
"Sebentar lagi, aku harus memanggilmu Detektif Jonathan Benedictus." canda Jilena.
Jonathan tertawa, memasukkan pai di mulutnya. Dia menelan makanan dimulutnya dan menyeringai. “Hei, bagaimana ceritamu? Tentang kerangka yang ditemukan di danau?”
Jilena menjelaskan padanya tentang liontin yang telah ditemukan dan tentang foto di dalam liontin yang sangat mirip dengan Ramira. Itu asumsinya, menurutnya mayat itu pasti ibu Ramira.
“Bagaimana kamu bisa melihat bagian dalam liontin itu? Aku pikir semua barang bukti berada di Lab kriminal di kantor pusat.”
Jilena memberinya senyum nakal sambil mengedipkan sebelah mata. "Aku punya caraku."
“Ibu Ramira, ya? Apakah Detektif Wira tahu?”
“Aku menghubunginya, tapi aku tidak yakin dia percaya padaku. Dia bilang dia harus menunggu hasil lab untuk membuktikannya—kamu tahu kan, DNA, catatan gigi, atau sesuatu." Jilena mengunyah makanannya lagi.
"Siapa yang ingin membunuh Mariana?" tanya Jonathan.
"Aku sudah punya beberapa nama orang dalam daftar tersangkaku," kata Jilena. Dia mengerutkan kening dan menghentikan garpunya di udara.
"Siapa?" tanya Jonathan penasaran. Bagaimana mungkin Jilena bisa secepat itu mendapatkan informasinya. Gadis ini benar-benar pintar, gumamnya dalam hati.
Ramira adalah nama pertama yang muncul di kepala Jilena. Bukannya dia mau membunuh ibunya dan mengubur tubuhnya di danau, tetapi seseorang yang ingin merahasiakan asal usul Ramira akan memiliki motif yang kuat—dan ada beberapa dari mereka. Haruskah dia memberi tahu Jonathan apa yang dia ketahui tentang siapa—ayah Ramira?
“Belum ada nama.” gadis itu melambaikan tangan padanya. “Terlalu dini untuk menempatkan mereka sebagai tersangka, tapi aku telah menemukan sedikit informasi yang memalukan."
"Memalukan? Maksudmu" Dia memiringkan kepalanya. "Seperti apa?"
Jilena menceritakan tentang apa yang Tante Dewi katakan padanya tentang perselingkuhan Mariana dengan Arsyanendra dan bagaimana dia cukup yakin bahwa pria itu adalah ayah biologis Ramira.
"Tuan Arsyanendra adalah ayah Ramira?" ujar Jonathan terkejut.
"Mengejutkan, ya?"
"Apa kamu yakin?" bertanya lagi untuk menyakinkan, karena dia sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
“Tidak seratus persen, tapi cukup yakin. Harus ada tes, jika Ramira ingin tahu.”
“Kau belum memberitahunya?”
"Belum, sampai aku mendapat konfirmasi dari lab." ujar Jilena.
“Itu membuatnya menjadi saudara perempuan Noah.” Dia memasukkan potongan kue terakhir ke dalam mulutnya. “Aku tidak pernah menduga.”
“Yah, saudara tiri, tapi itu bukan untuk konsumsi publik.” Jika sampai bocor, di kota kecil ini, Ramira akan dipermalukan karena menjadi subjek gosip yang tersebar luas. “Oh, tidak. Pasti itu akan terjadi. Gosip!” Jilena terdiam sejenak.
Ketika mereka selesai dengan pai mereka, Jilena mengambil piring bekas dan membilasnya di wastafel. “Ngomong-ngomong, bagaimana kabar si kecilmu? Mau masuk TK ya?”tanya Jilena yang tiba-tiba teringat pada Vino.
"Hanya itu yang dia bicarakan—yah, masuk sekolah dan kamu." jawab Jonathan.
"Aku?" Alis Jilena berkerut, saat dia mengeringkan tangannya.
“Sepertinya kamu membuat dia terkesan di toko roti tempo hari, teman lama. Ya, Vino terus menanyakan tentang teman lama yang cantik."
Jilena menertawakan kata-kata itu, berbalik dari wastafel menghadap. "Dia sepertinya anak kecil yang hebat.” Ada rasa iri dan sedikit emosional yang dia rasakan, teringat bayi laki-lakinya. Namun cepat-cepat Jilena menghapus ingatan itu. "Kau mendidiknya dengan baik, Jo."
Mereka berdiri di dekat wastafel, saling menatap mata satu sama lain. Tidak ada kata yang keluar drai mulut mereka untuk waktu yang lama. Jilena yakin Jonathan akan membungkuk dan menciumnya—dia dapat melihat di matanya dan saat pria itu memiringan kepalanya.
Jilena sudah siap, menunggu sentuhan dibibirnya. Dia merasa debaran jatungnya semakin kencang dan tubuhnya melemah. Saat Jonathan menurunkan wajahnya ke wajah Jilena, dia meletakkan tangan di dada bidangnya dan menekankan jari-jarinya, jarak bibir mereka hanya beberapa inci.
Jonathan berdiri dengan posisi yang begitu dekat sehingga Jilena merasakan napas panas pria itu di bibirnya. Kemudian tiba-tiba dia melangkah mundur secara tak terduga.
“Maaf. Aku tidak bisa melakukan ini sekarang. Ada Vino yang harus dipikirkan.”
Kaki Jilena terasa lemas mendengar ucapan pria itu. "Aku tidak paham."
“Aku melihatmu mencium Noah malam ini. Aku harus berhati-hati dengan siapa aku menjalin hubungan, demi Vino."
Momen romantis itu hilang. Dia menyilangkan tangannya dan menyandarkan punggungnya ke konter. “Apa yang kamu lihat tadi saat Noah menciumku, dia hanya mengucapkan selamat malam, Tidak lebih dari itu. aku juga terkejut karena dia menciumku tiba-tiba.”
__ADS_1
“Menciummu selamat malam…jadi kau pergi berkencan dengannya?” tanya Jonathan.
“Aku sudah menjelaskan itu. Kami hanya dua teman lama yang pergi makan malam biasa. Itu bukan kencan, Jonathan. Tolong percaya padaku.”
“Dengar, Jilena, ketika kamu tidak lebih dari sekedar teman, kamu tidak berciuman di bibir." Entah dari mana, Jonathan meraih lengannya dan menariknya. Bibir pria itu menyentuh bibirnya, menciumnya dengan ganas, ******* bibirnya, lalu dia melepaskannya. Tubuh Jilena menjadi lemah dan kakinya goyah, seperti ada api panas. Dia tidak bisa mengatur napas.
Tangannya meraih meja di belakang untuk bersandar. Jonathan berdiri menatapnya, seolah dia terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan. "Aku harus pergi." Dia melangkah menyusuri lorong dan terdengar suara bergema dari pintu yang ditutup, meninggalkan Jilena dengan wajah terkejut dan mulut terperangah.
...*...
Sementara laci meja kerja ayahnya yang masih terkunci, tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan malam itu. Setelah Jonathan pergi, Jilena masuk ke kamar tidur dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang, masih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Dia menenggelamkan wajahnya ke bantal, cahaya bulan menembus masuk kekamarnya dari tirai jendela yang tipis. Itu menarik perhatiannya sejenak, tetapi ketika dia menutup matanya, wajah Jonathan muncul. Teringat saat bibir hangat pria itu menciumnya membuat bibirnya berdenyut dan tergelitik. Apakah Jonathan sedang berbaring di tempat tidurnya memikirkan ciuman mereka juga? Dia berguling ke samping, meringkuk di bantalnya, dan tidur sembari tersenyum.
...*...
Pagi hari, suara dering telepon membangunkan Jilena dari mimpi. Dengan mata setengah tertutup dan pikirannya masih dialam mimpi, dia meraba-raba bagian atas nakas mencari ponselnya. Dia menjawab dengan kondisi setengah tidur.
“Selamat pagi, matahariku.”
“Rami?” Jilena mengangkat dirinya dengan satu siku, mengintip ke arah alarm di atas nakasnya, matanya masih kabur karena tidur. "Jam berapa?"
“Ini pukul tujuh tiga puluh. Maaf, apa aku membangunkanmu?”
Jilena bisa saja dengan mudahnya berbohong, tapi jelas terdengar dari suaranya kalau dia mengantuk . "Aku sudah tidur, tapi sudah waktunya untuk bangun." Suara sang papa bergema di telinganya, menasihatinya untuk tidak tidur sepanjang hari. "Ada apa?"
“Kamu tidak pernah meneleponku kembali tadi malam. Ingat? Kencan dengan Noah ya? Makan malam romantis?"
“Ugh! Itu bukan kencan. Aku sudah berulang kali bilang pada semua orang kalau kami tidak kencan."
"Semua orang? Siapa lagi yang kamu beri tahu?”
“Jonathan.” jawabnya singkat.
“Oh, ya ampun, sekarang kamu benar-benar harus cerita padaku tentang tadi malam. Jangan kemana-mana ya, aku mau ketemu.”
__ADS_1
Jilena menceritakan semua pada Ramira tentang makan malamnya dengan Noah, ciuman tak terduga, derit ban, dan panggilan teleponnya dengan Jonathan yang akhirnya mau datang kerumahnya.