Rama Sang Panglima : Perang Untuk Masa Depan

Rama Sang Panglima : Perang Untuk Masa Depan
Laboratorium Venin


__ADS_3

Ratna sudah mendapatkan kiriman data dari drone pengintai yang diterjunkan ke laboratorium Venin. Drone itu berhasil mengirimkan data wajah salah satu pengunjung laboratorium Venin supaya bisa dibuatkan latex mask untuk Rama. Ratna kemudian membentuk latex mask sesuai data detail image yang dikirimkan oleh drone. Sampel suaranya juga berhasil didapatkan oleh drone untuk membuat fitur suara sintetis (voice synthesizer) yang akan dipakai juga oleh Rama selama menyamar di Laboratorium Venin.


Dibutuhkan sekitar 15 menit untuk Ratna membentuk latex mask beserta fitur suara sintetisnya sehingga bisa dipakai oleh Rama. Rama kemudian memakai latex mask tersebut dan mencoba - coba tes suara supaya suara sintetisnya sesuai dengan yang diharapkan. Mulanya memang agak gatal di wajah Rama, namun akhirnya Rama bisa menyesuaikan diri dengan "wajah baru" nya.


Ratna : " Rama, selama penyamaran di misi ketiga ini, namamu adalah Rudi. Di saku kanan rompi Ontokusumo terdapat kartu Identitas mu yang baru apabila dibutuhkan. "


Rama : (setelah mengambil sebuah kartu dari saku kanan rompinya)" Baik Ratna, mari kita segera mulai misi ketiga ini. Apakah kamu sudah menerima data detail lokasi Laboratorium Venin dari drone? "


Ratna : " Sudah Rama, detail data lokasi Laboratorium Venin sudah diterima. Akan lebih akurat lagi apabila kamu sudah terjun ke sana! "


Rama : " Baik Ratna, kita akan pergi sekarang!"


Rama pun segera mempersiapkan diri untuk terbang turun ke arah kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan Kota Depok, Jawa Barat. Dengan kecepatan terbang yang tinggi, Rama yang berangkat dari satelit Ratna jam 9 pagi berhasil mencapai Jembatan Kali Pesanggrahan yang berlokasi sekitar 8.5 km dari lokasi Laboratorium Venin di kelurahan Pasir Putih kurang dari waktu satu jam perjalanan. Rama sengaja turun di dekat Jembatan Kali Pesanggrahan supaya bisa mengamati kondisi Kali Pesanggrahan yang menjadi salah satu aliran penyebaran virus dari Laboratorium Venin.


Rama kemudian mengambil sedikit sampel air dari Kali Pesanggrahan untuk bisa dianalisa oleh Ratna. Rama kemudian mencari sebuah rumah makan terdekat untuk mengisi perutnya yang sedari pagi di satelit Ratna belum mendapatkan asupan sarapan.


Rama menuju ke sebuah Rumah Makan Ayam Bakar yang sepertinya baru buka karena Rama tiba di lokasi jam 10 pagi. Setelah melihat daftar menunya, Rama langsung memesan satu porsi Nasi Goreng Buntut Ayam dan Es Cendol sebagai minumannya. Menurut informasi Ratna, menu yang dipesan oleh Rama ini adalah menu khas dari kota Depok.


Nasi Goreng Buntut Ayam adalah salah satu hidangan khas dari Depok yang terkenal dengan rasa gurih dan nikmatnya. Hidangan ini terdiri dari nasi goreng yang dibuat dengan bumbu rempah-rempah dan kemudian ditambahkan potongan buntut ayam yang empuk dan lezat. Buntut ayam diolah dengan cara dipanggang atau direbus hingga empuk dan disajikan dengan nasi goreng yang masih panas.

__ADS_1


Nasi Goreng Buntut Ayam biasanya disajikan dengan taburan bawang goreng dan irisan mentimun serta tomat sebagai pelengkapnya. Hidangan ini sangat cocok dinikmati pada saat sarapan atau makan malam. Rasa gurih dan kaya akan rempah-rempah pada nasi goreng, dicampur dengan kelezatan buntut ayam yang empuk dan beraroma sedap menjadikan hidangan ini sangat disukai oleh banyak orang.


Sedangkan es cendol yang dipesan Rama adalah minuman khas Depok yang terbuat dari cendol, santan, gula merah, dan es serut. Keistimewaan dari Es Cendol Depok ini terletak pada rasa dan teksturnya yang unik dan segar. Cendol terbuat dari tepung ketan yang dicampur dengan air pandan, kemudian dipotong-potong menjadi bentuk seperti mie dan direbus. Cendol yang kenyal ini kemudian dicampur dengan santan dan gula merah yang telah dicairkan menjadi kuah kental dan manis.


Untuk memberikan sensasi segar pada minuman ini, es serut kemudian ditambahkan ke dalamnya. Es serut yang digunakan pada Es Cendol Depok biasanya terbuat dari es batu yang dihancurkan dengan mesin serut atau blender, sehingga es memiliki tekstur yang halus dan lembut. Es Cendol Depok ini juga dapat dijadikan sebagai hidangan penutup yang cocok untuk dinikmati pada cuaca yang panas atau setelah makan makanan pedas.


Rama pun lahap memakan dan meminum pesanannya. Rasa makanan dan minuman yang dipesan Rama memang sesuai dengan deskripsi yang diberikan oleh Ratna sebelumnya, jadi tidak rugi Rama jauh - jauh datang dari luar angkasa hanya untuk sarapan makanan khas Depok ini. Setelah membayar makanannya sebesar Rp 23.000,- Rama kemudian beranjak pergi menuju Laboratorium Venin.


Dalam waktu sekitar 25 menit, Rama sudah berhasil sampai di depan pintu masuk Laboratorium Venin. Laboratorium ini tampak ramai pagi ini dikunjungi beberapa orang yang hendak tes antigen swab maupun PCR untuk Covid 19. Sepertinya berita di media massa yang memperkirakan jumlah aktif penderita Covid 19 sub varian Arcturus akan memuncak di minggu ini ikut mempengaruhi kekuatiran masyarakat untuk bisa segera tes antigen swab maupun tes PCR secara dini.


Rama segera mendaftarkan dirinya untuk tes PCR dan mendapatkan antrian nomor B230 sebelum menuju loket pendaftaran. Betapa kaget Rama mendapatkan nomor antrian yang begitu besar dan posisi sekarang masih di pelayanan nomor B071. Loket pendaftaran ada 7 dan satu jam biasanya bisa melayani hingga 50 nomor antrian. Itu baru antrian untuk pendaftaran saja, belum antrian untuk ke dokter nya. Rama mengestimasi kan akan baru dilayani di loket pendaftaran sekitar jam 11.30an, mendekati jam istirahat karyawan Laboratorium. Oleh karena itulah kesempatan itu dipergunakan Rama untuk berkeliling di Laboratorium Venin yang terdiri dari 2 lantai.


Ratna : " Baik Rama! "


Rama : " Oh ya, bagaimana hasil analisa sampel air dari Kali Pesanggrahan? "


Ratna : " Sampel air itu sangat jelek Rama. Jika dilihat tampilan airnya benar-benar sangat keruh dan berwarna coklat bahkan juga sangat berbau busuk dan amis. Suhu air, kekeruhan, warna, bau, dan rasa air. Berdasarkan pengukuran, suhu air Kali Pesanggrahan berkisar antara 27-30 derajat Celsius, kekeruhan air mencapai 204 NTU (Nephelometric Turbidity Unit), warna air yang kusam, dan bau air yang menyengat. Sehingga pencemaran terhadap Kali Pesanggrahan ini sangatlah buruk. pH air Kali Pesanggrahan berkisar antara 6,75-7,8, sedangkan kadar oksigen terlarut hanya sekitar 2-3 mg/L, yang menunjukkan adanya kondisi anaerobik yang berbahaya bagi kehidupan organisme air. Selain itu, kandungan nitrat yang terdeteksi mencapai 2,7 mg/L dan total padatan tersuspensi mencapai 384 mg/L, yang melebihi standar baku mutu air bersih. Jika dilihat dari kualitas air nya yang sangat buruk dan beraroma tidak sedap, penduduk tidak dapat menggunakan air kali untuk aktifitas sehari-hari karena bisa menimbulkan penyakit dan aroma tidak sedap tersebut juga dapat menimbulkan gangguan pernapasan. Apabila terdapat penduduk yang mengambil ikan dari hasil memancing di Kali tersebut, dengan air yang sangat keruh dan terkontaminasi, Ikan hasil memancing di Kali tersebut tidak dapat dijamin apakah aman untuk dikonsumsi atau tidak."


Rama : " Ok Ratna, terima kasih laporannya. Kita amati dahulu aktivitas di Laboratorium Venin ini dahulu! "

__ADS_1


Satu drone kecil berukuran tawon pun lalu keluar dari saku kiri Rompi Ontokusumo Rama. Drone itu langsung terbang dan menuju satu elevator yang menuju lantai bawah tanah Laboratorium Venin. Penampakan video dari drone langsung ditampilkan melalui kaca mata yang dipakai Rama untuk penyamaran. Tampak sekali lantai bawah tanah tersebut gelap sekali penerangannya dan sangat sedikit orang yang menjaganya, hanya seorang petugas keamanan beserta anjing penjaga di depan pintu masuk yang tertutup plastic curtain.


Akses masuk pintunya menggunakan finger print dari orang - orang tertentu dan drone sendiri hanya bisa masuk melalui lubang exhaust udara yang berada di samping pintu masuk. Di dalam ruangan bawah tanah pertama itu tampak tidak ada orang yang bekerja, dan hanya merupakan penyimpanan peralatan utilitas gedung yang terdiri dari: genset, chiller maupun kompresor, panel listrik utama sehingga agak bising dan lampu ruangannya dimatikan karena tiadanya orang yang bekerja. Kemudian masih ada elevator yang menuju ke bawah lagi, yaitu ke ruangan bawah tanah kedua yang ternyata lebih terang, tetapi hanya ada satu orang yang bekerja di dalamnya.


Orang itu berpakaian baju lab berwarna putih, dan ternyata seorang wanita. Wanita tua dengan rambut panjang yang acak-acakan khas seorang ilmuwan yang nyentrik. Wajah wanita tersebut tampak pucat dan serius, di mana kalau anak kecil melihatnya pasti akan ketakutan, ditambah lagi dengan matanya yang merah seperti kurang tidur. Wanita itu bekerja sendirian di dalam ruangan bawah tanah, yang ternyata juga terhubung oleh sebuah kali, dan pasti itu adalah aliran Kali Pesanggrahan.


Rama : " Ratna, apakah wanita yang bekerja sendiri itu adalah Prof. dr. Rangdap? "


Ratna : " Dari bentuk mukanya, sepertinya benar Rama. Dia adalah Prof. dr. Rangdap. "


Rama : " Tapi di ruangan itu sepertinya sayup-sayup terdengar suara perempuan minta tolong dari ruangan yang berbeda, apakah drone bisa menuju ke sana Ratna? "


Ratna : " Baik Rama! "


Ratna pun mengarahkan drone ke sumber suara perempuan yang minta tolong dari ruangan lain. Sepertinya itu adalah ruangan isolasi karena ternyata hanya tampak seorang perempuan yang berwajah pucat pasi dan berkali-kali berteriak minta tolong walaupun dengan suara agak lemas. Sementara itu di samping perempuan tersebut tampak beberapa kandang spesies monyet, tikus putih dan kera, yang sepertinya adalah spesimen uji coba dari kegiatan Prof. dr. Rangdap.


Rama : " Ratna, kasihan perempuan yang diisolasi tersebut. Sepertinya dia sakit, tapi tidak dihiraukan oleh Prof. dr. Rangdap. Kita harus segera menolongnya sebelum terjadi hal - hal yang buruk ! "


Ratna : " Benar Rama, tapi kamu harus selesaikan dulu tes PCRnya supaya tidak menimbulkan kecurigaan dari yang lain. Karena banyak masyarakat sipil yang masih berada di Laboratorium Venin ini. Kita harus tunggu Laboratorium Venin ini benar - benar-benar kosong supaya tidak timbul korban dari masyarakat sipil"

__ADS_1


Rama : " Baik Ratna, kita akan bertindak setelah tes PCR dan nanti malam kita tolong perempuan tersebut. Mudah - mudahan belum terlambat kita menolongnya nanti malam ! "


__ADS_2