
Kurang lebih dua minggu berlalu, semenjak aku di bawa Mas Farhan ke rumahnya. Aku pun sudah tidak terlalu memikirkan sikap Ibunya. Sekarang aku hanya bisa mencoba pasrah dan berdoa, semoga semua baik-baik saja.
Siang itu aku dan Via duduk di tangga depan gedung rektorat, sambil sedikit membahas tentang skripsi masing-masing.
"Hadeh, judeg aku Ran. Baru juga BAB 1, wes mumet aku," keluh Via saat itu.
"Sabar, semangat pokoknya. Biar cepet kelar, biar kita terbebas dari semua beban ini," ucapku sambil tertawa dan menyemangati Via.
"Ran, nge-Mal yuk. Ben rodo refresh sithik lah, kepalaku rasane abot banget(biar sedikit refresh, kepalaku rasanya berat banget)," ajak Via.
"Mal mana?" tanyaku.
"Ambarukmo yo, sisan aku mau cari sepatu," katanya.
"Pergi jam berapa?" tanyaku lagi.
"Yo sekarang kita pulang, mandi, ganti baju terus mangkat," ucapnya bersemangat.
"Yo wes yo, aku juga pengen cuci mata," jawabku.
Kami pun pulang ke kos, mandi, sholat ashar lalu langsung berangkat ke Ambarukmo Plaza.
Sesampainya di Ambarukmo Plaza kami pun langsung menuju ke Carrefour. Di sana Via langsung semangat mencari sepatu yang dia mau. Akupun jadi ikut tertarik untuk melihat-lihat, siapa tau ada yang cocok dipakai dan cocok di kantong.
Saat kami sedang memilih- milih sepatu, tiba-tiba ada seorang perempuan datang menyapaku.
"Hai," sapanya.
"Hai," jawabku sambil tersenyum dan berusaha mengingat siapa dia.
"Lupa ya?" tanya nya.
"Maaf siapa ya?" tanyaku. Aku merasa pernah melihatnya. Tapi aku lupa dia siapa.
"Sekar, temennya Mas Farhan. Kalau nggak salah waktu itu kita pernab ketemu di Waroeng Steak," ucapnya mengingatkanku.
"Oh iya, maaf ya Mbak. Saya lupa, soalnya baru sekali ketemu, terus udah agak lama," ujarku sambil tersenyum canggung.
"Panggil sekar aja. Kita seumuran kok. Nggak papa lupa, tapi aku inget loh sama Mbak e, soale kemarin pas main ke rumah mas Farhan. Aku nggak sengaja lihat foto mbak e di dompet e mas Farhan," katanya sambil tersenyum.
"Oh, kemarin main ke rumah Mas Farhan?" tanyaku.
"Iya, sampe malem, sama mbak ku." jawabnya sambil senyum.
Entah kenapa aku merasa senyumnya ini nggak biasa, malah seperti senyum meledek. Jujur saja aku kurang suka dengan cara dia yang seolah mau pamer kalau dia bisa datang ke rumah Mas Farhan dan berlama-lama di situ.
"Oh, kesini sendirian?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Nggak, sama Mbakku. Tuh Mbakku lagi milih baju," jawabnya sambil menunjuk ke arah seorang perempuan yang sedang berdiri tidak begitu jauh dari kami.
"Ayok, Ran, aku dah dapet sepatune. Kita liat yang lain lagi," kata Via yang baru saja mendekat sambil membawa sepasang sepatu di tangannya.
"Oh Vi, ini kenalin. Sekar temennya Mas Farhan yang waktu itu ketemu kita di Waroeng Steak," ucapku memperkenalkan Via dan Sekar.
Mereka pun bersalaman.
"Yaudah monggo kalau mau lanjut lagi, aku tak ke mbakku dulu," kata Sekar sambil melambaikan tangan dan berlalu.
"Aku kok ra seneng yo ndelok rupane(aku kok nggak suka ya lihat mukanya)," kata Via saat Sekar menjauh.
"Kenapa?" tanyaku. Masih sambil memperhatikan Sekar yang berjalan mendekati kakak nya.
"Rupone ki kayak yang centil gitu."
"Haha, merhatiin aja kamu kan. Dah yuk ke bagian sana," ucapku sambil menunjuk ke area celana jeans.
Saat mau beranjak dari situ, aku sempat menoleh sekali ke arah Sekar dan Mbaknya. Aku melihat Sekar menunjuk ke arahku, seolah memberi tau Mbaknya tentang keberadaanku, dan aku langsung mengalihkan pandanganku.
"Vi, aku ke sana dulu yah," kataku pada Via yang sedang memilih baju tidur.
"Oke, nanti tak susul."
Aku pun menuju ke area kemeja laki-laki. Entah kenapa rasanya ingin memberikan sesuatu untuk Mas Farhan.
Aku pun akhirnya tertarik dengan satu kemeja abu-abu polos dengan lengan yang jika digulung yang terlihat adalah motif kotak-kotak kecil berwarna hitam putih. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kemeja itu.
Sepertinya Mas Farhan bakalan terlihat keren kalau pake ini.
"Beli apa Ran?" tanya Via yang sudah berada di sebelahku.
"Ini, bagus nggak?" tanyaku sambil memperlihatkan kemeja itu pada Via.
"Apik, bahane alus, buat Mas Farhan?" tanya nya.
"He eh, bagus yah? Entah kenapa aku kok tiba-tiba pengen aja ngasih ke dia."
"Ultah po?"
__ADS_1
"Nggak, ultahnya masih bulan mei," jawabku.
"Dua bulan lagi dong, dirayain nggak?" tanya Via.
"Aiihhh udah 30 tahun, masa' iya raya-rayain ulang tahun. Lagian aku sama Mas Farhan sama. Nggak suka perayaan-perayaan begituan, kurang gawean," jawabku.
"Yo ndak dirayain yang meriah gitu. Maksudku sekedar ngasih kue, kado, terus makan-makan gitu."
"Nggak lah kayaknya, paling ngucapin biasa aja. Itupun paling lewat SMS," ucapku sambil tertawa.
"Blas nggak seru koe ki Men(sama sekali nggak seru kamu tuh), wes ayo bayar," katanya sambil manyun dan berjalan menuju kasir.
Kami pun beranjak dari sana, dan membayar belanjaan masing-masing.
Selesai membayar semua belanjaan, Via mengajakku makan di food court lantai paling atas Mal itu.
"Vi, aku kok heran ya. Perasaan setiap kita nge-mal, kok ya kebetulan ketemu sama perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya Mas Farhan," ujarku heran.
"Ho oh, waktu itu Zahra, hari ini Sekar," katanya.Ternyata Via pun menyadari hal yang sama denganku.
"Kebetulan yang lucu, kayak sinetron," kataku sambil tersenyum.
"Alah kowe ra tau nonton sinetron wae kok."
"Ya kan dari ceritamu gitu. Lagian kamu udah cerita sekomplit-komplitnya, jadi buat apa lagi aku nonton," ujarku sambil tertawa. Sahabatku satu itu memang ratunya sinetron.
"Nek di sinetron, kui jenenge kode alam Ran," kata Via.
"Kode alam gimana?" tanyaku bingung.
"Ya kode alam, biasane nek neng sinetron kui engko konflik yang terjadi yo sesama mereka yang ketemu nggak sengaja itu."
"Ih, aku nggak mau ada konflik-konflik, aku suka perdamaian," kataku sambil tersenyum
"Kan kui sinetron Men, nek raono konflik e yo ra seru nu, ra payu(itu kan sinetron men, kalau nggak ada konfliknya ya nggak seru, nggak laku)," jelasnya.
Akhirnya makanan yang kami pesanpun datang. Sambil makan kami pun membicarakan beberapa hal. Mas Farhan, Sekar, Zahra, sampai ke skripsi masing-masing.
Selesai makan tiba-tiba HPku bergetar. Saat ku cek, ternyata itu SMS dari Mas Farhan.
"Lagi apa dek?" tanyanya.
"Lagi makan sama Via di Amplaz mas," balasku.
"Kamu lagi di Ambarukmo?" tanyanya.
"Aku samperin ya, aku nggak jauh dari amplaz ini. Baru aja pulang kerja," katanya.
"Oh ya boleh, nanti kalau sudah sampai SMS ya," balasnya.
Aku dan Via pun beranjak dari food court, menuju ke lantai bawah. Aku sudah bilang ke Via kalau Mas Farhan mau datang kesini.
Tak lama kemudian HPku pun bergetar lagi saat kami sampai di lantai bawah
"Aku di taman depan Dek," isi pesan dari Mas Farhan.
"Oh iya, ini kita udah di bawah kok. Bentar lagi kita keluar," balasku.
"Wes tekan po (sudah sampe kah)?" tanya Via.
"Udah, dia nunggu di taman depan," jawabku.
Saat sudah sampai di pintu utama Mal, kami pun menghampiri Mas Farhan yang sedang duduk di bangku semen yang tersedia di taman persis di depan Mal itu.
"Halo Mas e, bali kerjo po(halo mas, pulang kerja kah)?" tanya Via ke Mas Farhan.
"Iya, udah selesai belanjanya?" tanya Mas Farhan.
"Udah, Via yang belanja," kataku sambil melirik Via yang duduk di sebelahku.
"Wooo Rania yo ho oh kok, malah belonjo nggo sampean mbarang."
"Ssssstt ih berisik," kataku sambil menutup mulut Via.
"Beli apa Dek?" tanya Mas Farhan sambil senyum.
"Ada deh, nanti aja," jawabku sambil menyembunyikan belanjaanku.
Saat kami sedang ngobrol-ngbrol tiba-tiba aku melihat Sekar dan Mbaknya keluar dari Mal. Benar perkiraanku, dia akan melihat kami dan menghampiri kami.
"Eh, ono Mas Farhan," ucapnya saat sudah dekat dan berjalan ke arah kami.
"Sekar, Mbak Dahlia," sapa Mas Farhan sambil berdiri ketika mereka sudah ada di depan kami.
"Dek Farhan, lagi apa disini?" tanya Mbakya Sekar pada Mas Farhan.
Aku bisa melihat Sekar dan Mbaknya memperhatikanku, dan ku lihat Mas Farhan yang berdiri di sebelahku pun melihatku.
__ADS_1
"Ini, nyamperin pacarku," jawab Mas Farhan sambil melihatku dan tersenyum.
Hah? Pacar? Pacar Ran! Dia mengakuimu sebagai pacarnya di depan Sekar dan mbaknya loh Ran.
Oh Raniaaa, dia mengakuimu Ran. Benar-benar di luar dugaan. Rasanya aku ingin memeluknya saat itu juga. Kata 'pacarku' yang keluar dari bibir seorang Farhan bukanlah hal yang mudah untuk didengar. Bahkan seorang Zahra yang pernah nyaris akan dilamarnya pun belum pernah mendapatkan pengakuan itu.
Raaan, mimpi apa kamu semalem Ran? Apa kabar jantungmu, sehat Ran?
Akhirnya aku pun ikut berdiri dan menyalami Mbaknya Sekar. Aku bisa melihat ekspresi Mbak Dahlia seolah kurang suka dengan pengakuan Mas Farhan akan diriku, dia pun tersenyum walau terlihat terpaksa. Ya, aku bisa melihatnya.
"Pacar?" tanya Sekar.
"Iya, ini Rania, pacarku."
"Sejak kapan Mas Farhan bisa pacaran?" tanya Sekar sambil tersenyum walau agak sinis.
"Ran, bali yo. Wes arep maghrib ki(Ran, pulang yo. Udah mau maghrib ni)." Tiba-tiba Via pun berdiri dan menyela obrolan itu.
"Oh, oke," jawabku sambil mengambil belanjaanku yang tadi kuletakkan di bawah.
"Via bawa motor kan? Kalau Via bawa motor sendiri nggak papa? Rania biar sama aku," kata mas Farhan sambil menarik perkahan dan menggenggam tangan kiriku.
Aku pun terkejut dan menatap wajahnya. Mas Farhan pun tersenyum seolah memberi kode padaku, kalau aku jangan meninggalkan dia di situ bersama Sekar dan Mbaknya.
"Oh bisa, bisa banget!" Jawab Via sambil melirik sinis ke arah Sekar. Aku bisa melihat pandangan itu.
"Ciye Mas Farhan, romantis banget," ujar Sekar. Entah kenapa ditelingaku kalimat itu terdengar seolah meledek.
"Yo Dek, pulang, kita pulang dulu ya Farhan." Mbak Dahlia pun pamit langsung menarik tangan Sekar dan berlalu meninggalkan kami bertiga.
"Nanti tak SMS yo Mas," teriak Sekar sambil berjalan sedikit terseret karena ditarik oleh Mbak Dahlia.
Mas Farhan pun menatapku. Tanpa melepaskan genggaman tanganya sama sekali. Lalu dia mengajakku dan Via ke parkiran di samping Mal untuk mengambil motor dan pulang.
Sepanjang jalan Mas Farhan terus menggenggam tangan kiriku. Sungguh itu membuatku merasa sangat bahagia. Ya, aku hanyalah wanita biasa yang senang jika diperlakukan seromantis itu oleh laki-laki yang kusayangi. Apalagi tadi dia dengan terang-terangan mengakuiku sebagai pacarnya di depan Sekar. Aku bisa melihat kalau sepertinya Sekar suka sama Mas Farhan, dan aku juga bisa merasakan kalau sekar dan Mbaknya tidak begitu menyukaiku.
Kami sempat mampir ke Masjid terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat maghrib sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke kos. Motor Via melaju di depan kami sepanjang perjalanan tadi.
Sesampainya di kos Via langsung masuk ke dalam. Sementara aku dan Mas Farhan seperti biasa, ngobrol dulu di depan pintu gerbang. Sepertinya justru itu adalah tempat Favorit kami, karena setiap pulang dari manapun, kami selalu menyempatkan ngobrol sebentar di situ.
"Makasih mas, udah mau nyamperin ke Mal, dan nganter aku balik ke kos. Padahal kosku dan rumahmu kan beda arah, dan Mal tadi lebih dekat ke rumahmu daripada kesini," ucapku.
"Sama-sama, mau sejauh apapun dan se-capek apapun, kalau untuk Eania, itu bukan masalah besar," jawabnya sambil tersenyum.
"Terimakasih juga untuk yang tadi," ucapku tersenyum malu.
"Yang mana?" tanyanya.
"Yang tadi, sudah mengakuiku sebagai pacar di depan Sekar dan Mbaknya," kataku.
"Oh itu, sama-sama. Selama ini aku memang tidak pernah mengakui siapapun sebagai pacarku di depan teman-temanku, baru kamu."
"Kenapa kok tiba-tiba begitu?" tanyaku.
"Karena aku mau mereka tau, kalau aku sudah ada yang punya," jawabnya sambil tersenyum manis sekali. Sangat manis menurutku saat itu.
"Tapi sepertinya Sekar suka sama kamu mas," kataku.
"Aku tau, dan itu sudah sejak lama. Mbak Ani dan Mbak Dahlia pernah nyomblangin kami. Tapi aku menolaknya," jelasnya padaku.
"Hah? Dicomblangin?"
"Iya, Mbak Dahlia dan Mbak Ani kadang sering menyampaikan salam, yang katanya dari Sekar untukku. Dulu juga sering mereka ngajak jalan kami berdua, tapi aku disuruh ngeboncengin Sekar. Tapi bagiku Sekar tidak lebih dari seorang teman biasa, atau mungkin seperti Adik sendiri."
"Kalau ternyata yang di maksud Ibu adalah Sekar, gimana?" tanyaku penasaran.
"Jelas aku akan menolaknya, aku nggak punya rasa apapun sama Sekar. Walaupun kami sering bertemu dan sudah kenal lama," jawabnya.
"Okelah kalau begitu, aku masuk dulu ya mas. Mas hati-hati di jalan, sampai rumah kabarin aku," kataku berpamitan. Ya, aku ingin segera masuk ke kos dan merenung di kamarku. Apa yang diceritakan Mas Farhan barusan membuatku gelisah. Rasanya pikiranku mulai kemana-mana. Padahal baru saja tadi aku mendengar sebuah pengakuan sederhana tentang siapa aku di dalam hatinya. Kini aku sudah mulai cemas lagi dengan apa yang baru saja kudengar.
Saat aku mau membuka pintu gerbang, Mas Farhan yang masih duduk di motornya tiba-tiba menarik tangan kiriku. Aku terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Nggak perlu memenuhi pikiran dan hatimu dengan hal yang membuatmu nggak nyaman. Pikirkan saja aku, aku yang juga selalu memikirkanmu. Aku yang sedang berusaha bagaimana caranya agar bisa segera menghalalkanmu," katanya.
Seketika itu juga jantungku langsung berdetak sangat kencang.
Kebahagiaan yang tidak bisa aku gambarkan kembali menyeruak. Sungguh berhubungan dengan Mas Farhan benar-benar harus punya jantung yang kuat. Aku bahkan tidak pernah menyanhka ternyata Mas Farhan seserius itu denganku. Perkenalan bermodal iseng lewat radio itu, membawaku sampai di titik ini.
"Terimakasih Mas atas keseriusannya, semoga semuanya akan baik-baik saja," ucapku sok kalem sambil tersenyum malu.
Padahal kakiku ini sudah ingin sekali melompat rasanya, dan andai saja dia bisa merasakan telapak tanganku yang dipegangnya berubah menjadi sangat dingin waktu itu.
Akhirnya Mas Farhan pun pulang, meninggalkanku yang masih merasakan panas di pipi ini.
Rania, Rania. Bertambah lagi cobaanmu. Belum selesai Zahra eh ada Ibu Mas Farhan, lah kok sekarang nyelip satu lagi, Sekar. Tapi apapun itu, Mas Farhan sudah membuatku merasa sangat berarti. Karena pengakuannya atas keberadaanku ternyata sungguh serius. Rania Ainun Sofia, ternyata namamu sudah terukir di hatinya. Begitupun sebaliknya.
Bersambung....
__ADS_1