
Sekarang Ramira telah menyakinkan Jilena bahwa dia adalah anak perempuan di dalam liontin itu, Jilena bertanya-tanya apakah mungkin Tante Dewi mengetahui hal lain dan bisa menceritakan lebih lanjut tentang Mariana. Mengingat Tante Dewi sudah tinggal di kota Lembayung selama lebih dari tiga puluh tahun dan tahu sebagian besar apa yang terjadi di kota itu. Menurut Jilena tidak ada orang lain yang lebih mengenal Mariana selain Tante Dewi.
Semakin dalam keyakinan Jilena jika kematian Mariana ibunya Ramira pasti ada hubungannya dengan keluarga kaya Arsyanendra.
Jika dia menelepon bibinya sekarang, dia akan punya cukup waktu untuk berbicara dengannya sebelum Noah datang. Setidaknya dia bisa mendapatkan lebih bsnyak informasi mengenai Mariana untuk menambah bahan ceritanya, apalagi jika bisa menemukan titik terang yang menjadi alasan kenapa wanita itu dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Atau paling tidak ada sedikit gambaran tentang orang-orang yang mungkin terlibat dalam pembunuhan itu.
Jilena meraih ponselnya dan menekan nomor menghubungi Tante Dewi. Tak berapa lama panggilan tersambung. "Halo, sayang." terdengar suara lembut seorang wanita.
"Tante, ada yang ingin kutanyakan pada tante."
"Soal apa? Apa tentang pembunuhan itu? sepertinya tante dewi tahu apa yang ingin ditanyakan gadis itu padanya.
"Iya, benar sekali. Koq tante bisa tahu?"
"Pasti. Menyangkut foto didalam liontin itu, iyakan?" bertanya kembali.
"Iya tante. Apa ada yang ingin tante ceritakan padaku? Mungkin tentang sesuatu hal yang bisa jadi titik terang atau mungkin juga bisa jadi awal baik untuk mencari tahu tentang pembunuhan itu."
"Memang ada yang ingin tante ceritakan padamu. Moga bisa membantumu menyelesaikan masalah ini. Aku harap dengan ceritamu, akan menarik perhatian banyaknorang"
"Sekarang, Tante tidak bisa mengatakan dengan kepastian seratus persen," Tante Dewi memulai,
__ADS_1
"Tapi aku cukup yakin bahwa Ramira adalah putri Tuan Arsyanendra."
“Aku tidak meragukan sedikitpun tentang itu,” kata Tante Dewi melanjutkan kalimatnya dengan nada yang penuh keyakinan. Tatapan matanya seakan mencoba mengingat sesuatu yang telah terjadi di masa lalu, tentang Mariana dan Arsyanendra.
Jilena sedikit terkejut mendengar ucapan tantenya dan menarik napas cepat. "Apa tante sedang bercanda? Apa yang membuatmu berkata? Seperti itu?" tanya Jilena dengan suara bergetar. Dia memikirkan segala kemungkinan dan seakan tak percaya jika benar Ramira adalah anak prempuan dari keluarga Arsyanendra.
“Aku mengenal Mariana ketika dia berusia sekitar dua puluh tahun. Aku baru saja pindah ke ke kota ini bersama Pedro, suami keduaku.” Tante Dewi berhenti sejenak. "Kamu ingat dia, bukan?”
"Aku hampir lupa." jawab Jilena singkat. Bagaimana bisa mengingat suami tantenya itu? Itu sudah sangat lama dan pernikahan keduanya juga tidak berlangsung lama.
“Yah, itu tidak masalah. Aku bertemu dengan Mariana ketika dia bekerja di bank milik keluarga Arsyanendra.” kata Tante Dewi mulai menjelaskan.
"Di mana Tuan Arsyanendra adalah presidennya?" tanya Jilena dengan mengeryitkan dahi.
Jilena mencondongkan tubuh lebih dekat ke telepon, seolah-olah tantenya berada tepat di depannya. "Dan menurutmu apa mereka berselingkuh?"
“Oh, sayang, aku tahu soal itu. Mariana menceritakan semua padaku, suatu hari kami bertemu untuk makan siang bersama, dia mengatakan padaku bahwa dia telah bertemu dengan Arsyanendra beberapa kali, tapi dia memintaku untuk merahasiakannya. tidak ada yang boleh tahu. Mereka bahkan pergi liburan bersama ke luar kota”
"Bukankah Tuan Arsyanendra sudah menikah saat itu?"
“Ya. Itulah salah satu penyebabnya. Soalnya, ketika istrinya sedang hamil besar. Beberapa pria tidak bisa menahan diri tanpa **** terutama saat istri mereka berada di trimester ketiga dan juga periode setelah kelahiran, jadi Arsyanendra mulai mendekati Mariana.
__ADS_1
Dia tidak peduli tentang Mariana, pria itu hanya menginginkan seks—dan Mariana tahu itu. Mariana sadar jika pria itu tidak akan pernah meninggalkan istri dan bayinya yang baru lahir demi dirinya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan wanita itu."
“Jadi—”kalimat Jilena terputus karena sedikit terkejut dengan cerita tantenya.
“Mariana memiliki kehidupan yang keras, keluarganya bukan orang mampu, dan tidak masuk akal baginya untuk menolak kesempatan, ketika seorang pria tampan dan kaya seperti Arsyanendra mulai memberi perhatian padanya, Yah, menurutnya itu pasti lebih baik untuknya. ”
“Apalagi Arsyanendra memberikannya uang. Setiap kali mereka bertemu Arsyanendra membayarnya.”
Jilena tahu bagaimana rasanya. Orang-orang dari keluarga Arsyanendra terutama para pria di keluarga itu memang mempesona, mereka punya cara sendiri untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Dan bagi keluarga itu, semua masalah pasti selesai dengan uang. Seperti yang sudah pernah dialami Jilena.
"Aku mencoba membuat Mariana untuk memutuskan hubungan dengannya," kata Tante Dewi, "Tetapi Mariana—seperti sudah terhipnotis oleh pria itu. Tidak peduli pada nasehatku dan sangat menuruti semua kemauan Arsyanendra. Dia tidak mau putus dengan pria itu dan membenciku. Aku berpikir lebih baik kita tidak perlu berteman lagi setelah itu.
“Mariana seperti seorang perempuan gila. Dia begitu tergila-gila pada Arsyanendra dan tidka mempedulikan konsekuensi yang mungkin akan dia hadapi nanti. Saat orang-orang mulai curiga tentang hubungan keduanya, sepertinya dia juga tidak peduli.” Tante Dewi berhenti sejenak dan terdengar menghela napas.
“Kamu tahu kan seperti apa keluarga Arsyanendra? Apalagi pria itu selalu menghamburkan uang pada Mariana. Jelas, dia tidak akan menolak. Selama ini hidupnya susah dan secara tiba-tiba ada pria yang membuatnya jatuh cinta, memberikannya perhatian dan uang yang banyak.”
“Aku tidak mau terlibat dengan hubungan mereka, terlebih sikap Mariana yang semakin membenciku dan merasa tidak suka aku menasehatinya. Aku pun memutuskan tidak pernah menghubunginya lagi.”
“Lalu bagaimana tante tahu Tuan Arsyanendra adalah ayah Ramira, jika tante—putus kontak dengannya?”
Gadis itu semakin bersemangat ingin menggali lebih jauh tentang Mariana ibunya Ramira dan hubungannya dengan Arsyanendra. Ini akan semakin menarik, pikirnya. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang menghubungkan semua kejadian pembunuhan itu. Keputusannya untuk menghubungi Tante Dewi malam ini, sangat tepat. Mendengar cerita tantenya, membuatnya mulai menerka-nerka sebuah kemungkinan.
__ADS_1
Ada jeda di saluran telepon, seolah-olah Tante Dewi sedang menyusun kata-kata. “Sejauh yang aku tahu, Arsyanendra adalah satu-satunya pria yang pernah meniduri Mariana hingga—titik itu. Mariana terobsesi pada pria itu.