
"assalamualaikum".
wanita paruh baya yang memakai baju gamis berwarna oranye dan juga jilbab warna hitam, mendatangi kediaman rumah Raka dengan membawa oleh-oleh yang begitu banyak.
"bibi?"
Raka tersenyum sangat senang, dan memeluk bibinya itu. sudah 4 bulan Raka ditinggal bibinya ke luar negeri untuk liburan.
"bagaimana kabar kamu nak?". tanya bibinya sambil menuju ke arah sofa.
"Alhamdulillah, kabar Raka baik bi".
bibi nya melihat Caca yang baru saja bangun tidur, bibinya bertanya bagaimana hubungannya dengan Caca.
"baik kok bi, walau ada kesalah pahaman. Raka bisa nyelesaiin sendiri".
"Raka? itu siapa?". tanya Caca sambil membawa boneka beruang kesayangannya.
"baby? itu bibi aku. namanya bibi Vira".
Caca turun dari tangga dan bersalaman dengan bi Vira, lalu duduk bersama Raka disofa.
"jadi nama kamu Caca? cantik sekali".
"makasii bi Vira". Caca tertawa kecil.
sementara terdengar suara seseorang membawa koper dan juga beberapa tas. seperti biasa itu anak Bi Vira, namanya Gesta.
"mama gimana si, aku cape bawanya".
Bi Vira membantu anaknya untuk membawa koper itu, sementara mereka tinggal dulu dirumahnya Raka. karena mereka belum membeli rumah. Raka pun bertanya kepada Caca, apakah Caca setuju. awalnya Caca menolak, tapi karena bi Vira yang baru pulang dari luar negeri pasti kan cape. akhirnya Caca setuju, tapi mereka tidak boleh merepotkan. setelah berbisik dengan Raka, Raka pun segera menyiapkan kamar untuk bibinya. sementara Gesta akan tidur dengan Raka.
7 pm, at Raka's house
bibinya masih bertanya kapan Raka akan lulus SMA. Raka hanya menjawab mungkin masih lama. karena sekarang Raka masih kelas 11 ips 2. sebentar lagi dia akan naik kelas 12. Gesta izin, ke mamanya untuk ke kamar mandi. dan Gesta melihat pacarnya Raka yang lagi tertidur lelap dengan boneka beruangnya. sifat asli Gesta pun keluar, dia masuk ke kamar Caca dan mulai menyentuh wajah Caca dengan lembut. tapi tiba-tiba, Gesta langsung di pukul Raka sampai membuatnya terjatuh.
"mo lu apain cewe gua ha?!". teriak Raka.
dan itu membuat caca terbangun dan bingung apa yang sedang terjadi.
"gua cuma nyentuh wajahnya doang, ko emosi?".
Raka memegang kedua baju Gesta, dan mengancam jika dia menyentuh pacarnya lagi, Raka tidak akan segan-segan menghajarnya habis-habisan. setelah Raka menyuruh Gesta untuk pergi, Caca bertanya apa yang sedang terjadi.
"shtt baby, ga terjadi apa-apa kok".
Caca hanya menggeleng lalu dia ingin tidur lagi.
"gua harus cepat cari rumah buat bibi, kalo ga gua takut Caca kenapa-napa". batinnya.
morning, in front of Raka's house.
"emang lu mau cari rumah kemana? di kota ini perumahan udah penuh semua Raka".
Raka meminta bantuan ke Andra supaya mencari kan rumah untuk bibinya itu. Andra kepikiran dengan rumah yang dekat perkantoran ayahnya. rumah itu besar, hanya saja jarang dibersihkan. tanpa persetujuan dan sepengetahuan dari bibinya, Raka ingin membeli rumah itu. tapi, Andra juga tidak tau siapa pemilik rumah itu.
"kita cari aja pemiliknya lah, ribet amat".
Raka segera mengambil motornya lalu pergi bersama Andra menuju rumah besar itu. selang 20 menit kemudian, Raka dan Andra sampai dirumah besar itu. lalu mereka membuka gerbang itu, tapi gerbang itu masih dikunci.
"yah, masih dikunci lagi". protes Raka.
mereka berdua pun dihampiri oleh bapak-bapak yang kira-kira umurnya sudah 40 tahunan.
"ah gini pak, saya pengen tau pemilik rumah ini". jelas Raka.
bapak itu pun bilang jika pemilik rumah ini, telah pergi ke luar negeri. namun, orangnya tidak akan kembali ke Indonesia. melainkan, mereka akan menetap disana. Raka pun mulai bingung, lalu bapak itu berbicara lagi jika bapak itu sahabat dari pemilik rumah ini. jadi, uangnya dititipkan saja ke sahabatnya itu. awalnya Raka menolak, tapi karena bapak itu punya bukti jika dia pernah bersahabat dengan pemilik rumah besar ini.
"baik, saya akan datang kemari besok sore. tapi, anda jangan mempermainkan saya pak". ucap Raka tegas.
__ADS_1
bapak itu pun menghancurkan gembok gerbang itu, lalu membuka pintu rumah besar itu untuk melihat isinya. saat masuk, Raka banyak sekali melihat barang-barang Yang sudah usang dan hanya dipenuhi debu. Raka juga mengecek dibagian kamar. disamping, Raka melihat juga sebuah kolam renang yang cukup besar.
"kek nya ni rumah cocok buat bibi". batinnya sambil memegang dinding yang hampir rusak itu.
setelah 15 menit melihat-lihat, Raka berbicara kepada bapak itu akan membeli rumah ini dan akan datang kembali besok dengan membawa uang.
"jadi, berapa pak kira-kira harga rumah ini?". tanya Raka.
"mungkin, hanya 400 juta saja".
Andra agak terkejut dengan harga rumah itu, Raka hanya menganggap 400 juta itu hanya 400 ribuan. maklum, Raka orkay:>
"baik, saya kembali besok sore untuk membawa uangnya".
setelah selesai berbicara, bapak itu meninggalkan mereka berdua dirumah tersebut. Andra bertanya kepada Raka apakah bisa Raka menyanggupi harga rumah ini.
"Raka, lu bisa bayar rumah ini? secara tunai?". tanya Andra.
"gampang, 400 juta kan? bagi gue cuma 400 ribuan doang".
"mentang-mentang, orkay".
Raka pulang sendirian ke rumahnya, dan melihat Caca yang menunggunya di ruang tamu dengan baju agak terbuka. Raka membawa Caca pergi ke kamarnya lalu menutupinya dengan selimut.
8 o'clock at night, in Caca's bedroom
"apa?"
Caca terkejut kalau Raka akan membelikan rumah untuk bibinya yang harganya 400 juta itu. Caca marah kepada Raka, kenapa Raka tidak memberitahunya dulu. dan asal membelinya begitu sana tanpa adanya persetujuan.
"sayang, aku tau. tapi, aku udah terlanjur beli rumah itu".
Caca menatap Raka lalu bilang jika bibinya juga punya uang sendiri, tapi kenapa harus Raka yang membayarnya. orang tua Raka? ya, orang tua Raka meninggal saat usia Raka 15 tahun. dan dia dirawat oleh bibinya sampai umurnya sekarang 18 tahun. bibinya merawatnya selama 3 tahun saja.
"aku ga setuju, itu buang-buang uang Raka. lagian mereka juga punya uang sendiri kan?".
Raka terus memohon kepada Caca supaya mengizinkannya untuk membeli rumah itu. dan juga supaya sepupu Raka tidak akan menggoda pacarnya itu.
"baby, aku bayar rumah itu besok sore".
Caca lebih terkejut lagi, kata Raka besok? dan sekarang sudah malam. dan mereka besok juga harus pergi ke sekolah.
"Raka, kapan kamu siapin uangnya?". tanya Caca dengan exspresi dinginnya.
"bakalan aku siapin malem ini juga uangnya baby, tapi aku harus ke bank dulu buat ambil uangnya. kamu mau ikut?". tawar Raka.
Caca sebenarnya tidak ingin ikut, tapi karena takut akan sepupunya Raka dia pun ikut dengan Raka ke bank untuk mengambil uang.
"ah, aku ikut".
mereka pun bersiap-siap lalu pergi menggunakan mobil. tapi sebelumnya, bibinya bertanya mereka akan kemana.
"bi, aku mau ngambil uang".
"kenapa kamu mau ambil uang nak?". tanya bibinya.
"bi, aku udah dapat rumah buat bibi. jadi, bibi bisa tinggal disana".
bi Vira rada kecewa dengan Raka. baru saja sehari dia tinggal dirumah Raka diusir begitu saja. Caca melihat bi Vira seperti itu, Caca menganggapnya kalau bi Vira kebanyakan drama. namun, Caca tidak berani mengatakan itu. karena dia takut Raka akan marah.
"bi, maksud aku ga gitu. aku cariin rumah buat bibi, biar bibi bisa istirahat sama Gesta disana".
Caca yang tidak tahan pun langsung menarik tangan Raka menuju ke mobil dengan kesal. diperjalanan, Raka bertanya kenapa Caca bisa selantang itu. namun, Caca hanya diam karena dia tidak ingin mengatakannya. setelah sampai di bank, Caca hanya menunggu Raka didepan saja karena Caca tidak ingin menunggu didalam. karena di dalam ada banyak sekali AC.
"lama banget si".
Raka memasukkan kertas berwarna coklat itu ke tas nya dan bilang jika antriannya sangat panjang.
"yodah yuk baby, kita pulang".
__ADS_1
perjalanan pulang pun masih ada keheningan diantara mereka berdua. dan bisa-bisanya Caca berpikir jika bi Vira memanfaatkan Raka. karena peninggalan harta orang tua Raka sangat banyak. bisa dihitung, harta kekayaan Raka mencapai 2,1 miliyar. sementara harta kekayaan Caca hanya 1,5 miliyar saja. pantas, bi Vira sangat berperilaku baik kepada Raka, karena harta kekayaan itu jatuh ke tangan Raka semua.
At the Home
Raka memberitahu bibinya, jika rumah itu akan direnovasi dan akan selesai dalam waktu 2 Minggu. bi Vira hanya diam dan tersenyum saja. saat makan malam, Caca izin ke toilet. saat Caca pergi keluar, dia melihat bibi sedang terlfonan dengan seseorang. Caca merekam kejadian itu lalu melabrak bibi.
"maksud bibi apa? bibi cuma mau manfaatin Raka?".
"ya! saya memang memanfaatkan Raka, hanya untuk kesenangan saya".
"bibi jahat, aku bakalan ngasih tau Raka soal ini".
"memang kamu ada bukti ha?".
Caca menunjukkan rekaman itu, dan akan memberitahu Raka siapa bi Vira yang sebenarnya. saat Caca akan melaporkan itu, bi Vira sengaja menggenggam tangan Caca lalu membekapnya.
"Raka!".
teriakan itu membuat Raka langsung mengecek ke kamar bibinya. setelah dia sampai, dia melihat Caca sedang di bekap oleh bibinya.
"Raka! hp aku, buka sekarang!".
Raka melihat ke bawah dan melihat hp Caca yang terjatuh lalu membukanya.
"disitu ada rekaman! buka Raka!".
Raka membuka rekaman itu dan menampakkan Caca yang sedang melabrak bibinya ketika bibinya sedang telfonan dengan seorang laki-laki. Raka tidak menyangka jika bibinya tega melakukan itu. dan lebih parahnya lagi, bibinya lah yang membuat orang tuanya meninggal. sebenarnya, yang membuat orang tua Raka kecelakaan, itu bukan karena ditabrak. melainkan bi Vira yang merusak rem mobil itu. Raka tiba-tiba saja berteriak jika selama ini bibinya merawatnya hanya menginginkan hartanya saja.
"sekarang bi Vira bukan bibi aku lagi! sekarang bibi pergi dari rumah ini! dan tunggu saja, polisi akan selalu melacak dimana pun keberadaan bibi".
bi Vira langsung mengancam, jika Raka melaporkannya ke polisi, dia akan menjatuhkan Caca dari jendela itu. yang kamarnya ternyata ada di lantai 3. Raka langsung berucap berhenti.
"bibi, aku mohon jangan bunuh Caca. bibi udah bunuh orang tua aku kan? bibi sekarang ga boleh bunuh Caca!".
namun, bi Vira tidak peduli lalu menjatuhkan Caca tepat Dimata Raka sendiri.
"Raka!!".
Raka segera berlari untuk menahan tangan pacarnya itu supaya tidak jatuh. namun, usahanya sia-sia. Caca terjatuh dari lantai 3 dan kepalanya terbentur lantai rumahnya.
"baby!!".
Raka berlari secepat mungkin dan menepuk kedua pipi pacarnya itu.
"baby please, sadar baby! please!".
air mata Raka mulai turun dengan deras, dan bibinya dan juga anaknya pergi dari rumah itu dan bertujuan untuk ke luar negeri saja. Raka tidak peduli lalu memeluk tubuh kekasihnya yang masih belum sadar itu. Justin, yang kebetulan datang ke rumah Raka, untuk meminjam baju basket. dikejutkan dengan Raka yang memeluk kekasihnya itu sambil menangis.
"Raka! Caca kenapa?!".
Raka masih tidak bisa menceritakan kejadian itu, lalu secepatnya Justin menelfon ambulans untuk datang ke rumahnya.
At the Hospital
"Justin, gua bener-bener takut dia kenapa-kenapa. hiks, kalau sampai terjadi sesuatu sama dia, gua ga akan pernah bisa maafin diri gua sendiri".
Justin memeluk Raka dan bilang jika Caca akan baik-baik saja, dan juga Caca kan orang yang kuat. dokter pun keluar dengan muka yang bisa dilihat yaitu sedih.
"dokter, bagaimana keadaan pacar saya dok? apa dia baik-baik aja? dia udah sadar kan dok?".
dokter itu hanya diam, dan memeluk Raka sebentar saja.
"dokter? ada apa?". tanya Raka.
"nak, pacar kamu-".
hello? masih mau tau kelanjutannya? jangan lupa vote
biar gua makin tambah semangat yaa
__ADS_1
have a nice day^^