Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 37. PENGAKUAN RATIH


__ADS_3

Jilena sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Ratih. Aku semakin yakin ada keterlibatan keluarga Arsyanendra dengan kematian Mariana.


Kalau benar, kupastikan wajah angkuh dan sombong Tuan Arsyanendra itu hancur.


"Apakah itu semacam uang bulanan untuk anak?" tanya Deandra.


"Lebih tepatnya uang sogokan untuk menutup mulut Mariana."


"Saya yakin, anda pasti merasa tidak senang jika sebagian uang penghasilan keluarga diberikan pada wanita selingkuhan suamimu, bukan?"


Ratih kembali memandang Jilena "Ya, betul."


"Aku marah dan sangat ingin mencekik leher perempuan itu karena sudah selingkuh dengan suamiku."


"Apa yang membuatmu tidak melakukannya?"


"Setelah aku tahu bahwa Mariana bukan wanita selingkuhan yang pertama dan juga bukan yang terakhir, sudah banyak. Kamu tahu jika istrinya yang sekarang adalah salah satu dari selingkuhannya? Saat aku mengetahui perselingkuhan mereka, aku merasa muak dan sudah tidak tahan lagi. Lalu aku mengajukan gugatan cerai. Apakah kamu juga tahu tentang itu?"


"Tidak. Saya tidak tahu," Jilena melihat kesedihan dimata Ratih. Ada rasa iba dihatinya membayangkan penderitaan dan siksaan batin yang dialami wanita ini.


"Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi." ujar Ratih dengan suara pelan dan sedih.


Tapi itu belum cukup bagi Jilena untuk mencari informasi lebih dalam lagi. "Pada saat Mariana terbunuh, apakah anda sedang berada di kota ini?"


"Kira-kira kapan kejadian itu?"


"Sebelas tahun yang lalu." Belum ada konfirmasi yang tepat tentang kapan pembunuhan itu terjadi ataupun sudah berapa lama mayat itu terkubur disana. Jilena hanya menerka-nerka karena dia mengingat kapan Ramira melihat ibunya terakhir kali.


"Coba ku ingat." Ratih menatap kearah langit-langit ruangan dan dia menyentuh pipinya. "Berarti itu---ah iya, saat itu aku tidak ada dikota ini. Aku pergi liburan ke luar negri."

__ADS_1


Tatapannya mengarah pada Jilena dan tersenyum puas. "Aku sudah lama tidak liburan, jadi waktu itu, aku merasa lebih baik untuk liburan menghilangkan penat dan stress. Aku pergi keliling Eropa selama tiga bulan."


Matanya membesar "Kamu tidak sedang berpikir jika aku ada hubungannya dengan kematian wanita itu, bukan?"


Jilena terdiam tak bisa menjawab. Karena saat ini siapapun bisa menjadi tersangka sampai ditemukan bukti kuat yang mengarah pada seseorang.


"Kamu percaya!" Ratih menatapnya tak percaya "Apa kamu serius? Apa kamu pikir aku sanggup untuk menghilangkan nyawa orang?"


"Maaf, bu Ratih tapi saya harus menanyakan hal itu pada anda. Karena setiap orang punya alibi masing-masing."


Ratih berdiri dan menatap Jilena dengan tatapan tidak senang dan ingin mengakhiri percakapan mereka. "Akan lebih baik jikak kamu tidak memuat di koran tentang semua yang kukatakan padamu. Aku pasti akan membantah semua pernyataanmu dan akan bilang bahwa aku tidak pernah bicara denganmu."


Sepertinya Jilena tidak mengindahkan perkataan Ratih dan terus bertanya "Apakah Noah mengetahui jika Ramira adalah adiknya?"


"Cukup!" teriak Ratih.


Namun Jilena tetap meneruskan bertanya, "Mungkin Noah ingin menghentikan Mariana agar tidak menyebarkan berita kehamilannya dan siapa ayah dari bayi itu untuk menyelamatkan nama baik ayahnya dan harta warisannya. Bisa saja Noah keberatan untuk berbagi warisan dengan adik tirinya."


Jilena bangkit dari duduknya dan hendak pergi, namun dia menoleh kembali dan berkata "Anda pasti tahu jika polisi akan menanyakan hal yang sama sepertiku. Kebenaran akan terungkap."


Berjalan keluar dari gedung sekolah dan masuk kedalam mobilnya. Berbagai pertanyaan tentang Noah mengusiknya. Apakah mungkin Noah yang melakukannya? Entahlah, aku belum memiliki bukti jika dia terlibat.


Noah ada dikota ini saat itu, dia kembali saat liburan kuliah. Apakah dia mengetahui tentang Ramira saat itu? Atau mungkin ayah atau ibunya memberitahunya? Apa dia mendengar atau melihat sesuatu? Mungkin saja dia melihat bukti pengiriman uang di meja kerja ayahnya lalu dia mengetahui semuanya? Ahhh...ini sungguh gila.


Tapi jika benar, mungkin Noah bertanya pada ayahnya saat itu, dan Tuan Arsyanendra menyakinkan Noah jika Mariana tidak akan pernah memberitahu Ramira soal ayah kandungnya, karena itulah perjanjiannya atau mungkin Tuan Arsyanendra berhenti memberikan uang pada Mariana. Tuan Arsyanendra tahu jika Mariana akan mengadukannya dan jika itu terjadi dia sangat mampu untuk melenyapkan Mariana, dan dia mengancam Mariana tentang itu.


Apakah Noah ingin memastikan bahwa rahasia itu tersimpan rapat dan dia tidak ingin membagi warisan dengan adik tirinya? Apakah dia membawa Mariana kerumah tepi danau, menyiksanya kemudian membunuhnya agar dia tidak bisa memberitahu Ramira?"


'Aku benar-benar benci memikirkan jika Noah sanggup melakukan itu semua, tapi uang bisa membutakan siapapun dan membuat orang akan melakukan apapun demi uang.

__ADS_1


Jilena sudah mempunyai cukup bahan untuk dimuat di surat kabar besok. Apakah mungkin semua yang dipikirkannya nyata? Atau dia hanyut dalam imaginasi sendiri?


Jilena menatap ke jam di dinding, sudah hampir jsm lima sore, pasti Ramira sudah menunggu. Aku harus segera menemuinya dan memberitahunya tentang siapa ayahnya, sebelum seseorang akan melukainya.


...*...


"Ya, ampun Jilena! Aku sudah menunggumu lama," Ramira menangis saat dia membuka pintu, tubuhnya masih terbalut jubah mandi. "Coba liat aku. Sangat kacau."


"Maaf, aku telat lima menit." Jilena masuk kedalam rumah kecil Ramira yang didekorasi feminim dan ada pot bunga diruangan itu menambah kesan indah dan segar.


"Kamu tahu, aku sudah gelisah sejak siang tadi."


"Biasalah, namanya juga kencan pertama. Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja." kata Jilena menenangkan sahabatnya.


Jilena menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Ramira tentang Tuan Arsyanendra.


"Ayo ikut aku. Banyak hal yang perlu kamu lakukan untukku, sayang." Ramira menarik tangan gadis itu menuju kamarnya.


"Bagaimana kalau aku mengatakan sesuatu yang bodoh? Atau aku gugup dan tidak tahu harus bicara apa." Ramira mondar mandir.


"Sabar, Keenan sering datang ke kafe dan kalian sering bicara, jadi kurasa tidak aksn ada masalah."


"Tapi itu berbeda, Jil. Hari ini kami kencan pertama, aku takut kalau nanti aku tidak bisa jaga sikapku."


"Ya, sudah. Bersikaplah seperti biasa. Sama seperti di kafe, mulailah dengan percakapsn kecil."


"Baiklah, tapi bagaimana jika setelah kencan ternyata dia tidak menyukaiku?" tanya Ramira.


"Sudah tenang. Tidak perlu dipikirkan, jadi dirimu sendiri," Jilena menyentuh bahu Ramira "Kamu itu gadis cantik, lucu dan sangat pintar. Jika Keenan tidak bisa melihat itu semua, berarti dia bukan jodohmu."

__ADS_1


"Kamu benar. Aku gadis baik-baik dan laki-laki manapun akan beruntung memilikiku." kata Ramira dengan membusungkan dada dan tersenyum dengan penuh percaya diri.


"Ingat, rasa percaya diri adalah kunci." kata Jilena menepuk bahu gadis itu. "Jadilah dirimu sendiri dan kamu akan dapatkan impianmu."


__ADS_2