Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 70. MEMAAFKAN


__ADS_3

"Aku senang melihatmu sudah keluar dari penjara." kata Jilena.


"Kudengar beritanya tentangmu yang berusaha keras untuk menolongku dan aku harus berterima kasih padamu untuk itu." kata Noah lirih menatap Jilena.


“Yah… bukan hanya aku. Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?” tanya Jilena heran. Dia tidak mengundang Noah.


“Aku sedang mengemudi lewat daerah ini dan aku tak sengaja melihat mobilmu terparkir didepan. Agak sulit untuk melewatkan hal kecil seperti itu.” Dia tersenyum dan matanya yang intens menatap netra mata Jilena.


"Apakah kamu ingin masuk?" Jilena bertanya mengundang Noah jika ia ingin bergabung.


"Tidak." Noah melihat kearah dalam rumah. “Aku bisa melihat tantemu sedang mengadakan pesta, aku tidak ingin mengganggu kalian dengan kedatanganku. Aku hanya ingin berterima kasih karena kamu tidak menyerah padaku, karena kamu terus mendorong polisi untuk menangani kasus ini.”


"Aku hanya ingin mendapatkan kebenaran, Noah. Bukti yang ada tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa kamu adalah pelakunya. Hal itu tidak baik jika kamu harus mendekam di penjara untuk sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan."


Itu satu-satunya alasan yang dia bisa berikan pada Noah. Jilena tidak bisa mengatakan kepada Noah bahwa dia berharap dengan sepenuh hati bahwa ayah dari anaknya bukanlah seorang pembunuh, atau bahwa setiap kali dia melihatnya, jantungnya berdebar-debar mengalahkan kewarasannya, atau alasan lain bahwa Jilena akan selamanya terhubung dengan Noah karena putra mereka, apakah dia menyukainya atau tidak.


“Kau tahu, saat papa dikurung, dia membiarkanku untuk bertanggung jawab atas perusahaannya. Siapa yang bisa menyangka?"


“Aku bisa melihat itu pasti akan terjadi.” Jilena menimpali.


“Aku harap aku bisa membuktikan kepadanya bahwa aku mampu mengambil alih kendali kekuasaan Arsyanendra suatu hari nanti.”


“Oh, aku tidak pernah meragukan hal itu, Noah.” Sebenarnya, Jilena memang memiliki keraguan, tapi Noah tampaknya membutuhkan dorongan dan apa salahnya memberinya sedikit dukungan?


“Maksudku apa yang ingin aku katakan. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu Jilena.” Noah mengambil tangan Jilena. "Aku sangat berharap pada suatu hari nanti kamu dapat melihat bahwa aku layak bagimu, Jilena. Aku akan selalu mencintaimu.”


"Noah, tolong jangan katakan itu." Jilena menarik tangannya.


“Aku sudah berubah, Jilena. Aku tahu sekarang bahwa aku telah membuat kesalahan besar membiarkanmu pergi dari hidupku." kata Noah dengan mata berkabut, dia menyesali semua yang terjadi di masa lalu. Kini ia menyadari bahwa hanya Jilena wanuta yang dia cintai.

__ADS_1


"Hanya aku?" tanya Jilena.


"Dan putra kita." jawab Noah menatap Jilena dengan tatapan lembut.


"Aku tidak bisa melakukan ini, Noah." Jilena sangat ingin menutup pintu, dia ingin Noah pergi. Noah pasti melihatnya di matanya.


"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya ingin berterima kasih dan…yah… mohon maaf. Apakah kamu pikir kamu bisa memaafkanku untuk apa yang sudah aku lakukan padamu?” ujar Noah memohon.


Memaafkan dia? Selama bertahun-tahun aku menderita akibat rasa sakit dan sakit hati yang disebabkannya? Jilena ingin—dibebaskan darinya—tapi bisakah semudah itu? Bisakah sesederhana itu untuk memutuskan  memaafkan dan kemudian mengatakan pada Noah? Sebuah suara di belakang Jilena menarik perhatian Noah dan dia melirik dari balik bahu gadis itu. Terlihat Jonathan membawa Vino kecil kembali ke kolam. Tatapannya melayang kearah mereka, dan kepada yang lainnya yang sedang tertawa dan mengobrol dan bermain-main di air. Kini Jilena adalah sudah bagian dari keluarga, keluarga yang baik. Dia tak ingin kehilangan semua yang sudah ia dapatkan kini. Saatnya melupakan semua ysng terjadi di masa lalu dan memulai hidup baru bersama orang-orang yang dicintainya.


Sepertinya dia diberi kesempatan kedua. Kesadaran itu membawa kehangatan tiba-tiba pada hatinya dan itu menyebabkan sesuatu yang keras di dalam dirinya meleleh. "Jilena?" Noah menunggu jawabannya. Jilena menatap kembali ke pacar lamanya dan memberinya senyum menawan. "Ya, Noah, aku memaafkanmu.”


Noah tersenyum tipis "Terimakasih, Jilena. Semoga kamu akan membuka hatimu kembali untukku. Untuk anak kita dan aku janji jika kamu mau maka kita akan mencari anak kita dan membawanya kembali." kata Noah.


"Maafkan aku Noah. Aku harus kembali kedalam, aku lelah dan saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun lahi yang membuatku terluka. Aku sudah memaafkanmu dan kurasa itu sudah cukup." Jilena menutup pintu dan kembali bergabung dengan yang lainnya.


Noah masih berdiri didepan pintu, menghela napas panjang lalu pergi meninggalkan rumah itu. Didalam mobilnya Noah terlihat muram dan kacau. "Aku tahu jika kamu sangat terluka tapi kenapa kamu tidak memberiku kesempatan lagi Jilena, apakah sebenci itu kamu padaku? Aku berjanji akan mencari anak kita dan membawanya kembali."


"Jil! Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Jonathan melingkarkan tangan dipinggang Jilena.


"Ya, aku baik-baik. Mana Vino?"


"Itu sedang berenang, apakah kamu sudah siap untuk kulemparkan ke kolam renang?" kata Jonathan mengedipkan mata menggoda Jilena.


"Aku harus pake bikini ku dulu."


"Jangan menggodaku, Jilena. Aku tidak mau kamu pakai bikini! Hanya aku yang bisa meligat tubuhmu."


"Hmmm....sejak kapan kamu jadi posesif begini, Jo?"

__ADS_1


"Sejak aku jatuh cinta padamu." Jonathan mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Jilena. Untung mereka duduk di sudut yang remang-remang jauh dari yang lainnya. Ciuman Jonathan semakin bergairah disambut Jilena. Keduanya hanyut dalam gairah yang membuat mereka lupa keberadaan mereka.


"Maukah kamu menginap dirumah besok? Vino pasti akan senang sekali. Dia selalu menanyakanmu, Jil."


"Aku juga merindukan Vino. Besok aku akan datang kerumahmu tapi aku tidak akan masak ya, aku tidak bisa masak."


"Tidak apa-apa. Aku bisa memasak makan malam besok untuk kita. Kamu mau makan apa besok?"


Oh, Tuhan kenapa Jonathan sweet banget? Dia sangat baik dan tampan.


"Terserah, kamu mau masak apa. Aku akan makan semuanya sama Vino."


"Baiklah, sayang. Aku akan buat kejutan untukmu besok."


Malam semakin larut dan satu persatu tamu pulang. Jilena sedang berada dalam mobil Jonathan yang mengantarnya pulang. Vino terlelap di jok belakang karena lelah berenang. Tiba-tiba hujan deras turun disertai petir yang menyambar-yambar.


"Sial! Aku lupa kalau ramalan cuaca bilang hari ini akan hujan." gerutu Jonathan. Sesampainya dirumah Jilena, gadis itu meminta Jonathan untuk menginap karena hujan semakin deras dan tak aman jika berkendara di cuaca buruk seperti itu.


Vino sudah dibaringkan di kamar yang bersebelahan dengan kamar Jilena. "Terimakasih Jil."


"Ehmmm....jangan keseringan bilang terimakasih!" ujsr Jilena. Keduanya duduk ditepi ranjang dikamar Jilena.


"Jil, boleh aku tahu apa ysng dikatakan Noah padamu?"


"Dia datang untuk minta maaf atas kejadian dimasa lalu dan berterimakasih juga atas bantuanku."


"Apakah kamu sudah memaafkannya?" tanya Jonathan.


"Ya, aku memaafkannya agar aku bisa tenang untuk menjalani masa depanku, tidak lebih!"

__ADS_1


"Benar sekali. Memaafkan adalah jalan terbaik untuk melupakan mssa lalu."


THE END


__ADS_2