Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 23. MENCARI BUKTI


__ADS_3

Jilena berusaha mengingat-ingat sesuatu dari masa lalu yang bisa dia jadikan dasar untuk memulai pencarian. Terpikirkan kira-kira siapa orang terakhir bersama Mariana sebelum ia terbunuh.  Jilena teringat seorang pria yang menjadi pacar terakhir wanita itu, mencoba mengingat namanya namun ia tidak tahu nama belakang pria itu.


Begitu banyak orang yang memiliki nama sama, andai jilena bisa tahu nama lengkap pacar terakhir Mariana, mungkin dia bisa mencarinya di internet dan mudah-mudahan menemukan sesuatu tentang dia. Dia menelepon Ramira. "Hei, bisakah kamu mampir ke rumahku sehabis kerja?"


"Tentu. Ada apa?"


"Aku akan memberitahumu ketika kamu sampai di sini."


Tak lama kemudian terdengar ketukan dipintu rumah Jilnea, saat membuka pintu Jilena mendapati Ramira telah berdiri disana. Dia memeluknya dan mempersilahkan masuk. "Ayo, kita keruang kerja.  Kita bicara disana saja." Ramira merasa penasaran tentang hal penting apa yang ingin dibicarakan Jilena padanya.


Ramira mengikutinya menyusuri lorong dan setelah mereka masuk kedalam ruang kerja, gadis itu duduk di seberang meja. "Koq kamu begitu misterius? Ada apa Jil?" Sebelum Jilena bisa menjawab, Mata Ramira melihat kearah meja dimana da sebuah foto terletak disana.  Ia mencondongkan badannya dan memperhatikan foto liontin yang tergeletak di sudut meja. "Apa ini?"


Dia mengambilnya dan menatapnya. "Ini aku." Dia mengangkat matanya ke arah Jilena. "Kenapa kamu bisa punya foto liontin ibuku?" Berarti Tante Dewi, pikir Jilena. Ramira baru saja mengatakan kalau foto anak kecil di liontin itu adalah dirinya. “Ramira, ada yang ingin kukatakan padamu. Sesuatu yang buruk."


"Apa itu?" Mata cerah Ramira mendadak menjadi gelap saat melihat raut wajah Jilena yang berubah setelah mendengar ucapannya tentang foto itu.  Terlihat jelad diwajah Ramira muncul rasa curiga. Jilena menarik napas dalam-dalam, melapangkan rongga dadanya yang terasa sesak dan bersandar di kursi.


“Jika gadis kecil di foto ini adalah kamu, aku kini punya alasan yang kuat untuk percaya bahwa sisa-sisa yang ditemukan di danau itu milik—” “Ibuku?” Ramira mengedipkan matanya beberapa kali, lalu matanya menjadi bulat dan basah. "Apakah kamu mengatakan ibuku sudah mati?"


Jilena bangkit dari tempat duduknya dan mengitari meja. "Aku minta maaf, Ra." Dia membungkuk dan melingkarkan lengannya memeluk Ramira. "Sepertinya memang begitu."


"Bagaimana kamu bisa tahu bahwa? Apakah polisi yang memberitahumu? Apakah mereka sudah melakukan semacam Tes DNA pada tulang? Apa?" Ramira tersedu-sedu.


Jilena melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuh. “Liontin ini ditemukan bersama tulangnya, Ramira. Apa mungkin, itu berarti?”


Ramira memperhatikan foto itu lagi. "Bagaimana kamu mendapatkan gambar ini?"


“Aku tidak bisa mengatakannya, tetapi percayalah aku mengatakan yang sbeenarnya bahwa liontin ini ditemukan dengan sisa-sisa kerangka yang terkubur.”


Ramey mengangguk sedih. “Di sini, selama ini kupikir ibuku kabur dan—tidak peduli padaku lagi—tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Dia tidak kabur… dia meninggal.” Suaranya pecah pada kata terakhir yang menyakitkan.

__ADS_1


“Jadi sekarang pertanyaannya adalah, siapa yang membunuhnya?” kata Jilena. "Dan mengapa.”


Ramira mengembalikan foto itu. “Berjanjilah padaku, kau akan tahu, Jilena. Tolong, berjanjilah padaku untuk mencari pembunuh ibuku.” tangis Ramira meledak menerima kenyataan pahit.


“Aku bukan detektif, Ramira. Aku akan melakukannya semampuku, tapi aku tidak bisa berjanji.”


Sebagai reporter investigasi, Jilena akan mengejar setiap peluang yang ada untuk menemukan kebenaran. Jika dia bisa terus menerus memberikan tekanan pada Detektif Wira, dia mungkin bisa mengetahui lebih banyak tentang kasus ini, dan mungkin dia juga bisa meminta bantuan Jonathan untuk memberinya beberapa petunjuk tentang pembunuhan Mariana. Jilena duduk di belakang meja lagi. “Apakah kamu ingat nama pacar terakhir ibumu? Yang dia bilang dia akan pergi bersamanya ke luar kota?”


"Apa menurutmu dia terlibat?"


“Aku mencoba memikirkan siapa saja yang mungkin memiliki motif atau kesempatan untuk—membunuh ibumu, dan pacarnya adalah orang pertama yang terlintas dalam pikiran.”


“Namanya Hendra---atau---. Yang kuingat adalah aku selalu memanggilnya Penipu Hendra Baskoro.”


"Kau selalu memanggilnya dengan sebutan itu langsung padanya?”


“Teriakan-teriakan dan tangannya besarnya masih berbekas dalam ingatanku.”


“Jadi, Hendra Baskoro mudah marah. Apa dia pernah memukulmu?”


"Beberapa kali." Ramira berhenti sejenak, Wajahnya mengarah kelangit-langit ruangan itu, ekspresinya datar, seolah-dia mengingat semua kejadian buruk yang dia alami dimasa lalu. “Kau tahu, aku mungkin tahu di mana aku—dapat menemukan namanya—kotak tua ibuku.”


“Aku akan coba mencari namanya atau mungkin foto—dikotak tua ibuku.”


“Kotak tua?” tanya Jilena.


“Ya, ibuku seorang yang rapi. Dia selalu mengemasi barang-barang dan menyimpannya dengan rapi. Ketika dia pergi, aku tidak sanggup untuk membuang barang-barangnya. Aku akan coba membongkar barang-barang lama milik ibuku setelah sampai dirumah nanti. Aku sangat yakin di sana ada fotonya didalam salah satu kotak tua itu, dan mungkin saja ada foto mereka berdua. Jika kita beruntung, mungkin kita bisa tahu nama sebenarnya. Aku ingat ibu menulis namanya di belakang foto. Dia selalu melakukan itu—untuk mengingat siapa saja pacarnya, kurasa. ”


Jilena ingat ada cukup banyak pria dalam kehidupan Mariana. Ramira yang malang.

__ADS_1


“Apakah kamu ingat jika ibumu punya masalah dengan seseorang? Siapapun yang mungkin ingin menyakitinya?” tanya Jilena lagi.


“Wah… itu sudah lama sekali. Aku harus coba mengingat kembali. Biarkan aku pergi untuk menemukan kotak itu dan melihat apa yang bisa kutemui. Jika aku menemukan sesuatu, aku bisa mampir kesini lagi malam ini."


"Aku mungkin tidak akan ada di rumah, jadi telepon saja aku atau tinggalkan pesan."


"Kemana kamu pergi?" tanya Ramira.


“Aku ada janji makan malam dengan seorang teman.”


“Apa aku mengenalnya? Seorang petugas polisi yang tinggi dan keren mungkin? ”


“Tidak, aku akan makan malam dengan Noah. Tunggu, jangan menghakiminya dulu.” kata Jilena sebelum Ramira mengatakan sesuatu atau protes, karena dia tahu itu yang akan terjadi.


“Noah? Apa yang terjadi? Apa dunia mau kiamat?" Ramira jelas menyindir sahabatnya itu tentang kata-kata terakhir Jilena tentang menghakiminya.


“Bukan masalah besar, tidak ada istimewa. Dia hanya ingin bicara, mengingat situasi tidak begitu nyaman setiap kali kami bertemu satu sama lain.” jelas Jilena seperti apa yang Noah katakan padanya. Hanya ingin bicara, tidak lebih.


“Oh, sahabatku sayang. Apa kau percaya begitu saja?”


“Yah, dia benar, Ramira. Ini adalah kota kecil dan aku bekerja diperusahaan milik keluarganya sekarang.” Apa salahnya memberinya waktu satu jam dan melihat apakah dia benar berniat hanya bicara saja atau ada hal lain?


“Kami akan terus saling bertemu setiap saat selama aku dikota ini. Jika ternyata bertemu dengannya malam ini adalah sebuah kesalahan, aku akan lari secepatnya keluar dari kota ini.”


"Hubungi aku jika kau butuh tumpangan pulang. Dan bahkan jika tidak, hubungi aku saat kau pulang ke rumah. Aku ingin mendengar semuanya. Sepertinya akan menarik. ” Ramira mencibir.


“Sudahlah. Sekarang kamu tolong aku menemukan foto Hendra Baskoro itu.”


...*...

__ADS_1


__ADS_2