RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Semarang


__ADS_3

Masih agustus 2010.


Hari itu rencana perjalanan kami ke Semarang pun tiba. Dan itu adalah jalan-jalan terakhir ku dengan mas Farhan sebelum pernikahan.


"Ramen, udah siap?" Via memanggilku dari luar.


"Bentar lagi, gila ya pagi banget loh ini, emang sini Semarang berapa lama sih?" tanyaku.


Karena Via sudah membangunkanku sejak subuh, dan jam 05.00 dia sudah siap.


"Ora kepagian yo, kene Semarang ki 2,5 - 3 jam, rumangsamu cerak po?" tanya nya.


"Hah? Gila 3 jam? Aku nggak kebayang rasanya di motor 3 jam kayak apa." kataku sambil membukakan pintu.


"Nggak usah di bayangin, nanti di rasain aja, di nikmatin yooo." katanya sambil masuk ke kamarku saat pintu ku buka.


"Udah semua perbekalanmu di masukin ransel?" tanyanya.


"Udah, mas Iwan dah dateng po? Buset ini baru jam 6 loh." kataku.


"Bentar lagi paling, biar nggak patio panas di jalan, jadi perkiraanku sih kita sampe sana jam 9an." kata Via.


Terdengar ada suara motor berhenti di pintu gerbang kos kami, dan aku tau betul itu suara motor mas Farhan.


"Tuh, pujaan hatimu." kata Via.


"Kenapa ya Vi, aku deg-deg an kayak awal ketemu dulu, dari kemaren pas dia tiba-tiba muncul, hari ini, rasanya aku deg-deg an kayak baru kenal gitu?" tanyaku.


"Ya karena sudah mulai jarang ketemu, jarang komunikasi, jadi canggung. Dah ayo keluar." kata Via sambil menarik tanganku.


"Sudah siap perjalanan jauh?" tanya mas Farhan saat melihatku.


"Semoga, soalnya kata Via 3 jam, aku nggak kebayang pegelnya di motor 3 jam." kataku.


"Kalau capek nanti bilang, kita bisa berhenti sejenak istirahat." katanya sambil tersenyum.


Dan senyum itu, membuat jantungku berdebar, benar-benar seperti awal perkenalanku dengannya.


Saat mas Iwan tiba di kos, kamipun langsung berangkat, karena seperti yang Via bilang, biar nggak terlalu panas di jalan.


Sekitar 1,5 jam perjalanan, aku minta mas Farhan untuk menepi, aku merasa mual, karena mereka memacu motornya dengan kecepatan yang nggak kira-kira menurutku, karena jalan memang masih cukup sepi.


"Mas, bisa tolong ambilin minyak kayu putih di tasku?" kataku sambil jongkok karena merasa sangat pusing.


Mas Farhan pun memberikan minyak kayu putih padaku. Saat sedang mengoleskan minyak ke pelipis, tiba-tiba aku mual dan akhirnya muntah. Mas Farhan memberikan tissue dan air mineral padaku.


"Masih kuat nggak? Mau istirahat dulu?" tanya nya.


Aku tidak mampu bersuara, lidahku terasa pahit, aku hanya menganggukkan kepala.


"Leren sek wae yo, aku khawatir Rania pingsan." kata mas Iwan.


"Ho oh, istirahat dulu, ra ketang 15 menit." sambung Via.

__ADS_1


"Maaf ya temen-temen, aku ringkih banget ya, malah ngabisin waktu ya? Maaf ya." ucapku pada mereka.


"Halah Ran, kita itu mau jalan-jalan, bukan mau kejar setoran, jadi waktu kita itu jane bebas, cuma tadi ngejer biar jalanan masih rodo sepi dan nggak patio panas. Kalau udah kesiangan biasane rame, tur panas." ucap mas Iwan.


"Ho oh, lagian kita dah sampe sini, santai dikit nggak papa." kata Via.


"Emang ini dimana?" tanyaku


"Ambarawa." jawab mas Farhan.


"Mau roti?" mas Farhan menawarkan roti padaku.


"Isi dulu Ran perutnya, kan abis muntah, nanti masuk angin." kata mas Iwan.


"Nanti muntah lagi." kataku takut kalau muntah lagi.


"Nggak wes, nanti kita pelanin jalannya." kata mas Iwan.


"Iya, nanti agak pelan aja, biar kamu nggak mual lagi." kata mas Farhan.


Aku pun mengambil roti yang di tawarkan.


"Kemanapun kita jalan-jalan, setiap kamu bawa bekal, roti cokelat ini nggak pernah tinggal ya. Favorit kah?" tanyaku pada mas Farhan sambil memakan rotinya.


"Iya, aku suka sama rasanya." jawabnya sambil senyum.


"Kalau ku ucapkan, mungkin orang bilang aku berlebihan, tapi aku memang tidak akan pernah mau membeli dan memakan roti itu lagi, jika memang nanti kami tidak bersama, karena itu akan mengingatkanku pada semua sikap manisnya setiap aku lagi mual atau sakit, dan disetiap perjalanan kami." ucapku dalam hati.


Akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan, dan kali ini kecepatan motor mas Farhan sedikit di perlambat, supaya aku tidak mual lagi. Dan sepanjang perjalanan setelah ambarawa, aku bersandar di punggungnya karena kepalaku benar-benar pusing, dan dia memegang tanganku, menjagaku agar tidak jatuh.



Via dan mas Iwan pun mengabadikan beberapa moment dengan berfoto.


Sementara aku dan mas Farhan melanjutkan mengelilingi dan melihat setiap ruangan yang ada sambil membicarakan beberapa hal.


"Hari ini, jangan membahas apapun yang bisa bikin sedih ya." kata mas Farhan memulai obrolan.


"InshaaAllah, tapi kalau boleh jujur, ngeliat kamu aja kadang aku sedih." kataku sambil tertunduk.


"Kenapa? Aku jelek ya?" tanya nya sambil tersenyum.


"Nggak lah, karena aku takut kalau kita nggak bisa ketemu lagi setelah aku wisuda."


"Stop, tadi kan aku udah bilang jangan bahas yang sedih." ucapnya sambil tersenyum dan menatapku.


Aku pun berhenti bicara, aku tidak tau apakah di luar sana ada orang yang bisa mendeskripsikan perasaanku saat itu, tapi jika aku boleh menjelaskannya, rasanya saat itu aku tidak berani bicara, karena setiap ingin mengeluarkan suara, aku langsung merasa tercekat, tenggorokanku terasa seperti di tekan, dan air mataku serasa ingin mengalir secara otomatis, dan kalau aku melihat wajahnya, senyumnya, rasanya aku ingin berlari sambil menarik tangannya, berlari sejauh yang aku mampu tanpa melepaskannya, berlari kemana saja, ketempat yang tidak ada ayah dan Bima, ketempat di mana orang-orangnya tidak mengenal kami, dan kami bisa memulai semua dari awal. Tapi itu hanya inginku. Harapku. Dan apa yang ku angankan sendiri.


Setelah puas berfoto Via dan mas Iwan mengajak kami ke simpang lima dan mereka kembali mengabadikanya melalui foto.


"Mau foto?" tanya mas Farhan padaku.


Aku tidak menjawab, aku hanya menggelengkan kepala. Rasanya sudah serba takut, aku tidak mau berfoto dengannya, karena nyaris 98% aku yakin bahwa itu hanya akan menjadi kenangan yang kelak akan menguras air mata lagi jika ku lihat.

__ADS_1


"Mas, aku jalan sendiri sebentar ya, sebentar saja, jangan ikuti aku." pintaku.


"Mau kemana?" tanya nya.


"Disitu aja." aku menunjuk ke arah rerumputan di lapangan simpang lima itu.


"Oke, aku tunggu disini."


Aku tidak peduli lagi apa kata mereka yang melihatku, aku hanya ingin menghilangkan sesak di dadaku, dari tadi sejak di lawang sewu aku menahan tangisan ku, terserah mereka mau mencibirku, toh mereka tidak bisa membantuku, aku hanya ingin mengeluarkannya saja. Dan akupun menangis dalam diam. Aku yakin mas Farhan memperhatikanku dari jauh. Iya, tak apa, asal dia tidak ada di hadapanku, dan tidak melihatku se rapuh ini, aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku. Biar aku merasakannya sendiri.


Setelah aku merasa lega, sesegukanku sudah hilang, aku kembali mendekati mas Farhan yang masih berdiri di tempat semula, dan ternyata Via dan mas Iwan pun ada disana.


"Ngapain disana Ran?" tanya mas Iwan.


"Nggak papa, ayo kemana lagi kita?" tanyaku memaksakan senyumku.


Ku lihat mas Farhan terus menatapku, memperhatikan mataku, tapi aku tidak berani menatapnya, mataku ku arahkan ke Via. Walau dari tepi mataku, aku masih bisa melihat jika pandangannya tidak lepas dariku.


"Jangan menangis di depannya lagi Rania, cukup sudah, tahan semampu mu, jangan membuatnya menangis lagi. Cukup sekali waktu itu dan terakhir." ucapku dalam hati.


Akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan ke destinasi terakhir, Masjid Agung Jawa Tengah, yang ternyata begitu megah menurutku. Kami sengaja sampai disana saat waktu dzuhur tiba, jadi kami bisa sekalian sholat disana.



Selesai sholat mas Iwan dan Via mengajak naik ke menara masjid. Dan aku baru tau kalau menara itu boleh di naiki, dan ada liftnya.


Sesampainya di atas menara aku merasa takjub melihat kota semarang yang terbentang luas, indah sekali, dan itu mengingatkanku pada awal pertemuan ku dengan mas Farhan, bukit bintang wonosari, melihat Yogya di malam hari, yang terbentang menyerupai bintang di langit, dan saat ini aku kembali melihat keindahan dari atas, hanya saja yang ku lihat kali ini adalah Semarang. Dan aku takut jika itu akan menjadi perjalanan terakhirku bersama mas Farhan.



"Bagus ya dek." kata mas Farhan mengagetkanku yang sedang merenungi takdir dan perjalanan cintaku.


"Iya, jadi inget setahun yang lalu, kita ketemu dan melihat Yogya dari atas di malam hari, dan hari ini kita melihat Semarang dari atas di siang hari." kataku.


"Selama jalan-jalan, mana tempat yang paling berkesan?" tanya nya.


"Semua." jawabku singkat dengan mata yang masih memandang lurus ke depan, melihat keindahan kota semarang.


"Dek." mas Farhan memanggilku.


"Iya, kenapa mas?" tanyaku.


Dan aku terkejut melihat matanya yang berkaca-kaca, aku sungguh kaget saat itu.


"Tadi aku memintamu untuk tidak mengatakan hal yang membuat sedih kan, tapi ternyata aku sendiri tidak bisa menyembunyikannya, kalau lah hari ini adalah hari terakhir pertemuan kita, aku minta maaf ya dek atas semua yang pernah aku lakukan, maaf jikalau aku selama ini mungkin ada salah, aku hanya manusia biasa yang sangat biasa, yang kadang tanpa ku sadari bisa membuat kesalahan kepada orang lain, terutama kamu. Maaf kalau aku tidak bisa banyak membantumu dalam meyakinkan ayahmu, maaf kalau sekiranya aku terlihat tidak mampu memperjuangkanmu, maaf jikalau kehadiranku di hidupmu justru menyematkan banyak kesedihan, aku minta maaf atas semuanya ya dek." ucapnya panjang lebar sambil menahan agar air matanya tidak menetes.


Dan aku bisa melihat itu, bisa merasakan itu


Aku yang dari tadi mendengar dan menatapnya sebenarnya sudah tidak sanggup lagi menahan tangisanku, tapi aku tidak boleh membuatnya semakin sedih.


"Aku juga minta maaf atas semuanya, maaf kalau pernah menyakiti mungkin tanpa aku sadari, maaf karena ayahku pernah berkata yang membuatmu sakit hati, maaf karena aku sering membuatmu khawatir." ucapanku berhenti sampai disitu.


Aku tidak sanggup bicara lagi, menelan ludah pun terasa sakit saat itu. Dan secara bersamaan kami mengalihkan pandangan kami, memilih untuk tidak saling menatap lagi. Karena pasti akan semakin sakit.

__ADS_1


"Sesakit apapun yang aku rasakan saat ini, tidak apa. Karena aku sudah mulai yakin, bahwa suatu saat nanti, banyak pelajaran yang bisa ku ambil dari kisah ini, doaku untukmu tak akan pernah putus mas, karena kelak hanya dengan itu aku bisa menjagamu dari jauh." ucapku lirih dalam hati.


Bersambung..


__ADS_2