
"Tidak ada yang bisa menyalahkanmu karena kesal." Dia menyelipkan beberapa jari di bawah dagunya dan mengangkat wajahnya. “Mau kabar baik?”
“Itu akan menyenangkan.” Dia memberinya senyum lemah.
“Kami menemukan Hendra Baskoro.”
Jilena menarik dirinya dari pelukan Jonathan dan menyeka air mata di bawah matanya. "Di mana?"
“Dia berada di penjara di Jakarta atas tuduhan narkoba. Kami meminta mereka untuk membawanya kesini besok pagi untuk ditanyai. Jika bukan karena sisir dan kancing manset, Saya pikir dia melakukannya."
“Ya, aku juga akan berpikir yang sama, pada awalnya, tapi sekarang…” Memikirkan tentang kemungkinan ayah bersalah, dia menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Ayo pergi dari sini dan turun ke bawah." kata Jilena yang sudah tak tahan berada lebih lama dikamar orang tuanya.
Jonathan mengikutinya keluar dari kamar tidur dan menuruni tangga. "Setelah menginterogasi dia besok dan lihat apakah dia bisa memberi kita tanggal kapan dia terakhir melihat Mariana. Itu akan memberi kita perkiraan waktu yang lebih baik tentang kapan pembunuhan itu telah terjadi.”
“Apakah kamu dan Wira tidak bisa melihat dari catatannya ketika dia—berhenti menggunakan ponselnya dan rekening gironya?”
“Kita berbicara lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Jil. Bank memiliki catatan itu sudah diarsipkan dan mereka belum mengirimkannya kepada kami, dan kami bahkan tidak tahu perusahaan telepon yang digunakan Mariana saat itu. Mereka mungkin bahkan tidak berbisnis sekarang. ”
“Dan tentu saja telepon rumahnya akan terus digunakan oleh Ramira untuk sementara, jadi itu tidak akan memberi tahu kita apa pun. ” Dia berhenti di bawah tangga dan berbalik ke arah Jonathan. “Mari berharap karakter Hendra Baskoro ini bisa tahu lebih dari sekadar terakhir kali dia melihat Mariana.”
"Seperti apa?"
“Seperti mengapa Mariana lari dari Ramira, konon ke Sumatra, tapi—kemudian dia mati di Danau Hijau. Dia kembali karena suatu alasan, tapi apa—kenapa dia kembali?"
“Kurasa kita harus menunggu sampai besok untuk mengetahuinya.” Jonathan meluncur melingkarkan tangan di pinggang Jilena dan menariknya lebih dekat. “Aku harus pulang dan—
membantu ibuku. Oh, dan sepupuku Lukas akan datang malam ini.”
"Sepupu Lukas?" Jilena meletakkan tangannya di lengan berotot Jonathan.
__ADS_1
“Dia mengemudi dari ibukota. Dia ingin berkunjung ke kota kecil ini dan mungkin melamar sebagai petugas patroli di departemen kepolisian.”
"Aku ingin bertemu sepupumu Lukas," katanya dengan seringai nakal.
"Aku yakin itu bisa diatur." Jonathan tersenyum padanya. “Dia akan berada di sini sampai akhir pekan. Apakah kita masih makan malam Jumat malam?”
Dia memberinya senyum menggoda. “Ya, tapi bagaimana dengan sepupumu? Tidak akan dia mengharapkanmu untuk menemaninya selama berada dikota ini?”
“Dia bisa makan malam di rumah orang tuaku. Di situ ada Vino.”
"Aku harap putramu tidak keberatan aku mencuri waktu bersama ayahnya."
"Kau tahu, Vino masih membicarakan saat kita bersama di pekan raya."
“Dia melakukannya?” Itu membuatnya senang. Dia adalah anak kecil yang manis.
“Benarkah?” Dia menyelipkan lengannya melingkari pinggang Jonathan dan tidak bisa menahan senyumnya.
“Benar. Apalagi aku.” Jonathan menyeringai nakal. Dia menurunkan wajahnya mendekat ke wajah Jilena dan menciumnya dengan lembut. "Kami berdua menyukaimu." Dia menciumnya lagi. “Tapi kebanyakan aku.” Dia menciumnya lagi, lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya, dan Jilena tidak ingin dia berhenti.
Ketika Jonathan melepaskan pelukannya, kepala Jilena pusing. “Apakah kamu ingin tinggal?”
"Tentu saja aku ingin, tapi aku tidak bisa. Ingat, ibuku menjaga Vino. Aku memberitahunya bahwa aku tidak akan pergi lama, dan ini sudah larut.” Dia mengambil tangan Jilena dan mencium punggungnya. "Aku harus pergi."
Dia berjalan ke pintu depan, meninggalkannya berdiri di serambi, di kaki tangga.
"Kita akan bicara besok, aku yakin." Jilena sangat ingin tahu apa yang Hendra Baskoro akan katakan pada para detektif. "Dan jangan lupa kencan kita Jumat malam." kata Jonathan mengingatkan Jilena. Sebenarnya dia sangat ingin berada disana lebih lama tapi dia harus menjemput Vino dan membawanya pulang.
Jonathan membuka pintu depan, tetapi dia kembali pada Jilena dengan langkah panjang dan—menariknya ke dalam pelukannya lagi. Dia menciumnya lambat dan lama.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berada jauh darimu, kita lihat nanti jika aku bisa kembali kesini bersama Vino." bisiknya di telinganya. Napas hangat Jonathan menerpa di kulitnya dan ciuman sensualnya yang nikmat membuat kepala Jilena pusing, dan dia memegang pegangan tangga, menjatuhkan diri ke sofa saat Jonathan keluar pintu sambil melambai.
...*...
Gadis itu berbaring di sofa lembut diruang tamu, dadanya masih berdebar kencang, mengingat kecupan hangat yang diberikan Jonathan. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mungkin Jonathan sudah pulang kerumahnya dan tak mungkin kembali lagi, pikirnya. Matanya mulai mengantuk dan perlahan terpejam. Rasanya sangat malas untuk naik kelantai dua dan tidur di kamarnya. ‘Biar aku istirahat sebentar disini.’
Setengah jam kemudian, terdengar bunyi bel pintu. Jilena masih enggan membuka matanya. Namun dia ingin tahu siapa yang datang tengah malam begini. Dia membuka matanya perlahan dan melirik jam dinding, sudah hampir jam dua belas malam. ‘Manusia apa yang datang berkunjung kerumah orang tengah malam begini’ pikirnya. Dengan malas dia beranjak dari sofa setelah bel pintu kembali berbunyi. Dengan mata setengah terpejam dia membuka pintu dan melihat seseorang yang berdiri dengan senyum mengembang dibibirnya.
“Hai, maaf kalau aku membangunkanmu.” kata Jonathan yang sedang menggendong Vino yang tertidur di rangkulannya.
“Oh....aku belum tidur, hanya sedang berbaring di sofa sejak kamu pergi tadi. Ayo masuk.” ucap Jilena mempersilahkan Jonathan masuk lalu menutup dan mengunci pintu.
“Kamu menungguku?” tanya Jonathan.
“Kupikir kamu akan kembali, karena tadi kamu bilang---.”
Belum selesai bicara Jonathan mendaratkan kecupan dibibir gadis itu. “Vino minta kesini.” katanya memberi alasan. Jilena tersenyum seakan tahu itu hanya alasan saja karena melihat Vino sudah tertidur.
“Aku antar kekamar atas, kamu bisa baringkan Vino disana.”
Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, berbelok menuju kamar yang dulu ditempati oleh Sarah. Untung kamar itu sudah dibersihkannya kemarin jadi Vino bisa tidur disana. Jonathan masuk dan mengedarkan pandangan kesekeliling kamar itu. Perlahan dia membaringkan Vino di ranjang ukuran queen size itu. “Ini kamar Sarah dulunya,” ucap Jilena menjelaskan.
“Oh...jadi Sarah tinggal dimana sekarang?”
“Dia punya rumah sendiri, tapi lebih sering menginap dirumah Tante Dewi.” jawab Jilena.
Keduanya saling pandang dan mengunci pandangan satu sama lain. Jilena merasakan ruangan itu seketika berubah jadi panas. Dadanya kembali berdebar kencang. Tatapan lembut Jonathan membuatnya merona.
Jonathan melirik kearah putranya yang tertidur pulas lalu beralih kembali menatap Jilena. Seakan mengerti, Jilena pun berkata “Kamu bisa tidur disini malam ini,” sambil memandang Jonathan. Pria itu mendekat dan meraih lengan Jilena, menariknya kepelukannya. Dia mendaratkan kecupan dipuncak kepala gadis itu. Perlahan tangan kanannya meraih dagu gadis itu, mendaratkan ciuman dibibir merah muda gadis kesayangannya. Jilena melingkarkan kedua tangannya dileher Jonathan.
__ADS_1