RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Pantai Ngobaran


__ADS_3

"Ran? Kamu baik-baik saja?" tanya mas Iwan yang melihatku masih menangis di hadapan mas Farhan.


"Iya mas, aku nggak papa, maaf ya, di hari bahagia kalian aku begini, aku benar-benar minta maaf ya mas, Via." ucapku sambil menghapus air mataku.


"Ramen, kuat ya, ini semua belum finish kok, masih ada harapan, sabar ya, kita semua ada buatmu." kata Via.


Entah kenapa mendengar perkataan Via aku justru semakin merasa ingin menangis, aku terharu dengan kesetiaan mereka padaku.


Via pun langsung memelukku yang masih terus mengeluarkan semua kesedihanku saat itu, aku ingin membuangnya disana, aku ingin hatiku lega.


"Via, boleh minta tolong fotoin?" tiba-tiba mas Farhan menyerahkan kamera digitalnya pada Via.


"Boleh banget, sini." kata Via.


Mas Farhan mengusap pipiku, menghapus air mata yang masih tersisa, dan membenahi letak rambutku yang dari tadi agak kusut.


"Siap belum?" tanya Via.


"Sebentar." ucap mas Farhan.


Mas Farhan pun berpindah tempat, yang yadinya dia disebelahku tiba-tiba dia berdiri tepat di belakangku, dan dia melingkarkan tangannya di leher dan dadaku.


"Sudah Via." katanya.


"Huwaaaaa, mas Farhan, kepikiran loh, apik-apik, tahan yo, satu, dua, tiga." via pun memotret ku dan mas Farhan.


"Makasih Via." ucap mas Farhan.


Aku tersenyum dan melihat mas Farhan, aku tidak mengira dia se sweet itu.


"Ijinkan aku menyimpannya, boleh kah?" tanyanya.


"Boleh." jawabku sambil tersenyum.


"Maaf aku mau nanya boleh?" tanyaku.

__ADS_1


"Tanya aja." jawabnya.


"Ini sudah ketiga kalinya mas memelukku dari belakang, bahkan kali ini di abadikan dalam sebuah foto, kenapa?" tanyaku.


Karena aku merasa itu tidak biasa, biasanya laki-laki memeluk kekasihnya dari depan seperti yang dilakukannya tadi saat aku menangis, tapi aku tau kebiasaan mas Farhan agak berbeda, memang bukan sesuatu yang penting, tapi aku penasaran saja dengan sikap itu. Dan aku merasa setiap dia memelukku dari belakang, pelukan itu akan terasa lebih kuat.


"Apapun yang akan terjadi didepanmu, kamu pasti tau, karena kamu akan melihatnya langsung, tapi apa yang akan terjadi dibelakangmu, kamu tidak akan tau, karena kamu tidak bisa melihatnya, dan aku yang akan menjaga mu dari itu." katanya sambil tersenyum.


"Dapet kalimat darimana? Bagus." ucapku sambil tersenyum.


"Ini serius." ucapnya sambil melihat mataku.


"Mas Farhan, berhentilah membuatku semakin mencintaimu, berhentilah mengucapkan kalimat yang bisa membuatku semakin takut kehilanganmu, sungguh aku semakin merasa takut." ucapku dalam hati.


"Hai dua sejoli, mau turun jam berapa?" kata mas Iwan.


"Ini jam berapa?" tanya Via.


"Jam 12.30." kataku.


"Sekarang aja yuk, nanti lanjut tempat lain." kata Via.


Kamipun sempat mampir ke mushola untuk sholat dzuhur, kemudian mampir di warung makan.


"Sholat udah, makan udah, kemana lagi?" tanya mas Iwan.


"Pantaaaii." teriak Via.


"Pantai mana?" tanya mas Iwan.


"Ngobaran gimana?" tanya Via meminta pendapat.


"Aku ikut aja." kataku.


Kamipun melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan aku tidak pernah melepaskan pelukanku dari mas Farhan.

__ADS_1


"Andai memang nantinya kami akan berpisah, andai memang aku tidak mampu melunakkan hati ayah, setidaknya aku ingin menghabiskan setiap waktu yang tersisa bersama mas Farhan, kalau dulu aku selalu menanti kapan datangnya hari wisuda ku, kini rasanya aku ingin mengulur waktu itu. Aku takut kalau nanti selesai wisuda, ayah benar-benar segera menikahkanku." ucapku dalam hati.


Sesampainya di Pantai Ngobaran mas Iwan dan Via memisahkan diri dari kami. Aku pun membiarkan mereka dengan kebahagiaan yang sedang mereka miliki, dan aku berdoa semoga hubungan mereka bisa sampai ke jenjang yang serius, tanpa hambatan apapun seperti yang aku alami. Aku bahagia melihat mereka bahagia.



Aku dan mas Farhan pun berjalan menuju bibir pantai, merasakan angin yang begitu semilir, riak ombak yang tidak terlalu tinggi, langit yang biru, semua itu sedikit menjadi penenang hatiku yang tadi sempat merasa sakit.


Saat aku sedang merenung sambil melihat ombak, tiba-tiba mas Farhan memakaikan sebuah kalung kecil terbuat dari perak, dengan satu liontin kecil bermata satu, dia langsung melingkarkannya di leherku, dan memasangkan kait nya dari belakang.


Dan aku pun melihat liontin itu, kecil dan sederhana, tapi entah kenapa rasanya bahagia.


"Sudah lama aku memilikinya, tapi baru sekarang aku berani memberikannya, aku tau ini terlalu sederhana, tapi kalau boleh, jadikan itu sebagai pengingat untukmu, kalau dalam hidupmu yang luas itu, pernah ada satu bagian kecil yang akan selalu kamu kenang. Aku." ucapnya sambil melihatku.


Aku tidak mengatakan apa-apa, aku hanya bisa melihatnya, dan merasakan nyeri di ulu hatiku. kakiku terasa sangat lemas, rasanya aku tidak sanggup berdiri lagi, lututku gemetar, dan seketika itu juga aku berlutut di hadapannya. Aku menangis sejadi-jadinya, dan tanpa sadar aku berteriak. Aku ingin melepaskan semua sesak ini, kenapa dari tadi aku sudah menangis tapi tidak pergi juga.


Mas Farhan pun langsung berlutut di depanku, dia memelukku.


"Maaaaas, bisakah bawa aku lari saja, ayo kita pergi jauh, ayo kita menghindar dari orang-orang yang seolah tidak mau kita bersama." aku mengucapkannya sambil sedikit berteriak karena terasa begitu sesak.


"Aku lelah merasakan sedih begini, dari sejak ayah bilang bahwa restu itu tidak akan pernah turun. Sampai hari ini rasanya aku sedih terus, aku sampai lupa bagaimana caranya tertawa, tolong aku." masih dengan sedu sedan ku.


"Keluarkan saja apa yang ingin kamu keluarkan, teriakkan lah jika itu membuat lega, aku mendengarkan, aku disini, aku bersamamu." ucapnya masih tetap memelukku.


Aku bisa mendengar suaranya bergetar, tapi aku takut melihat wajahnya, aku tidak mau melihat dia sedih, tapi aku sendiri bingung bagaimana caranya menyudahi kesedihanku.


"Mas, aku mau kalaupun harus pergi jauh, aku mau walau hanya bersamamu, aku nggak mau kehilanganmu, tapi aku ragu dengan kemampuan ku menghadapi ayah. Aku pesimis bisa meluluhkan hati ayah, aku takut sekali rasanya, aku bingung gimana caranya supaya aku bisa meyakinkan ayah." ucapku masih dengan tangisan dan teriakan yang sepertinya sudah mulai lelah.


"Dek, aku tidak akan membawamu lari, aku memang sangat menyayangimu, bahkan lebih dari yang kamu tau, tapi percayalah, ridho Allah terletak pada ridho orang tua, aku tidak yakin kita bisa bahagia kalau tidak direstui. Apalagi kamu wanita, tidak bisa menikah tanpa restu seorang ayah, ayahmu masih ada. Dan percayalah, jika kamu pergi denganku, itu akan membuat ayah ibu mu menangis, dan itu akan menjadi penyesalan besar bagimu nantinya. Aku minta maaf. Aku hanya bisa berdoa Allah meluluhkan hati ayahmu, dan menetapkan kalau memang kamu jodohku." ucapnya.


Seketika itu juga aku merasa seolah tubuhku benar-benar tidak bertulang. Tapi aku mencoba sekuat tenaga agar tidak jatuh disitu, aku masih memeluk mas Farhan sekuat yang aku mampu.


Setelah merasa lelah dengan tangisku, akupun melepaskan pelukanku dari nya, kulihat wajahnya, dan benar perkiraanku, dia menangis, bukan berkaca-kaca, dia benar-benar menangis, mata nya memerah, air matanya berwujud, mengalir di pipinya, dan ternyata membasahi baju ku.


Dia pun menghapus air matanya, seolah tidak ingin aku melihatnya, tapi aku sudah melihatnya, bahkan kesedihan terdalam di matanya, aku bisa merasakannya.

__ADS_1


Mungkin orang lain akan berpikir ini berlebihan, tapi andai mereka tau bagaimana perasaanku saat itu. Mungkin mereka akan sama sedihnya denganku.


"Mas Farhan, terimakasih atas cinta yang begitu tulus, terimakasih atas kedewasaan yang akhirnya bisa membuatku lebih kuat, dan terimakasih atas kalungnya, sampai detik ini aku masih menyimpannya." suara hati Rania.


__ADS_2