
Syukurlah tadi Jonathan ada di sana untuk menyelamatkannya dari pesona Noah, tapi apakah yang telah terjadi tadi akan membuatnya kehilangan peluangnya bersama Jonathan? Dia harus meneleponnya dan menjelaskan untuk menyelamatkan hubungan mereka.
Jilena berterima kasih kepada Noah karena sudah mengajaknya makan malam dan saling bertukar cerita. Jika Noah berpikir untuk mencoba menciumnya lagi, Jilena tidak akan mengijinkan dan takkan memberinya kesempatan.
“Selamat malam, Noah.” Jilena melangkah masuk ke dalam rumahnya dan buru-buru menutupnya pintu dan menguncinya. Dia harus menelepon Jonathan sekarang, menjelaskan apa yang tadi dilihatnya, dan ingin memastikan apakah Jonathan masih mau mampir.
Jilena tidak berhutang penjelasan pada Jonathan. Mereka saling menyukai atau bisa dibilang Jonathan mencintai Jilena, tapi gadis itu tak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
Mungkin kejadian tadi bisa menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi. Adapun Noah, bahkan sekarang terlihat berubah, sesuatu di dalam dirinya berubah menjadi, dia terlihat lebih dewasa dan Jilena merasa nyaman ketika didekatnya. Tapi untuk memiliki masa depan bersama pria itu? Dia tidak bisa membayangkannya. Apalagi setelah apa yang terjadi diantara mereka dimasa lalu.
Dia merogoh ponselnya dari tasnya dan memutar nomor Jonathan.
"Halo."
Jilena terkejut mendengar suara bariton yang terdengar tegas itu, itu bukan suara bocah konyol yang dia kenal ketika mereka masih teman sekolah.
"Jonathan, ini Jilena."
Tidak terdengar suara jawaban dari pria itu dan suasana terasa sangat dingin di antara mereka.
“Jonathan?”
“Ya, aku di sini. Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?"
"Kau berjanji akan mampir dan membantuku membuka laci yang terkunci malam ini."
“Aku memang mampir, tetapi kamu sibuk. Saya tidak ingin mengganggumu." ujarnya dengan nada datar dan dingin.
“Noah ingin berbicara denganku tentang sesuatu, jadi aku pergi dengannya untuk makan malam. Hanya itu. Kamu tidak mengganggu.” Jilena mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi bagiku, tidak terlihat seperti itu." ucap Jonathan dengan suara datar. Dia tidak suka apa yang tadi dilihatnya.
Nah, Jilena semakin yakin setelah mendengar kata-kata dingin yang diucapkan Jonathan. Jelas sekali Jonathan telah melihat Noah menciumnya. Dan dia cemburu? Jonathan benar cemburu?
“Sungguh, Jo, hanya itu. Dia tiba-tiba mencium bibirku, aku juga kaget. Aku tidak menginginkannya menciumku, kamu harus percaya. Itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan! Antara aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Kalau kamu masih mau mampir, aku akan menunggumu.” kata Jilena berharap bisa menyakinkan Jonathan. Sikap pria itu yang berbicara agak formal dan dingin membuat Jilena makin yakin kalau Jonathan cemburu.
"Saya kira tidak mungkin mampir. Saya harus segera ke rumah orang tuaku. Saya harus menjemput Vino dan membawanya pulang.”
Tidak mungkin. Hanya tiga atau lima menit jarak antara setelah Jonathan pergi dan Jilena meneleponnya. Bagaimana mungkin dia sudah dekat dengan rumah orang tuanya? Dia cemburu. “Aku sungguh-sungguh mengharapkanmu malam ini. Bagaimana, kamu maukan?" tanya Jilena lagi dengan suara lembutnya berusaha meluluhkan hati Jonathan.
Sekali lagi, keheningan di antara mereka. Jonathan ingin menolak permintaan Jilena sebagai protes atas apa yang dilihatnya tadi. Cemburu! Ya, dia cemburu melihat Noah mencium gadis yang dicintainya. Jonathan tahu hubungan keduanya dimasa lalu dan dia tak ingin kehilangan Jilena. Apa yang dilihatnya tadi membuatnya khawatir jika Noah dan Jilena akan kembali bersama. ‘Apa Jilena mengatakan yang sebenarnya? Pikirnya.
Dia masih berpikir namun dia juga sangat ingin bertemu gadis itu. Jonathan menginginkan selalu dekat dengannya dan setiap saat bersamanya. Akhirnya Jonathan berbicara. "Baiklah. Aku akan menelepon ibuku dan minta dia menjaga Vino semalaman. Sampai jumpa. ”
...*...
Kurang dari lima menit, Jonathan sudah berdiri di depan pintu rumahnya, menekan lonceng. Jilena membuka pintu dan menyambutnya dengan senyum ramah. Dia masih mengenakan seragamnya. Hati Jilena berdebar saat melihatnya. Jonathan terlihat makin tampan dengan seragamnya.
"Benar, Petugas." Jilena menyeringai saat pria itu menatapnya dan melangkah ke samping untuk membiarkannya masuk. "Ke arah sini," kata Jilena dengan gerakan tangannya mengarah ke ruang tamu. Mereka terus berjalan dan Jonathan mengikutinya ke ruang kerja. "Ada masalah apa?" Jonathan bertanya.
Dia menunjuk ke meja. “Ini mungkin terdengar konyol, Petugas, tapi saya tidak mengerti cara membuka laci, kuncinya hilang.”
"Yah, nona kecil, mari kita lihat apa yang bisa kulakukan." Jonathan menyeret kursi keluar dan berjongkok di belakang meja untuk memeriksa laci. Dia mengambil tas kulit kecil dari saku belakangnya dan membuka ritsletingnya, mengeluarkan beberapa benda tajam. Dia mencoba membuka laci, tetapi tidak berhasil. Dia terus berusaha cukup lama, tetap tidak berhasil.
“Aku berharap hanya satu yang dibutuhkan.” Jilena mengerucutkan bibirnya. "Hanya sedikit cinta dari polisi tampan.”
Jonathan tertawa terbahak-bahak. “aku belum pernah mendengar jika laci yang terkunci bisa dibuka dengan cinta.”
"Yah, begitulah. Cinta bisa mengalahkan segalanya," kata Jilena menggoda.
__ADS_1
“Untuk jerih payahmu, bagaimana kalau sepotong pai." kata Jilena smabil tersenyum. Jonathan sudah terlihat tenang dan bicara seperti biasanya.
Jonathan mengangkat alisnya. "Apa kau membuatnya?"
Jilena tertawa ketika berdiri di ambang pintu. “Kamu benar-benar tidak mengenalku, kan?"
Dia berbalik dan berjalan menuju dapur.
“Maksudnya?” tanya Jonathan, mengikuti di belakangnya.
“Ramira membawanya ke rumah Tante Dewi untuk makan malam kemarin. Pai itu dari The Upper Spot. Tanteku bersikeras agar aku membawa pulang pai untuk cemilan dirumah.” Jilena mengeluarkan pai dari lemari es dan meletakkannya di atas meja.
"Kamu punya es krim vanilla?" Jonathan bertanya.
Jilena menarik laci perkakas untuk mencari pisau dan sendok es krim.
"Coba kulihat. Dulu mama selalu menyimpan es krim di lemari es untuk papaku. Mungkin papa masih suka juga beli es krim.”
Jonathan berdiri di belakangnya saat dia membuka freezer dari lemari es. Udara dingin terasa nyaman di wajahnya, namun tubuhnya terasa hangat karena Jonathan berdiri tepat dibelakangnya dan dia merasakan tubuh mereka saling bersentuhan. Dia mengambil wadah es krim dari freezer dan berbalik menghadap Jonathan yang sedang menundukkan wajahnya menatap Jilena.
"Ini dia."
Jonathan berdiri tanpa jarak darinya. Ada desiran hangat yang menggetarkan mereka. Mereka saling tatap tak bergeming. Merasakan kehangatan dimata keduanya yang menikmati rasa nyaman yang mereka rasakan. Jonathan merasa dia ingin menciumnya, dia melihat di mata Jilena ada gairah, dan dia memang sangat ingin mencium bibir gadis itu. Tatapan mereka terkunci sesaat. Alih-alih ciuman, Jonathan malah pergi ke meja dan memotong pai. Apakah dia tiba-tiba teringat saat melihat Noah menciumnya?
"Ini kelihatannya enak," gumamnya.
Dia meletakkan wadah es krim di samping pai, debaran keras di dalam dada mulai mereda, untungnya, dia takut jika debar jantungnya terdengar.
"Kamu ingin bantu memotong pai untukku?"
__ADS_1
Ketika Jonathan selesai memuat potongan pai dan meletakkan ke piring, dan menambahkan satu sendok es krim ke atas pai, mereka membawa piring mereka ke meja makan. Jilena mengambil tempat duduk. “Aku belum sempat menanyakan bagaimana hasil tinjauan dewan."
“Sepertinya semua berjalan dengan baik. Aku akan mendapat hasilnya dalam beberapa hari, aku sangat berharap.” Jonathan menghabiskan makanannya.