
Jilena sedang berdiri di depan gedung sekolah SMA lamanya, menatap ke lantai dua bangunan bata dengan aksen plesteran krem. Item lelang diletakkan pada jalan setapak, di sekitar air mancur melingkar di tengahnya, dan beberapa barang-barang lain seperti perabot dan aksesoris, berserakan di halaman luas dimana Jilena mengingat biasanya para siswa memenuhi area berumput itu saat makan siang.
Hari ini dia akan menemui ibu kandung Noah untuk wawancara. Dari kejauhan terlihat Ratih Arsyanendra berdiri tepat di luar pintu masuk utama yang terdiri dari dua pintu masuk ke gedung, terlihat wanita itu mengarahkan orang-orang yang membawa barang-barang untuk dilelang. Dia masih terlihat cantik, menarik dan elegan, bahkan di musim panas, mengenakan celana panjang berwarna perkamen dan tank top sutra biru laut, lehernya terbungkus kalung emas tebal.
Jilena membawa kontribusi untuk pelelangan, jam antik yang indah milik apanya yang mereka beli di ibukota sebelum mereka pindah ke kota kecil ini, Jilena berharap itu akan membantu Ratih untuk mengumpulkan dana. Dia mendekati wanita itu, mengulurkannya hadiah di kedua tangan. "Halo, Nyonya Arsyanendra."
"Astaga. Jilena Margaretha. Apa kabarmu? Sudah beberapa tahun.” ujar wanita itu dengan wajah terkejut melihat gadis cantik didepannya.
"Ya, dua belas tahun, mungkin lebih. Aku tidak pernah menghitung sudah berapa lama ?" Jilena memaksakan senyum, mengingat terakhir kali dia melihat Ratih, pada malam saat dia dan Noah menyampaikan berita itu kepada orang tua mereka. “Aku membawa sesuatu untuk pelelanganmu. Saya suka bangunan tua auditorium itu."
“Itu sangat manis. Taruh didalam saja. Asisten saya akan menunjukkan di mana Anda harus meletakkannya."
Jilena berhenti di pintu, mencoba mengabaikan barisan orang yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di belakangnya. "Apakah menurutmu kita bisa bicara nanti?"
Ratih merendahkan suaranya dan mencondongkan tubuh. "Tentang apa?"
“Saya seorang reporter sekarang, bekerja untuk Lembayung Post. Saya ingin membuat cerita tentang lelang Anda yang luar biasa."
“Oh, tentu saja.” Dia terdengar senang saat suaranya kembali ke volume penuh dan dia menegakkan tubuh. “Beri aku beberapa menit. Saya harus memberi orang-orang ini beberapa arahan, dan kita bisa duduk dan mengobrol.”
Jilena mengangguk, tersenyum, dan melangkah masuk. Mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu.
...*...
__ADS_1
Setelah memberikan jam antik pada asisten Ratih, Jilena berjalan menuju ke auditorium, tatapannya meneliti pada semua detail bangunan yang indah, kondisi bangunan ini memang perlu direnovasi. Sidah banyak pertunjukan drama dan musikal yang tak terhitung jumlahnya telah ditampilkan dalam acara besar-besaran di ruangan ini, belum lagi semua acara majelis sekolah dan wisuda.
Dulu, Jilena dan Noah pernah datang kesana untuk melihat beberapa drama sekolah, tapi dia—juga pernah datang sekali dengan Jonathan. Dia hampir lupa. Saat itu sekolahnya membuat pertunjukan drama musikal dan Jilena ikut berperan dalam drama tersebut, sebelum dia mulai berkencan dengan Noah. Sedangkan dia dan Jonathan menghadiri acara musik bersama untuk membuat artikel untuk koran sekolah.
"Itu dia," kata Ratih saat dia mendekat. "Kupikir kau akan pergi."
“Tidak, aku hanya mengagumi auditorium tua ini.”
“Dia cantik, bukan?” Tatapan Ratih mengamati ruangan. "Tunggu sampai kita kembalikan dia ke masa kejayaannya. Dia akan membuatmu terpesona.”
“Bagaimana kalau kita duduk di sini?” Jilena menunjuk ke arah deretan kursi yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ratih melangkah kearah deretan bangku dan duduk. Jilena mengeluarkan buku catatan dan pena dari tasnya dan duduk di sampingnya.
“Sekarang, bisakah ceritakan semua tentang acara lelang ini. Jangan melupakan apa pun. ”
“Saya pikir saya sudah mendapatkan semua yang saya butuhkan untuk sebuah artikel. Terima kasih banyak atas waktunya.”
Jilena memasukkan buku catatan dan penanya ke tasnya dan bangkit dari tempat duduknya. Dia mulai berbalik untuk pergi tetapi berbalik kembali. “Ngomong-ngomong, saya ingin bertanya satu lagi pertanyaan."
"Apa itu?"
Jilena duduk kembali di tepi kursi, memiringkan badannya menatap ke arah Ratih. “Saya juga sedang menulis cerita tentang penemuan kerangka jenazah perempuan yang ditemukan didanau hijau."
__ADS_1
"Aku sudah membaca sesuatu tentang itu." kata Ratih tenang. "Lalu apa yang ingin kamu tanyakan padaku soal itu?"
"Aku punya alasan yang cukup kuat untuk percaya bahwa wanita itu adalah Mariana." Jilena memperhatikan raut wajah Ratih untuk melihat reaksinya. Matanya melebar sesaat lalu kembali normal. 'Mariana. Bagaimana mungkin kalau itu Mariana, siapa yang membunuhnya? Benaknya dipenuhi pertanyasn-pertanyaan. Dia hampir tak percaya tentang apa yang baru didengarnya.
“Apa yang membuatmu berpikir bahwa itu dia? Apakah pihak berwenang sudah memberikan konfirmasi tentang itu? ”
“Saya tidak berhak untuk mengatakannya, tetapi saya bertanya-tanya apakah Anda mungkin mengenalnya sebelumnya."
“Ya, aku mengenalnya. Tidak mengenal baik, tentu saja. Dia pernah bekerja di bank---kamu pasti tahu maksudku," Ratih mengelus lehernya, tampak sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan Jilena itu. Dia kenal Mariana saat wanita itu bekerja di bank milik mantan suaminya.
“Bukan rahasia lagi jika mantan suamiku mempunyai banyak wanita di sampingnya ketika kami menikah, ya...wanita selingkuhan. Mariana adalah salah satunya.” ujarnya dengan tatapan mata lurus seolah mengingat sesuatu yang menyakitkan baginya.
“Pertanyaan ini mungkin tidak enak, tapi aku harus bertanya. Apakah Anda pernah bertanya-tanya atau berpikir? Jika Tuan Arsyanendra adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh Mariana?" tanya Jilena ingin mengorek sebanyak mungkin cerita yang ingin ia ketahui kebenarannya.
Ratih Arsyanendra tersentak kaget, tubuhnya terdorong ke belakang seolah kena tamparan Jilena dan matanya membelalak mencerna pertanyaan gadis itu.
Tangannya menutupi mulutnya yang terbuka karena terkejut dan dia berusaha mengatur napasnya. Dia menoleh ke sekelilingnya, ingin memastikan apakah ada orang lain disana. Dia hanya melihat beberapa orang diujung lorong yang sedang mengatur barang-barang, Ratih menghempaskan napas tanda lega.
"Ya, saya tahu. Saya tahu soal bayi itu." ucapnya perlahan dan terdengar tenang. Memandang kewajah Jilena dengan tatapan selidik, "Tapi, darimana kamu tahu soal bayi itu."
"Maaf, saya tidak bisa mengatakannya," kini Jilena semakin yakin akan kecurigaannya.
"Apakah gadis itu sudah tahu?" bertanya tentang Ramira.
__ADS_1
"Belum. Tapi dia akan segera mengetahuinya." jawab Jilena.
Terlihat Ratih Arsyanendra memandang keatas panggung dengan tatapan kosong. "Arsyanendra mengirimkan uang pada Mariana setiap bulan. Apakah kamu juga tahu soal itu? Aku pernah menasehatinya kalau itu tidak baik, dia harus bertanggung jawab karena bayi itu adalah anaknya. Tapi pria itu tak pernah mau mendengarkanku."