
Hari itu 15 mei 2010, dua hari sebelum ulang tahun mas Farhan, walau tidak ada rencana untuk memperingatinya, apalagi merayakannya, tapi aku ingin memberikan sesuatu padanya, setelah beberapa bulan yang lalu aku pernah memberinya kemeja abu-abu, sekarang entah kenapa aku sangat ingin memberinya sebuah jam tangan.
Aku pernah melihat satu jam tangan keren yang terpajang di etalase sebuah toko arloji di daerah Malioboro. Harganya lumayan lah untuk seorang anak kuliah yang masih mengandalkan kiriman orang tua seperti ku. Jadi setelah melihat jam itu aku memang berencana untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membelinya, dan hari ini uang itu sudah cukup. Semoga saja jam tangan itu masih ada.
Aku pun mengajak Via untuk menemaniku ke toko arloji itu. Dan seperti biasa, sahabatku yang satu ini selalu setia menemani, tidak pernah menolak dan tidak pernah banyak alasan. Sekitar jam 2 siang kami pun pergi ke Malioboro, dan langsung menuju ke toko yang ku maksud.
"Alhamdulillah masih." kataku.
"Yang mana toh?" tanya Via.
"Itu, yang hitam." jawabku sambil menunjuk sebuah jam tangan digital berwarna hitam yang masih berada di tempat yang sama seperti saat aku pertama melihatnya dulu.
"Woh, 475.000? Edyan, ketimbang jam tangan kok luarange ra umum." ucap Via.
"Kamu liat ke etalase sana tuh, ada yang sampe 3juta." kataku sambil tersenyum.
"Walah yo eman duite Ran nek aku, bagiku jam tangan itu yang penting adalah ketepatan waktunya, bukan model atau harganya." katanya sambil masih memperhatikan satu persatu isi etalase.
"Wiiihhh, tumben bijak." kataku sambil mencolek pinggangnya.
"Bijak aku nek bab duit, hahaha." dia pun tertawa.
Akupun memanggil penjaga toko untuk meminta tolong di ambilkan jam yang aku inginkan.
Setelah jam itu berada ditanganku, aku pun mengecek setiap sisinya, takut ada yang lecet atau rusak. Dan ternyata sempurna.
"Mbak aku mau ini yah." kataku ke mbak pramuniaganya.
"Boleh, saya ambilkan kotak dan buatkan notanya dulu ya." jawabnya.
"Oke mbak."
"Edyan Rania, blas nggak mikir untuk cari yang sedikit lebih murah lagi loh." kata Via.
"Kan cuma sesekali Vi, aku juga baru dua kali ini memberikan barang untuk mas Farhan, aku bukan tipe wanita yang suka memanjakan pasangannya dengan memberi ini itu terlalu sering, cukup sesekali aja, ini aja udah mau setahun aku baru memberinya dua benda, dan aku meminta hal yang sama padanya, jangan memanjakanku dengan pemberian barang ini itu. Aku nggak begitu suka." jelasku panjang lebar.
"Wooo enak nduwe pacar kayak kamu ya, nggak matre. Hahaha." guraunya.
"Haha, bukan gitu, aku nggak mau cinta itu di wujudkan dalam bentuk barang, karena kalau nanti ternyata nggak jodoh, dan cinta itu harus pamit dari pemiliknya, barang-barangnya masih tertinggal, masih ada, dan itu akan mubadzir kalau dibuang, kalau disimpan akan membuat hati susah move on, ah pokoknya nggak suka lah." kataku.
"Oh, ya masuk akal juga ya, paham-paham." kata Via sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yaudah yuk, jalan lagi." ajakku setelah selesai membayar dan menerima jam nya.
"Men, laper." kata Via.
"Oke, mau makan apa?" tanyaku.
"Di Mall yuk, sambil ngadem."
"Es teller Favoritmu?" tanyaku.
"Nah, yuk."
Kamipun menuju ke Mall Malioboro dan makan di restoran es teller favoritnya Via.
"Ran, jadi gimana kamu sama mas Farhan? Udah dapet lampu ijo belum dari ibu nya?" tanya Via membuka obrolan.
"Sejauh ini alhamdulillah sepertinya sudah agak luluh ya, kalau dari cerita mas Farhan sih ibunya sudah mulai sering memberi komentar positif tentang aku." jawabku.
"Syukurlah kalau gitu, aku ikut seneng."
"Ngomong-ngomong Zahra apa kabar Vi? Masih komunikasi sama kamu nggak?" tanya ku tiba-tiba teringat Zahra.
"Masih, kadang masih suka SMS, ya ngobrolin hal-hal biasa aja, terakhir dia curhat soal mas Farhan itu pas katanya dia janjian sama mas Farhan, dan ternyata mas Farhan ngajak kamu, itu dia nelpon aku sampe 3 jam, nangis se jadi-jadinya, aku berusaha menjadi pendengar yang baik, biar dia meluapkan semuanya, biar dia lega." Jelas Via panjang lebar.
"Hah? Kok kamu nggak cerita ke aku?"
"Lupa aku Ran, udah lama juga, lagian kan dia udah tau semuanya, dia juga udah menjelaskan semua ke mas Farhan, yaudah aku bilang ke dia untuk fokus ke hidupnya yang sekarang, biar mas Farhan dengan hidupnya."
"Sebenarnya aku kasihan sama dia, tapi juga nggak sanggup kalau harus liat dia deket lagi sama mas Farhan." kataku jujur.
"Iya aku tau, aku juga kalau jadi kamu yo nggak mau lah orang yang aku sayangi, balik lagi ke mantannya." katanya tersenyum.
Selesai makan kami memutuskan untuk pulang, Via ada janjian sama mas Iwan katanya.
Sampai di kos aku langsung melihat kembali jam yang tadi sudah ku beli, ada rasa puas karena sudah bisa mendapatkan apa yang ku inginkan dengan menabung sedikit demi sedikit.
Saat sedang bersantai sembari menikmati lagu-lagu hitz di radio, tiba-tiba hp ku bergetar, dan ternyata itu adalah telepon dari ibuku.
"Assalamualaikum". Sapa ibu dari seberang.
"Waalaikumsalam bu."
"Mbak lagi apa? Ibu ganggu nggak?" tanyanya.
"Lagi dengerin radio aja bu, lagi santai aja." jawabku.
"Mbak, mbak kok nggak cerita kalau sudah nggak sama mas Bima lagi? Ibu juga baru tau kalau ternyata Bima udah lama di Kalimantan, perasaan dulu apa-apa mbak cerita sama ibu."
"Hah? Ibu tau dari mana?" tanyaku kaget.
"Kemarin Bima telepon ayah, katanya ketemu kamu, dan dia cerita kalau dia baru balik ke Yogya dan selama ini belajar wirausaha sama om nya di Kalimantan, terus sekarang dia sedang merintis usahanya sendiri di Yogya." jelas ibu.
"Dih, ngapain dia pake telepon ayah segala sih, selama ini juga nggak pernah." jawabku kesal.
"Ya nggak papa dong mbak, namanya juga silaturahmi, dulu kan waktu kamu awal di Yogya dia yang jagain kamu, suka bantu kamu, ayah juga suka sama dia karena anaknya sopan dan baik." kata ibu.
Ya, dulu awal aku kuliah di Yogya, kos ku tidak di sini, aku kos di dekat kos nya Bima, dulu waktu tahun-tahun awal, ayah dan ibu setahun tiga kali menjengukku kesini, jadi pernah beberapa kali bertemu dengan Bima. Dan dulu saat aku berpacaran dengan Bima, ayah dan ibu menyetujui, ayah dan ibu tau, bahkan dulu saat usaha ayah pernah sedikit bermasalah, ayah jadi suka telat mengirimkan uang pada ku, Bima lah yang sering membantuku. Bima memang baik, royal, perhatian, tapi semua itu perlahan luntur karena dia benar-benar mengejar studi nya agar cepat selesai, dan dia sangat berambisi untuk jadi wiraswasta. Dia pernah bilang, walaupun nanti mungkin usahanya kecil, nggak masalah, yang penting dia bos nya, bukan jadi bawahan orang. Dan prisip itu jugalah yang di pegang ayah ku.
Jadi ayah sudah benar-benar menganggap Bima seperti anaknya sendiri, dulu memang Bima sering berkomunikasi sama ayah, saling memberi kabar, tapi sejak kami putus dan dia pindah ke kalimantan, jangankan sama ayah, sama aku pun dia lost contact. Dan aku tidak pernah cerita ke orang tua ku kalau aku dan Bima sudah putus, karena menurutku itu bukan sesuatu yang penting, toh waktu itu kami pacaran hanya sekedarnya saja, malah mungkin sekedar cinta biasa. Meskipun aku tetap menangis karena merasa dia tidak memikirkan perasaanku, seolah aku ini tidak di perhitungkanya, bukan sedih karena kehilangan cinta.
Dan dengan PD nya dia hanya mengirimkan SMS penjelasan satu kali setelah sebulan pergi. Tapi sedihku saat itu tidak lama, karena Via selalu mengatakan padaku 'kalau dia bisa hilang gitu aja, kamu juga bisa'.
Jadi saat aku pulang kampung dan ayah menanyakan hubunganku dengan Bima aku hanya menjawab sekenanya saja 'baik-baik aja'. Tanpa menjelaskan hal yang sebenarnya.
"Mbak, masih disitu?" suara ibu mngejutkan ku yang sedang memikirkan niat dan tujuan Bima.
"Masih bu, ya maaf bu, Rania jarang cerita sama ibu, ya menurut Rania hal itu nggak begitu penting, lagian kan itu udah lama bu."
"Oh ya sudah, toh sekarang Bima sudah balik ke Yogya lagi kan, jadi mungkin mbak bisa melanjutkan hubungannya sama Bima." kata ibu.
"Andai ibu tau, Rania sudah punya kekasih yang baru, dan kali ini cinta yang sebenarnya. Tapi Rania belum siap cerita ke ibu, nanti kalau kuliah Rania sudah selesai, rania pasti cerita." gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Liat nanti ajalah bu, Rania mau fokus skripsi dulu aja, lagi nggak mau ada pikiran yang lain, kan kata ayah Rania harus segera lulus." ucapku.
"Yaudah kalau gitu, yang penting Rania baik-baik aja kan disana? Jaga diri baik-baik ya nak, jaga kesehatan, jangan tinggal sholat."
"Iya bu, InshaaAllah, udah dulu ya bu, batre Rania lowbat nih." kata ku ingin segera mengakhiri obrolan itu.
"Iya yaudah, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mas Bima, apa maksudmu menghubungi ayah?" tanyaku dalam hati sambil meletakkan hp ku.
Minggu 16 mei 2010 satu hari sebelum ulang tahun mas Farhan, hari itu seperti biasa, kos mendadak sepi karena beberapa anak kos pulang ke kampung masing-masing, tapi kali ini Via nggak pulang. Katanya lagi males bawa motor sendiri jarak jauh,
Saat aku dan Via sedang ngobrol di kamar ku, tiba-tiba hp ku bergetar.
Ku pikir itu mas Farhan, tapi ternyata bukan. Itu Bima. Dengan nomer baru nya.
"Rania, ini mas Bima, ini nomer baruku save ya, btw sibuk nggak?" tanyanya.
"Nggak mas, lagi nyantai aja di kos. Dapet nomerku dari mana?"
"Dari ayah mu, ngomong-ngomong bisa ketemuan nggak?" tanyanya.
"Aku lagi males kemana-mana, kalau mau ketemu ke kos aja." kataku.
"Boleh deh, minta alamat lengkap ya." katanya.
"Nggak jauh dari kos lama kok, deket kosnya temen mas Bima dulu, mas catur." kataku.
"Oh kos cewek yang warna ijo?" tanyanya.
"Nah iya bener. Nanti ketok aja, aku di dalem kok." kataku.
"Oke aku siap-siap dulu ya."
Dan SMS itu pun berakhir.
"Siapa? Mas Farhan?" tanya Via.
"Bukan, Bima." jawabku.
"Weeeeh Bima mantanmu? Yang dulu kamu selalu curhat kalau dia hilang?" tanya nya.
"Iya." jawabku.
"Kok ujug-ujug nongol ki arep ngopo meneh?" tanyanya.
"Nggak tau, biarinlah, mau nyambung silaturahmi aja kali. Udah nggak papa." jawabku sekenanya.
"Tapi dulu kamu pernah menangisinya sehari semalam loh." ledeknya.
"Hahaha, iya dulu, saat masih alay., lagian dulu aku sedih karena merasa nggak di hargai, bukan karena kehilangan cinta." jawabku.
"Saiki malah soyo alay, baru deket aja udah dibuat sering galau sama mas Farhan."
"Viaaaaaa, uwes toh." kataku sambil mencubit lengannya.
Setengah jam kemudian Bima pun datang. Dan aku menemuinya di teras.
"Nggak papa, pengen aja ngobrol sama mantan." jawabnya senyum.
"Mantan yang dulu ditinggalin gitu aja?" tanyaku.
"Sebenernya nggak maksud ninggalin gitu aja, kan terakhir aku ada ngejelasin sesuatu lewat SMS." katanya.
"Yaudah nggak usah di bahas, masa lalu." jawabku.
"Kalau sekarang aku datang dan mau membuatmu menjadi masa depan ku gimana?" tanyanya.
"Hah? Gimana?" tanyaku memastikan pendengaranku.
"Kalau sekarang aku datang dan berencana mau menebus kesalahanku, dan menjadikanmu sebagai masa depanku bagaimana?" katanya lebih jelas.
"Hahaha, becanda kamu mas, kayak nggak ada perempuan lain aja loh ah." jawabku santai.
"Memang nggak pernah ada, demi Allah." katanya sambil menatapku.
"Jangan sembarangan ngucap demi Allah." kataku serius.
"Tapi itu kenyataannya Rania, selama aku pergi dan mengejar impianku, satu perempuan pun nggak ada yang nyantol di hatiku." ucapnya semakin serius.
"Tapi hatiku sudah ada yang mengisi." kataku.
"Yang kemarin sama kamu di indomaret itu?" tanya nya.
"Iya." jawabku singkat.
"Baru pacaran kan? Jadi belum tentu jodoh." katanya.
"Mas Bima, bisa nggak ya kalau bicaranya nggak asal?" tanyaku kesal.
"Maaf Ran, aku hanya mau bilang, selama aku bisa menunggu. Aku akan mencoba menunggumu, sembari aku merintis usahaku." jawabnya sambil menatapku.
"Kita memang nggak pernah tau soal jodoh, tapi kalau bisa, jangan terlalu mengharapkanku, diluar sana masih banyak yang lebih baik dari aku."
Dia hanya terdiam dan melihatku cukup lama, dan aku agak canggung dengan tatapan itu. Lalu dia pun berdiri dan pamit pulang.
"Yaudah aku pamit dulu, setidaknya aku lega karena sudah menyampaikan isi hatiku." katanya.
Aku pun berdiri dan sedikit mendekat ke tempat dia berdiri.
"Aku minta maaf, karena ada hati yang harus ku jaga saat ini, soal jodoh memang kita belum tau, aku pun hanya bisa berdoa untuk kita semua, semoga baik-baik saja dan mendapatkan jodoh terbaik pula." ucapku.
Tiba-tiba dia memegang tangan kananku.
"Terimakasih atas nasehatnya, aku juga berdoa yang terbaik untukmu."
Saat Bima sedang memegang tanganku, tiba-tiba ada motor berhenti di depan pintu gerbang kos. Dan ternyata itu adalah mas Farhan!!
Aku pun langsung menarik tangaku yang sedang dipegang Bima, dan segera memakai sandal untuk menghampiri mas Farhan, tapi saat aku baru mau mendekat mas Farhan langsung pergi memacu motornya.
Aku pun kaget melihat mas Farhan bersikap begitu, kenapa dia tidak mau berhenti dan mendengar penjelasanku dulu.
__ADS_1
Aku hanya terdiam, tidak memanggil dan tidak mengejar, karena hanya akan sia-sia pikirku, mas Farhan melesat cepat sekali saat itu.
Setelah Bima pulang, aku langsung masuk ke kamar, ku coba menelpon mas Farhan berkali-kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban.
Malam ketika sedang berbaring di kasur sambil mendengar radio, aku berusaha menghubungi mas Farhan lagi. Dan kali ini ternyata hp nya mati.
Aku tidak mau memaksakan diri, aku akan menunggunya sampai besok. Itu rencanaku.
Keesokan harinya Senin 17 mei 2010. Hari ulang tahun mas Farhan. Tapi dari pagi sampai sore aku tetap tidak bisa menghubunginya, hp nya masih off.
Jujur sikap seperti ini tidak kusangka bisa datang dari seorang mas Farhan, dia yang begitu dewasa, kenapa seolah saat ini bersikap kekanakan. Pergi begitu saja, hp di matikan. Kalaupun dia cemburu, apa iya harus segininya.
Aku pun merasa lesu hari itu, padahal aku sudah mempersiapkan kado untuknya, tapi dia malah menghilang.
Jam 4 sore aku pulang ke kos. Mandi dan sholat ashar. Lalu aku tiduran sambil mendengarkan lagu-lagu galau. Sesuai dengan perasaanku saat itu. Saat aku sedang asik melamun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Dan saat aku membukanya ternyata ada mas Farhan, Via, dan mas Iwan.
"Dueeeeeerrrr" teriak Via dan mas Iwan.
"Astagfirullah, kalian ni, ngagetin aja." jawabku shock.
"Jadi, ada yang lagi lesu, lemah, letih tak berdaya, karena ada yang mencoba menghubungi kekasihnya berkali-kali tapi hp nya mati." cerocos Via.
"Sssssttt, apaan sih." jawabku malu.
Ku lihat mas Farhan hanya tersenyum dan terus menatapku.
"Jadi ngene, dino iki kan Farhan ulang tahun, tapi malah Rania seng di surprise i." kata mas Iwan.
"Dan semua itu adalah ulah saya." kata Via bangga.
"Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Jadi wingi, pas kamu nerima SMS dari Bima, aku SMS ke mas Farhan, aku tanya dia lagi di daerah mana, lagi di kantor atau di luar, ternyata pas, dia lagi diluar, aku bilang Bima mau dateng kesini, aku suruh dia dateng, teruusss aku suruh mas Farhan lewat thok biar liat kamu lagi sama Bima, jadi kesanne mas Farhan mergoki kamu sama Bima dan dia cemburu, terus langsung pergi, tanpa mampir. Tapiiii adegan pegangan tangan, itu diluar skenario ku loh ya." cerocos Via.
"Astagfirullah Viaaaaa, kakean nonton sinetron yo ngene ki loh." kataku mangkel.
"Tapi berhasil kaaaan.." katanya menggodaku.
Dari tadi mas Farhan sama sekali tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum dan memperhatikan ku, dan itu membuatku salting.
"Ayo ra sah kakean cerito, gek ndang siap-siap kita langsung ke pantai Pok Tunggal." kata mas Iwan bersemangat.
"Dimana itu?" tanyaku.
"Di gunung kidul." jawab Via.
"Jauh nya, jam segini baru mau pergi, kapan pulangnya?" tanyaku.
"Nggak pulang, kita semaleman di pantai. Aku wes nggowo perbekalan." kata mas Iwan.
"Ini rencana siapa?" tanyaku.
"Aku." kata mas Iwan.
"Terus besok mas Farhan kerja gimana?" tanyaku.
"Aku udah ijin buat besok." jawab mas Farhan.
"Ayoooo Raniaaa, le wawancara engko meneh, saiki ganti baju, nggowo baju ganti, jaket, wes sembarang opo seng arep mok gowo ben kita segera capcus." kata Via.
Dan aku pun bersiap, mereka semua menunggu di teras, karena mereka sudah mempersiapkan semuanya ternyata, dan aku tidak lupa membawa kado untuk mas Farhan.
Sepanjang perjalanan aku masih tidak habis pikir sama rencana mereka, aku kaget sekaligus bahagia, terutama mas Farhan, bisa-bisanya dia ikut ide gila Via. Dan selama perjalanan mas Farhan selalu memegang tangan kiriku.
Kami pun sampai di Pantai pok Tunggal sehabis maghrib, karena sempat mampir ke masjid dulu.
Kami tidak memasang tenda, karena memang tidak berencana nenda, hanya saja mas iwan membawa dua alas yang cukup tebal, seperti kasur lipat tapi lebih tipis dan lebar. Aku nggak tau namanya.
Mas Iwan juga membawa lampu emergency dan beberapa perlengkapan lainya, maklumlah dia anak pecinta alam. Jadi dia memang punya semua perkakas itu.
Saat itu langit penuh dengan bintang, malam yang lumayan cerah, pantai itu pun sama seperti pantai gunung kidul lainya, berpasir putih. Tapi lokasinya sedikit lebih lebar dan datar.
"Maaf ya dek, sudah membuatmu khawatir." kata mas Farhan memulai obrolan.
"Jangan lakukan lagi yah, aku galau tau." jawabku.
"Kamu juga jangan lagi yah." katanya.
"Jangan apa?" tanyaku.
"Jangan membiarkan tangan ini di pegang oleh laki-laki lain selain aku." katanya sambil menggenggam tanganku.
"Oh itu, aku juga nggak tau dia mau melakukan itu." kataku.
"Cemburu kah mas?" tanyaku lagi.
Dia tidak langsung menjawab. Dia menarik tanganku dan meletakknya di dadanya.
"Menurutmu?" tanya nya sambil melihat mataku.
"Sepertinya iya, dan aku bahagia karena itu, itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku." jawabku tersenyum.
"Entah bagaimana lagi caraku harus mengungkapkan soal hati ini, aku hanya berharap kamu nggak pernah meragukannya lagi." katanya serius.
"Sebentar." kataku sambil menarik tanganku yang dari tadi di genggamnya.
Dan aku pun mengambil kado yang sudah ku persiapkan untuknya.
"Buat kamu." ucapku sambil memberikan kado itu.
Dia pun langsung membukanya.
"Selamat ulang tahun. Doa terbaik untuk kekasihku." ucapku sambil tersenyum menatapnya.
"Terimakasih banyak dek, tapi bagiku, tahun ini kado terindah itu adalah kamu." katanya sambil kembali megang tanganku.
"Haha, aku kok merasa aneh ya di gombalin gini sama seorang mas Farhan." kataku sambil tertawa.
"Aku nggak gombal, aku serius." katanya.
"Terimakasih, sudah menerimaku apa adanya, sudah memberikan kebahagiaan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya." kataku sambil terus menatap matanya.
__ADS_1
Dan kami pun duduk bersebelahan, ku letakkan kepalaku di bahunya, sambil melihat indahnya laut dan cerahnya langit malam itu.
Bersambung..