Rahasia Rumah Tepi Danau

Rahasia Rumah Tepi Danau
BAB 30. DUA DUDA KEREN


__ADS_3

Ramira terlihat serius mendengarkan cerita sahabatnya. “Karena Jonathan tidak bisa membuka laci itu, jadi aku masih tidak tahu apa ada benda penting di laci papa, hingga dia merasa harus menguncinya, tapi aku tidak menyerah. Tante Dewi melarangku untuk merusaknya, jadi aku akan mencoba cara lainnya terlebih dahulu, tapi aku akan buka laci itu, bagaimanapun caranya.”


"Apa kamu berharap akan menemukan sesuatu di dalamnya?" tanya Ramira.


“Aku tidak tahu, tapi yang jelas, ada sesuatu yang papa simpan di laci itu dan dia tidak ingin orang lain lihat."


“Oh, hampir saja aku lupa, aku meneleponmu untuk memberi tahu bahwa aku menemukan foto pacar terakhir ibuku.” kata Ramira.


"Apakah kamu menemukan siapa namanya?"


“Ya, Hendra Baskoro. Apakah itu bisa membantu?"


"Kita lihat saja nanti. Aku akan memeriksanya. Kemungkinan ada lebih dari satu orang yang bernama Hendra Baskoro di negara ini, jadi foto itu akan membantuku untuk mengidentifikasinya.”


"Kamu? Bagaimana dengan polisi?” tanya Ramira.


“Tentu saja kamu harus memberi tahu Detektif Wira. Kamu masih ingat namanya kan, tapi aku ingin melihat fotonya sebelum kamu menyerahkan kepadanya.”


"Aku menyimpannya di dompetku, jadi lain kali kita ketemu, akan kuberikan padamu," kata Ramira.


“Jadi…apa yang terjadi setelah Jonathan mencoba membuka kunci? Dan jangan bilang padaku tidak ada." Ramira mengalihkan topik pembicaraan karena dia yakin pasti terjadi sesuatu.


"Kami makan kue dan berbincang sebentar."


"Dan…"


“Dan dia menciumku. Lalu dia pergi.”


"Woo hoo! Aku tahu itu!" ucap Ramira senang sambil tertawa.


“Jangan terbawa suasana, Ramira. Itu mungkin tidak berarti apa-apa baginya.”


“Jadi itu hanya kecupan kecil, seperti yang diberikan Noah padamu?” candanya.


"Tidak juga sih."


“Ayo, sayang. Cerita dong.”

__ADS_1


"Itu adalah ciuman yang hebat—"


"Apakah ciumannys membuat seluruh tubuhmu bergetar?" tanya Ramira.


"Ya, tapi setelah itu dia lari seperti orang yang celananya kebakaran. Ha...ha...ha" Jilena tak bisa menahan tawa mengingat kejadian tadi malam.


“Hm, sama sepertimu yang terbakar?” Ramira tertawa. “Dengar baik-baik, bagaimana kalau kamu datang ke The Upper Spot untuk sarapan? Kita bisa bicara lebih banyak lagi. Aku harus kembali bekerja."


“Jika kau mau membuatkanku—”


“Pancake coklat dan cake. Aku tahu kesukaanmu. Akan aku buatkan untukmu." Ramira tertawa lagi. "Aku bingung melihatmu, kamu makan banyak tapi badanmu tetap langsing. ”


...*...


Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Jilena duduk di depan laptopnya dan mulai mencari nama Hendra Baskoro. Dia membuat catatan untuk Hendra Baskoro sebagai orang yang mungkin terlibat. Dia mulai memikirkan tentang beberapa kemungkinan, tetapi sampai dia melihat foto Ramira, dia tidak bisa berpikir lebih jauh.


Satu jam kemudian Jilena berjalan ke kafe, berpakaian santai mengenakan tank top merah tua dan celana panjang putih tipis. Dia berdiri mengantri di barisan belakang, ada dua orang yang berdiri didepannya.


Jilena mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Sebagian meja terlihat kosong, ia merasa senang karena dia sengaja datang untuk melewatkan kesibukan pagi. Biasanya kafe itu selalu ramai pada pagi hari.


“Hei, Jilena! Aku sudah membuatkan pancake coklat untukmu, ada di belakang. Pesan kopimu dan aku akan membawanya keluar untukmu.”


“Untuk siapa kotak itu?” tanya Jilena heran.


“Itu untukku,” terdengar suara laki-laki yang tak asing menjawab di belakangnya. Jilena berbalik. “Keenan.” Dia melemparkam senyum ramah padanya. “Ada acara apa nih?”


Lonceng kecil berdenting dan Jilena berbalik menatap ke arah pintu.


"Papa," erang seorang anak laki-laki dari ambang pintu. “Kenapa lama sekali?”


"Aku datang," kata Keenan kepada bocah itu, yang tampaknya berusia sepuluh hingga dua belas tahun.


"Siapa ini?" Jilena tersenyum pada anak laki-laki itu. Bocah itu meliriknya, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke papanya. "Cepatlah pa. Kita bisa terlambat.” Dia mundur dari ambang pintu dan melangkah pergi setelah menutup kembali pintu.


“Itu anakku. Kami akan pergi berkemah dengan teman-temannya dan saya khawatir kami akan ketinggalan. Donat ini untuk kami bawa." Keenan mengangkat kotak itu padanya sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu.


"Terima kasih, Ramira," dia melemparkan senyum manis mempesona pada gadis itu.

__ADS_1


"Terima kasih kembali."


Keenan berhenti di pintu dan berbalik dan menatap ke arahnya. “Jangan lupa ya, malam minggu. Aku jemput."


Wajah Ramira berseri-seri. “Aku tidak akan lupa.” Tatapannya mengikuti Keenan yang keluar dan naik ke mobilnys yang diparkir di tepi jalan. Jilena memperhatikan ekspresi Ramira, senyumnya tidak memudar. “Ada apa dengan malam minggu? Janji kencan?”


Ramira terus memperhatikan saat Keenan memundurkan mobilnya keluar dari tempat parkir ruang dan melesat pergi. "Apa?"


“Ada apa dengan malam minggu? Giliranmu untuk kencan buta ya. ”


“Ah tidak apa-apa. Kami baru saja berkencan.”


"Kencan?" Jilena dengan kuat meletakkan tangannya di kedua lengan Ramira, menahannya untuk diinterogasi. “Kapan kau akan memberitahuku?”


“Dia baru mengajakku kencan, saat dia datang umtuk memesan donat.” Ramira menyeringai dan mengangkat bahu dari cengkeraman Jilena, melenggang ke belakang etalase roti. “Aku masih tidak bisa percaya.”


"Sejujurnya apa kamu tidak bisa merasakan kalau dia menyukaimu selama ini?"


“Yah…dia selalu agak ramah dan perhatian. Aku pikir dia bersikap seperti itu karena dia orang baik."


"Ye ye Ramira punya pacar, Ramira punya pacar," Jilena bernyanyi, sambil duduk di meja terdekat.


"Hentikan." Ramira menepuk tangannya. “Kita bukan anak kecil lagi."


"Oh, aku hanya bersenang-senang." Jilena tersenyum. “Keenan itu laki-laki hebat, dari apa yang aku lihat sejauh ini. Tapi kamu juga harus memikirkan putranya.”


“Aku tahu, aku suka anak-anak. Dan aku sudah mengenal Daffin sepanjang hidupnya. Hubunganku dengan Daffin juga baik, aku sayang sama anak itu.” Ramira membawa kopi dan pancake untuk Jilena dan meletakkan di mejanya. “Aku bisa mengatakan hal yang sama tentang kamu—Jonathan yang memiliki seorang putra.”


"Kita berkencan dengan duda keren anak satu." tawa keduanya pun pecah. "Sepertinya kita senasib ya, sama-sama jatuh cinta sama duda."


"Betul sekali." Dalam kegembiraannya atas kencan Ramira dengan Keenan, dia bahkan tidak ingat kalau dirinya berkencan dengan Jonathan yang duda beranak satu. Tidak lama setelah kata-kata itu keluar dari mulut Jilena, bel pintu berbunyi, dan Jonathan melangkah masuk bersama Vino.


"Halo, nona-nona," kata Jonathan sambil tersenyum ketika dia dan putranya memasuki kafe. Jilena melompat dari tempat duduknya dan melangkah ke arah mereka. “Jonathan, wah ada kejutan." Dia membungkuk untuk bisa sejajar dengan Vino. "Selamat pagi, Vino."


"Hai." Vino tersenyum kecil dan menatap ayahnya. "Dia cantik. Sangat cantik, Vino suka." ucapnya tanpa malu.


Jilena menatap Jonathan dan menahan tawa. Dia berjongkok di samping Vino. "Terima kasih. Kamu sangat manis. Menurutku kamu adalah anak paling tampan sedunia.”

__ADS_1


__ADS_2