pria dari keluarga Arsyanendra yang luar biasa mampu memikat semua wanita, bahkan dia bertekuk lutut pada Noah hingga membuatnya hamil. Perut Jilena merasa mual saat mengingat itu. Mengingat masa-masa itu dan bagaimana kesombongan keluarga itu.
“Beberapa bulan kemudian,” Tante Dewi melanjutkan setelah diam dan mengatur napasnya, “Mungkin sekitar empat atau lima bulan kemudian, aku pergi ke bank untuk melakukan beberapa transaksi bisnis dan aku perhatikan istri Arysanendra, bernama Ratih, ada di sana menggendong seorang bayi laki-laki. Itu pasti Noah, waktu itu Noah baru berusia dua atau tiga bulan saat itu.”
“Beberapa teller berkerumun di sekitar mereka, melihat anak itu dan memberikan doa supaya mereka sehat-sehat. Tapi aku tidak melihat Mariana di sana, jadi aku bertanya pada salah satu gadis yang bekerja sebagai customer service disana tentang Mariana. Dia bilang kalau Mariana sudah diberhentikan, tapi dia tidak tahu kenapa.”
Tante Dewi menghela napas panjang. “Aku tahu ada sesuatu yang salah, tapi aku tidak yakin apa. Beberapa hari kemudian aku melihat Mariana di kota, keluar dari sebuah toko, dan aku melihatnya dengan jelas dia sedang hamil, mungkin empat atau lima bulan. Dia berbalik dan pergi ke arah lain ketika dia melihatku datang menghampirinya. Aku memanggilnya, tapi dia terus berjalan.”
"Itu aneh." ucap Jilena sambil menekan keningnya dengan jemarinya, berpikir. Apa wanita itu hamil dengan tuan Arsyanendra? Ahhh terdengar klise.
“Aku tidak pernah bertemu dan berbicara dengannya setelah itu. Seharusnya aku berusaha lebih keras waktu itu untuk mendekatinya."
"Tapi tante tidak tahu pasti kalau Tuan Arsyanendra adalah ayah Ramira, kan?" Jilena bertanya untuk memastikan.
“Tidak, tidak sepenuhnya. Tapi menurutmu siapa lagi yang bisa melakukannya?”
"Yah, Ramira bisa menjalani tes paternitas," kata Jilena.
"Itupun jika dia memang ingin tahu."jawab Tante Dewi.
"Apa maksud tante?"
"Yah," Tante Dewi berhenti, "Kamu tahu kan kalau Arsyanendra adalah orang yang kuat, sangat berpengaruh dan—sudah pasti dia tidak menginginkan hubungan apa pun dengannya. Dia bisa membuat hidup Ramira menjadi sulit di kota ini jika dia mengeksposnya.”
__ADS_1
"Ya, betul. itu akan sangat buruk," jawab Jilena. Kemudian sebuah pikiran menghantamnya seperti bola lampu menyala. “Oh tidak, itu juga berarti Noah adalah saudara laki-laki Ramira—mereka saudara tiri. Aku ingin tahu apakah dia mengetahuinya.” Jika Ramira menuntutnya, maka dia harus—membagi warisannya dengan Ramira, sudah pasti akan ditentang oleh Noah.
“Tidak mungkin Arsyanendra akan memberitahunya,” duga Tante Dewi, “Dia tidak akan memberitahu siapa pun—orang lain."
"Apakah menurutmu istrinya tahu?"
"Mungkin saja." jawab Tante Dewi singkat.
"Apakah ada sesuatu yang tidak Tante katakan padaku?" Jilena mencoba mendesak. Itu terdengar tidak seperti Tante Dewi yang memberikan jawaban singkat seperti itu. Pasti ada sesuatu, gumamJilena dengan suara rendah.
“Hanya saja Arsyanendra dan Ratih bercerai ketika Noah masih muda. Saat itu ada rumor beredar dikota ini.” dengan nada datar terdengar Tante Dewi merasa tidak nyaman untuk bercerita.
“Rumor macam apa?”tanya Jilena penasaran.
"Apakah menurut tante, Ratih tahu tentang Ramira?"
Pada kenyataannya Ratih sangat senang setelah mendengar soal suaminya yang punya anak dengan Mariana, belum lagi—pembagian harta kekayaan Arsyanendra. Putranya tidak akan lagi menjadi satu-satunya pewaris keluarga Arsyanendra.
Yang menurut Ratih pada waktu, dengan adanya anak lain dikeluarga Arsyanendra maka tanggung jawab tidak akan dibebankan sepenuhnya hanya pada putranya kelak. Wanita itu tahu betul, seperti apa kehidupan anaknya dikeluarga itu. Noah dipastikan dididik untuk menjadi pewaris tunggal.
"Itu yang tidak bisa kukatakan padamu, sayang."ujar tante dewi dengan suara lemah.
"Namun, jika Ratih melakukannya, apakah menurutmu dia akan membunuh Mariana untuk merahasiakannya?"
“Setelah bertahun-tahun? Ya ampun, tidak mungkin Ratih membunuh. Ramira sudah remaja saat Mariana kabur. Apa gunanya coba Ratih membunuhnya?”
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Nyonya Arsyanendra yang baru mungkin?" tanya Jilena.
“Arlina? Sekarang itu cerita lain. Aku tidak akan melupakan perempuan mata duitan itu. Arlina akan melakukan apa pun yang harus dia lakukan, untuk melindungi kekayaan Arsyanendra.”
Suara Tante Dewi terdengar sangat kesal saat mengucapkan nama wanita itu yang tak lain adalah ibu tiri Noah. “Kamu tahu, semua orang tidak menyukai wanita itu. Dia wanita licik, penipu penuh muslihat. Dia tidak peduli pada apapun atau siapapun, yang ada diotaknya hanya uang, harta dan status sosial yang semuanya itu bisa dia dapatkan dari keluarga Arsyanendra.”
“Menurutku, dia juga pasti menjebak Arsyanendra hingga dinikahi. Setelah masuk kedalam keluarga itu, sepertinya dia mulai berusaha menguasai mereka. Kamu tahu kan bagaimana keluarga Arsyanendra begitu menjaga reputasinya. Kabarnya Arlina selalu mengancam akan mengekspos semua keburukan suaminya untuk membungkamnya dan menuruti semua kemauannya.” kata tante dewi menjelaskan tentang ibu tiri Noah yang sangat dibencinya.
"Arlina tahu betul kelemahan keluarga itu, reputasi dan nama baik adalah segala-galanya. Keluarga itu rela melakukan apapun demi menjaga reputasi keluarga Arsyanendra."
“Lalu bagaimana dengan Noah? Apa dia tinggal bersama ibu kandungnya setelah ornagtuanya bercerai?" Jilena yang memang tidak tahu tentang keluarga Arsyanendra semakin ingin mengorek lagi tentang keluarga itu.
“Tidak. Mana mungkin keluarga itu melepaskan Noah yang merupakan cucu laki-laki pertama yang kelak akan menjadi pewaris keluarga itu. Noah tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Setahuku, dia masih bertemu dengan ibu kandungnya. Tapi, dulu Arlina selalu menghalangi jika Ratih ingin bertemu dengan putranya”
“Apa ibu tirinya menyayanginya atau hubungan mereka baik?” tanya jilena lagi.
“Tidak. Ibu tirinya tidak pernah mengurus Noah sejak kecil. Dia diasuh oleh pengasuhnya dan pembantu yang bekerja di rumah itu. Wanita itu hanya sibuk menaikkan status sosialnya dengan ikut kegiatan-kegiatan yang menurutku sangat tidak penting.”
“Tante sepertinya sangat membenci wanita itu?” Jilena bertanya.
“Apa kau menyukainya? Setahuku kau juga benci. Sangat membencinya, iyakan?” ujar Tante Dewi dengan nada kesal. Dia tahu betul bagaimana perasaan Jilena tentang ibu tiri Noah itu.
“Aku punya alasan sendiri kenapa tidak menyukainya.”
...**...
__ADS_1