RAKA

RAKA
12. Cady telat


__ADS_3

Cady keluar dari mobilnya. Beberapa saat kemudia mobil itu melaju meninggalkan cady. Dia segera berlari menuju gerbang karena sebentar lagi masuk tapi sayangnya gerbang itu sudah tertutup. Cady menatap lesuh. Hingga sebuah tarikan dari seseorang yang membawanya ke samping sekolahnya.


Cady melihat cowok di depannya yang memiliki poster tubuh besar dengan rambut hitam yang sedikit panjang. Penampilannya sedikit berantakan untuk siswa dari sekolat elite satu ini. Berbeda banget dengan penampilan raka yang selalu terlihat rapih walaupun berbau bad boy.


"kamu telat juga? biasanya datangnya paling pagi." ucap cowok itu sambil membalikan wajahnya pada Cady.


Sekarang cady tahu orang yang tiba-tiba menarik badannya ini. Siapa lagi kalau bukan javier, cowok yang kalah balapan dengannya.


Keduanya berhenti di sebuah pohon yang sangat tinggi hingga dahannya melewati tembok sekolahnya. Sekarang dia tahu apa yang akan dilakukannya. Dia sangat rindu melakukan hal ini. Rasanya selama sekolah disini dia sudah tidak pernah melakukan hal-hal aneh. Seperti tawuran, kabur dari kelas, atau ikut balapan. Ya beberapa hari lalu dirinya baru saja ikut balapan. Tapi itu berbeda tidak seperti di kotanya dulu. Tindakannya itu masih terbilang baik menurut Cady.


"Kamu bisa manjat pohon gak?" tanya javier.


"kamu remehin aku nih?" tanya cady yang paling suka diremehkan oleh orang lain.


"Tentu saja tidak cantik, aku hanya ingin menawarkan bantu jika kamu tidak bisa." ucap Javier yang membuat cady memutarkan bola mata saat mendengar kata godaan untuknya.


"hahahha, jadi aku atau kamu dulu yang naik?" tanya javier.


"Kamu dulu ajah." ucap Cady.


Javier menganggukan kepalanya. Dia memahami kalau cady mungkin tidak ingin melihatnya saat naik pohon. Bagaimanapun sekarang cady sedang menggunakan rok.


Javier dengan muda untuk naik pohon. Seperti dia sudah terbiasa menggunakan jalur ini untuk masuk ke sekolah kalau telat. Namun Cady tidak kalah handal dengan javier. Dia juga dengan mudah naik ke atas pohon dan mendarat dengan sangat mulus.


"Sepertinya kamu sudah terbiasa menggunakan jalur seperti ini."sindir javier tapi tidak membua orang seperti cady marah.


"ya dulu pas di sekolah lama. Aku sering ngelakuin itu jadi ya sudah biasalah." ucap cady dengan bangga.


Hal itu membuat javier tidak bisa menahan tawannya melihat ekspresi lucu cady. Dia baru pertama kali melihat cewek kaya cady. Terlihat seperit gadis feminim padahal berjiwa bar-bar. Selain itu cady adalah cewek mandiri yang tidak begitu membutuhkan bantuan seorang cowok untuk melindunginya.

__ADS_1


"Kamu beda dari cewek biasanya ya cady." ucap javier.


"ya lah beda. kalau kata papa aku tuh limited edition. Hanya ada satu di dunia jadi kalau minat harus segera daftar ya. bisi keburu kehabisan. hahahhaha." canda cady yang menular pada javier. Dia tidak menyangka cady sangat konyol dan kepedean.


"kalau begitu aku daftar yang mungkin ajah bisa dapatin yang limited edition ini." ucap javier.


"hahahha boleh tapi susah loh dapatin yang limited edition." ucap cady.


"jelaslah, motor ajah yang limited edition bakal lebih banyak menguras uang bukan apalagi cewek kaya kamu. Tentu saja kualitas pasti bagus." ucap javier yang membuat cady sedikit tersipu mendengar pujian yang dilontarkan cowok itu.


"hahaha kamu bisa ajah. sudah dulu keburu ada guru nanti. Bisa bahaya." ucap cady sebelum meninggalkan javier.


Tanpa mereka berdua sadari ada seorang pria yang melihat kegiatan keduanya.  cowok itu mencekram kuat pagar roottop. Dia tidak tahu perasaan yang dirasakannya tapi dia tidak suka kalau cady berdekatan dengan pria lain. Setelah itu pria itu pergi meninggalkan root top dengan emosi yang masih dirasakannya.


Cady segera berlari menuju ruang kelas. Setelah hampir dekat kelasnya. Dia mengendap-ngendap seperti pencuri. Melihat ke kanan dan ke kiri takut ada guru yang melihat. Saat melihat kondisi aman dirinya langsung berlari menuju kelas. Beruntungnya masih kosong.


"Selamat kelas masih kosong." ucap cady.


"Selamat kamu mendapat hukuman cady." ucap wanita itu.


"Ah hukuman apa ? orang ibu gurunya juga belum datangkan. Dasar guru malas gak tepat waktu banget." ucap cady yang tidak sadar kalau perkataannya membangkitkan sebuah iblis di belakangnya.


Sedangkan Lina yang melihat kebodohan sahabatnya langsung memberikan petunjuk keberakang Cady. Tapi orang yang diberikan code malah tidak mengerti.


"Apa sih Lin kamu tunjuk-tunjuk? aku gak ngerti." ucap Cady disaat bersama sebuah jeweran di telinganya yang membuat para murid tertawa berbeda denganLina yang meringis. Seakan dia dapat merasakan jeweran guru killer itu.


"aaaaakh sakit lepasin ih ngapain jewer kuping cantikku nanti bisa jadi goblin. " ucap Cady


"kamu tadi bilang apa cady?" ucap guru itu

__ADS_1


CAdy langsu menatap sumber suara. Wajah pucatnya langsung muncul. Dia ingat beberapa waktu lalu baru saja mengumpati guru killer. Sepertinya hidupnya akan berakhir hari ini.


Cady melemparkan tatapan permintaan bantuan pada Lina. Sayangnya gadis itu menggelengkan kepala. Tentu saja Lina tidak melakukan apapun. Bagaimanapun sahabatnya yang memulai masalah. Dari masuk telat hingga mengumpat gurunya sendiri.


"Kamu saya hukum, sekarang berdiri di lapangan dan berikan hormat pada bendera merah putih." ucap ibu guru itu.


"aduh bu kalau aku kasih hormat terus itu tiang sama bendera bisa ngapung." protes nyeleneh cady. Sedangkan Lina yang sudah tahu jawaban selanjutnya dari sahabatnya hanya bisa mengalihkan kepalanya. Dia sudah malas mendengarnya.


"Kenapa bisa ngapung?" tanya guru itu.


"bu harusnya jangan bertanya pada manusia gila macam cady." umpat Lina dalam hati.


"karena tiang sama benderanya bakal malu melihat kecantikan cady." ucap cady dengan santainya tanpa merasa bersalah. Sedangkan orang-orang di kelas itu menatap kesal dengan jawaban murid baru itu.


"Sekarang kamu lakukan hukuman itu sekarang." ucap ibu guru itu dengan wajah yang menahan kesal. Tapi menurut cady itu seperti menahan pop yang sudah berada di ujung tanduk.


"Aku mohon cady jangan mengeluarkan  kata-kata keramatmu." ucap lirih Lina saat melihat ekspresi sahabatnya.


Lina tidak perlu waktu lama untuk menghampal segala tingkah aneh dan ucapan abslut milik Cady. Sepertinya untuk Sean, Chiko dan Ester sama seperti Lina mereka sudah terlalu hafal dengan segala ucapan gadis itu. untuk Raka tentu Lina tidak bsia membaca isi pikiran cowok itu.


"bu kalau sudah gak bisa nahan pup lebih baik langsung ke Wc takutnya nanti kepicirit. Wajah ibu sudah perti orang yang gak kuat." ucap cady dengan polosnya.


Sedangkan guru wanita itu seperti ingin menggorok leher cady karena kesal dengan ucapan muridnya sendiri.


"Sekarang lakukan hukumanmu atau nanti ditambahkan lagi." peringatan guru wanita itu.


"aduh bu jangan ditambah lagi nanti..." ucapan cady terpotong saat guru berteriak.


"LAKUKAN HUKUMANMU." ucap guru wanita itu.

__ADS_1


Cady langsung berjalan keluar dari kelasnya dengan wajah ditekuk.


__ADS_2