
Minggu pertama di bulan maret 2010.
Mas Farhan mengajakku ke sebuah tempat wisata yang sedikit berbeda. Kali ini dia mengajakku ke air terjun. Namanya air terjun Kedung Kayang di Magelang.
Hari itu kami pergi dari jam delapan pagi, kata Mas Farhan petualangan kali ini akan sedikit memakan waktu. Terutama saat nanti menuruni jalan yang cukup terjal saat menuju ke air terjunnya. Membayangkannya pun aku sudah merasa lelah sebenarnya. Tapi kali ini bersama dia, dia yang sangat kusayangi. Jadi sepertinya aku akan baik-baik saja.
************
Benar saja, saat sampai di lokasi aku sudah ketakutan duluan. Aku takut pingsan, karena jalan yang kami turuni benar-benar terjal berbatu, dan itu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Astagfirullah Rania! Anak rumahan kok nekad ikut ke tempat beginian? apa kamu pikir asal perginya sama Mas Farhan kamu nggak akan capek gitu? Tetep aja capek Ran. Kamu kira mentang-mentang kamu pergi bersama Mas Farhan, kamu akan langsung memiliki kekuatan super begitu? Nggak mungkin Rania.
Sepanjang perjalan menuruni jalan setapak berbatu itu, Mas Farhan selalu memegang tanganku. Karena ada beberapa batu licin yang harus dilewati. Selain itu juga ada tanah yang becek, dan itu sangat mengerikan bagiku.
Kalau dihitung mungkin setiap lima menit aku minta berhenti untuk istirahat. Karena memang sungguh sangat melelahkan. Aku sampai merasa kakiku tidak bisa berjalan lagi. Tapi Mas Farhan sabar menungguku untuk melanjutkan perjalanan, dan dia selalu menyemangatiku dengan bilang kalau semua kelelahan ini akan terbayar nanti ketika sudah sampai. Oke baiklah sayang, aku percaya sama semua ucapanmu.
Benar saja, apa yang kulihat membuatku sungguh takjub. Air terjun yang begitu tinggi, batu-batu besar yang berada di bawahnya tak kalah menarik. Dengan ketinggian seperti itu membuat air yang jatuh dan mengenai batu besar di bawahnya pun menghasilkan percikan seperti embun yang lumayan tebal. Jika kita berdiri lebih dekat maka air yang jatuh akan langsung membasahi tubuh kita, dan itu terasa sangat-sangat dingin.
"Bagus kan?" tanya Mas Farhan.
"Banget!" jawabku sambil ngos-ngosan karena perjalanan yang begitu penuh rintangan itu, aku pun duduk di salah satu batu.
"Ini minum dulu, istirahat dulu." Mas Farhan menawarkan air mineral padaku yang memang sudah dibawanya sejak dari rumah.
"Sumpah capek banget. Asli rasanya tadi nggak kuat, mau nangis," kataku sambil menetralkan nafas dan minum air yang diberikan Mas Farhan.
"Tapi apa yang didapat indahkan? Cukup terbayar kan lelahnya?" tanyanya sambil tersenyum.
Demi apa? Mas Farhan sama sekali nggak keliatan capek. Gilak!
"Bawa baju ganti nggak?" tanyanya.
"Bawa, kan kemaren mas udah pesen harus bawa baju ganti, ni ada di ransel," jawabku.
Ya, hari ini aku membawa ransel yang isinya baju ganti, jaket, dan sendal jepit. Karena kemarin Mas Farhan berpesan di SMS, katanya harus bawa baju ganti dan sandal, karena pasti basah-basahan.
"Mau ke deket air terjunnya nggak?" tanya Mas Farhan setelah melihatku sudah tidak begitu ngos-ngosan lagi.
"Boleh," jawabku bersemangat.
Kami pun berjalan mendekat ke air terjun, dan benar saja bajuku langsung basah kena cipratan air yang menghantam batu.
"Sumpah ini dingin banget yah, keren!" ucapku sambil mendekap diriku sendiri dengan kedua tanganku.
Betapa terkejutnya aku saat Mas Farhan memelukku dari belakang, dia melingkarkan tangannya seolah menutupi tubuhku agar tidak kedinginan. Saat itu dia masih mengenakan jaket parasut hitam yang dipakainya dari tadi.
Aku pun mendongak dan sedikit memutar kepalaku agar bisa melihat wajahnya, dia pun reflek menundukan kepalanya melihat wajahku, mata kami pun bertemu.
"Terimakasih," ucapku.
Dia tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum dan kembali melihat air terjun yang ada di depan kami.
Ada yang tau perasaanku saat itu? Susah sekali rasanya untuk digambarkan. Hanya aku, dia, dan Tuhan sajalah yang tau.
Kami pun sempat berfoto beberapa kali, secara bergantian. Entah kenapa kali ini Mas Farhan berinisiatif membawa kamera digital kecil miliknya.
Ah, semakin kesini kenapa semua sikap dan caranya semakin romantis sih? Sadar nggak sih dia, kalau apa yang dia lakukan sering membuatku girang sendiri. Senyum sendiri, dan sering membayangkan semuanya sendiri ketika sedang berada di kamar.
Beruntungnya kamu Rania, tidak melewatkan acara radio waktu itu. Andai kamu lewat 1 menit saja, kamu nggak akan pernah kenal dengan Mas Farhan ini. Kini dia yang hanya pernah kau dengar namanya sudah berdiri mendekapmu, membiarkan hatinya terisi olehmu, menyayangimu dengan rasa yang sederhana namun terasa begitu istimewa.
"Di atas tadi ada warung, ada toiletnya juga. Nanti bisa numpang ganti baju di sana, kalau sekarang mau lebih mendekat lagi ke air terjunnya boleh," ucapnya.
"Nggak ah, cukup di sini saja," ucapku sambil memegang tangannya yang melingkar di leherku.
Setelah puas berdiri sambil merasakan percikan air. Mas Farhan pun mencari batu yang sekiranya nyaman untuk diduduki.
__ADS_1
Akhirnya kami pun duduk bersebelahan, di sebuah batu yang cukup lebar yang agak sedikit jauh dari air terjunnya. Tiba-tiba tangan kanannya meraih bahuku. Menarikku perlahan, lalu tangan kirinya memegang kamera dan mengarahkan lensanya ke arah kami.
"Foto sekali ya," pintanya.
Aku pun melihat ke arah kamera sambil tersenyum.
"Buat kenang-kenangan," katanya.
"Hah? Gimana? Kenangan?" tanyaku kaget mendengar ucapannya.
"Oh, maksudku kenangan kalau kita pernah kesini," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh kirain mau menjadikanku sebatas kenangan saja," jawabku sambil menunduk. Jujur saja mendengar kata 'kenangan' saat sedang berhubungan dengan Mas Farhan adalah salah satu hal yang paling aku takuti. Sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa membawanya sebatas menjadi kenangan saja.
"Sensitif ya ternyata pacarku, gini ya kalau udah jadi pacar ternyata. Takut banget sama hal-hal yang menjurus ke arah perpisahan gitu." Dia menggodaku.
"Ya iyalah, nggak ada orang pacaran yang pengen pisah, pengennya stepnya tuh abis pacaran ya menikah," ucapku serius.
"Mau?" tanyanya.
Nah Rania! Ditanya mau apa nggak gelagapankan? Nggak bisa jawab kan kamu Ran? Lagian mancing-mancing ke arah sana sih. Udah tau kalau dia sudah sangat siap sedia untuk hal itu. Malah nyeletuk ke arah sana. Raniaaa, Rania.
"Ya mau, nanti kalau sudah waktunya," jawabku sekenanya.
"InshaaAllah," katanya sambil tersenyum menatapku.
"Eh dek tunggu di sini bentar ya, aku tak sedikit mendekat ke air terjun bentar, titip ini," katanya sambil berdiri dan menyerahkan tas ranselnya padaku.
Saat Mas Farhan berjalan menjauh. Ku lihat ternyata dia naik ke atas batu besar di dekat air terjun, dia mengambil foto air terjun itu dari dekat.
Tak lama kemudian tiba-tiba aku merasakan getaran di ransel Mas Farhan yang dari tadi ku pangku. Aku pun mencoba membuka ransel itu. Ternyata ada SMS masuk di HPnya, dan aku memberanikan diri untuk membukanya. Ternyata itu adalah SMS dari Zahra. Hah? Zahra?
"Jadi ketemuan malam ini? Jam 7 kan? Di alun-alun utara?" isi SMS itu.
Aku pun kaget karena Mas Farhan nggak bilang apapun sama aku dari tadi kalau dia janjian sama Zahra. Ku baca inbox lainnya. Ternyata mereka janjiannya kemarin.
Saat itu rasanya aku ingin sekali membalas SMS itu, dan bilang kalau Mas Farhan sedang bersamaku. Aku yang sedang memegang HPnya. Ya, biar Zahra tau kalau aku sedekat itu dengan Mas Farhan.
Tapi ku urungkan niatku. Karena aku merasa itu akan terlihat sangat lancang. Lagi pula signal hp Mas Farhan mendadak hilang setelah itu.
Tak lama kemudian Mas Farhan pun kembali. Dia berjalan mendekat ke arahku, dan HPnya sudah ku kembalikan lagi ke ransel beberapa menit sebelumnya. Jadi dia tidak melihatku membuka HP itu.
Lah, tapi inboxnya udah aku buka, gimana donk ya? Ah masa bodo lah, semoga dia nggak sadar akan hal itu.
Setelah selesai menikmati pemandangan di Kedung Kayang, tepatnya jam dua siang. Mas Farhan pun mengajakku naik dan kami meninggalkan air terjun yang indah itu. Sama seperti tadi, rasanya aku tidak sanggup untuk berjalan sampai ke atas. Bahkan kali ini rasanya dua kali lipat lebih melelahkan dibandingkan turunnya tadi.
Tapi akhirnya kami pun sampai di warung yang dimaksud Mas Farhan. Walaupun rasanya aku benar-benar sudah tidak kuat lagi. Bahkan melangkahpun rasanya berat.
Akupun menumpang toilet di warung itu untuk ganti baju. Selesai ganti baju Mas Farhan mengajakku keluar dari lokasi. Kami mencari Masjid untuk sholat dzuhur dan cari tempat makan. Karena dari pagi kami hanya makan roti dan air putih yang dibawa Mas Farhan.
Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan pulangnya lumayan lama, karena Mas Farhan tidak memacu motornya secepat biasanya.
Ternyata kami tiba di Yogya sekitar pukul empat sore. Kami pun kembali berhenti di Masjid untuk sholat ashar.
Kalau soal sholat, Mas Farhan memang jauh lebih rajin daripada aku. Sangat kuakui itu. Kemanapun kami pergi jalan-jalan, yang namanya sholat itu nggak pernah tinggal sama sekali.
Dia pernah bilang padaku,
"Sholat itu wajib. Siapapun kamu, bagaimanapun caramu menjalani hidup, selama kamu Islam itu artinya kamu wajib sholat. Lagi pula mengerjakannya pun tidak lama, lantas kenapa kita harus meninggalkannya? Kita ngobrol, main, bahkan jalan-jalan bisa sampai berjam-jam. Masa' Sholat yang hanya lima sampai sepuluh menit saja kok mau ditinggal? Dilupakan? Dilalaikan? Yang sholat lima waktu saja belum tentu masuk surga. Apalagi yang melalaikannya.
Kalimat yang diucapkannya itu semakin membuatku merasa bahwa cintaku tidak salah berlabuh.
Setelah selesai sholat ashar dia mengajakku melanjutkan perjalanan, aku pikir dia mau langsung mengantarku pulang ke kos. Ternyata tidak, dia mengajakku ke Alun-Alun Utara terlebih dahulu.
"Kita nyore di sini dulu yah, nanti maghrib di Masjid itu. Abis itu baru tak anter pulang," katanya sambil menunjuk ke arah Masjid Gedhe yang ada di komplek alun-alun. Masjid kenangan kami, Masjid yang masih membuatku terkenang akan sosoknya sampai hari ini.
__ADS_1
Aku pun mengangguk.
Tapi, bukankah dia janjian sama Zahra ya nanti pukul 19.00. Kok malah dia mau anter aku ke kos abis maghrib? Apa ya dia lupa sama janjinya ke Zahra ya? Ah terserah deh. Memang kalau mengikuti inginku, aku nggak mau mereka ketemu lagi. Maaf Zahra aku egois. Untuk seorang Zahra keegoisanku cukup terasa. Memang aku takut kalau mereka dekat lagi. Aku masih kurang percaya diri saat itu. Karena aku tahu kalau Zahra pernah menjadi pengisi hati Mas Farhan dalam waktu yang jauh lebih lama daripada aku saat itu.
Tanpa terasa maghrib pun tiba, selesai sholat maghrib kami tidak langsung keluar dari Masjid. Kami duduk dulu di pelataran masjid itu.
Masjid Gedhe Kauman ini letaknya benar-benar di jantung Kota Yogya, jadi memang nggak pernah sepi. Selalu ramai pengunjung, dari mulai orang asli Yogya sampai wisatawan yang jalan-jalan ke Malioboro dan sekitarnya pun selalu mampir ke sini.
Kulihat Mas Farhan mengeluarkan HP dari ranselnya, dan dia mengetik sesuatu.
Apa Zahra SMS lagi ya? Lalu mereka akan ketemuan di Alun-Alun utara ini. Lantas aku bagaimana?
"Dek, yuk, ikut," ajak Mas Farhan sambil berdiri.
Aku pun mengikutinya ke parkiran, dan kami melanjutkan perjalanan lagi. Lagi-lagi, ku kira dia akan mengantarku ke kos. Tapi ternyata dia mengajakku balik lagi ke tengah lapangan Alun-Alun Utara, dan berhenti sekitar 20 meter dari pohon beringin yang ada di sana.
Saat itu aku turun dari motor, dan duduk di pinggir pagar yang mengelilingi pohon beringin itu. Ku lihat Mas Farhan masih duduk di motornya.
Dia mau ngapain sih? Kok tumben dia nggak nyusul aku untuk duduk di sebelahku.
Tapi tak lama kemudian datanglah sebuah motor dan berhenti persis di sebelah Mas Farhan. Ternyata itu adalah Zahra.
Aku sangat terkejut saat itu. Kok Mas Farhan jadi janjian sama Zahra, tapi tidak mengantarku pulang ke kos dulu?
Aku memutuskan untuk tetap berada di tempat dudukku, ku lihat mereka turun dari motor masing-masing dan bicara. Entah bicara soal apa, aku tidak bisa mendengarnya. Karena aku duduk cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
Sekitar sepuluh menit kemudian tiba-tiba ku lihat Mas Farhan berjalan menuju ke arahku.
"Dek, ayok," ajaknya sambil perlahan menarik tangan kananku.
Aku pun terkejut dan langsung berdiri lalu berjalan mengiringinya.
"Rania?" sapa Zahra dengan ekspresi terkejut.
"Zahra," balasku sambil tersenyum.
"Seperti yang aku bilang tadi, terimakasih atas penjelasanmu tentang apa yang pernah terjadi, mungkin kita bisa menjadi teman setelah ini," Ucap Mas Farhan pada Zahra.
"Terimakasih juga sudah mau mendengarkan penjelasanku mas, dan selamat karena sudah menemukan hati yang baru," ucap Zahra tersenyum sambil menatapku.
"Rania maaf ya, sudah mengganggu waktu kalian. Yang jelas aku sudah lega sekarang karena sudah punya kesempatan bicara sama Mas Farhan. Sekarang aku tau yang dari tadi dia maksud itu ternyata kamu," ucap Zahra dengan wajah yang sedikit sendu. Ya, aku bisa melihat itu. Walaupun aku ini tipe perempuan yang kurang peka dan cuek (kecuali saat bersama Mas Farhan). Tapi untuk ekspresi wajah seseorang, aku masih sangat bisa membacanya. Melihat wajah Zahra, aku pun bisa tau bagaimana perasaannya saat itu.
Selama pembicaraan itu terjadi Mas Farhan sama sekali tidak melepaskan genggaman tanganya dari tanganku. Jujur saja, itu membuatku agak canggung di hadapan Zahra. Karena aku pernah bilang kalau aku sama Mas Farhan hanyalah teman biasa. Tapi sepertinya Mas Farhan sudah mengatakan hal yang sebenarnya.
"Yaudah Mas, Ran, aku pulang dulu ya. Oh ya Rania, aku titip Mas Farhan ya, jaga dia baik-baik. Karena Mas Farhan adalah laki-laki yang sangat baik."
Aku bisa melihat mata Zahra berkaca-kaca. Aku bisa merasakan kesedihannya, dan semua yang pernah terjadi dulu bukan salahnya. Tapi keadaanlah yang membuat mereka harus berpisah. Zahra, maafkan aku.
"Hati-hati dek," ucap Mas Farhan pada Zahra.
"Hati-hati ya Zah," ucapku.
Zahra pun berlalu meninggalkan kami dan aku langsung mendongakkan kepalaku melihat Mas Farhan. Dia pun langsung membalas tatapanku.
"Aku sengaja nggak bilang ke kamu kalau aku janjian sama Zahra disini, dan memang janjiannya sudah dari kemarin. Aku memang sudah berencana ngajak Dek Rania. Aku mau mendengar langsung penjelasan Zahra, dan aku juga mau memberi tahu pada Zahra bahwa di hatiku sudah ada orang lain. Supaya dia nggak berharap lagi padaku," jelasnya panjang lebar tanpa aku bertanya.
Aku bingung harus bahagia atau bagaimana. Satu sisi aku bahagia karena Mas Farhan sudah benar-benar mengakuiku sebagai kekasihnya. Waktu itu di hadapan Sekar, hari ini di hadapan masa lalunya Zahra. Tapi sungguh aku kasihan pada Zahra, karena tadi aku bisa melihat betapa sedih raut wajahnya. Mungkin jika aku jadi dia, aku akan menangis sejadi-jadinya. Bayangkan saja, seseorang yang pernah memenuhi hati kita. Lalu dipisahkan oleh keadaan, saat ada kesempatan bertemu lagi ternyata sudah menjadi milik orang lain. Hatinya sudah pernah kosong dan dipenuhi oleh orang lain. Yang lebih menyesakkan lagi adalah orang lain itu dibawa ke hadapan kita. Bagaimana rasanya? Porak-poranda sudah, dan aku sungguh tidak menyangka jika Mas Farhan bisa merencanakan hal itu.
"Terimakasih karena sudah benar-benar mengakui keberadaanku," hanya itu yang bisa kuucapkan pada Mas Farhan saat itu.
Dia pun tersenyum dan menggenggam kedua tanganku. Tatapannya terlihat begitu tulus, membuatku merasa kalau dia sudah benar-benar mencintaiku. Semoga ini bukan hanya perasaanku saja. Mas Farhan bukan orang yang mudah jatuh cinta. Bukan pula orang yang mudah menyatakan perasaanya. Tapi padaku, dia menyatakannya, mengakuinya, bahkan memastikannya.
Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan, dan kali ini benar-benar pulang ke kosku.
Salah satu hal yang mengganjal di pikiranku selama ini sudah selesai, Zahra sudah tau siapa aku. Zahra sudah tau bahwa perasaan Mas Farhan kepadanya sudah hilang, dan itu membuatku lega. Jadi aku tidak perlu berpura-pura lagi ketika kelak bertemu Zahra.
__ADS_1
Zahra, andai aku tau apa saja yang sudah dikatakan oleh Mas Farhan waktu itu, andai aku bisa tau bagaimana perasaanmu sesungguhnya saat itu. Andai aku bisa tau apa yang terjadi padamu setelah pulang dari tempat itu. Andai aku tau apakah kamu sempat memakiku dalam hati? Apakah kamu sempat mengumpatku? Apakah kamu justru sempat benci padaku? Zahra, andai suatu saat bisa bertemu denganmu aku ingin meminta maaf secara langsung. Dia, yang terindah itu ternyata sama-sama menjadi masa lalu kita.
Bersambung....