RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Monumen serangan satu maret Yogya


__ADS_3

Senin pagi, aku memulai pagi dengan hati yang terasa begitu bahagia, aku tidak menyangka hubunganku dengan Mas Farhan bisa sampai di titik ini. Hanya karena ke-isenganku saat mendengar radio, bisa membawaku bertemu dengan seorang laki-laki sederhana, yang tidak banyak tingkah, dan aku sungguh menyayanginya.


"Ran, kampus yuk." Tiba-tiba Via masuk ke kamarku yang memang tidak ku kunci.


"Iya, ni juga lagi siap-siap, dah balik toh? Aku nggak denger suara motor mu," ucapku sambil memasukkan beberapa buku ke tasku.


"Asik ngelamun mesthi ki, sampe aku dateng aja ndak denger. Nih biasa serabi dari Ibu." Via memberikan sebuah bungkusan padaku.


"Maturnuwun ya, sampein ke ibuk."


"Oke nanti aku sampein. Ngomong-ngomong piye kamu sama Mas Farhan? Dah ada kabar dari dia?" tanya nya.


Aku tidak langsung menjawabnya, aku hanya tersenyum dan tersipu malu.


"Laah malah plengah-plengeh (malah senyam senyum), piye?"


"Aku sudah menyatakan perasaanku ke dia Vi," jawabku.


"Hah? Tenane? Terus?" tanya nya super penasaran.


"Yaudah, udah tersampaikan, udah lega. Kemaren dia jemput aku dan kita ngobrol di Alun-Alun Utara, dan ujung-ujungnya aku mengungkapkan apa yang aku rasakan."


"Terus saiki berarti wes jadian nih yee?" tanya nya sambil senyum meledekku.


Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman.


"Ciye Raniaa, PJ Ran, aku tak ngajak Mas Iwan wes."


"PJ? apa itu PJ?" tanyaku bingung.


"Pajak Jadian donk Ran, makan-makan lah kita. Nggak mau po berbagi kebahagiaan sama kita," katanya sambil nyolek daguku.


"Oalah, ada-ada aja. Yo nanti coba tak ngajak Mas Farhan ya. Kalau dia mau, kita jalan ber empat. Sekarang yang penting ngampus dulu yuuuk." Aku pun menarik tangan Via.


Kami pun ke kampus seperti biasa, menyelesaikan beberapa tugas akhir, dan mulai mencari refrensi untuk skripsi.


********


Sorenya sekitar pukul 16.00, aku dan Via pun berencana pulang ke kos. Tapi sebelum pulang kami duduk sebentar di taman kampus, dan kebetulan Mas Iwan datang dan menghampiri kami.


"Halo, cah-cah bawel, lagi pada ngapain?" sapa Mas Iwan.


"Duduk-duduk aja mas, mau pulang kos tapi nanti wae lah bentar lagi. Masih pengen nyantai dulu disini," jawab Via.


"Mas belum pulang?" tanyaku ke Mas Iwan.


"Ini tadi dah mau pulang, tapi liat kalian disini. Ya wes nimbrung dulu wae," ujarnya sambil tertawa.


"Nimbrungan," ledek Via.


"Ben, kowe seneng wae kok (Biar, kamu pun suka kok)," goda Mas Iwan.


"Iiih, GR kamu mas," celetuk Via sambil tersenyum malu.


Ya, aku tau Via sudah sangat lama menyimpan rasa untuk Mas Iwan. Tapi sepertinya mas Iwan pernah cerita kalau dia suka sama anak kampus lain. Makannya Via dengan legowo menerima hubunganya dengan Mas Iwan hanya sebatas sahabat. Secara otomatis Mas Iwan pun menjadi sahabatku.


Saat kami sedang asik ngobrol dan becanda, tiba-tiba ada motor membunyikan klakson sekitar 10 meter dari tempat kami duduk.


Ternyata itu adalah Mas Farhan.


Lah ngapain dia kesini? Nggak pernah-pernah nya loh, ya ampun kok ya selo (kok ya sempet-sempetnya). Memang semua yang dia lakukan sering di luar dugaan. Tapi kali ini semakin di luar dugaanku.


"Lah Ran, si Farhan," kata Mas Iwan yang juga terkejut melihat Mas Farhan tiba-tiba masuk ke kampus kami.


"Weh ho oh Mas Farhan, kalian janjian Ran?" tanya Via.


"Nggak, dari tadi aja blas nggak ada SMS kok," jawabku masih terheran.


"Halah malah ngobrol, gek ndang cepet temui sana (segera temui). Kasian udah jauh-jauh kesini," ucap Mas Iwan sambil sedikit mendorong bahuku.


"Sek ya, tak kesana dulu, bentar ya Vi," kataku sambil berdiri dari bangku.


Aku pun menghampiri Mas Farhan yang masih duduk di atas motornya, ku lihat dia membuka helm dan maskernya.


"Ada apa mas? Ngapain kesini?" tanyaku.


"Nggak papa. Mau jemput kamu aja. Nggak boleh kah?" ucapnya sambil tersenyum.


"Oh boleh, tapi perasaan dari tadi nggak ada sms, terus kok tau aku ada disini?" tanyaku.


"Tadi kan lewat situ, dan liat kamu sama Via lagi di sini. Yaudah aku muter aja, terus masuk. Nggak papa kan?" jawabnya sambil menunjuk pagar pinggir kampus yang memang persis di pinggir jalan raya. Pantas saja dia bisa melihat kami yang sedang duduk di taman.


"Nggak papa, tapi kan tempat kerjamu sama rumahmu lebih deket mas, dari pada tempat kerjamu kesini. Ini kamu baru pulang kerja kan?" tanyaku.


"Jarak bukanlah sebuah masalah dalam sebuah hubungan. Mau jauh, mau dekat, kalau mau ketemu, ya ditemui aja, gtu kan?" ucapnya sambil tersenyum menatapku sedikit lebih mendekat dari pada tadi.


Dia sering sekali menatapku begitu, karena aku pendek, jadi kadang dia memiringkan kepalanya dengan sedikit membungkuk agar bisa melihat mataku, dan agar aku bisa langsung melihat wajahnya tanpa mendongakkan kepala. Tanpa dia tau, kalau posisi seperti itu selalu membuatku berdebar-debar. Malu, dan bahagia bercampur jadi satu.

__ADS_1


"Bentar ya, aku pamit sama Via dan mas iwan dulu. Ini mau kemana? Ke kosku? Atau kemana?" tanyaku.


"Jangan pamit, ajak aja sekalian. Kita jalan ber empat. Mereka udah nggak sibuk kan? Tinggal pulang kan?"


"Hah? Ajak? Mau kemana?" tanyaku heran. Karena biasanya aku yang selalu minta ijin ke Mas Farhan untuk mengajak mereka berdua jalan. Tapi kali ini sedikit berbeda, lelakiku ini yang mengajak merekah. Eh, apa? Lelakiku? Ciyee Rania.


"Kita ke kos dulu aja. Nunggu sampe maghrib, abis itu baru kita jalan," jawabnya.


"Oh oke, bentar aku kesana dulu ya."


Aku pun menghampiri Via dan Mas Iwan yang masih ngobrol di kursi taman.


"Vi, mas, pulang ke kos yuk. Terus abis maghrib kita jalan bareng, diajak Mas Farhan tuh," kataku.


"We e e ada yang mau PJ-PJ nih, ciye." Via heboh sendiri.


"PJ-PJ ki opo?" tanya Mas Iwan.


"Halah kan, do ndeso (pada kampungan). Mau Rania (tadi Rania), saiki mas Iwan (sekarang Mas Iwan), ra ngerti PJ (nggak ngerti PJ)," ucap Via sambil manyun.


"Lah opo PJ ki (lah apa PJ tu)? Panjul?" kata Mas Iwan berseloroh, membuatku tertawa.


"Pajak Jadian Maaass," jawab Via gemes.


"Oalah. Heh, sopo seng jadian (siapa yang jadian)? We e e Rania ro Farhan jadian?" tanya Mas Iwan agak ngegas dengan ekspresi terkejut. Posisi duduknya berubah dan matanya melotot.


"Ssstt, ki do ngopo sih ribut (ini pada ngapain sih berisik). Ayo gek cepet (ayo cepetan) kita pulang ke kos. Nanti aja ceritanya di kos. Tuh loh di tunggu," kataku sambil menoleh ke arah Mas Farhan yang masih setia menunggu di atas motornya.


"Yo wes yo. Mangan-mangan iki, lumayan tanggal tuo, kirimanku yo urung landing." Mas Iwan berseloroh.


Aku dan Via pun tertawa. Mas Iwan memang orangnya kocak, ceplas ceplos, laki-laki asal Jawa Timur ini selalu memecah suasana. Banyolannya nggak habis-habis, selalu ada bahan yang bisa bikin orang-orang sekitar nya tertawa.


Akhirnya kami pun sama-sama pulang ke kos. Sesampainya di kos, Mas Farhan dan Mas Iwan ngobrol di teras. Sementara aku dan Via masuk ke kos, mandi, dan mempersiapkan diri untuk nanti pergi habis maghrib.


Selesai sholat maghrib berjamaah di ruang tamu kos, kami pun bersiap kemudian beranjak pergi. Entah kemana mas Farhan mau mengajak kami. Yang jelas dia tadi bilang "Pokoknya kalian ikut aja."


Ternyata dia mengajak kami ke salah satu restoran steak sederhana yang cukup terkenal di Yogya. Ya restoran ini cukup terkenal di kalangan mahasiswa Yogya. Harganya yang cukup terjangkau, dan makanannya yang enak, membuatnya jadi salah satu tempat makan favorit di Yogya.


Setelah mendapatkan tempat duduk, kami ber-empat pun memesan makanan dan minuman. Tadi sebelum berangkat Mas Farhan sempat bilang kalau semua dia yang akan traktir. sempat juga aku bertanya, apa ya dia ngerti soal Pajak Jadian yang dari tadi di bahas Via? Kok ya sempet-sempet nya dia mikir mau ngajak makan kami. Ternyata dia nggak paham soal pajak jadian itu. Dia memang sekedar pengen aja ngajak makan dan jalan bareng kami.


Katanya sih, "mung lagi pengen (hanya lagi pengen)."


Saat sedang asik ngobrol-ngobrol sambil menunggu pesanan datang. Tiba-tiba ada seorang perempuan berjalan persis di samping tempat kami duduk. Awalnya dia lewat begitu saja, tapi setelah itu dia berjalan mundur, lalu menyapa Mas Farhan.


"Mas Farhan," sapanya.


"Sekar," balas Mas Farhan.


"Tumben di daerah sini, lagi ngapain?" tanya perempuan itu.


"Lah yo mangan to yo, mosok ngarit," ceplos Mas Iwan pelan.


Membuatku tersenyum, dan Via pun langsung mencubit pinggang Mas Iwan.


"Ini lagi makan bareng temen-temen," jawab Mas Farhan.


"Oh, apa kabar Mbak Ani? Sudah lama aku nggak mampir ke sana. Kapan-kapan tak kesana lagi ya, kabar Ibu juga gimana?" tanyanya sambil sesekali melihat ke arahku.


"Alhamdulillah semua baik, kamu apa kabar? Ya main aja kapan-kapan ke rumah, Mbak Ani pasti seneng," jawab Mas Farhan.


"Cuma Mbak Ani yang seneng?" tanya nya sambil senyum menggoda.


"Aku yo seneng," celetuk Mas Iwan lagi sambil cengengesan.


"Ssssttt, crigis ae loh ah(nyamber aja loh)," Via pun kembali mencubit pinggang Mas Iwan.


"Yaudah mas, aku tak cari tempat duduk dulu yah. Sambil nunggu temen," ucap perempuan itu sambil memegang pundak Mas Farhan, dan berlalu.


"Siapa mas?" tanyaku ke Mas Farhan.


"Adek temennya Mbak ku. Mbak Ani," jawab Mas Farhan.


"Oh, emang sering main kerumah yah? Sepertinya kenal sama seluruh keluargamu," tanyaku penasaran.


Entah kenapa aku seolah merasa ada rasa kurang nyaman ya, apa iya aku cemburu? Lah begitu doang kok dicemburuin. Tapi sungguh hatiku kurang nyaman melihat cara perempuan itu ngobrol sama Mas Farhan barusan.


"Sering dulu, karena Mbaknya sama Mbak Ani ada usaha bareng, jualan hijab sama bross gtu. Tapi sudah beberapa bulan ini nggak pernah ke rumahku lagi. Paling ya ke rumah Mbak Ani," jelasnya.


Mas Farhan memang pernah cerita, kalau dia empat bersaudara. Dia anak ke tiga, dan yang pertama ya Mbak Ani itu. Rumahnya nggak jauh dari rumah Mas Farhan, cuma beda satu RT saja katanya.


Akhirnya makanan yang kami pesan pun tiba, dan kami langsung menyantapnya. Sambil sesekali ngobrol dan becanda, siapa lagi kalau bukan Mas Iwan yang jadi komediannya.


Setelah selesai makan Mas Farhan pun menuju kasir untuk membayar. Aku memperhatikannya dari kejauhan. Mas Farhan lagi-lagi ngobrol sama Sekar, perempuan yang tadi. Kebetulan dia juga sedang membayar di kasir.


Ku lihat sekar mengambil HP nya dan mengetik sesuatu.


Apa mungkin dia meminta nomer HP Mas Farhan ya? Dan mas Farhan ngasih gitu? Ah biarinlah, itu urusan mereka.

__ADS_1


Selesai makan kami pun melanjutkan perjalanan, dan kali ini Mas Farhan mengajak kami duduk-duduk menikmati malam di depan Monumen Serangan Umum Satu Maret di titik nol kilometer kota Yogyakarta.


Aku dan Mas Farhan duduk bersebrangan dengan Mas Iwan dan Via. Jaraknya mungkin sekitar lima belas meter.


Jadi obrolan masing-masing pun tidak begitu terdengar. Kecuali tawa Via yang kadang menggelegar, karena banyolannya Mas Iwan pastinya.


"Mas, tadi sekar minta nomer HP mu kah?" tanyaku pada Mas Farhan memulai obrolan.


"Iya," jawabnya singkat sambil membuka jaket yang dari tadi dikenakannya.


"Kamu kasih?"


"Iya, kenapa dek?" tanyanya


"Nggak papa, nanya aja. Bukannya dia udah sering ke rumahmu dan main sama Mbak mu, bahkan sering ketemu kamu kan? kok baru minta nomernya sekarang?" tanyaku meluapkan semua pikiran yang dari tadi mengganjal di kepalaku.


"Dulu dia pernah nyimpen nomerku, tapi dia ganti HP, jadi semua nomer hilang, dan dia belum sempet nanya lagi sama Mbak Ani. Yaudah tadi kebetulan ketemu, jadi dia nanya langsung ke aku, gitu katanya tadi." Mas Farhan menjelaskan padaku.


"Oh gtu," jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke depan yang tadinya aku menghadap Mas Farhan. Aku berusaha menyembunyikan rasa cemburuku. Iya, sepertinya ini adalah rasa cemburu.


"Kenapa? Cemburu?" tanya nya sambil tersenyum menggodaku.


"Oh, nggak. Masa' gitu aja cemburu," jawabku ngeles.


"Nggak papa kok kalau cemburu juga. Sekarang yang punya hatiku kan kamu," ujarnya sambil melihatku dan sedikit menyibakkan rambutku.


"Nggak ah, aku takut kamu nggak nyaman kalau aku terlalu gampang cemburu. Lagian sebuah hubungan kan modal utamanya harus saling percaya, biar nggak gampang bubar," ucapku mencoba berpikir dewasa. Padahal kalau mau jujur memang aku kurang suka sama cara Sekar tadi.


"Dijadiin istri kayaknya bagus nih," katanya sambil menatapku. Mengelus kepalaku dan tersenyum.


Demi apa Ran? Demi apa? Ketimbang sok dewasa gitu doang kamu mau dijadiin istri coba Ran! Dewasa terus ya Raaan. MasyaAllah Rania, tetep stay cool ya Ran. Jangan terlalu keliatan girangnya. Andi saja mau mengikuti kata hati, aku bisa saja langsung berdiri dan melompat-lompat saat itu juga. Ya, hanya karena perkataan sesederhana itu. Hatiku memang ambyar kalau sudah mendengar ucapan Mas Farhan.


"Woy pasangan baru, arep bali jam piro (pasangan baru, mau pulang jam berapa)?" teriak Mas Iwan.


"Jam sembilanan," jawabku.


Kami pun melanjutkan obrolan masing-masing.


Tanpa terasa jam sembilan pun tiba, dan aku pun mengajak mas Farhan, Via dan mas Iwan pulang.


Sesampainya di kos Via langsung masuk ke kos, dan Mas Iwan langsung pamit pulang. Sementara aku dan Mas Farhan masih berdiri di depan gerbang kos.


"Dek, ini simpen," katanya sambil menyerahkan sebuah note kecil yang diambilnya dari saku jaketnya.


"Apa ini?" tanyaku.


"Note, buku," jawabnya.


"Iya aku tau ini note, tapi buat apa?" tanyaku sambil tertawa kecil.


"Oh, kapan dan kapan, ketika aku melakukan sebuah kesalahan, atau ada yang yang ku lakukan dan membuatmu tidak nyaman. Kamu boleh tulis disini ya. Setelahnya kamu kasih ke aku bukunya."


"Biar apa?" tanya ku bingung.


"Biar aku tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, biar aku nggak membuatmu sedih atau perasaan nggak enak lainnya."


"Hah? Kenapa harus dicatat?" tanyaku semakin heran.


"Ya biar aku tau dan ingat. Karena aku tau perempuan tidak mudah protes akan sesuatu, kadang kata 'Nggak papa' dari bibir seorang perempuan itu artinya justru apa-apa banget ya kan?" jelasnya sambil tersenyum.


"Hahaha, sampe segitunya loh mas. Baru kali ini aku nemu lelaki yang mikirnya sampe begini, kayak kamu gini," kataku sambil tertawa.


"Karena kalau bisa, aku mau jadi alasanmu untuk selalu tersenyum, bukan menangis, marah, apalagi kecewa," ucapnya sambil menatapku.


Saat itu aku bisa merasakan ketulusan yang luar biasa di matanya. Iya, aku bisa merasakannya.


"Yaudah aku pulang dulu ya," katanya sambil memakai maskernya.


Karena aku berdiri tepat di sampingnya saat itu, aku pun sedikit mendongakkan kepala untuk melihatnya setelah dari tadi menunduk melihat note yang dia berikan.


Lalu tiba-tiba dia merangkul kepalaku perlahan, membuatku tertunduk, dan dari balik maskernya dia mencium kepalaku. Persis di bagian ubun-ubun. Kemudian dia melepaskan tanganya.


Saat ku angkat kepalaku dia tersenyum, aku bisa melihat itu dari matanya yang berubah jadi sipit. Walaupun wajahnya di tutupi masker. Ya, aku masih bisa melihat senyum itu. Setelah itu dia pun memakai helmnya.


"Maaf, hanya sebagai sedikit ungkapan rasa saja. Kalau keberatan, nanti tulis di note aja yah, Assalamualaikum" ucapnya.


Dia pun berlalu, membiarkan ku mematung sendirian. Tanpa sempat membalas ucapan salamnya.


"Waalaikumsalam," ucapku lirih.


Saat masuk ke kamar aku masih tidak bisa berkata apa-apa.


Aku nggak tau mau berekspresi seperti apa lagi.


Raniaaa, itu tadi apa Ran? Udah kayak di film-film Ran. Kalo di film biasanya di bibir. Kamu di ubun-ubun Ran. Membeku seluruh tubuh kan Ran? Apa kabar jantungmu Ran? Sehat? Ini kalo saja tadi Via melihatnya, pasti dia yang bakalan menjerit. Sungguh suara hatiku heboh saat itu.


Karena Via adalah orang yang selalu membandingkan sikap laki-laki dalam dunia nyata dan sinetron.

__ADS_1


"Di sinetron ki ngene loh, ora ngene (di sinetron tuh gini loh, bukan gini). Kudune dipeluk ora mung dijarke (harusnya dipeluk, nggak cuma di biarkan saja) dan lain-lainya." Akupun teringat ocehan Via saat mengomentari salah satu adegan sinetro yang selalu ditontonnya.


Tuhan, seandainya aku boleh meminta, aku ingin dia satu-satunya dan selamanya. Harapku sambil mendekap note yang di berikan Mas Farhan.


__ADS_2