
🎤"Nomor Antrian B230 silakan ke loket nomor 5.."🎤
Akhirnya nomor antrian Rama dipanggil juga untuk menuju loket pendaftaran di jam 14.25. Ini artinya Rama telah menunggu selama 4 jam-an hanya untuk melakukan pendaftaran saja. Rama segera menuju ke loket nomor 5 dan bertemu dengan petugas pendaftaran perempuan yang sangat ramah. Rama dipertanyakan kartu identitas nya untuk dimasukkan ke dalam database laboratorium, dan Rama menyerahkan kartu identitas terbaru atas nama Rudi. Rama kemudian menyebutkan akan melakukan tes PCR dengan memilih hasil analisanya minta satu hari jadi. Petugas tersebut kemudian memberikan tiket dan kartu pasien untuk menuju dokter yang dimaksud buat tes PCR. Namun karena pasien yang akan melakukan tes PCR juga sangat banyak, Rama terpaksa harus menunggu antrian dulu sebelum namanya dipanggil masuk bertemu dokter.
Rama harus menunggu sekitar 2 jam-an hingga akhirnya nama Rudi dipanggil masuk untuk menemui dokter buat pengambilan sampel tes PCR. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari hidung atau tenggorokan pasien menggunakan alat swab khusus. Sampel ini kemudian dimasukkan ke dalam tabung khusus yang berisi cairan reagen. Sampel lendir yang telah diambil kemudian diproses di laboratorium. Sampel tersebut dipecah untuk mengeluarkan RNA virus Corona. Proses selanjutnya adalah amplifikasi atau penggandaan genetik virus Corona (Reaksi berantai polimerase / PCR).Tahapan ini dilakukan dengan menggunakan enzim polimerase, yang menghasilkan banyak salinan DNA virus. Setelah proses PCR selesai, hasilnya akan dianalisis untuk mengetahui apakah pasien tersebut positif atau negatif terinfeksi virus Corona. Hasil analisa akan dikirimkan maksimal 1 x 24 jam melalui email yang sudah didaftarkan Rama saat pendaftaran.
Setelah melakukan tes PCR, Rama kemudian menuju ke kasir untuk membayar biaya tes PCR. Kebetulan biaya tes PCRnya sudah terjangkau, yakni : Rp 275.000,- untuk permintaan hasil analisa yang 1 x 24 jam jadi.
Setelah Rama menyelesaikan pembayaran tes PCRnya, sembari menunggu hasil analisanya jadi, Rama mencari masjid terdekat untuk menunggu waktu shalat maghrib dan isya sebelum menuntaskan misi ketiganya. Kebetulan di daerah terdekat Laboratorium Venin, Rama menemukan Masjid Al-Furqan. Masjid Al-Furqan ini tampaknya merupakan salah satu masjid yang luas dan memiliki fasilitas yang baik di area Depok sehingga suasananya adem dan nyaman untuk melaksanakan shalat berjamaah. Kegiatan di Masjid Al-Furqan juga aktif dilakukan sebagai tempat kegiatan keagamaan dan sosial di lingkungan sekitarnya, terutama setelah shalat berjamaah Maghrib dan Isya.
Rama menghabiskan waktu untuk menunaikan shalat maghrib dan Isya -nya di Masjid Al- Furqan. Kebetulan jam tutup laboratorium Venin adalah jam 22.00 sehingga Rama masih bisa beristirahat sejenak di dalam masjid setelah menunaikan shalat isya berjamaah. Tepat melewati jam 22.00, Rama mempersiapkan diri untuk memasuki Laboratorium Venin yang sudah tutup. Rama berencana masuk melalui saluran air yang terhubung dengan Kali Pesanggrahan di ruang bawah tanah laboratorium, sehingga bisa langsung menyelamatkan perempuan yang sedang berada di ruang isolasi.
Rama kemudian meminta Ratna untuk memperlihatkan situasi terakhir dari kamera drone Ratna yang masih berada di ruang bawah tanah Laboratorium Venin. Dalam sorotan kamera drone, ruang bawah tanah laboratorium Venin masih terang benderang oleh cahaya lampu, namun tidak tampak Prof. dr Rangdap. Tidak diketahui kemana Prof. dr. Rangdap berada.
Rama kemudian memperkecil tubuhnya untuk terbang memasuki saluran air yang menghubungkan Kali Pesanggrahan dan ruangan bawah tanah Laboratorium Venin. Air kali Pesanggrahan yang berbau busuk dan amis tidak menyurutkan tekad Rama untuk memasuki ruang bawah tanah Laboratorium Venin, tempat Prof. dr. Rangdap bekerja.
__ADS_1
Dan akhirnya Rama bisa memasuki ruang bawah Laboratorium Venin walaupun dengan sedikit mabuk akibat bau busuk dan amis dari aliran air Kali Pesanggrahan. Untung saja ruang bawah tanah Laboratorium Venin memiliki air purifier yang bisa menghilangkan bau busuk dan amis dari air kali Pesanggrahan.
Rama yang masih berukuran kecil langsung menuju ke ruangan isolasi tempat perempuan yang dilihatnya dari kamera drone berada. Perempuan itu tampak sekali lemas, dengan wajah pucat pasi. Sepertinya perempuan itu membutuhkan pengobatan khusus supaya bisa kembali normal. Rama pun segera menormalkan ukuran tubuhnya agar bisa berkomunikasi dengan perempuan tersebut. Kemudian Rama mencoba membangunkan perempuan tersebut dari tidurnya dan perempuan tersebut langsung kaget, " S.. siapa kamu? "
Rama : " Aku Rama, aku kemari berniat untuk menolong mu. Apakah aku boleh tahu siapakah kamu dan mengapa kamu di sini? " (sambil menepuk pundak perempuan itu).
Perempuan tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Ratu Sari, pegawai Laboratorium Venin yang tidak sengaja masuk ke ruangan bawah tanah laboratorium kemudian ditangkap dan disekap di ruang isolasi ini.
Rama : " Wajahmu sangat pucat, apakah kamu sakit? "
Ratu Sari : " Benar Rama, aku telah dijadikan obyek percobaan dari Prof. dr. Rangdap. Aku sudah disuntik Virus Kroppin! "
Ratu Sari : " Benar Rama, Prof. dr. Rangdap sedang mengembangkan virus baru yang disebut Virus Kroppin. Virus ini dikembangkan setelah virus Arcturus sebagai sub varian baru Covid 19 sudah beredar di masyarakat. Virus Kroppin ini merupakan virus yang sangat mematikan dan akan cepat menyebar, serta hanya membutuhkan beberapa hari untuk menyebar ke seluruh dunia dan bisa memusnahkan sebagian besar populasi manusia.
Virus Kroppin pertama kali dibuat sebagai antitesis dari obat untuk menyembuhkan kanker, dan ternyata berefek samping buruk yang tidak terduga. Virus tersebut mengalami mutasi dan menyebar dengan sangat cepat melalui udara. Setelah terinfeksi virus Kroppin, orang tersebut menjadi sangat sensitif terhadap sinar matahari dan berubah menjadi makhluk mirip vampir yang tanpa denyut jantung dan selalu haus akan darah.
__ADS_1
Prof. dr. Rangdap berusaha mencari obat penawar dengan melakukan penelitian dan percobaan pada hewan - hewan yang berada di belakangmu. Ia kemudian menemukan obat yang dapat menyembuhkan hewan yang terinfeksi virus, tetapi ia belum berhasil menemukan obat yang sama untuk manusia sebelum virus ini bisa diluncurkan ke masyarakat umum."
Rama :" Sungguh jahat Prof. dr. Rangdap ini. Lalu sekarang bagaimana caranya aku bisa menolong kamu? "
Ratu Sari : "Kamu bisa ambil sampel obat yang dapat menyembuhkan hewan yang terinfeksi virus, Rama. Obat itu berada di ruang observasi Prof. dr. Rangdap. Lalu kamu bisa berikan ke seorang biokimiawan untuk menyempurnakan formula obat tersebut supaya bisa menyembuhkan manusia. Karena ada beberapa orang yang kebal terhadap virus tersebut gegara DNA orang tersebut yang unik."
Rama : " Baiklah kalau begitu, tapi apakah kamu akan baik - baik saja selama aku tinggal untuk mengambil sampel obat tersebut? "
Ratu Sari : " Aku masih memiliki waktu 1x24 jam lagi, Rama, sebelum virus ini akan mengubahku menjadi vampir. Aku akan berusaha bertahan dan menunggumu membawa obat penawar virus Kroppin ini. "
Rama : " Baiklah, coba kamu bertahan dahulu ya.. Aku akan berusaha secepatnya membawa obat penawar virus kepadamu! "
Rama pun beranjak berdiri dan berjalan keluar ruang isolasi meninggalkan Ratu Sari. Ratu Sari meneteskan air mata saat melihat Rama pergi meninggalkannya dan sangat berharap Rama bisa memberikan obat penawar virus kepadanya.
Rama berjalan dengan mengendap-endap sambil melihat situasi apakah Prof. dr. Rangdap sudah berada di ruang bawah tanah Laboratorium Venin atau belum. Untuk sementara ini memang masih belum tampak Prof. dr. Rangdap berada di ruangan. Kemudian Rama pun segera memasuki ruang observasi Prof. dr. Rangdap dan mencari tempat penyimpanan obat penawar virus Kroppin untuk hewan. Ada dua tabung suntikan yang terlihat oleh Rama bertuliskan "Kroppin Virus", tabung yang satu berisi cairan merah dan tabung yang satunya berisi cairan biru. Tidak ada tulisan yang bisa menunjukkan cairan mana yang bisa dipakai sebagai obat penawar virus.
__ADS_1
Karena Rama tidak mengerti cairan mana yang bisa dipakai untuk obat penawar, akhirnya Rama terpaksa mengambil kedua tabung tersebut, lalu dimasukkan ke dalam saku kanan rompi Ontokusumo Rama. Baru saja Rama memasukkan dua tabung ke dalam rompinya, tiba - tiba dari atas plafon ruang observasi tersebut turun seorang Prof. dr. Rangdap yang memergoki kegiatan Rama secara langsung.
Prof. dr. Rangdap yang turun dari atas plafon dan tiba - tiba bisa berada di belakang Rama. Prof dr. Rangdap pun langsung menendang pinggang Rama sekuat tenaga dari belakang. Rama yang tidak menyadari serangan dari Prof. dr. Rangdap dari belakang, langsung nyungsep dan menyeruduk tembok depannya, sehingga kepalanya membentur tembok dengan keras dan menyebabkan Rama menjadi tidak tersadarkan diri. Tampak ada sedikit darah yang keluar dari kepala Rama yang terbentur tembok.