RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Candi Ratu Boko


__ADS_3

"Tak bisa kulupa


Saat-saat indah bersamamu


Semua cerita


Mungkin kini hanya tinggal kenangan


Ku harus pergi


Meninggalkanmu di dalam sepiku


Bukan inginku


Tuk menyakiti perasaanmu


Maafkan aku


Maafkan aku


Yang tak bisa menunggu hatimu


Lupakan saja


Diriku untuk selama-lamanya


Ku harus pergi


Meninggalkanmu di dalam sepiku


Bukan inginku


Tuk menyakiti perasaanmu


Maafkan aku


Tidurlah sayangku


Mentari telah menunggu


Sambutlah pagi nanti


Bermimpilah cinta


Dengan segenap rasa


Kini tibalah saatnya


Kita harus berpisah"


Lirik lagu 'Maafkan' dari Enda Ungu itu menggema di kamarku.


Kali ini bukan radio yang ku dengar, tapi winamp. Hanya ada satu lagu itu di playlist ku, dan berputar itu berulang-ulang.


Seolah lagunya mewakili perasaan ku yang sedang galau. Ucapan mas Farhan beberapa hari lalu di puncak Suroloyo masih terngiang di kepalaku.


Dulu saat aku pernah berhubungan dengan laki-laki bernama Bima, dan akhirnya putus. Sepertinya aku biasa saja. Ketika harus putus begitu saja tanpa kata, karena dia pergi tanpa pamit. Aku hanya menangis sekedarnya. Sedihku karena aku seolah tidak dianggap olehnya. Tapi kenapa sekarang saat dengan Mas Farhan, bahkan baru saja mendapat kepastian, malah justru sudah sesakit ini ya. Aku bingung bagaimana menggambarkan perasaanku saat itu.


Ah, entahlah. Sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya. Jodoh syukur, nggak jodoh ya sudah. Hatiku sudah sepasrah itu rasanya.


Tiba-tiba ringtone HPku berbunyi.


"Dek, lagi apa?" ternyata itu pesan pesan dari Mas Farhan.


"Nggak lagi apa-apa, lagi santai aja, sambil dengerin lagu," balasku.


"Lagu apa? Di radio?"


"Nggak, di winamp. Lagu 'maafkan' dari Enda Ungu."


"Ngomong-ngomong gimana skripsinya? Lancar?" tanya nya.


"Lumayan, alhamdulillah, tumben nanya skripsiku hehe."


"Rencanamu apa setelah selesai skripsi dan lulus nanti?" tanyanya.


"Ya kalau rencanaku sih, aku mau kerja. Tapi kan pastinya nggak bisa langsung dapet, pasti butuh proses."


"Di sini? Di Yogya?"


"Pengenku sih di sini, semoga aja dapetnya di sini. Tapi kalau Ibuku pengennya aku pulang ke Sumatera dan cari kerja di sana. Kenapa Mas? Kok nanyanya kesana?" tanyaku penasaran. Karena selama ini dia jarang sekali bertanya akan hal ini.


"Kalau kamu ke Sumatera, dan kerja disana. Berarti hubungan kita cuma sampai kamu wisuda ya?" tanyanya sambil menyelipkan emote senyum.


"Ya kan bisa LDR an, kalau kangen aku bisa ke Yogya. Tapi aku nggak mau kalau kamu yang ke Sumatera ya, nanti nyasar. Kamu nggak tau Sumatera," balasku bergurau.


"Tapi kalau boleh berharap sih, aku pengen kamu tetap disini. Di Yogya," balasnya.


"InshaaAllah, doain aja ya mas. Ngomong-ngomong, ini dari tadi nanya-nanya begini kenapa? Dari tadi nggak di jawab ih."


"Nggak papa, cuma pengen tau aja," jawabnya singkat.


"Oh ya udah, ngomong-ngomong hari minggu jadi jemput aku? Katanya kemaren mau ajak aku ke suatu tempat, jadikah?" tanyaku mengalihakan pembicaraan.


"Jadi, aku jemput jam 10.00 ya."


"Oke, siap, aku mau cari makan siang dulu yah. Nanti lanjut lagi," balasku mengakhiri obrolan itu.


Ya, aku sudah mulai mengurangi obrolan lewat SMS atau telepon. Aku juga sudah mulai membiasakan hatiku untuk tidak terlalu memupuk rasa untuk Mas Farhan.


Entahlah, tapi rasanya hubungan ini nggak akan jauh kemana. Ucapan Ibu Mas Farhan tentang wanita pilihan itu sudah cukup membuatku tidak berharap banyak akan hubungan ini. Kalau yang ku hadapi adalah wanita lain, mungkin aku sanggup. Tapi kalau sudah pilihan seorang Ibu. Ah, aku nggak mampu rasanya.


**********


Hari minggu yang ditunggu pun tiba. Entah kenapa hari ini aku memilih memakai kemeja abu-abu lengan panjang, dan celana jeans berwarna hitam. Seperti orang berkabung. Tapi memang semua baju dan celanaku berwarna gelap sih. Mas Farhan sudah menungguku di teras saat itu.


"Sudah siap?" tanya Mas Farhan saat aku keluar dan menemuinya.


"Udah, mau kemana kita hari ini? Semoga bukan pantai, karena kostum ku nggak pas buat ke pantai," ucapku sambil tersenyum.


"Nggak kok, kali ini nggak ke pantai. Yok jalan," ajaknya.


Kami pun meninggalkan kos.


Seperti biasa, tidak ada obrolan sepanjang perjalanan. Sampai di sebuah lampu merah tiba-tiba tangan kiri Mas Farhan memegang tanganku yang dari tadi berpegangan ke pinggangnya.


Aih, nggak biasa-biasanya. Perasaan semakin kesini satu persatu ke romantisannya semakin kelihatan. Apa dia sudah benar-benar menganggapku pacarnya? Demi apa, itu adalah salah satu hal paling sederhana yang pernah membuat jantungku berdisco, dan aku masih mengingatnya sampai hari ini.


Motor itupun kembali melaju. Perjalanan yang cukup lama, dan lagi-lagi aku nggak tau kemana arah tujuannya.


Akhirnya sampai lah di suatu tempat yang aku memang belum pernah datangi.


"Ini dimana?" tanyaku saat di parkiran motor.


"Candi Ratu Boko," jawabnya.


"Rame yah, candinya mana?" tanyaku.


"Di atas, yuk," jawabnya singkat.


Kami pun menaiki tangga. Sepertinya tidak terlalu tinggi, dan cukup lebar. Jadi aku tidak terlalu kelelahan.


Setelah sampai di atas, aku melihat lapangan rumput yang hijau dan luas sekali. Ada beberapa batu seperti sisa reruntuhan bangunan Candi. Sepertinya itulah candinya, dan di tengah ada susunan batu berbentuk seperti gapura. Ada juga pohon besar yang begitu rindang, di bawah nya pun disediakan bangku kayu untuk istirahat para pengunjung.


Yang jelas tempat itu asri, dan adem. Walaupun ramai tidak terlihat penuh karena memang luas sekali.


"Kesana yuk," ajak Mas Farhan sambil menunjuk salah satu bangku kayu di bawah pohon besar.


"Suka nggak sama tempatnya?" tanyanya.


"Suka, adem, banyak orang tapi terasa hening ya."


"Belum pernah kesini kan?" tanyanya.


"Jelas belum," jawabku sambil tertawa kecil.


"Candi yang pernah adek datangi Candi mana aja selama disini?" tanya nya.


"Prambanan, Borobudur. Udah itu doang," jawabku.


"Memang anak rumahan banget ya, berarti tugas ku masih banyak," katanya sambil tersenyum.


"Oh, jadi tugasmu cuma ngajak aku jalan-jalan ke tempat wisata Yogya yah?" tanyaku bercanda.

__ADS_1


"Sementara ini iya, entah nanti. Mungkin ada tugas lain," jawabnya sambil melihatku.


"Apa?" tanyaku.


"Menafkahi mungkin," jawabnya sambil tersenyum.


Alamak Rania! Baru juga duduk, kamu sudah dibuatnya melayang lagi. Begini kamu mau coba membuat perasaanmu ke dia nggak terlalu dalam? Sulit Ran, sulit! Setiap ucapannya aja pasti bakalan terngiang terus di telingamu. Kata-kata pendek yang sederhana tapi tak biasa.


"Hei, bengong lagi. Mikirin apa?" tanyanya mengagetkanku.


"Nggak papa, mas ni kan. Suka sekali bikin Rania salah tingkah," jawabku malu-malu.


"Nih minum, biar nggak salah tingkah lagi," katanya sambil memberikan sebotol air mineral dari ranselnya.


"Emang selalu bawa bekal gini ya mas kalau kemana-kemana?" tanyaku.


"Nggak juga, tapi kalau perginya sama kamu iya," jawabnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Karena aku tau kamu gampang pusing kalau perjalanan jauh. Jadi sebisa mungkin aku harus bawa minum, obat, sama minyak kayu putih."


"Aih, perhatian banget deh pacarku," ucapku menggodanya.


Dia pun hanya tersenyum. Ya, dia sama sekali tidak pernah menyebut aku ini siapanya. Tapi dia juga tidak melarangku untuk menyebutnya dan memperkenalkannya sebagai pacarku ke beberapa teman kos.


Apapun itu lah ya, yang jelas hubungan kami jauh lebih terasa ikatanya dibandingkan dulu.


"Dek, tahun ini usiaku 30 tahun," katanya memulai obrolan lagi.


"Oh iya ya. 17 mei besok yah, tiga bulan lagi," kataku.


"Iya, sudah pas kayaknya untuk menikah."


Aku yang sedang minum pun sampai tersedak mendengar ucapanya.


"Hah? Gimana?" tanyaku memastikan apa yang ku dengar barusan.


"Ya, sepertinya aku sudah pas kalau menikah," ucapnya sekali lagi sambil melihat ku lebih dekat.


"Oh, ya pas. Udah mapan juga. Kerjaan udah lumayan, usia udah matang." Sungguh aku gerogi dibuatnya saat itu. Karena aku nggak tau mau bilang apa, jadi aku jawab sekenanya.


"Yang di depanku ini juga sebentar lagi kuliahnya selesai kan?" tanya nya.


"Hah? Aku?"


"Iya, Dek Rania. Yang ada di hadapanku saat ini kan kamu, dan yang ada di hatiku juga kamu," jawabnya sambil tersenyum.


Demi apa? Jantungku berdebar parah. Salah tingkah banget rasanya. Sepertinya detak jantungku ini terdengar sampai keluar.


"Jadi maksudnya gimana?" tanyaku mencoba sebiasa mungkin.


"Katakanlah kalau aku membawa hubungan ini ke arah yang lebih serius, Dek Rania siap nggak?"


Gimana ini maksudnya? Apa ini maksudnya? Aku dilamar gitu? Hah? Astagah Rania selow Raaan. Jangan kelabakan banget bisa nggak? Santai Ran, santai. Astagfirullah.


"Kalau siap gimana? Kalau belum siap gimana?" aku balik bertanya.


"Kok gitu nanya nya?" dia pun tersenyum seolah tau aku sedang gugup sekali saat itu.


"Ya gimana ya, aku kan paling selesainya tahun depan. Kalau aku jawab siap, ya sebenarnya belum siap banget. Skripsiku aja baru bab satu, terus ortuku belum tau soal kamu. Terus kalau misal aku jawab belum siap, nanti kamu ninggalin aku," cerocosku.


Dia pun tertawa dan mengelus kepalaku perlahan.


"Aku baru nanya aja dek, bukan berarti harus segera, ini salah satu hal yang membuatku suka sama kamu. Kamu itu panikan, gampang bingung, mudah gugup, dan itu lucu bagiku."


"Maaasss, aku udah jauh tau mikirnya. Kamu tuh bikin aku gelagapan," kataku sambil mencubit lengannya.


"Gitu aja udah kelabakan, gimana kalau aku serius ngelamarnya?" katanya sambil tertawa.


"Oh jadi tadi nggak serius?" tanyaku sambil menghela nafas.


"Bagian seriusnya adalah aku merasa usiaku sudah pas untuk menikah," katanya. Kali ini dengan wajah yang memang sangat serius.


"Bagian becandanya?" tanyaku.


"Sebenernya nggak ada, tapi aku bisa melihat kalau kamu belum siap. Nggak apa-apa, aku tunggu sampai kuliahmu selesai."


"Terus yang waktu itu gimana?" tanyaku.


"Perempuan pilihan Ibumu."


"Aku tidak memikirkan itu, aku mau fokus memperjuangkan kamu dulu," katanya sambil melihat mataku.


"Kalau Ibumu nggak setuju bagaimana? Apa aku akan tersingkir?"


"Ijinkan aku menyelasaikannya satu persatu ya, bantu aku dengan doa," katanya sambil memegang kedua tanganku.


Aku tau dia bisa merasakan kekhawatiranku tentang ucapan Ibunya.


Tanpa terasa sudah pukul 15.00, dan akupun mengajaknya pulang. Setelah kami mengitari komplek Candi Ratu Boko sambil membicarakan banyak hal. Ngobrol dengan Mas Farhan bisa membuatku lupa waktu. Mau selama apapun itu, mau sepanjang apapun jalan yang kami lewati. Rasa lelah itu tidak akan pernah terasa. Percaya atau tidak, memang itulah yang aku rasakan saat bersamanya.


Saat perjalanan pulang dia sama sekali tidak mengatakan apapun, tapi aku merasa heran dengan jalan yang kami lewati, tidak seperti jalan saat kami pergi tadi.


Oh, mungkin ada jalan lain kali yah. Jalan yang bisa membuat kami tiba lebih cepat mungkin.


Tapi aku semakin heran saat memasuki sebuah jalan perkampungan, kiri kanan jalan itu persawahan asri yang terbentang luas dan indah sekali. Ada beberapa rumah warga, dan tidak sengaja terbaca olehku 'Sumberharjo, prambanan.'


"Mas, kita mau kemana?" tanyaku penasaran.


Dia tidak menjawab, aku pikir mungkin dia tidak mendengar aku bicara.


Tiba-tiba kami berhenti di depan sebuah rumah. Dia pun menyuruhku turun.


"Ini rumah siapa?" tanyaku.


"Rumahku," jawabnya singkat.


"Hah? Rumahmu? Serius? Kok nggak bilang mau kesini?" tanyaku kaget.


Serius aku kaget. Sangat kaget. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan membawaku ke rumahnya hari ini, dia sama sekali tidak pernah membicarakannya dari tadi. Sumpah, jantungku semakin terpompa.


"Mas, di dalam ada orang tuamu?" tanyaku.


"Ada, sore begini biasanya Mbak Ani juga ada," jawabnya santai.


"Mas, iiiihhh, kenapa nggak bilang? Duh asli aku deg-degan."


"Keluargaku baik kok, nggak usah takut," jawabnya sambil tersenyum.


"Iya tapi aku belum siap, mana pakaianku begini. Kurang sopan kayaknya, duh mas nya. Suka banget bikin aku kebingungan begini," cerocosku. Sumpah demi apa, saat itu aku benar-benar tidak tau harus bagaimana.


Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, ku lihat seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan mengenakan mukena berdiri di depan pintu.


"Mas, wes mulih (mas udah pulang)?" tanyanya.


"Sampun Bu, (sudah bu)," jawab Mas Farhan.


Mas Farhan pun menggandeng tanganku dan mengajakku ke hadapan Ibunya.


"Dek, ini Ibuku."


"Assalamualaikum ibu," sapaku sambil sungkem.


"Waalaikumsalam, monggo masuk dek," ucap Ibunya.


"Ayo, masuk." Mas Farhan menarik pelan tanganku.


"Monggo duduk dulu, Ibuk ke dalam dulu ya."


"Oh njih bu," jawabku.


Jujur saja, rasanya canggung sekali, gugup, dan aku benar-benar masih shock karena semua ini terlalu tiba-tiba. Aku pun duduk di ruang tamu, sambil melihat sekeliling, ada beberapa foto keluarga terpajang di dinding.


"Bentar ya dek, aku masuk sebentar," kata Mas Farhan sambil berlalu masuk dan meninggalkanku sendirian di ruangan itu.


Aku pun mengagguk. Tak lama kemudian tiba-tiba Ibu Mas Farhan datang membawa dua gelas teh dalam nampan. Lalu meletakkannya di atas meja.


"Monggo dek diminum." Ibunya menawariku.


"Njih Ibu maturnuwun," jawabku sambil mengangkat satu gelas teh dan meminumnya.


"Namanya siapa dek?" tanya nya.

__ADS_1


"Rania Bu," jawabku berusaha santai. Andai saja ada yang bisa merasakannya. Tanganku, kakiku, semua terasa seperti es.


"Oh ini yang namanya Dek Rania?" ucapnhaya sambil memperhatikanku dari bawah ke atas.


Ya, aku bisa melihatnya sedang memperhatikan ku secara keseluruhan. Maaf jika aku harus katakan bahwa aku kurang nyaman jika diperhatikan seperti itu.


"Asli Sumatera njih?" tanyanya.


"Iya Bu," jawabku.


"Sumateranya mana?"


"Palembang Bu," jawabku lagi.


Tiba-tiba dari dalam, Mas Farhan keluar bersama seorang wanita yang usianya sepertinya tidak jauh berbeda dari nya.


"Dek kenalin, ini Mbak Ani." Mas Farhan memperkenalkanku dengan satu-satunya kakak perempuannya.


"Rania," ucapku sambil bersalaman.


"Ani," jawabnya tersenyum.


"Ini tadi darimana?" tanya Mbak Ani padaku.


"Dari Candi Ratu Boko," jawabku.


"Oh, itu tempat favoritnya Farhan kalau lagi merenung," selorohnya.


"Tempat mencari ketenangan lebih tepatnya," ucap Mas Farhan sambil terawa.


"Dek Rania sudah berapa lama di Yogya?" tanya ibu.


"Sudah dari tahun 2005 Bu," jawabku.


"Oh ya sudah lumayan lama ya, sudah selesai kuliahnya?"


"Ini lagi skripsi Bu."


"Semoga secepatnya selesai dan lancar ya," ucap ibunya.


"Ammiinn," jawabku.


"Iya, biar cepet di lamar sama Farhan," celetuk Mbak Ani sambil tersenyum.


Sumpah jantungku makin nggak karuan, aku melihat ke arah Mas Farhan. Dia pun tersenyum mendengar ucapan Mbak Ani. Tapi Ibu, Ibu tidak tersenyum sama sekali. Beliau seolah kurang suka dengan apa yang diucapkan Mbak Ani, aku bisa melihat itu dari taut wajahnya. Hal itu sungguh membuat hatiku down.


"Ibu masuk dulu, monggo dilanjutin ngobrolnya." Ibu Mas Farhan pun langsung meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam.


"Aku yo masuk dulu yah, lanjutin aja ngobrolnya. Dibawa santai aja." Mbak Ani pun ikut pamit.


Aku hanya mengagguk dan tersenyum.


Hanya tinggal aku dan Mas Farhan di situ.


"Mas, kamu kenapa nggak bilang kalau mau ajak aku kesini? Asli aku deg-degan banget dari tadi," kataku. Aku nggak tau apakah saat itu Mas Farhan bisa melihat ketegangan di wajahku.


"Nggak apa-apa. Kalau aku bilang kamu pasti nolak. Karena kamu pasti belum siap. Tapi kalau menunggu kamu siap, sepertinya lama. Karena kamu selalu terngiang-ngiang cerita Zahra soal ibu kan?" jelasnya.


"Iya, tapi ini tadi sepertinya memang ucapan Zahra bener. Buktinya saat Mbak Ani becanda soal lamaran tadi, ibu terlihat kurang suka," kataku mengutarakan keresahanku.


"Itu biar aku yang coba selesaikan nanti. Hari ini niatku cuma satu, Ibu liat kamu. Setidaknya Ibu tau dulu, siapa Rania. Begitupun Mbak Ani, aku mau dia tau bagaimana sosok Rania yang pernah aku ceritakan padanya," katanya sambil tersenyum.


"Kamu pernah menceritakan tentang aku ke Mbak Ani?" tanyaku.


"Pernah, ke Ibu juga pernah. Mereka pernah nanya siapa yang sering aku telpon malem-malem. Ya aku jawab saja apa adanya."


"Mas, ekspresi wajah Ibu tadi membuatku nggak enak hati," ucapku sambil menunduk.


"Ini baru permulaan Dek, nggak perlu terlalu dipikirkan. Biar aku yang coba jelaskan ke Ibu nanti yah," katanya menenangkanku.


"Dulu, Zahra pernah kamu ajak kesini juga?" tanyaku penasaran.


"Pernah sekali," jawabnya.


"Tanggapan ibu?"


"Biasa aja," jawabnya singkat.


Aku tidak mau melanjutkan nya lagi. Aku mau pulang, aku pasti akan terus merasa sangat canggung kalau harus berlama-lama disini.


"Mas, antar aku pulang yuk, please," pintaku.


"Yaudah ayok, nanti kita maghriban di masjid aja," jawabnya.


"Kita pamit dulu yuk," kataku.


Mas Farhan pun mengajakku masuk ke dalam, menemui Ibunya dan Mbak Ani yang sedang ngobrol di ruang makan.


"Buk, aku nganter Dek Rania ke kosnya dulu ya," Mas Farhan pamit ke Ibunya.


"Lah kok cepet banget, nggak sekalian maghriban dan makan malam di sini Rania?" tanya ibunya.


"Oh, maturnuwun Ibu. InshaaAllah lain kali Rania main kesini lagi," jawabku sambil tersenyum.


"Yaudah hati-hati ya mas, Rania." kata Ibu dan Mbak Ani.


Aku dan mas Farhan pun sungkem sama Ibu dan berjalan keluar.


"Kok Bapakmu nggak ada ya mas?" tanyaku.


"Bapak paling lagi di rumah Mbak Ani, main sama anak-anak Mbak Ani," jawabnya.


Akhirnya Mas Farhan pun mengantarkanku pulang. Sepanjang perjalanan aku hanya terbayang dengan ekspresi wajah Ibunya, saat mendengar ucapan mbak ani tadi.


Ran, Mas Farhan kan belum menjelaskan apapun ke Ibunya. Bahkan Mas Farhan tidak tau siapa perempuan yang dimaksud Ibunya itu. Lagi pula kalau nanti ternyata Mas Farhan bisa meyakinkan ibunya, itu artinya Mas Farhan benar-benar hanya menginginkanmu. Kamu bisa melihat kesungguhannya dari situ kan? Jadi itu kepalamu nggak perlu dipenuhi dengan ketakutan akan hal yang belum pasti.


Sesampainya di depan kos aku pun turun dari motor, aku tidak langsung masuk. Kami ngobrol sebentar di depan gerbang kos.


"Makasih Mas sudah ajak aku ke tempat favoritmu, makasih juga sudah memberi surprise dengan membawaku ke rumah," kataku.


"Sama-sama, soal ucapan ibu, respon ibu, ekspresi ibu, jangan terlalu dipikirkan ya. Biar nanti aku coba bicara sama Ibu," katanya meyakinkanku.


"Tapi ini misal. Misal ya mas, seumpama Ibu tetap tidak setuju denganku, dan tetap dengan perempuan pilihannya, bagaimana?"


"Berdoalah sebanyak yang Adek mampu, karena apapun rencana Ibu tidak akan terlaksana kalau Allah tidak berkehendak."


Aku hanya bisa menunduk, mungkin aku benar-benar harus pasrah.


"Yang akan menjalani semuanya nanti itu aku, bukan Ibu. Jadi aku akan mencoba menjelaskan semuanya ke Ibu pelan-pelan. percaya sama aku ya," ucapnya sambil menundukkan sedikit kepalanya agar bisa melihat wajahku yang dari tadi tertunduk.


"Mas, seserius itukah kamu sama aku?" tanyaku. Dia pun mengangguk.


"Kalau aku nggak serius, aku nggak akan bawa kamu ke rumah," katanya.


Andai bisa, ingin sekali rasanya aku memeluknya saat itu. Lalu aku ingin mengatakan padanya betapa aku menyayanginya. Aku pun ingin serius dengannya. Aku ingin bersamanya. Selamanya. Tapi aku tidak bisa, aku hanya terdiam mematung. Menyembunyikan rasa yang tercampur di dalam dadaku.


"Aku pulang dulu yah, nanti sampai rumah aku sms, Assalamualaikum." Mas Farhan pun pamit.


"Waalaikumsalam," jawabku.


Dia pun berlalu, meninggalkanku yang masih berdiri di depan gerbang kos.


Setelah Mas Farhan pergi, aku pun masuk ke kos, ke kamarku. Lalu aku pergi mandi, ganti baju, dan bersiap untuk tidur. Tapi sebelumnya aku menyalakan radio terlebih dahulu. Ya, itu sudah menjadi kebiasaanku. Mendengarkan radio sebagai pengantar tidur.


Saat aku naik ke kasurku, aku sempatkan untuk membuka HPku sejenak. Ternyata ada SMS dari Mas Farhan.


"Dek, aku udah sampe rumah."


"Alhamdulillah, istirahatlah," balasku.


"Iya, ini aku lagi tiduran sambil denger radio."


"Aku juga sama, sambil denger radio. Radio yang mempertemukan ku dengan kekasihku," balasku. Tak lupa kusematkan emote senyum.


"Selamat istirahat kesayanganku, berdoalah sebanyak yang kamu bisa, agar semua indah pada waktunya," balas Mas Farhan.


Aku yang tadinya berbaring langsung mendadak bangun dan duduk. Kubaca ulang SMS balasanya barusan.


Hah? Nggak salah baca ini? Kesayangan? What Rania!


Kamu kesayangannya? Setelah sekian lama menunggu. Akhirnya dia mengatakan hal se-romantis itu. Walau hanya sekedar SMS. Oh Raniaaa, seneng kamu Ran? Seneng kan Ran? Saat itu hatiku benar-benar bahagia. Bahkan kadang aku masih bisa merasakan kebahagian itu di waktu tertentu.


Doaku malam itu, semoga kebahagiaan itu tidak pernah pergi jauh dariku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2