RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Mencoba Menerima Takdir


__ADS_3

Setelah lamaran dengan Bima, akupun balik ke Yogya, karena memang pernikahan itu di rencanakan akan di selenggarakan bulan juni 2011.


Dan semua itu mutlak rencana keluargaku dan keluarga Bima, tanpa mereka tau, bulan Juni adalah bulan yang cukup memiliki kenangan besar dalam hidupku, karena juni 2009 adalah bulan dimana aku mengenal mas Farhan. Luar biasa ujianmu ya Allah. Tapi karena hatiku sudah mati rasa, aku sudah tidak peduli lagi. Terserah!


Sesampainya di Yogya aku langsung bertemu Via, aku menceritakan semuanya, semua proses lamaran, semuanya.


"Men, kamu baik-baik saja?" tanya nya.


"Iya, kenapa Vi?"


Via pun memegang keningku, merasakan tanganku. Dan itu membuatku heran.


"Kenapa Vi?" tanyaku.


"Biasanya kamu kalau cerita soal ini pasti nangis, kayak kemaren pas di telpon, tapi ini kok kayaknya biasa aja, kamu bener-bener sudah nerima ini semua dan legowo kah? Nek iya yo bagus, tapi aku kok serem dari tadi liat caramu cerita dan ngejawab beberapa pertanyaanku." katanya panjang lebar.


"Serem kenapa?" tanyaku.


"Men, ini kayak bukan kamu, matamu loh medeni, kayak kosong gitu." katanya.


"Aih Via, ini aku lah, Rania, perasaan biasa aja akunya." kataku.


Dan setelah obrolan itu aku masuk ke kamarku. Aku mengumpulkan beberapa benda pemberian mas Farhan, kali ini aku melihat semua benda itu tanpa tangisan lagi. Dan aku menyimpannya dalam sebuah kotak.


Iya, kali ini aku benar-benar mati rasa, ada bagian kosong yang aku tidak bisa gambarkan. Kapan kesedihan itu menghilang, entahlah.


"Ran, boleh aku masuk?" tanya Via dari luar kamarku.


"Masuk aja, nggak aku kunci." kataku.


"Men, kamu mau nggak kalau ketemu mas Farhan sekali lagi?" tanya nya.


Dan tanganku yang sedang sibuk menata buku dan beberapa barang yang mau aku packing pun berhenti seketika.


"Kenapa nanya hal itu?" tanyaku serius dan melihat ke arahnya.


"Ran, aku khawatir loh sama kamu, aku udah lama banget kenal kamu, Ran, aura mu lain." kata Via.


Aku bisa merasakan hentakan suaranya.


"Lalu apa hubunganya dengan bertemu Farhan?" tanyaku.


"Ran, sampe detik ini kamu belum pernah benar-benar menyelesaikan hubungan ini kan, Ran antara ikhlas, memaksa kan diri dan membatu kan hati itu beda." kata Via.


"Membatu kan hati itu apa? Maksudmu apa?" tanyaku menatap nya.


"Ran, kesedihan dan rasa sakit yang teramat sangat itu bisa membuat seseorang yang tadinya sensitif, jadi orang yang keras hati, hatinya jadi batu, dan tidak bisa merasakan apa-apa lagi, dan aku takut kamu kayak gitu, aku takut air matamu mengalir ke dalam, bukan keluar, aku takut kamu kehilangan jiwa mu yang sebenarnya, Ran,aku nggak tau bagaimana cara menjelaskannya, tapi saat dari tadi kamu ngobrol sama aku, aku nggak merasa bahwa kamu Rania, sahabatku yang kemaren-kemaren."


"Via, aku nggak paham sebenernya maksudmu ini apa, tapi aku lagi mau beberes, jadi aku minta kamu keluar. Aku lagi nggak mau di ganggu, kalau kamu merasa tidak nyaman dengan ku, silahkan keluar." ucapku sambil menunjuk ke arah pintu.


"Aku semakin yakin ini bukan kamu Ran, bukan kamu yang sebenarnya."


Via pun keluar dari kamarku. Dan aku pun mengunci pintu.


"Via, aku paham apa maksudmu, tapi aku merasa seperti tidak mampu mengendalikan diriku, rasanya hatiku sudah terlalu porak poranda, aku sendiri tidak tau bagaimana cara menjelaskannya, saat ini aku merasa seolah seperti seekor landak yang satu persatu duri nya di cabut paksa, jadi aku tidak punya pertahanan dan pelindung diri lagi, hanya ada kulitku yang terisa dengan luka yang menganga dan darah yang mengering ini, aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa, aku membeku, aku minta maaf. Sekali lagi maaf." ucapku dalam hati.


Dan aku pun terduduk lesu di balik pintu kamarku.


Malamnya saat sedang berbaring di kamarku dan mendengarkan lagu-lagu Favoritku, Via mengetuk pintu kamarku.


"Ran, tidurkah?" tanya Via dari luar.


"Nggak, lagi santai aja, ada apa?" tanyaku saat ku buka pintu.


"Jalan yuk, kamu sama aku, mas Iwan biar make motore sendiri, kita dah lama loh nggak jalan semenjak selesai wisuda." katanya.


"Kemana?" tanyaku.


"Ke alun-alun selatan aja yuk, makan di angkringan, terus kita ngobrol-ngobrol." ucapnya.


"Oke, aku ganti baju dulu." kataku.


Saat dalam perjalanan aku sama sekali tidak memikirkan apapun, dan aku sama sekali tidak takut kalau harus datang ke tempat yang pernah aku datangi bersama mas Farhan sebelumnya. Semuanya terasa biasa saja.


Setelah makan di angkringan Via mengajakku ke tengah alun-alun, dan saat itu suasanya sepi, hanya ada beberapa orang saja yang sedang mencoba melewati beringin kembar.


"Ran, mau nyoba masuk situ ndak?" ucapnya sambil menunjuk beringin kembar yang ada disana.


"Nggak, kalian aja." jawabku.


Aku pun melihat Via dan mas Iwan memulai perjalanan mereka di antara dua beringin itu. Dan dikepalaku seolah ada video yang berputar secara otomatis. Ya, aku terbayang bagaimana dulu aku melakukannya dengan mas Farhan. Tapi aku tidak menangis. Sama sekali tidak.


"Apa kabar?" ada suara dari samping kanan ku, dan aku tau suara itu.


Aku pun melihat sosok yang berdiri di sampingku, mas Farhan.


"Kenapa bisa disini?" ucapku terkejut.


"Rania apa kabar?" tanya nya.


"Baik." jawabku.


Dan aku baru sadar kalau ini rencana Via, aku melihat Via dan mas iwan yang berdiri jauh dari kami menatap ke arah kami.


"Ini rencana Via ya?" tanyaku.


Dan mas Farhan hanya tersenyum, dan saat itu hatiku benar-benar tidak merasakan apapun saat melihat senyum itu.

__ADS_1


"Kamu nggak suka aku disini?" tanya nya.


"Nggak." jawabku sambil berjalan menghindarinya.


"Dek, kamu kenapa?" tanya nya sambil menarik tanganku.


"Lepas." ucapku sambil menepis tangannya.


"Ran, Rania." Via memanggilku dan berlari mendekat.


"Aku nggak suka cara kalian begini, aku mau pulang!" kataku marah.


"Ran, kamu kenapa? Kamu nggak pernah kayak gini loh." kata mas Iwan.


"Kalian semua jangan pernah ngajak aku kemana-mana lagi. Dan kamu Via, kamu lancang dengan merencanakan semua ini." kataku sambil terus berjalan.


"Ran, tunggu, raaaaan jangan bekukan hatimu tolonglah, ran aku khawatir sama kamu ran. Demi apa aku takut ngeliat kamu yang sekarang." kata Via sambil menarik tanganku.


Ku lihat matanya berkaca-kaca, dan mas Iwan pun mencoba memegang bahu Via, seolah menguatkannya.


"Jangan di lihat kalau gitu." ucapku sambil melepaskan tangan Via.


Saat aku mau melanjutkan langkahku, ku lihat mas Farhan berdiri tepat di depanku.


"Minggir!" ucapku ketus.


"Rania, kembalikan Rania ku." kata mas Farhan.


"Rania mu sudah hilang, Rania kalian semua sudah hilang, Rania sudah nggak adaaaa, kalian semua nggak bisa bantu Rania, kalian semua membiarkan Rania mati rasa, terutama kamu, kamu bohong kalau bilang kamu menyayangiku, kamu sama sekali tidak menyelamatkanku, kamu membiarkan aku sendiri menghadapi semuanya, kamu tidak mau membawaku pergi, kamu tidak mau membawaku agar terhindar dari orang-orang yang selalu memaksaku menuruti keinginan mereka, kamu tega sama aku." kataku sambil menunjuk ke arah mas Farhan.


Dan tangisanku sudah tidak terbendung lagi. Akupun berlutut dan menghempaskan lututku, dan sakitnya lututku karena kerikil di tanah alun-alun itu tidak seberapa dibanding sakit di dalam sini, di hatiku.


Via, mas Iwan, dan mas Farhanpun jongkok mengelilingiku.


"Farhan, kamu tau saat ini aku tunangan orang, kamu tau disaat wanita diluar sana merasa sangat bahagia, dengan status tunangan itu, aku, aku, Rania ainun sofia, merasa sangat tersiksa, saat semua wanita memimpikan status itu, aku merasa itu adalah mimpi terburukku, dan saat wanita diluar sana bersemangat mempersiapkan baju pernikahan mereka, aku merasa sedang mempersiapkan pemakaman untuk diriku sendiri, kalian nggak tau selama aku di rumah, saat aku sedang menangis, bersedih, dan meratapi kisahku, dengan mudahnya ayahku bilang cinta ku ini hanya cinta yang nggak seberapa, ibuku bilang, sudah nggak perlu terlalu di rasakan, nanti juga hilang, sepupuku yang tau ceritaku pun berkata dengan entengnya, alah cinta gitu aja di masukin hati banget, ntar juga kalo pas pesta pernikahan, rame-rame, di dandanin dan pake baju pengantin langsung bahagia. Mudah, sangat mudah mereka mengatakan hal itu, dan aku harus mendengarnya sendiri, dengan telingaku, dan dengan hatiku yang sudah lebur!" ucapku panjang lebar dengan tangisan yang memang sengaja ku keluarkan dan suara yang ku teriakkan.


Tidak ada jawaban dari mereka, dan aku pun berdiri begitupun dengan mereka. Kulihat satu persatu wajah mereka, dan ternyata merekapun menangis serta. Tapi saat itu aku merasa semua itu sudah tidak ada gunanya.


"Maaf jika mungkin saat ini aku sudah tidak bisa seperti aku yang dulu, aku berharap kalian tidak memaksaku, tidak memaksaku untuk sembuh, tidak memaksaku untuk tersenyum, tidak memaksaku untuk bisa menerima semua ini.


Memang, memang untuk bersuara itu mudah, sangat mudah, tapi apa kalian tidak bisa melihat bahwa hatiku ini sudah benar-benar bernanah? Sakitnya pun sudah tidak bisa ku gambarkan lagi, jika kalian ingin mencoba menasehatiku, aku berterimakasih, karena sejujurnya apapun nasehat kalian saat ini bukanlah obat untuk lukaku, yang bisa menyembuhkan luka ini hanya satu. Waktu." kataku mengeluarkan semua yang ada dipiranku saat itu.


"Dek, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, sekarang aku bisa merasakan seberapa sakitnya hatimu, ku pikir, Rania ku yang selalu ceria itu akan mudah menyembuhkan hatinya, ternyata aku salah, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." ucap mas Farhan.


"Aku juga minta maaf Ran, aku nggak tau kalau ternyata rasa sakit yang kamu rasain sampai sedalam itu, maaf karena aku dan mas Iwan sempat berpikir kalau kamu pasti baik-baik saja, karena kami merasa mengenal karaktermu, kami pikir hubunganmu dengan mas Farhan juga belum terlalu lama, dan itu akan membuatmu lebih mudah menyembuhkan luka, tapi kami salah, maafin aku ya Ran." ucap Via sambil menangis.


Ya, Via benar-benar menangis, dan itupun membuatku sakit.


"Aku tau maksud kalian baik, aku tau kalian pun ingin yang terbaik untukku, tapi perlu kalian tau, luka ku ini bukan sekedar luka gores, hanya aku yang tau seberapa sakitnya, hanya aku dan Tuhan yang tau bagaimana menderitanya aku. Jadi aku mohon, jangan paksa aku menjadi aku yang dulu, aku butuh waktu, banyak waktu." kataku.


"Rania ainun sofia, maaf karena aku tidak punya kemampuan untuk mengeluarkanmu dari situasi ini, maaf kalau aku terlalu pengecut untuk masalah ini, karena hubungannya dengan restu orang tua, maaf kalau aku terlihat seperti pecundang yang hanya bisa berdiam diri melihat kekasihnya menangis dan merasakan sakit, tapi kalau boleh berkata jujur, mungkin sakit yang ku rasakan ini sama sepertimu, hanya saja aku mencoba untuk bisa segera mengobatinya, karena luka ini hanya aku yang tau, dan obatnya pun hanya aku yang tau." ucap mas Farhan sambil benar-benar tersedu.


Aku sudah tidak sanggup kalau harus berdiri disitu dan melihat kunci dari hatiku patah. Ya, bagiku saat itu mas Farhan masih menjadi kunci hati ini, dan melihatnya menangis adalah hal yang paling aku benci. Tak mengapa hati ini bernanah, tapi jangan sampai kunci itu patah. Pikirku saat itu.


Via dan mas Iwan pun mengikutiku dari belakang, saat Via sedang mengambil motor dari parkiran, dan aku menunggu di pinggir alun-alun, aku melihat mas Farhan masih berdiri ditempat tadi, aku melihat dia hanya tertunduk tanpa bergerak.


"Mas Farhan, maafkan aku, sudah membuatmu menangis lagi, maaf jika hati ini susah sekali untuk normal lagi, aku tidak peduli lagi dengan pendapat orang tentang diriku, mungkin ada yang bilang aku berlebihan menyikapi cinta ini, yang pasti, hanya aku yang tau, kalau hati ini sudah tidak berbentuk lagi. Aku tidak pernah menyangka, mencintaimu bisa sesakit ini, kalau lah aku bisa memutar waktu, aku berharap kita tidak pernah bertemu, agar aku tidak mengalami ini semua, tapi kita tidak bisa mengelak dari takdir Tuhan bukan, mungkin suatu saat nanti aku bisa memaknai ini semua dengan hati yang baru. Mungkin." ucapku dalam hati.


25 juni 2011


Adalah hari pernikahanku, hari dimana aku berdiri di atas pelaminan, di depan banyak orang, memakai baju pengantin yang menjadi impian semua wanita, mempersiapkan senyum yang dipaksakan selama berjam-jam, bersalaman dengan banyak orang yang ikut mendoakan. Dan tangisku pun sempat tak tertahankan, tapi aku segera menghapus air mataku, karena aku tidak mau ada yang bertanya.


Jangan tanya bagaimana perasaanku saat itu. Hampa.


Malamnya selesai ijab qabul dan resepsi yang dilaksanakan di hari yang sama, aku pun sibuk membantu ibu membereskan rumah, karena acara pernikahan itu digelar di rumahku.


"Ey, pengantin baru kok beberes, istirahat aja sana, kan capek." kata sepupuku.


"Iya mbak, istirahat aja, seharian tadi di pelaminan kan capek, sana ke kamar, tidur atau buka kado." kata ibu.


"Nggak papa bu, Rania mau bantu." jawabku.


Ya, aku mau membuat tubuhku se-lelah mungkin, agar saat masuk ke kamar pengantin itu nanti aku langsung tertidur. Itu rencanaku.


Pukul 23.00 akupun masuk ke kamarku, setelah membantu membereskan beberapa hal dan mandi. Ku lihat bima sudah duduk di ranjang pengantin yang di balut seprei yang sebenarnya terlihat sangat cantik itu. Tapi karena hatiku ini sama sekali tidak bahagia, semua terasa biasa saja.


"Dek, sini istirahat, kamu pasti capek." kata Bima.


"Jangan pernah menyentuhku, sebelum hatiku ini sembuh, tunggu semampumu, kalau merasa tidak mampu, lepaskan aku." kataku.


"Ran, mau sampai kapan kamu bersikap begini sama aku? Sekarang aku ini suamimu." katanya terlihat kesal.


"Status, itu hanya status, jangan berpikir kamu benar-benar menjadi suamiku selama hatiku ini masih membeku." ucapku.


"Rania, kamu nggak denger wejangan dari ustad tadi? Kalau kamu bersikap begini padaku, kamu dosa." ucapnya.


"Aku tau, tapi apa mereka semua tau, kalau pernikahan ini BUKAN DARI HATIKU!" aku pun berteriak.


Dan ku dengar pintu kamarku diketuk.


"Ran, Rania, kamu kenapa?" suara ibu memanggilku.


Ku buka pintu itu dan ku lihat ayah dan ibu ada di situ.


"Nggak papa, ayah dan ibu tidur saja, apapun yang kalian dengar nggak perlu di hiraukan, Rania baik-baik saja." ucapku.


Dan akupun langsung menutup pintu itu.

__ADS_1


Seminggu setelah hari itu aku dan Bima pun kembali ke Yogya bersama ayah dan ibu.


Karena akan diadakan acara ngunduh mantu.


Setelah acara ngunduh mantu selesai, aku dan Bima pun langsung menempati rumah kontrakan yang sudah di sewa Bima, karena saat bima memintaku tinggal bersama orang tuanya aku tidak mau. Aku menyuruhnya membeli rumah, atau ngontrak, pokoknya pisah dari orang tua. Aku tidak mau sikapku ke Bima di lihat ayah dan ibunya, karena ayah dan ibu Bima sangat baik padaku, hanya saja aku belum bisa menerima semuanya semudah itu.


Seminggu kemudian aku memutuskan mengambil semua barang yang masih tertinggal di kos.


Saat sedang membereskan kamar kosku dan packing semua barang yang akan ku bawa ke rumah ku dan Bima, Via datang ke kamarku.


"Ran, kamu sekarang sudah jadi istri orang, dan kamu bakalan pindah, dan mungkin kamu nggak akan kesini lagi. Tapi inget Ran, aku masih sahabatmu, aku akan selalu ada buat kamu, kapanpun kamu butuh aku, telpon aku ya Ran. Kapanpun." kata Via.


Dan akupun memeluknya. Rasa sayangku ke Via sangatlah besar, selama ini dia lah yang menjadi tempatku mencurahkan semua kegundahanku, sampai kapanpun dia adalah sahabatku.


"Jaga diri ya Vi, kalau nanti aku pengen main, aku pasti akan kesini, jangan bosen denger curhatanku ya." kataku.


"Pasti Ran, pasti, aku selalu menunggumu, aku juga sekarang udah mulai masukin lamaran kerja, jadi aku masi tetap disini." ucapnya.


"Ran, aku mau memberikan sesuatu, tapi jangan kamu buang ya, ini bukan dariku soalnya." kata Via ragu-ragu.


"Apa?" tanyaku.


Dia memberikan sebuah kotak berwarna hitam berukuran sedang. Dan feelingku langsung tertuju pada mas Farhan.


Setelah ngobrol-ngobrol sama Via sambil membereskan barang-barangku, Via pun kembali ke kamarnya.


Dan aku pun membuka kotak yang tadi di berikan Via.


Ternyata didalam kotak itu ada sebuah kain segi empat yang cukup lebar berbahan velvet berwarna merah tua beserta sebuah surat.


Dan ternyata kain itu adalah hijab.


Akupun langsung membuka surat itu.


Assalamualaikum dek,


Maaf kalau mungkin pemberianku kali ini menganggumu, tidak ada niat membuatmu sedih atau semacamnya. Ini tulus ku berikan padamu, mungkin sebagai hadiah terakhir.


Lagi-lagi aku berterimakasih atas semuanya, atas apa yang sudah pernah kita lalui bersama, terimakasih atas semua kenangan yang akan aku bawa sampai kapanpun. Hadiah ini adalah sebuah hijab, aku memberikan ini dengan harapan suatu saat kamu bisa mengenakan hijab ini.


Aku tidak bisa merangkai banyak kata, inti dari surat ini hanyalah sebatas permintaan maaf dan terimakasih yang tak terhingga, untuk wanita yang pernah mengisi sudut terdalam hatiku.


Wassalamualaikum.


Dan saat itu aku tersenyum sambil memegang hijab itu, hijab pertama yang aku miliki, dan aku masih memakainya sampai hari ini.


Sejak saat itu hari-hariku ku habiskan untuk kerja membantu Bima menjalankan usahanya. Ya, bagaimanapun dia adalah suamiku. Walau itu hanya sebatas status tanpa rasa di hatiku. Saat itu.


Dan kewajibanku sebagai istri yang sesungguhnya baru ku berikan setelah setahun pernikahan itu berjalan, karena aku tidak mau berdosa berlama-lama karena menjadi istri yang tidak melayani suaminya.


Dan suatu hari, satu takdir Tuhan yang masih membuatku bertanya-tanya, kenapa itu bisa terjadi, dan benar-benar terjadi, entah itu suratan, atau sebuah kebetulan. Dan itu terjadi setelah 3 tahun pernikahanku dengan Bima.


Hal itu terjadi Mei 2013.


Hari itu aku merasa sangat jenuh, merasa sangat gelisah dengan hatiku, karena aku tiba-tiba mengingat bahwa bulan itu adalah bulan kelahiran mas Farhan, padahal selama 3 tahun aku menikah, aku sudah berusaha untuk melupakan semuanya, aku sudah berusaha menata hatiku perlahan.


Tapi hari itu aku tidak mau berlarut dengan kegelisahanku. Dan aku pun memberanikan diri untuk pergi ke Candi Ratu Boko sendiri, dengan modal nekad dan pastinya SMS arahan dari mas Iwan. Aku kesana untuk menyendiri, merefresh pikiranku, itu rencanaku.


Akupun duduk di kursi di bawah pohon besar, tempat dimana dulu aku pernah bersama mas Farhan. Mungkin bisa juga aku mengatakan saat itu aku sedang napak tilas kenanganku.


Lama aku duduk disana, merasakan sejuknya angin dan asri nya tempat itu, setelah 3 jam disana, dan merasa sudah sedikit lega, aku pun berancana pulang. Tapi saat aku beranjak dari kursi itu, dan berjalan beberapa meter dari sana, aku melihat mas Farhan berjalan mengarah ke arahku, dia tidak melihatku, tapi aku melihatnya, dan saat pandangannya tertuju ke arahku, dia langsung menghentikan langkahnya. Ya, aku melihat dia terkejut.


Dan aku pun tersenyum padanya.


Lama kami saling mematung. Sampai akhirnya aku melangkah mendekatinya.


"Apa kabar?" tanyaku menyapanya.


"Baik, adek apa kabar?" tanyanya.


"Alhamdulillah baik, sendiri?"


"Iya, adek juga sendiri?" tanyanya.


"Iya aku sendiri, mau merenung?" gurauku sambil tersenyum.


"Haha, aku memang sering kesini, karena nggak jauh juga dari rumah." jawabnya sambil tertawa.


"Aku pulang dulu ya." kataku sambil melangkah menuju arah keluar Candi.


"Terimakasih sudah memakai hijab nya." katanya saat aku melewatinya.


Dan aku baru sadar kalau saat itu aku mengenakan hijab dan bross darinya.


Dan aku pun tersenyum sambil melanjutkan langkahku untuk pulang.


"Tuhan, ini takdir atau kebetulan? Hanya Engkau yang tau. Dan terimakasih, sudah menjaganya dan membuatnya selalu sehat." ucapku dalam hati.


Dan itu adalah pertemuan terakhirku dengan mas Farhan. Sampai hari ini, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.


Sebelas tahun sudah berlalu sejak perkenalan juni 2009.


Tujuh berlalu sejak pertemuan terakhir mei 2013.


Dan terakhir aku mendengar kabar, dia menikah di tahun 2014.


Rasanya aku tidak mungkin benar-benar melupakan kisah itu. Karena sampai hari inipun tanpa kusadari, aku masih sangat mengingat detail nya.

__ADS_1


* THE END *


__ADS_2