Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 43. SENTUHAN JONATHAN


__ADS_3

Jonathan memandang wajah Jilena dan memindainya. "Tentang Noah---" ucapannya terputus sejenak kemudian melanjutkannya


“Bahkan itu cukup menarik. Kamu menanganinya sendiri seperti seorang profesional — dia tidak tahu apa yang sedang menimpanya. Dan kamu mendapatkan sampel DNAnya." ucap Jonathan.


“Ya, benar sekali. Aku cuma berharap jika sampel itu tidak cocok. Aku tidak suka memikirkan jika Noah mampu membunuh seseorang.” kata Jilena menghela napas panjang.


"Dalam situasi yang tepat, siapa pun mampu mengambil nyawa orang lain, Jilena."


Apakah dia berbicara dari pengalaman, dari masa dia sebagai anggota Angkatan Darat atau sebagai polisi? Mereka tidak pernah membicarakan berapa banyak orang yang mungkin telah dia bunuh, tapi dia tahu itu benar. Dalam situasi yang tepat, bahkan dia bisa melakukannya.


"Tapi itu bisa saja kecelakaan," Jonathan mengusulkan, "atau membela diri."


"Mungkin. Tetapi jika dia sampai mengubur tubuh untuk menutupi apa yang terjadi, itu saja membuatnya lebih buruk.”


“Cukup bicara tentang Noah, bagaimana denganmu dan aku?” dia berkata. "Apa yang akan kamu katakan jika kita coba berkencan lagi pada Jumat malam?”


"Dengan senang hati." Jilena tidak bisa menahan senyum memikirkan akan pergi kencan lagi bersama Jonathan. Jonathan menyelipkan tangan di pinggangnya, membungkuk dan menciumnya. Ciumannya begitu hangat dan lembab dan penuh keinginan sehingga dia meraih pegangan pintu untuk menahan tubuhnya.

__ADS_1


Ketika bibir mereka berpisah, dia menatap matanya dalam-dalam untuk beberapa saat. Dia mengantisipasi ciuman lain, menginginkannya, ternyata apa yang diharapkannya pun terulang.


Jonathan menarik tubuh Jilena merapat ke dinding, mendaratkan ciuman di bibirnya. Terasa sangat lembut namun saat Jilena membalas ciuman Jonathan, tiba-tiba ciuman itu berubah menjadi liar dan penuh gairah. Mereka berciuman cukup lama, saling ******* dan bertukar saliva.


Perlahan Jonathan mengurai ciumannya dan berpindah ke leher Jilena yang membuat gadis itu mengerang dan mendesah lirih. Sudah sangat lama dia tidak merasakan ini. Tangannya kini melingkar dileher Jonathan.


Pria itu semakin menekan tubuh Jilena, satu tangannya mulai turun kebawah meremas gundukan didada Jilena. Desiran hasrat yang membara membuat keduanya lupa kalau mereka masih berada di teras rumah Jilena.


"Kamu yakin tidak mau masuk?" Jilena bertanya sesaat setelah keduanya melepaskan tautan bibir mereka karena kehabisan napas. Jonathan diam sejenak untuk berpikir, dia sangat menginginkannya lantas kenapa aku harus menolak? Bukankah dia juga menginginkanku? pikirnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Jilena, dia menarik tangan gadis itu masuk kedalam rumah. Setelah menutup pintu dan menguncinya. Keduanya menjatuhkan diri diatas sofa besar diruang tamu.


Jilena mendesah menyebut nama Jonathan. Tangannya menekan kepala Jonathan. Dia merasakan tuntutan gairah. Mulut Jonathan mengulum kedua gundukan itu secara bergantian. Sementara tangannya mulai membuka kancing celana jeans Jilena. Dengan gerakan cepat, celana yang dipakai Jilena terlepas. ******* penuh gairah memenuhi ruangan itu. Kini keduanya dalam keadaan polos, saling memeluk, Jonathan bergerak perlahan diatas tubuh Jilena, setelah sekian lama gerakan itu berubah menjadi lebih cepat dan liar.


Jonathan mengubah posisi Jilena, kini pria itu dalam posisi duduk dengan tubuh Jilena diatas pangkuannya. Kedua tangan gadis itu melingkar di leher Jonathan. Jilena menggerakksn pinggulnya, Jonathan masih menempelkan mulutnya didada Jilena membuat gadis itu merasakan kenikmatan yang dulu pernah dia rasakan bersama Noah, tapi rasa yang diberikan Jonathan sangat berbeda. Jilena merasakan gairah dan kenikmatan lebih.


Setelah hampir satu setengah jam, keduanya pun mendapatkan pelepasan secara bersamaan diiringi erangan panjang. Jonathan lupa kalau dia tidak memakai pengaman. Melepaskan butiran cinta didalam tubuh Jilrna.

__ADS_1


Keduanya masih saling berpelukan dengan napas terengah-engah. Jonathan tersadar jika ia harus menjemput putranya. Dia mengangkat tubuh Jilena menuju ke kamar mandi dan mereka pun mandi bersama.


"Sebaiknya aku pergi selagi bisa. Aku khawatir kita tidak bisa kendalikan diri lagi dan mengulanginya," kata Jonathan sambil tersenyum Jonathan melangkah keluar dari teras. "Mimpi indah sayang." ucapnya mengecup kening Jilena sebelum pergi dari sana.


...*...


Jilena sedang bersiap-siap untuk tidur, sisa-sisa ciuman masih tersisa bibirnya. Masih membayangkan percintaannya dengan Jonathan. Ponselnya berdering di atas nakas. Dia mengambilnya dan membaca dilayar—Noah Arsyanendra. Bagaimana nomornya disimpan di ponselku? Jilena mengabaikannya. Noah adalah orang terakhir yang ingin dia ajak bicara sekarang. Setelah apa yang dia katakan padanya, dan dengan kecurigaan Wira bahwa dia mungkin—pembunuh, Jilena bertekad untuk meringkuk di tempat tidur yang lebar, Jilena mengingat pernyataan cinta Noah padanya tadi yang terdengar oleh kakak perempuannya yang merasa sakit hati.


Setelah dia merangkak ke tempat tidur, dia mematikan lampu dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Besok pagi, Jilena harus menghadiri upacara pemotongan pita untuk gedung Balai Kota baru dan beberapa obituari untuk ditulis, tapi sekarang cumbuan Jonathan adalah satu-satunya yang ingin dia pikirkan saat dia dengan senang hati tertidur. Tapi telepon berdering lagi dan dia memeriksanya—Noah lagi. Beberapa menit kemudian berdering untuk ketiga kalinya—masih Noah. Karena kesal, dia mematikan teleponnya dan meringkuk di bantalnya.


...*...


Jilena bangun lebih awal, merasa tubuhnya lebih segar dari tidur malam yang nyenyak. Dia meregangkan tubuh dengan malas dan memukul tombol pada jam alarm untuk mematikan dengungan berulang. Sebelum dia melompat turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, dia menyalakan kembali ponselnya untuk berjaga-jaga jika ada seseorang selain Noah yang mencoba menghubunginya. Sebuah nada dari teleponnya ada notifikasi setidaknya satu pesan suara. Dia melihat ikon pesan suara—dia punya lima. Dia sebaiknya mendengarkan pesan suara itu untuk berjaga-jaga jika semua bukan dari Noah.


Yang pertama adalah pesan dari Noah, meminta maaf karena mempermalukan dirinya sendiri di kafe tadi malam. Pesan yang kedua adalah Noah lagi, meminta maaf lagi. Yang ketiga adalah Noah yang memintanya untuk meneleponnya kembali.


Pesan yang keempat dari Ramira, menanyakan bagaimana kencannya dengan Jonathan, dan yang kelima adalah Tante Dewi, yang mengingatkannya pada pembacaan Surat wasiat, yang dijadwalkan sore itu di kantor pengacara ayahnya. Jilena merasa tegang memikirkan akan bertemu kakak perempuannya setelah apa yang Sarah lihat dan dengar tadi malam. Noah sedang mabuk, dia akan memberi tahu Sarah, dia tidak tahu apa yang akan dia katakan.

__ADS_1


Apakah ini akan memperdalam keretakan di antara mereka karena perasaan cinta Sarah untuk Noah? Noah jelas tidak mencintai Sarah. Ada Jilena dihidup Noah ataupun tidak, Noah tetap tidak akan mencintai Sarah, Sarah perlu move on. Tapi bagaimana caranya? Beban pertanyaan itu membebani pikirannya.


Jilena melangkah ke pancuran yang mengepul dan membiarkan air hangat menerpa bahunya, berharap kucuran air hangat itu bisa menenangkannya. Dia memikirkan pembacaan Surat Wasiat, bertanya-tanya apa yang akan dia peroleh. Seandainya ayahnya membagi aset secara adil, atau dengan cara yang akan menyebabkan lebih banyak perselisihan di antara para kakak beradik itu?


__ADS_2