Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 31. JONATHAN DAN VINO


__ADS_3

Jilena menyukai anak kecil itu yang sangat menggemaskan. Ya, itung-itung buat mencuri hati ayahnya yang tampan. Vino mendorong bahu kecilnya ke belakang dan berdiri tegak, dia merasa bangga mendengar pujian Jilena, 'teman lama' ayahnya yang diidolakannya.


Wajahnya berseri-seri memandang Jilena, terlihat dia seperti terhipnotis oleh kecantikan wanita itu. Kemudian dia mengalihkan pandangannya dan memiringkan kepalanya. “Bagaimana dengan Daddy? Apa daddy tampan?”


Jilena melirik Jonathan sebelum melihat kembali pada Vino. “Kurasa dia tampan juga, tubuhnya tinggi, mata indah, dan senyumnya manis.” Tanpa sadar kalimat itu meluncur dari bibirnya. Vino yang mendengar ucapan Jilena pun membulatkan matanya dan tersenyum.


"Daddy suka sama tante cantik," ujarnya menatap Jilena dan Jonathan bergantian.


Jilena melemparkan senyum nakal pada Jonathan yang sedang bersandar dan tangannya diletakkan didada kirinya, wajahnya berbinar. Vino benar-bebar bocah pintar yang tahu mencari cara untuk menyatukan ayahnya dengan sang idola. "Daddy? Bisakah daddy mengajaknya ikut dengan kita jalan-jalan? Pacaran?”


"Oh, Vino, kamu bicara apa? Kurasa dia tidak mau—" kata Jonathan yang heran mendengar ucapan anaknya.


"Tante mau kan? Mau ya?" katanya dengan wajah memelas. Aduh bocah ini menggemaskan banget sih.


"Dengan senang hati." Jilena berdiri dan tatapannya beralih dari Vino ke Jonathan. "Itupun, jika aku tidak mengganggu waktu ayah-anak.” Senyum terpancar di wajah Jonathan, menerangi matanya. “Tidak mengganggu. Senang bisa bersamamu.”


"Hore....hore....daddy pacaran sama teman lama." ujarnya sambil bertepuk tangan kesenangan. Kalimat 'teman lama' yang pernah diucapkan ayahnya ternyata disalah artikan oleh bocah itu sebagai mantan pacar.


Sontak Jilena dan Jonathan saling memandang dengan tatapan penuh arti dan saling melemparkan senyum.


"Ehem...Vino tidak boleh bicara seperti itu," kata Jonathan sambil mengelus kepala putranya. Sejujurnya dia merasa senang dengan keisengan putranya itu.


"Tante cantik tidak marah koq, dad," ujarnya menatap lurus tak berkedip kewajah jilena.


Wajah gadis itu merona, malu digodain sama anak kecil. Apa Vino sengaja bicara seperti itu? Atau, mungkin Jonathan yang menyuruhnya? Benaknya dipenuhi beribu pertanyaan. Tidak mungkin anak kecil seperti Vino bisa bicara begitu, pikirnya.

__ADS_1


Jilena melirik jam tangannya. “Maaf, aku harus pergi, ada wawancara yang harus dilakukan sekitar satu jam lagi, tapi aku bisa menyusulmu setelah itu.” Dia berjongkok kembali sejajar dengan Vino. “Apakah boleh? Kamu tidak keberatan kan?”


Vino menganggukkan kepalanya ke atas dan ke bawah dengan gerakan yang disengaja. "Ya. Tapi jangan lama ya tante cantik."


"Sekarang, apa yang bisa aku bawakan untuk kalian berdua?" Ramira bertanya dari belakang konter.


"Hanya kopi, seperti biasa," jawab Jonathan.


“Tidak ada apa-apa untuk Vino? Mungkin cupcake coklat.”


“Dia tadi sudah makan, Ramira. Tapi terima kasih.”


“Oh, dia tidak bisa pergi dari sini dengan tangan kosong. Anak tampan ini pasti sedih.” Ramira memberinya cemberut tiruan. “Bagaimana kalau kue coklat chip yang sangat istimewa? Untuk cemilan di rumah."


Senyum lebar di wajah Vino dan dia melompat-lompat sambil berjinjit. "Tolong, Daddy, tolong."


"Kamu sama sekali tidak membantu." Jonathan mengerutkan kening, tatapannya beralih dari Jilena ke Ramira.


"Kurasa satu kue cukup." Jonathan mengambil kue dan serbet dari Ramira dan menyerahkannya kepada putranya sebelum mengalihkan perhatiannya kembali ke Jilena.


“Siapa yang kamu wawancarai pagi ini? Kalau kamu tidak keberatan dengan pertanyaanku .”


"Yah, Detektif Jonathan, aku akan mewawancarai Arlina Arsyanendra." sambil meletakkan tangannya diatas tangan Jonathan.


“Aku belum detektif. Aku jadi penasaran." Dia mencondongkan tubuh lebih dekat ke Jilena dan—merendahkan suaranya. "Apakah ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan?"

__ADS_1


“Tidak, Tuan sok tahu. Aku harus menulis cerita tentang Pesta Bunga, dan kebetulan Ny. Arsyanendra menjadi presiden Lembayung Club. Namun, aku juga ingin mendengar sendiri cerita darinya, aku berencana untuk menanyakan beberapa pertanyaan tentang apa yang dia tahu tentang Mariana dan pembunuhan itu.”


"Kamu pernah menjadi penyelidik." Seringai perlahan tersungging di bibirnya. “Wira tidak—sepertimu dalam melakukan pekerjaannya.”


“Itu juga pekerjaanku. Kamu pikir dia akan berterima kasih atas bantuanku.”


“Jangan melangkahinya dalam kasus itu. Biarkan detektif wira berpikir bahwa apa yang kamu lakukan adalah ide miliknya dan kalian akan rukun." kata Jonathan. Dia tidak ingin Jilena mendapatkan kesulitan di pekerjaannya.


Jilena mengalihkan pandangannya pada Vino yang terlihat menikmati kue coklatnya. Menggemaskan sekali anak itu, sama seperti ayahnya gumam jilena dalam hati sambil tersenyum.


...*...


Begitu tiba disebuah rumah besar milik keluarga Arsyanendra, seorang pengurus rumah tangga mempersilahkan Jilena masuk dan duduk di ruang tamu untuk menunggu Arlina Arsyanendra. Saat dia menunggu, sambil memperhatikan sekeliling ruangan, warna cerah dinding yang terbuat dari batu pualam dan jendela-jendela yang besar dan tinggi, diapit dengan tirai sutra dari lantai ke langit-langit—desain bunga warna kuning, hijau, dan merah.


Dekorasinya mungkin telah berubah selama bertahun-tahun, tetapi dia masih ingat dengan jelas saat terakhir kali dia ke sana. Malam itu saat dia dan Noah mengumpulkan kedua orang tua mereka untuk menyampaikan berita bahwa dia hamil.


Malam itu, dia adalah seorang remaja yang ketakutan sedang mencari bantuan dan arahan dari orang dewasa. Dalam pandangannya, Tuan Arsyanendra tampak besar, mungkin lebih besar dari ayahnya. Kehadiran dan sikapnya membuat lututnya terasa bergetar dan lemah. Tapi hari ini, Jilena bertekad, dia tidak akan lagi terintimidasi oleh pria itu. Sesaat dia menatap sekeliling istana megah milik Arsyanendra itu, kepercayaan baru mulai muncul dalam dirinya.


Dia adalah seorang reporter profesional sekarang. Dia dengan gigih akan menyelidiki kejahatan brutal ini, dia akan mengikuti ke mana pun kasus itu membawanya. Bahkan jika itu mengarahkannya ke pintu rumah keluarga Arsyanendra.


Tak lama menunggu, Arlina Arsyanendra keluar dari kamar dan duduk di sofa putih, berseberangan dengan kursi Jilena.


"Terima kasih telah menemui saya, Nyonya Arsyanendra."


"Tolong, panggil aku Arlina."

__ADS_1


Arlina hampir berusia empat puluh tahun, tetapi terlihat seperti berusia tiga puluh, kulitnya kencang dan tampak muda, tubuhnya juga. Dari apa yang Tante Dewi ceritakan padanya, tentang wanita itu yang selalu pergi perawatan ke dokter kulit dan spa kecantikan untuk menghilangkan keriput, dan tanda-tanda penuaan lainnya yang mengganggu.


Wanita itu langsing tetapi rupawan dan pakaiannya sangat pas—mungkin dari desainer ternama. Dia cantik menurut ukuran siapa pun — hidung mancung, bibir penuh, rambut panjang dengan highlight pirang, dan mata hitam digariskan dengan bulu mata tebal. Sudah jelas bagaimana dia bisa menjerat Arsyanendra. Tetap saja, Jilena bertanya-tanya apakah itu cukup untuk membuatnya tetap setia—sebagai istri nomor dua. Pasti ada alasan lain yang membuatnya bertahan.


__ADS_2