
"Ramen, reneo Men ke kamarku (sini ke kamarku)." Via memanggilku sambil berbisik di depan pintu.
"Apa? Ngapain?"
"Ada Zahra di kamarku. Dia maen kesini, mungkin kamu mau ketemu."
"Nggak ah, ngapain? Kamu aja yang ngobrol, kan temenmu," ucapku nggak tertarik menemui perempuan itu.
"Tadi dia curhat sama aku, nangis, soal Mas Farhan."
"Hah? Nangis kenapa?" tiba-tiba aku pun penasaran mendengar ucapan Via.
"Katanya dia kangen sama Mas Farhan. Tapi nggak tau harus gimana. Aku belom bilang loh nek kamu sekarang pacare Mas Farhan," kata Via masih berbisik.
"Nggak usah, jangan bilang. Biar nanti kalau dia udah ketemu Mas Farhan. Biar Mas Farhan sendiri aja yang ngejelasin. Dia nggak perlu tau aku siapa nya Mas Farhan, bilang aja temen biasa gitu yah," pintaku pada Via.
"Lah ngopo? Mending aku bilangin lah, jadi biar dia tau kalau Mas Farhan udah ada yang punya, jadi dia nggak ngangenin pacar orang," ujar Via.
"Nggak usah, aku pengen liat nanti Mas Farhan mengakui aku sebagai apa ke dia," ucapku.
"Oh, yo wes. Ayo sini ke kamarku, ngobrol bareng."
"Iya nanti, aku tak urus tugasku bentar," jawabku.
Zahra, ternyata dia masih memiliki rasa sama Mas Farhan.
Kenapa kamu harus datang sekarang? Saat Mas Farhan sudah bisa melupakanmu. Saat Mas Farhan sudah mengosongkan hatinya dan menerimaku masuk di dalam hati itu. Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu saat aku belum kenal Mas Farhan, kenapa? Dan kenapa juga dunia ini sempit sekali rasanya. Kenapa harus temannya Via? kenapa aku harus bertemu dan mengenalnya juga? Sebenarnya apa skenario TUHAN di balik semua ini?
"Astagfirullah," ucapku lirih. Semua pertanyaan itu memenuhi pikiranku.
Beberapa saat kemudian akhirnya aku pun datang ke kamar Via. Ku ketuk pintu itu dan ku dorong perlahan. Aku melihat Zahra sedang memeluk Via dengan posisi membelakangiku. Via pun melambaikan tanganya menyuruhku masuk.
"Aku ganggu ya?" tanyaku.
"Nggak Men, masuk aja. Iki loh Zahra lagi curhat," kata Via santai.
"Oh, maaf Ran. Malah harus ngeliat aku cengeng begini, maaf," kata Zahra sambil buru-buru mengusap air matanya saat melihatku berdiri di depan pintu kamar Via.
"Nggak papa, luapkan saja apa yang mengganjal. Kalau menangis bisa melegakan, kenapa harus di tahan," ucapku mencoba untuk memahami perasaan Zahra saat itu.
"Ngomong-ngomong Rania kenal Mas Farhan dari mana?" tanyanya.
"Dari siaran radio," jawabku.
"Oh, dari dulu memang Mas Farhan suka sekali dengar radio," ucap Zahra.
"Kamu sendiri kenal Mas Farhan dari mana?" tanyaku.
"Dulu aku pernah ngajar les di salah satu tempat les kecil di daerah Sleman. Keponakan Mas Farhan les di situ juga. Mas Farhan sering anter jemput ponakanya. Akhirnya dari situ kami sering ngobrol." Zahra pun mulai bercerita.
"Anaknya Mbak Ani ya?" tanyaku.
"Iya, Rania kenal mbak ani juga?" tanyanya.
"Oh nggak, belum, cuma Mas Farhan pernah cerita."
"Rania sama Mas Farhan udah kenal berapa lama?" tanyanya.
"Hampir setahun iki, Mas Farhan sering rene terus ngajak jalan Rania," celetuk Via. Aku sedikit tersentak dengan ucapannya yang spontan itu.
"Rania pacaran ya sama Mas Farhan?" tanyanya. Aku bisa melihat rasa penasaran Zahra dari mimik mukanya.
"Nek misal iyo, piye perasaanmu (kalau misalnya iya, bagaimana perasaanmu)?" tanya Via to the point.
"Weh, kok gitu ngomongnya?" tanyaku dengan suara pelan tapi tegas agar Via menjaga sedikit kata-katanya. Aku takut Zahra curiga.
"Yo kan iki misale?" ucap Via sedikit bernada tinggi.
"Yo nggak papa, berarti Mas Farhan udah bisa menjalani hari yang baru dengan hati yang baru," jawab Zahra. Tapi aku yakin itu hanya ucapannya saja. Wajah itu terlihat seolah belum bisa menerima.
"Dulu kalian pacaran kah?" tanyaku.
"Nggak, cuma deket. Deket banget. tapi dia nggak pernah mengungkapkan apa-apa. Nggak pernah nembak dan memberi kepastian," jelas Zahra.
"Terus ngopo kok pas kamu pamit, Ibu Mas Farhan ngelarang kamu menghubungi Mas Farhan lagi?" tanya Via penasaran.
"Nggak usah diceritain ke Mas Farhan tapi yo kalau aku cerita ke kalian?" pinta Zahra sambil melihatku dan Via.
Aku pun mengangguk.
"Dulu, Ibu Mas Farhan sempat bilang, kalau Mas Farhan adalah anak yang paling diharapkannya untuk terus menjaganya di rumah itu. Memang Mas Farhan punya Mbak, ya mbak ani itu. Tapi Mbak Ani tinggal bareng sama mertuanya yang juga sudah tua. Jadi mbak Ani yang ngejagain mertuanya. Jadi bapak sama ibu Mas Farhan berharap Mas Farhanlah yang kelak akan menjaga Bapak dan Ibunya di rumah itu. Karena Kakak nomer dua dan Adek Mas Farhan tinggal jauh dari situ, jadi nggak bisa jagain Bapak sama Ibunya.
Katanya dulu sih gitu. Lagi pula Mas Farhan juga kayaknya yang paling gemati (telaten) sama Bapak dan Ibunya. Terus Ibunya memang sayang banget sama Mas Farhan lebih dari anaknya yang lain. Keliatan banget soalnya. Udah gitu Ibunya seakan menyiratkan kalau sudah punya pilihan untuk Mas Farhan dan dia berharap Mas Farhan beserta istrinya nantinya tinggal di rumah itu," Zahra menjelaskan panjang lebar.
Aku yang mendengar penjelasan Zahra seketika itu juga merasa gugup, gemetar, rasanya badanku tiba-tiba lemas.
'Sudah ada pilihan' itu yang terbayang-bayang olehku.
"Mas Farhan tau soal pilihan Ibune? Soal omongan Ibune ke kamu?" tanya Via pada Zahra.
"Nggak, Mas Farhan nggak tau. Aku nggak sempet bilang. Saat itu aku sedih banget, rasanya perasaanku pupus saat itu. Yaudah aku langsung memutuskan untuk menjauh. Kebetulan juga kan aku mau pindah ke Bogor, jadi aku nggak sempat menjelaskan apapun ke mas Farhan," ungkapnya.
__ADS_1
"Terus apa rencanamu sekarang Zah? Apa kamu mau mencoba memberi penjelasan ke Mas Farhan?" tanyaku.
"Eh, bentar Ran. Kamu sekarang hubunganya sama Mas Farhan apa? Bener kamu bukan pacar Mas Farhan? Nek aku cerita gini kamu beneran nggak papa?" tanya nya mencari kepastian.
"Nggak papa, aku sama Mas Farhan cuma temen deket aja kok. Nggak yang gimana-gimana," jawabku sambil memberi isyarat ke Via agar dia diam.
Aku hanya ingin mengorek beberapa hal dari Zahra, yang mungkin harus ku ketahui, sebelum semua perasaan ini terlalu dalam dan dalam lagi.
"Oh oke, ya aku belum punya rencana apapun. Tapi aku cuma pengen Mas Farhan memaafkanku karena dulu pergi tanpa pamit. Tapi aku nggak tau mau mulainya darimana, dan bagaimana cara menyampaikannya," jelasnya.
"Kenapa nggak SMS? kamu kan bisa ungkapkan semuanya, pasti di baca sama dia. Walau mungkin dia belum mau bales, tapi seenggaknya dia bisa tau apa yang sebenernya terjadi kan?" aku memberi saran pada Zahra.
"Aku udah nggak punya nomernya lagi. Dulu ada, tapi sudah hilang bersama hilangnya nomer lamaku," jawab Zahra.
"Nih aku kasih, bilang aja dapet dari Rania," ucapku.
Akupun melihat Via memberikan isyarat kepadaku untuk jangan melakukan hal itu. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku akan menjelaskan ke Via nanti setelah Zahra pulang. Itu rencanaku.
"Serius Ran?" tanya Zahra.
"Iya, sini HPmu. Aku simpenin nomer Mas Farhan."
"Makasih banyak ya Ran, maaf banget, kita baru kenal tapi malah aku wes curhat banyak hal. Soale selama ini semuanya aku pendam sendiri," ucapnya.
"Sama-sama, besok-besok kalau butuh temen curhat lagi, kesini aja," kataku menawarinya.
Lama kami ngobrol ngalor ngidul, yang tadinya bahas Mas Farhan, sampai bahas hal yang lainnya.
Sampai akhirnya Zahra pun pamit pulang.
Setelah Zahra pulang Via langsung menodongku dengan banyak pertanyaan dan ocehanya.
"Kowe ki piye sih(kamu tuh gimana sih)? Dia itu kan bisa dibilang mantanne Mas Farhan. Terlepas dulu namanya pacaran apa bukan. Tapi kan dulu mereka sama-sama punya rasa, terus dia menghilang. Mas Farhan masih menunggu dan mencarinya. Terus sekarang Mas Farhan kayake dah bisa ngelupain dia dan menyematkan nama Rania di hatinya. Lah kok malah kamu ngasih Zahra kesempatan untuk berhubungan lagi sama Mas Farhan ki maksudmu piye? Maen api itu namanya Ran, nek mereka balikan piye jal (kalau mereka balikan gimana coba), gemes aku! Cecar nya.
"Tadi kamu denger kan penjelasan Zahra, di sana ada kalimat kalau ibunya Mas Farhan sudah menyiapkan pilihan untuk mas Farhan. Itu berarti ada perempuan yang disiapkan Ibunya untuk mas Farhan. Berarti nasibku bisa jadi akan sama kayak Zahra Vi. Coba kalau tadi aku bilang aku pacar Mas Farhan. Zahra nggak mungkin akan cerita sedetail itu, dan aku nggak akan tau soal Ibunya Mas Farhan ini. Kenapa aku ngasih nomer Mas Farhan, maksudku biar Mas Farhan menuntaskan hubunganya dengan Zahra se tuntas-tuntas nya. Jangan ada yang ngegantung, ngambang tanpa kejelasan. Kalaulah nanti Zahra menghubungi Mas Farhan aku yakin 100% Zahra akan nanya ke Mas Farhan tentang siapa aku, dan aku pengen tau apa kata mas Farhan. Dia akan mengakui aku ini sebagai apa dihadapan Zahra. Kalau ternyata Mas Farhan tidak mengakui, atau malah mungkin nanti mereka balikan. Ya berarti aku sama Mas Farhan nggak jodoh. Berarti memang perasaan Mas Farhan masih lebih besar ke Zahra, paham ndak?" jelasku panjang lebar sampai tenggorokanku terasa tercekat. Aku menahan tangisan di dadaku.
Jujur tanpa sadar aku merasa takut, takut kalau apa yang di katakan Via terjadi. Mas Farhan kembali pada Zahra, atau justru Mas Farhan bersama dengan pilihan Ibunya. Berarti apapun yang terjadi diantara dua hal itu, aku harus siap. Aku harus legowo.
"Maaf yo Ran, aku wes ngoceh-ngoceh. Harusnya aku nggak ikut campur dan nggak bikin kamu jadi bingung begini," kata via sambil memelukku. Aku yakin dia melihat mataku berkaca-kaca.
"Nggak papa Vi, aku tau kamu sayang banget sama aku. Kamu nggak mau aku sedih. Kamu pernah menjaadi tempatku mencurahkan perasaan sedihku sebelumnya."
"Iya, aku nggak mau kamu mengalaminya lagi, aku nggak mau kamu sedih kayak waktu hubungamu sama Bima kandas. Padahal semua baik-baik saja, tapi mungkin juga karena belum jodoh dan cara Bima yang asal pergi tanpa pamit juga bikin kamu merasa seolah nggak dihargai, nggak dianggep. Walau aku tau perasaanmu sama Bima dulu nggak sedalam perasaanmu sama mas Farhan saat ini. Aku bisa lihat itu," ucapnya menguatkanku.
********
Malamnya aku menghabiskan waktu dengan menikmati lagu-lagu dari radio. Seharian itu Mas Farhan belum menghubungiku. Mungkin dia sibuk. Tadi siang aku sempat menyapa, tapi tidak ada balasan. Yah, biarkan saja, aku bukan tipe perempuan yang suka memaksakan kehendak. Kalau aku sudah mencoba melakukan sesuatu, tapi ternyata tidak ada respon, ya sudah. Aku akan membiarkannya begitu saja. Akan aku tunggu selama aku mampu.
********
*********
Terjadi lagi, tiga hari setiap Zahra muncul di depanku, Mas Farhan menghilang dariku. Tapi anehnya, yang kemarin ketemu Zahra kan aku, bukan dia. Tapi kenapa dia lagi yang menghilang. Seperti biasa, aku memilih menunggu. Tanpa memulai menghubungi atau mencari berlebihan.
Pagi itu aku memutuskan untuk cuti satu hari, aku mau mengistirahatkan otak dulu. Rencanaku mau baca komik atau novel saja di kos. Sambil di temani radio kesayanganku.
"Ran, Rania, ada tamu," panggil salah satu anak kos namanya Nuri.
"Iya Nur, bentar," jawabku sambil membuka pintu.
"Siapa?" tanyaku.
"Mas-Mas yang biasa kesini jemput kamu," katanya.
Itu Mas Farhan.
"Oke makasih Nur," kataku sambil berjalan menuju pintu depan.
Benar, Mas Farhan tiba-tiba datang setelah tiga hari menghilang. Ini kebiasaan atau apa sih sebenarnya. Ah, entahlah.
"Mas, apa kabar?" Sapaku saat menemuinya di teras.
"Alhamdulillah baik, udah mandi?" tanyanya.
"Udah, kenapa?" tanyaku sedikit lesu.
"Ganti baju panjang, celana panjang, jaket, terus ikut mas," katanya.
Kali ini aku tidak bertanya, dan kali ini aku tidak begitu terkejut, karena aku sudah mulai terbiasa dengan sikap dia yang seperti ini. Aku langsung masuk dan bersiap.
Setelah aku siap kamipun berangkat. Saat itu pukul 09.00, entah dia mau bawa aku kemana. Seperti biasa aku ikut saja.
Sumpah! Ini perjalanan jauh lebih lama dibanding ke Pantai Gunung kidul. Jauh lebih berliku dan menajak. Bahkan ada beberapa belokan tajam yang benar-benar membuatku mual.
"Mas berhenti dulu ya, aku mual banget," pintaku sambil menepuk pundaknya.
Mas Farhan pun menghentikan motornya perlahan.
Aku benar-benar muntah kali ini. Banyak cairan yang aku keluarkan,
Dan seperti biasa Mas Farhan sudah siap dengan air minum dan semua perbekalannya.
__ADS_1
"Sanggup nggak kalau lanjut?" tanya nya.
"Masih jauh banget nggak?" tanyaku sambil menahan mual.
"Nggak, sekitar 15 menit lagi. Nanti pegangan aja yah," ucapnya
Beberapa menit kemudian kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan aku hanya memejamkan mata. Bersandar di punggungnya, dan dia memegang tanganku seperti biasa setiap aku merasa pusing.
Akhirnya kamipun sampai, dan aku terbelalak melihat pemandangan yang ada di depanku. Aku nggak tau ini dimana. Hanya saja tadi aku sempat membaca tulisan Godean, Sentolo, dan entah apa lagi.
Setelah turun dari motor dia memegang tanganku. Kami pun berjalan menuju tangga yang dari bawah terlihat sangat-sangat tinggi, dan sepertinya diatas ada semacam gazebo. Kami menaiki tangga itu perlahan, saat aku terlihat lelah dia memberhentikan langkahnya. Kalau sekiranya aku sudah bisa diajak naik lagi, dia akan memegang tanganku lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Akhirnya kami sampai di atas. Benar ternyata ada sebuah gazebo di sana, aku bisa sedikit melihatnya tadi. Sesampainya di atas mataku semakin terbelalak saat melihat pemandangan sekitar. Aku merasa seperti di atas awan. Kabut tebal, suhu yang luar biasa dingin.
"Ini dimana mas?" tanyaku.
"Puncak Suroloyo," jawabnya sambil tersenyum.
"Gila! Ini tuh tinggi banget. Kayak diatas awan," ucapku takjub.
"Kalau nanti kabut itu hilang, kita bisa liat semua kota Yogya dari sini, bahkan kita bisa liat Candi Borobudur juga," jelasnya.
"Oh ya? Keren banget. Sering kesini?" tanya ku.
"Baru kali ini," jawabnya sambil menatapku.
"Hah? Bisa tau jalannya gitu?"
"Kemaren nanya-nanya sama temen, dan tadi juga sebelum pergi udah dikasih arahan lewat SMS. Tadi pas berhenti sempet tak baca lagi," jelasnya.
"Gila! Niat banget, emang udah lama pengen kesini apa gimana?"
"Udah sering denger cerita temen tentang tempat ini, dan sepertinya keren, yaudah nyoba aja."
"Kalau ternyata tadi nyasar gimana coba?" godaku.
"Nggak papa, kan nyasarnya bareng dek Rania," jawabnya sambil melihat wajahku.
Ayolah Rania, di sini tuh dingin banget. Bisa-bisanya pipimu terasa panas tuh kenapa? Pipimu merah Rania.
"Bisa ya, pinter gombal ternyata," ucapku menggodanya.
"Aku nggak pernah gombal, dan aku nggak bisa mengatakan hal semacam itu kepada asal perempuan," ucapnya dengan wajah serius.
"Oh ya? Jadi aku bukan asal perempuan ya?" tanyaku sambil tersenyum menatap lekat wajahnya.
Dia pun terdiam. Hanya tersenyum manis, dan aku bisa melihat gelagat malu dari pandanganya.
"Dek, kamu ngasih nomer ku ke Zahra?" tanya nya saat kami sudah duduk di bangku yang tersedia di gazebo itu.
"Hah? Iya, dia menghubungimu?" tanyaku penasaran.
"Iya, dia SMS aku, menjelaskan apa yang dulu pernah terjadi. Sampai akhirnya dia pergi tanpa pamit."
"Lalu?"
"Nggak aku bales, aku baru tau soal apa yang pernah Ibuku katakan padanya."
"Hah? Terus?" tanyaku kaget.
"Aku nggak tau apa maksud Ibu, dan aku nggak tau perempuan mana yang Ibu maksud," katanya sambil melihat ke arahku.
"Lalu kalau ternyata perempuan itu memang ada bagaimana?" tanyaku.
"Suatu saat akan kutanyakan pada Ibu soal itu," jawabnya singkat.
Aku bingung mau ngomong apa saat itu. Aku benar-benar takut. Takut kalau ternyata aku akan kehilangan Mas Farhan. Hanya hal itu yang terbayang olehku.
Aku pun berdiri dari bangku itu. Aku berjalan ke tepi gazebo, meletakkan tanganku di tepian kayu yang mengelilingi gazebo itu.
Jangan nangis dulu Ran, kisah ini sepertinya masih panjang, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Jangan membayangkan yang tidak-tidak. Tenangkan hatimu. Aku memandang jauh ke depan, sambil menahan tangis dan menahan sakit di tenggorokanku.
Aku terkejut saat kedua tangan Mas Farhan tiba-tiba melingkar di leherku. Dia memelukku dari belakang, dan kedua tanganya benar-benar mendekapku.
"Kita nggak pernah tau cara Tuhan menentukan jodoh. Kalau ternyata kita jodoh, alhamdulillah. Tapi kalau bukan, tetaplah menjadi Rania yang ceria, yang selalu tersenyum. Karena kamu nggak akan pernah tau, kalau ternyata senyummu bisa memikat hati seseorang. Jodoh itu mutlak Allah yang punya ketentuan. Kita cuma bisa menjalani dan berdoa, kalau selama ini kamu berdoa dengan menyertakan namaku, tapi ternyata belum jodoh. Siapa tau jodohmu adalah orang yang menyertakan namamu dalam setiap doanya. Ya kan dek?" ucapnya tanpa melepaskan dekapan itu.
Oh Tuhan, aku bener-bener nggak tau harus bilang apa, harus ngomong apa, entah kenapa ada sesak menyelinap di dadaku. Suaraku rasanya hilang. Berkali-kali aku mencoba menarik nafas agar sedikit merasa lega.
"Kalau ternyata perempuan itu ada, dan Ibu Mas Farhan meminta Mas Farhan bersamanya, apa mas Farhan akan langsung menerima?" tanyaku dengan suara bergetar.
Dia tidak langsung menjawabnya, dia hanya diam dan semakin menguatkan dekapannya. Sungguh hal itu semakin membuat hatiku nggak karuan. Rasanya nyeri Ya Tuhan.
"Aku akan mencoba sebisaku untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi pilihan hatiku, dan sebisa mungkin untuk tidak membuat sakit hati seorang Ibu. Karena bagaimanapun, kedudukan ibu jauh lebih tinggi menurutku."
Satu sisi aku sedih dan sakit, tapi sisi lain aku bangga karena Mas Farhan bukan tipe laki-laki yang egois. Baginya kemuliaan tertinggi tetaplah Ibu. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya.
Oh Rania, siapkan hatimu. Siapkan jantungmu, untuk apapun akhir dari kisahmu nanti. Jangan memaksa, jangan egois. Kuat kan hati, perbanyak doa.
Tapi jujur saja kali ini, benar-benar terasa sakit, belum terjadi pun sudah terasa sangat sakit.
"Terimakasih sudah mencintaiku dan mau mengukir sebuah kisah denganku mas," ucapku sambil memegang kedua tangannya yang masih berada di leher dan dadaku.
__ADS_1
"Jangan sedih, perjuangan itu belum dimulai. Yakinlah, kalau jodoh kita pasti bersama," ucapnya sambil mencium rambutku dari belakang.
Bersambung...