Rama Sang Panglima : Perang Untuk Masa Depan

Rama Sang Panglima : Perang Untuk Masa Depan
Arcturus


__ADS_3

Rama yang merasa badannya terlalu letih, langsung tertidur di atas kasur ruang tidur satelit Ratna. Dalam tidurnya, Rama bermimpi bahwa dia sedang berjalan di suatu ruangan yang keseluruhan dinding dan plafonnya berwarna merah darah.


Saat Rama berjalan - jalan tersebut tiba - tiba dia diserang oleh banyak bola - bola tajam yang membuat badannya sangat kesakitan. Sakit yang dirasakan Rama akibat serangan bola - bola berduri tajam itu seperti nyeri otot yang menusuk hingga ke tulang - tulangnya.


Rama merasakan pegal-pegal dan nyeri otot di sekujur tubuhnya. Badannya tiba - tiba sangat panas, dan tenggorokannya gatal - gatal. Karena terlalu banyaknya bola - bola berduri tajam yang menyerang Rama, Rama akhirnya menjadi lemas dan sesak nafas akibat tertimbun lautan bola - bola tersebut.


Sesak nafas Rama dirasakan semakin parah, dan kemudian Rama merasa pedih di matanya hingga dia menjadi terbangun dari tidurnya. Rama terbangun dari mimpi buruknya dengan mata yang sedikit perih.


Dia beranjak berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk memeriksakan kondisi matanya. Ternyata matanya tampak merah dan banyak kotoran belek di pelupuk matanya. Rama langsung mencuci mukanya dan segera mandi membersihkan diri.


Setelah mandi, tiba - tiba badan Rama merasa menggigil kedinginan dan keluar keringat dingin. Rupanya tubuh Rama sebelumnya mengalami demam yang tinggi namun langsung disiram dengan air dingin saat mandi sehingga menjadi drop dan keluar keringat dingin.

__ADS_1


Rama merasa aneh dengan tubuhnya, dan rasa sakit yang dirasakan saat mimpi buruknya ternyata dirasakan juga sekarang. Rama kemudian langsung meminta Ratna untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap Rama.


Rama : "Ratna, tolong cek kondisi badanku. Tenggorokanku rasanya sangat gatal, hidungku gatal seperti mau pilek dan agak meriang. Mataku juga agak perih, sepertinya sudah sakit mata karena bewarna merah dan rasanya berair terus. "


Ratna : " Ok Rama, panas badanmu sudah mencapai 38 °C. Sepertinya kamu terkena gejala Covid 19 sub varian baru, yakni : Arcturus. "


Rama : "Arcturus? "


Rama lalu berjalan menuju ruang observasi, dan mengambil satu unit alat tes antigen swab nasal. Rama kemudian memasukkan beberapa tetes cairan ke tabung pereaksi, lalu memasukkan satu stik kapas ke hidungnya. Setelah stik kapas sudah masuk ke pangkal hidung sebelah kanan dan kiri, serta sudah mendapatkan lendir hidungnya, Rama lalu memasukan stik ke dalam tabung pereaksi dan mematahkan batangnya.


Tabung pereaksi kemudian dikocok lalu cairannya diteteskan ke dalam kaset. Rama menunggu selama 10 detik, lalu di kaset muncul dua garis merah yang artinya Rama diduga reaktif.

__ADS_1


Rama : "Ratna, hasilnya dua garis merah, artinya positif ya? "


Ratna : " Itu artinya reaktif, Rama. Kamu harus melakukan tes PCR supaya bisa dipastikan positif atau tidaknya. Tapi sepertinya kamu tidak perlu tes PCR sekarang, kamu istirahat penuh saja dulu Rama di satelit ini. Karena memang di permukaan bumi penderita kasus Covid sub varian Arcturus sedang naik trennya sejak ditemukan di Indonesia dari 23 Maret 2023."


Rama : "Ok, Ratna! "


Sementara itu, di permukaan bumi bagian Depok, Jawa Barat, tampak kesibukan luar biasa dari sebuah Laboratorium BSL-4 (Bio-Safety Level 4) yang sedang meneliti mutasi virus Covid 19. Laboratorium BSL-4 adalah laboratorium penelitian yang dirancang untuk menangani patogen (mikroorganisme penyebab penyakit) yang sangat berbahaya dan potensial mematikan bagi manusia. Laboratorium BSL-4 ini tadinya dirancang untuk menghindari kebocoran patogen, dan menerapkan sistem pengendalian lingkungan yang sangat ketat dan terkontrol.


Laboratorium BSL-4 ini juga sering digunakan untuk melakukan penelitian dan pengembangan vaksin, obat-obatan, dan terapi untuk penyakit-penyakit yang sangat berbahaya, seperti Ebola, SARS, dan virus Marburg. Namun, karena laboratorium ini berafiliasi dengan Partai Kobra dan melibatkan patogen-patogen yang sangat berbahaya, maka penelitian yang dilakukan di laboratorium BSL-4 harus dilakukan dengan sangat tertutup dan terkontrol ketat, dan dilakukan hanya oleh peneliti yang sangat terlatih dan berpengalaman. Apalagi mutasi virus Covid 19 yang seolah-olah tidak ada habisnya, membuat laboratorium BSL-4 sangat padat penelitiannya.


Menurut informasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta yang akan memprediksi puncak kasus Covid 19 sub varian ian Omicron XBB.1.16 alias Arcturus di Jakarta terjadi pada periode 10-17 Mei 2023. Ada peningkatan kasus positif maupun kasus kematian beberapa waktu terakhir. Namun menurut para ahli saat ini situasi Covid-19 di ibu kota masih sangat terkendali. Puncak kematian akan 7-14 hari dari puncak kasus. Tren masih naik, prediksi puncak minggu depan (Enam minggu dari 23 Maret, kasus arcturus pertama kali terdeteksi). Positivity rate meningkat tajam tanda banyak kasus tidak terdiagnosis di lapangan. Bed Occupancy Ratio Rumah Sakit naik seminggu terakhir menjadi 16 persen, kematian 16 orang, semua 30 tahun ke atas dan belum vaksinasi dosis 4. Oleh karena itulah Pemerintah sedang menggalakkan vaksinasi Covid 19 bisa mencapai 100%.

__ADS_1


__ADS_2