
Sangat jelas terlihat, dari wajah wanita itu tergambar keangkuhan. Bagaimanapun, wanita itu seperti seorang ratu yang memerintah dirumah tempat tinggalnya. Dia duduk di tengah sofa putih, segudang bantal sutra warna-warni di belakangnya, kaki anggun menyilang, tangannya diletakkan di pangkuannya, Arlina memberikan penampilan seperti seorang ratu yang memegang tahta.
“Yah, Arlina, seperti yang anda tahu, saya di sini untuk mewawancaraimu tentang Lembayung Club dan Pesta Bunga yang akan Anda selenggarakan minggu depan. Bisakah anda menceritakan pada saya tentang itu?”
Mata Arlina menyala, dan wajah serta tangannya bersemangat saat dia berbicara tentang bunga dan apa yang ingin dicapai klubnya. Jilena harus mencoret-coret dengan cepat di buku catatannya untuk mengikuti kecepatan dari wanita didepannya yang antusias.
Setelah tiga puluh menit sesi pertanyaan dan jawaban tentang bunga, dan sejumlah besar catatan lainnya, Jilena merasakan ada kesempatan untuk mengubah percakapan tentang kasus pembunuhan. Dia berusaha mencari kalimat yang tepat sebelum dia melontarkan pertanyaan.
“Saya sangat menghargai waktumu hari ini, Arlina. Anda memiliki kekayaan ilmu dan informasi tentang bunga dan berkebun. Kecantikan dan pintar—tidak heran jika Tuan Arsyanendra mencintaimu. ”
Arlina melemparkan senyum sopan. “Wah, terima kasih, Nona Jilena, Anda juga sama. Ini adalah hal yang menyenangkan saya. Maksudku, apa gunanya pengetahuan jika kita tidak berbagi, bukan?"
Ternyata wanita ini sangat percaya diri dan suka membanggakan dirinya hanya dengan sedikit pujian, gumam jilena. Mungkin dengan cara ini aku bisa membuatnya bercerita sedikit tentang masa lalu.
"A-arlina, aku sangat setuju." Jilena mengumpulkan barang-barangnya, berpura-pura hendak bersiap-siap untuk pergi. “Sebenarnya, sebelum saya pergi, saya ingin tahu apakah saya bisa bertanya tentang sesuatu yang lain.”
“Apa itu?” Suara Arlina berubah curiga.
"Apakah Anda pernah tahu atau mungkin mengenal Mariana?" tanya Jilena dengan hati-hati.
Kerutan kecil terbentuk di alis Arlina, seperti dia sedang mengalami tekanan mental. “Namanya terdengar familiar.” jawabnya dengan raut wajah tidak suka.
"Bukankah jenazahnya ditemukan terkubur didekat rumah danau milikmu." ucap Jilena menatap wajah wanita itu untuk melihat reaksinya.
Arlina meletakkan tangannya ke dadanya dengan gerakan perhatian yang dramatis seakan-akan terkejut. "Astaga. Baru saya ingat, saya pernah mendengar nama itu—di berita. Mengerikan. Sangat mengerikan.” Dia menggelengkan kepalanya dan menurunkan pandangannya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya dengan penampilannya yang tenang. “Kenapa kamu bertanya?”
Reaksinya tampak sedikit berlebihan dan dibuat-buat, sungguh aneh. Dan dia tidak benar-benar menjawab pertanyaan. Jilena pun ikut pura-pura.
Saya sedang meliput cerita untuk koran kota—anda tahu, mencari berita— saya mencoba berbicara dengan siapa saja yang mungkin memiliki informasi ataupun mengenalnya.”
__ADS_1
"Kematiannya sudah lama sekali, bukan?" bertanya dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat membuat Jilena yakin jika ada sesuatu yang diketahui wanita itu.
"Sebelas atau dua belas tahun yang lalu, saya percaya." jawab Jilena.
"Kenapa kamu pikir aku mengenalnya?" tanya Arlina. Pertanyaan mengelak lainnya.
“Aku sangat yakin bahwa dia mengenal suamimu. Jadi dia pasti mengenalmu juga. Bukankah begitu?"
"Mungkin juga, tapi aku tidak ingat." menatap lurus dengan tatapan tegas bak seorang ratu yang siap memberi perintah. Wanita itu tidak akan menyerah. Saatnya aku harus bicara terang-terangan padanya, kata Jilena dalam hati.
“Saya tidak bermaksud terdengar kasar, Arlina, tapi saya pernah mendengar berita saat suamimu masih menikah dengan Nyonya Arsyanendra istri pertamanya, bahwa suamimu memiliki reputasi suka tidur dengan wanita lain yang bukan istrinya.”
"Apa sebenarnya yang Anda maksudkan, Nona Jilena?" bertanya dengan nada tinggi. Terlihat dia tidak suka apa yang dikatakan Jilena.
"Mariana adalah salah satu dari wanita itu."
Haruskah Jilena berani memberi tahu Arlina tentang putri haram suaminya? Atau mungkinkah dia sudah tahu tentang Ramira? Perasaannya menggelitik, memberitahunya bahwa wanita ini pasti tahu sesuatu, dan dia tidak mau bicara tentang itu.
Jilena bangkit dari kursinya, perlahan, dengan sengaja. “Saya ingin mengatakan, bahwa saya bisa mencari tahu tentang perselingkuhan suami Anda dengan Mariana, Anda pasti tahu jika polisi juga. Jadi, jika Anda tahu sesuatu…”
"Tolong pergi." Arlina, yang wajahnya sekarang menjadi cemberut, mengarahkan jari telunjuknya keluar. Jilena menjatuhkan kartu nama di atas meja yang berkilau.
"Jika kamu mengetahui sesuatu, tolong hubungi saya. Saya akan merahasiakan namamu dari siapapun. Saya janji." Sambil melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.
...**...
Jileena mendekati pagar penghalang yang mengelilingi arena bermain, tepat saat Vino lewat dengan mobil kecil bermesin. Yah, mungkin tidak persis melesat, tapi ekspresi gembira di wajahnya saat dia melihat Jilena disana— dia merasa seperti sedang balapan.
“Daddy, daddy! Lihat!" kata Vino menunjuk kearah dimana Jilena berdiri. Jilena melambai pada Vino saat dia berkeliling lagi.
__ADS_1
"Hei, kamu menemukan kami," sapa Jonathan dari tempatnya berdiri mengawasi putranya.
"Kamu memberiku petunjuk yang bagus." Jilena menghubungi Jonathan setelah dia selesai interview, setelah pulang untuk mengganti pakaian, dia mengenakan celana jeans dan kaos putih.
Vino menyelesaikan permainannya, melompat keluar dari mobil mini, dan berlari kecarah Jonathan berdiri menunggunya. “Apakah daddy lihat? Aku yang menang balapan ” kata Vino yang berpikir bahwa dia sedang ikut balapan mobil mini.
"Eh, ya, daddy tahu kamu pasti bisa." Jonathan melemparkan pandangan ke Jilena yang berdiri disampingnya. "Bagaimana kalau kita membeli cemilan, anak tampan?"
"Oke, tapi aku harus buang air kecil." Vino menyilangkan kakinya dengan ekspresi sedih di mukanya.
“Hei, bagaimana kalau aku yang membeli cemilan?” Jilena menawarkan. “Kalian berdua pergilah ke kamar mandi dan aku akan mengantre.” Dia melirik ke arah stand makanan dan melihat ramai pengunjung “Sepertinya antrian panjang.”
Jonathan memegang tangan Vino. "Oke. Terima kasih. Kami segera kembali."
Mereka berlari ke kamar mandi untuk mengurus bisnis saat Jilena berdiri di antrean untuk membeli popcorn. Antrian cepat bergerak dan ketika hanya beberapa orang lagi, seseorang menepuk bahunya.
"Cepat sekali dari toiletnya." Dia berputar dengan senyum di wajahnya, mengira jika itu adalah Jonathan dan Vino, tapi Noah-lah yang dia temukan berdiri di belakangnya sedang memandangnya dan tersenyum.
"Senang bertemu denganmu di sini," katanya, menatapnya tajam sambil tersenyum. Dia mengedarkan pandanfan seperti mencari sesuatu dan menemukan Jilena hanya seorang diri.
Noah mengayunkan jarinya memegang lengan Jilena. “Kau selalu menyukai pameran.”
Jilena terjebak dalam antrean — Vino sangat mengharapkan popcorn— dia harus berbicara dengan Noah. Tapi dia tidak boleh membiarkan pria itu menyentuhnya, terutama bila Jonathan bisa datang kapan saja.
Dia melepaskan pegangan Noah dan mundur. "Ya aku suka pameran, tapi sudah lama sekali aku tidak ke sini.”
“Aku juga selalu menyukainya, terutama makanan,” katanya. "Bagaimana denganmu?"
Jilena merasa gugup Jonathan melihat dia bersama Noah, senyumnya memudar, tapi ada kenyamanan baru dengan Noah yang tidak bisa dia sangkal. “Aku suka pekan raya, kita selalu bertemu dengan teman-teman. Kita selalu pergi, Ingat?" tanya Noah.
__ADS_1