Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 59. VINO


__ADS_3

Jilena mengakui jika dia menyukai Jonathan dan putranya Vino. Apalagi anak itu sangat lucu dan menggemaskan. Dia membandingkan Jonathan dengan Noah, jauh berbeda. Jonathan pria yang bertanggung jawab, dia bahkan mampu menjadi seorang single parent. Kini, mereka ada disana, berdua karena Vino sudah tertidur pulas.


Mereka saling membalas tatapan, awalnya hanya ciuman lembut namun berakhir menjadi lebih insten.  Satu tangan Jonathan menyentuh lembut tubuh Jilena, bibir Jonathan mencium bibirnya lembut. Mereka mengurai ciumannya setelah kehabisan napas, kembali saling menatap dan menoleh kearah ranjang dimana Vino tertidur pulas.


Jonathan kembali mengeratkan pelukannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Jilena lalu berbisik “Aku rasa dia tidak akan terbangun. Kita keluar saja.” sambil memberikan ciuman basah ditelinga itu.  Jilena berdesir, hembusan napas hangat Jonathan. Tangan kekar itu kembali menyentuh Jilena, mulutnya mendesah lalu bibir Jonathan membungkam agar ******* itu tak terdengar dan membangunkan Vino.  Tiba-tiba Jilena merasakan tubuhnya melayang dan berayun.  Jonathan sudah menggendongnya ala bridal dan membawanya keluar dari kamar itu lalu menutup pintunya


Berjalan menuju kamar Jilena, tangan gadis itu membukakan pintu dan kaki Jonathan mendorong untuk menutup pintu itu kembali.  Membaringkan tubuh Jilena perlahan diatas ranjang.  Keduanya saling berciuman. Tangan mereka saling menyentuh. Puas saling berbagi saliva, tangan Jonathan perlahan-lahan melepaskan pakaian Jilena.  Mendaratkan ciuman dileher dan berhenti didada.  Letupan api gairah menghilangkan kewarasan mereka.  Setelah puas menciumi leher dan meninggalkan stempel kepemilikan disana.


Dia tidak menyangka Jonathan akan melakukan itu “Aahhhh......Jonathan....a—apa yang ka—kamu lakukan?”


Jonathan yang sudah dikuasai gairah tak menjawab, mulut dan lidahnya bermain-main disana, melambungkan gadis itu dalam kenikmatan. “Jooonaaathaann....please.” ******* Jilena memohon Jonathan untuk segera masuk ke intinya. Seakan mengerti dan ia pun sudah tidak bisa menahan lebih lama, Jonathan beringsut dan menindih Jilena sambil menciumi bibir gadis itu.


Untuk kedua kalinya mereka akan melakukan penyatuan.  Entah mengapa baik Jilena dan Jonathan selalu merasakan getaran gairah setiap kali mereka berdekatan.  Apalagi keduanya sudah pernah melakukan sebelumnya bersama pasangan mereka masing-masing, sudah pasti setelah sekian lama, gairah itupun muncul kembali.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit.  ******* demi ******* terdengar dari kamar Jilena diiringi erangan keduanya “Aahhh.......” Jilena memejamkan matanya, merasakan miliknya yang terasa penuh oleh milik Jonathan. Perlahan pria itu mulai menggerakkan pinggulnya. ******* Jilena yang terdengar menggoda ditelinga Jonathan membuatnya semakin mempercepat gerakannya.  Mulutnya mencium bibir Jilena sedangkan tangan satunya lagi meremas. 

__ADS_1


Siapa yang tak akan melayang mendapatkan sentuhan-sentuhan. Tangan Jilena menekan kepala Jonathan, dia mengerang saat mendapatkan pelepasan pertama, kedua sementara Jonathan masih bertahan.  Hingga satu setengah jam kemudian keduanya mendapatkan pelepasan secara bersamaan.  Tubuh Jonathan luruh diatas tubuh mulus Jilena.  Napas keduanya terengah-engah.  “Sayang,  kamu nikmat sekali,” puji Jonathan yang sejak pertama sekali mereka melakukan penyatuan selalu terbayang-bayang gadis itu.


Jilena mengusap punggung Jonathan. Keduanya tertidur pulas. Keesokan pagi, Sinar matahari menerobos masuk dari celah tirai jendela dikamar Jilena.  Mereka saling berpelukan masih dalam keadaan polos.  Seakan enggan membuka mata meskipun mereka sudah bangun. Aktivitas semalaman yang mereka lakukan membuatnya kehilangan tenaga. Jilena tak menyangka apa yang terjadi sepanhang malam itu.  Perlahan dia membuka matanya dan memandang wajah Jonathan yang kini juga sedang menatapnya.  “I love you Jilena,’ ucap Jonathan lembut.


“Kamu lupa pakai pengaman ya.” kata Jilena yang sadar semalam Jonathan sama sekali tidak memakai pengaman.  Jonathan hanya tersenyum, tangannya menyentuh wajah Jilena “Apakah kau keberatan? Aku memang sengaja.” ucapnya tersenyum.  Mata Jilena membulat “Apa? Sengaja? Apakah kamu ingin membuatku----”


“Iya.  Vino pasti senang kalau dia punya adik. Itupun jika kamu tidak keberatan.”


“Ta—tapi.”


“Aku ingin kamu jadi istriku, Jilena. Aku dan Vino menyayangimu.” ujarnya sambil mencium bibir itu.  Morning kiss pun berakhir menjadi gairah hingga selimut yang menutupi tubuh mereka tersingkap.


Keduanya terkejut mendengar suara Vino langsung melepas ciumannya dan menoleh kearah Vino yang sudah berdiri tak jauh dari ranjang.  Mereka terkejut, dengan cepat tangan Jonathan menarik selimut menutupi tubuh mereka yang polos.  Dia menggeser tubuhnya kesamping Jilena.


“Hai, sayang. Selamat pagi. Kau sudah bangun?” tanya Jonathan dan Jilena sambil tersenyum. Mereka berusaha menutupi rasa canggung akibat ketangkap basah oleh Vino yang melihat mereka.  Tanpa aba-aba Vino berlari dan naik keatas ranjang.  Jilena terkejut dan memandang Jonathan.  Vino duduk diantara mereka dan memandang ayahnya dan Jilena bergantian.

__ADS_1


“Papa mencium teman lama ya?” ucapnya polos.  Gara-gara dulu Jonathan memperkenalkan Jilena sebagai teman lama pada Vino, bocah itu selalu mengucapkan kata itu jika menyindir ayahnya.  Jilena menggigit bibir bawahnya menahan tawa.  Dia merasa sangat gelisah karena dalam keadaan tanpa pakaian.  Khawatir jika Vino melihatnya.


Mendengar pertanyaan putranya, Jonathan tak tahu harus menjawab apa.  Putranya sangat pintar dan tak mungkin dia membohongi anak itu.  Dia hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.  Karena ayahnya tak menjawab Vino mengeryitkan dahinya, dia tahu kalau tadi ayahnya mencium Jilena.  Dia memang menyukai gadis itu dan selalu membujuk ayahnya untuk berkencan dengan Jilena.


“Apakah dia akan jadi mamaku?” tanyanya lagi dengan wajah memelas.


“Anak tampan,kamu bisa tanyakan langsung padanya.  Ayo, kita dengar apa katanya.” ucap Jonathan dengan senyum menggoda meskipun dia merasa cemas karena masih belum berpakaian.  Vino membalikkan badannya menghadap Jilena lalu bertanya “Tante, maukah jadi mamaku? Papa adalah pria yang baik.”


Jilena tersenyum, dadanya bergetar kencang.  Dia sangat menyukai anak laki-laki itu, apalagi ayahnya yang tampan. Teringat ucapan Jonathan yang sengaja tidak mau pakai pengaman membuatnya berpikir, jika Jonathan memang serius.  Tak bisa dipungkirinya jika dia pun menyukai Jonathan dan mulai mencintainya, jika tidak, dia takkan mau bercinta dengan pria itu.


“Kenapa tante diam? Tadi Vino lihat papa cium tante.” ucapnya lagi membuat Jilena membelalakkan mata. “Tante suka sama papa vino, iyakan?” Akhirnya Jilena tertawa melihat wajah menggemaskan Vino.  “Oh, sayang. Kenapa kamu sangat menggemaskan.”


"Tante suka? Mau jadi mamaku? Janji ya." ucap Vino kegirangan. Jilena tak tahu harus menjawab apa, dia tak ingin membuat bocah laki-laki itu merasa sedih.


"Tapi...Vino harus janji akan jadi anak baik,"

__ADS_1


"Vino anak baik. Iyakan, Pa?" bertanya pada Jonathan. Mata bulatnya berkedip seakan isyarat pada ayahnya untuk membelanya.


"Iya, vino anak baik. Papa sayang banget sama vino."


__ADS_2