RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Angkringan Lek Man


__ADS_3

Bulan kelahiran Mas Farhan pun akhirnya tiba. Ya, bulan Mei. Di bulan Mei tahun 2010 usianya tepat 30 tahun.


Sementara usiaku saat itu 23 tahun. Jarak usia kami memang cukup jauh, tujuh tahun. Itu sebabnya Mas Farhan ngemong banget kalau sama aku. Karena dia memang sudah se-dewasa usianya.


Sangat wajar ketika laki-laki sudah berusia sematang itu mulai sering memikirkan tentang pernikahan.


Sementara aku, aku masih fokus dengan skripsi ku yang baru saja memulai BAB 3. Tapi Mas Farhan pernah bilang padaku, kalau dia akan menungguku sampai selesai. Sembari dia memberi penjelasan dan coba meyakinkan orang tuanya.


Mas Farhan pernah bercerita, kalau Ibunya sedikit khawatir jikalau Mas Farhan beristrikan orang jauh. Apalagi Ibu tau kalau aku adalah orang Sumatera. Ini bukan soal SARA, tapi Ibunya khawatir kalau suatu hari nanti aku akan membawa Mas Farhan ke Sumatera. Itu artinya harapan Ibunya untuk tinggal dan dijaga oleh Mas Farhan tidak akan terwujud. Aku pun sempat mengatakan pada Mas Farhan, kalau kelak aku memang jodohnya, dan kami memang ditakdirkan bersama. Aku akan ikut kemanapun Mas Farhan pergi dan menetap. Jikapun harus di rumah itu bersama dengan orang tuanya, InshaaAllah aku akan di sana mendampinginya.


Walau jujur saja, kalau mendengar pengalaman dari beberapa teman yang sudah menikah. Mereka menyarankan untuk tidak tinggal bersama mertua, menjauhi konflik katanya.


Entahlah, tapi memang saat itu kepalaku hanyalah fokus pada skirpsiku dulu. Karena Ayahku sering sekali bertanya, kapan aku selesai. Jadi aku harus memperhitungkan harapan orang tuaku terlebih dahulu, sebelum harapan dan keinginanku sendiri.


Bukankah setiap orang tua punya harapan besar kepada anaknya setelah membiayai dan menyekolahkan mereka. Begitupun orangtuaku.


*********


Hari ini seperti biasa, aku sibuk di kampus, dan sepertinya akan pulang sore. Sepanjang hari ini aku sama sekali belum menghubungi Mas Farhan. Sepertinya dia juga sibuk dengan pekerjaannya. Karena dia juga belum menghubungiku sama sekali.


"Via, perpus yuk." Aku mengajak Via ke perpustakaan.


"Oke, baru aja mau ngajak, eh di duluin," katanya sambil tertawa.


Selama di perpustakaan aku dan Via sibuk masing-masing. Kami menghabiskan waktu sampai pukul 15.00.


Setelah selesai semua aktivitas di perpustakaan, aku dan Via pun pulang ke kos. Mandi dan bersantai mengistirahatkan kepala yang dari tadi penuh dengan materi.


Kulihat HPku, sama sekali tidak ada SMS dari Mas Farhan, adanya hanya dari Ibuku yang mengingatkan makan dan sholat seperti biasa.


Pikiranku mulai kemana-mana, Mas Farhan kok anteng banget ya? Sama sekali tidak ada kabar seharian ini. Akhirnya aku pun berinisiatif untuk SMS duluan.


"Assalamualaikum, mas lagi apa?"


SMS itu terkirim, aku menunggu balasannya sambil tiduran dan mendengarkan radio. Hidupku rasanya memang tidak bisa jauh dari radio. Apalagi semenjak mengenal Mas Farhan dari sana. Aku jadi semakin sering mendengarkan nyaris semua program dari beberapa frekuensi radio kesayangaku, I Radio Jogja, Yasika, Geronimo, dan Retjo Buntung.


Tanpa kusadari ternyata aku ketiduran. Aku terbangun karena mendengar suara Adzan Maghrib. Kulihat lagi HPku, ternyata masih belum ada balasan sama sekali.


Aku masih mencoba berpikir positif. Mungkin Mas Farhan lembur atau keluar kota. Karena Mas Farhan pernah beberapa kali keluar kota untuk memasang CCTV di hotel, dan setiap sedang di luar kota memang biasanya dia baru menghubungiku keesokan hari nya. Ya, aku memang bukan perempuan yang selalu memaksa untuk berkomunikasi. Jika aku tau dia sedang sibuk, maka aku akan menunggunya. Menunggu sampai dia menghubungiku terlebih dahulu.


Keesokan harinya aku kembali sibuk dengan skripsiku. Mengetik apa yang sudah kutulis dan kurangkum dalam sebuah buku dari perpustakaan kemarin.


Disela-sela kesibukan itu, aku kembali melihat HPku. Tapi sampai se-siang itu masih belum ada balasan SMS dari Mas Farhan, aku pun mulai merasa gelisah. Akhirnya aku memutuskan untuk menelfonnya.


Setelah beberapa kali kucoba akhirnya telepon itupun diangkat, hanya saja yang menjawab dari seberang sana bukan Mas Farhan, tapi suara seorang perempuan.


"Assalamuaikum." Seseorang yang mengangkat HP Mas Farhan menyapaku.


"Waalaikumsalam," jawabku.


"Dek Rania ya?" tanyanya. Aku mengenali suara itu, itu suara Mbak Ani.


"Iya, ini Mbak Ani kah?" tanyaku.


"Iya dek, ini Mbak Ani," jawabnya.


"Maaf Mbak, Mas Farhannya adakah?"


"Farhannya lagi sakit Dek, sekarang lagi tidur," ucapnya.


"Hah? Sakit apa ya Mbak?" tanyaku dengan perasaan khawatir.


"Demam Dek, dari kemarin badannya panas banget, dan menggigil. Tapi tadi sudah ke dokter, katanya gejala tifus."


"Oh gitu Mbak, pantes aku SMS dari kemarin nggak ada respon," kataku.


"Iya, soalnya katanya pusing banget. Jadi yaudah sama Ibu disuruh istirahat dulu, banyakin tidur. Dek Rania nggak kesini jenguk Farhan?" tanya Mbak Ani saat itu.


"Hah? Bolehkah Mbak?" tanyaku ragu-ragu. Jujur saja, jika ikut inginku aku sangat ingin menjenguknya. Tapi aku takut akan penerimaan Ibu.


"Bolehlah, masa' jenguk orang sakit nggak boleh. Apalagi yang sakit orang yang special," katanya.


"Hmmm ... InshaaAllah besok aku ajak temen ke sana buat jenguk Mas Farhan ya Mbak. Tapi jangan kasih tau Mas Farhannya dulu ya Mbak," pintaku pada Mbak Ani.


"Oke deh, ditunggu besok ya," ujarnya.


Obrolan itu pun berakhir. Aku bisa merasakan kalau mbak Ani ramah dan baik sekali padaku, sepertinya beliau menerima keberadaanku. Mas Farhan juga pernah cerita kalau Mbak Ani membantunya memberi penjelasan perlahan pada Ibu tentang aku. Walaupun Mbak Ani sempat ingin menjodohkan Mas Farhan dengan Sekar dibantu oleh Mbak Dahlia. Tapi kata Mas Farhan, Mbak Ani tidak mau memaksa. Semua keputusan ada di tangan Mas Farhan, karena Mas Farhanlah yang akan menjalaninya. Jadi siapapun pilihan Mas Farhan, Mbak Ani akan selalu mendukungnya.


********


Keesokan harinya aku meminta Via mengantarkanku ke rumah Mas Farhan. Karena kalau aku pergi sendirian itu sangat tidak mungkin, aku tidak tau jalan pastinya. Meskipun aku pernah diajak Mas Farhan ke rumahnya, sungguh aku sama sekali tidak ingat jalan yang pernah kami lewati saat itu.


Jadi aku memberikan alamat pada Via, untungnya dia tau Sumberharjo itu di mana. Hanya saja kami tetap harus bertanya ke beberapa orang yang kami temui di jalan dekat daerah itu untuk bisa sampai tepat di alamat rumah Mas Farhan.


Akhirnya aku dan Via pun sampai di rumah Mas Farhan.


Sesampainya di sana aku pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam dengan rasa ragu yang cukup besar serta jantung yang sudah pastinya berdebar. Kebetulan yang membuka pintu saat adalah Mbak Ani.


"Dek Rania, masuk Dek monggo." Mbak Ani pun mempersilahkan aku dan Via masuk ke rumahnya.


"Makasih Mbak," ucapku.


"Monggo duduk dulu ya, ini temene ya?" tanya Mbak Ani saat melihat Via.


"Iya Mbak, kenalin ini Via." Aku memperkenalkan Via pada Mbak ani, dan mereka pun bersalaman.


"Aku masuk sebentar ya. Monggo duduk dulu njih, dibawa santai aja," katanya sambil berlalu masuk ke dalam.


Beberapa menit kemudian Mbak Ani keluar membawa dua gelas minuman, dan di belakangnya ada Ibu yang mengiringi.


"Monggo Dek diminum," ucap Mbak Ani sambil meletakkan gelas yang dibawanya.


"Monggo," Ibu pun turut mempersilahkan.


"Terimakasih Bu," ucapku.


"Mau jenguk Farhan ya?" tanya Ibu.


"Iya bu. Kata Mbak Ani, Mas Farhan sedang sakit," jawabku.


"Iya, kata Dokter tadi gejala tifus, kayaknya karena kecapekan," kata Ibu.


"Iya, itu dua hari yang lalu lembur terus. Pulangnya malem banget, kemungkinan kecapekan," sambung Mbak Ani.


"Terimakasih Rania, sudah mau jauh-jauh kesini jenguk Farhan," ucap Ibu Mas Farhan sambil tersenyum.


Entah kenapa aku merasa sangat bahagia mendengar ucapan itu, apalagi melihat senyum Ibu. Semoga saja Ibu akan terus se-ramah ini padaku.


"Monggo kalau mau jenguk, langsung ke kamarnya aja ndak papa. Dek Via juga ikut aja monggo," kata Mbak Ani mempersilahkan aku dan Via masuk ke dalam.


Aku dan Via pun berdiri dan berjalan mengikuti Mbak Ani dari belakang. Saat Mbak Ani membuka pintu kamar Mas Farhan, kulihat Mas Farhan sedang tertidur.


"Oh lagi tidur Mbak. Nanti malah ganggu nggak enak. Biar istirahat dulu aja," kataku.


"Dek, kamu kesini?" Aku mendengar suara Mas Farhan memanggilku.


"Nah tuh bangun. Tau aja dia suara Ranianya," kata Mbak Ani menggodaku.


Aku pun tersenyum, ku lihat Ibu yang berdiri di belakang Mbak Ani pun ikut tersenyum. Kali ini senyum itu adalah senyum teramah dan tersejuk yang pernah kulihat di wajah Ibu. Bukan senyum sinis seperti sebelumnya. Lega rasanya lagi-lagi melihat senyum Ibu.


Aku dan Via pun masuk ke kamar Mas Farhan, dan duduk di kursi di samping tempat tidurnya.


"Masih pusing?" tanyaku.

__ADS_1


"Nggak, cuma masih agak lemes aja," jawab Mas Farhan sambil berusaha bangun dan bersandar di ranjangnya.


"Ada yang khawatir tuh denger pujaan hatinya sakit. Langsung heboh ngajak jenguk. Tapi saking hebohnya dia lupa nggak bawa apa-apa sama sekali," ledek Via.


Seketika itu juga aku kaget mendengar ucapannya. Astaga aku baru sadar kalau aku sama sekali tidak membawakan buah tangan untuk Mas Farhan, layaknya yang biasanya di lakukan ketika menjenguk orang sakit.


"Astagfirullah iya, aku lupa. Lah kok tadi kamu nggak ngingetin aku?" tanyaku ke Via sambil setengah melotot. Jujur saja aku panik saat itu. Berlebihan ya aku, tapi memang itu yang aku rasakan. Malu karena lupa membawa sesuatu untuk kekasihku.


"Aku wae lagi kelingan iki, mergo ndelok kui loh (aku aja baru inget sekarang, karena melihat itu loh)," ucap Via sambil menunjuk keranjang berisi buah yang ada di atas meja Mas Farhan.


"Aduh, maaf ya Mas. Aku bener-bener lupa," ucapku.


"Nggak papa, nggak perlu bawa apa-apa. Asal yang datang Rania, aku sudah seneng," kata Mas Farhan sambil tersenyum.


"Tsaaaaaah, udah kayak telenovela. Woy ada aku disini, ampon!" kata Via heboh sendiri.


Aku pun malu dibuatnya, rasanya salah tingkah sekali mendengar Mas Farhan mengucapkan kalimat seperti itu. Di hadapan Via lagi.


Beberapa menit kemudian saat kami sedang mengobrol tiba-tiba ada seorang perempuan langsung masuk ke kamar Mas Farhan. Ternyata itu adalah Sekar.


"Eh ada Rania," sapanya sambil langsung duduk di tepi tempat tidur Mas Farhan.


"Sama siapa kesini?" tanya Mas Farhan pada Sekar.


"Sama Mbak," jawab Mbak Dahlia yang ternyata dari tadi ada di depan pintu kamar.


"Rania udah lama disini?" tanya Sekar padaku.


"Udah sekitar 15 menit lalu," jawabku.


"Itu ada kursi loh dek." Mas Farhan berkata pada Sekar dan menunjuk kursi yang ada di sebelahku. Sepertinya kursi-kursi plastik itu memang disiapkan untuk yang mau jenguk. Atau mungkin Mbak ani yang sudah menyiapkannya karena tau aku akan datang. Entahlah, yang jelas kursi-kursi itu sudah ada di sana saat kami datang.


"Ndak ah, di sini ajah," jawab Sekar sambil memegang tangan kiri Mas Farhan.


Kulihat Mas Farhan menarik tangannya yang sedang di genggam oleh Sekar dan melihat ke arahku.


"Oh, aku lali ono yange (aku lupa ada pacarnya)," ucap Sekar sambil melihatku dengan tatapan sedikit sinis.


"Ran, pulang yuk." Tiba-tiba Via mengajakku pulang saat itu.


"Oh, oke. Mas kami pulang dulu ya." Aku pun berpamitan pada Mas Farhan.


"Kenapa buru-buru?" tanya Mas Farhan padaku.


"Aku ada pengajian Mas," celetuk Via.


Aku pun hanya tersenyum. Senyum ini adalah senyum cemburu. Senyum terpaksa, senyum kesal. Kenapa Sekar tiba-tiba datang, kenapa dia harus duduk di situ sih?! Aku yang pacarnya aja nggak berani. Uuuuugghhh, rasanya hatiku mangkel banget waktu itu.


"Yaudah Mas, aku pamit dulu ya," kataku.


"Tak anter ke depan," kata Mas Farhan.


"Eh, kamu kan masih sakit Mas, udah di sini aja bobok," ucap Sekar.


"Nggak papa, cuma ke depan situ thok," kata Mas Farhan sambil mencoba bangun dari tempat tidurnya.


"Udah ndak usah, mereka bisa sendiri kok. Kamu bobok aja Mas," kata Sekar sambil memegang tangan Mas Farhan.


"Aku mau anter pacarku ke depan pintu," ucap Mas Farhan sambil melepaskan tangan Sekar perlahan.


Sekar pun terdiam dengan wajah yang kesal.


Akhirnya aku dan Via pun keluar dari kamar itu. Saat di depan pintu kamar kami melewati Mbak Dahlia yang dari tadi berdiri di situ dan terlihat sinis.


"Mas, mau pamit sama Ibu dulu boleh?" tanyaku.


"Boleh, tunggu sebentar," jawabnya sambil ke dapur memanggilkan Ibu.


Akhirnya aku dan Via pun berpamitan pada Ibu dan Mbak Ani.


"Maaf ya Dek, tadi dibuat nggak nyaman sama Sekar," ucapnya.


"Iya nggak nyaman banget, kok ono wedhok ko ngono modele (iya nggak nyaman banget, kok ada perempuan modelnya begitu)," celetuk Via spontan.


"Ssttt, nanti orangnya denger. Ngomong-ngomong kamu ki pengajian apa? Setauku kamu nggak pernah ikut pengajian deh," tanyaku pada Via sambil menyenggol tangannya.


"Mbuh, waton muni wae kok mau ki. Sebel aku (nggak tau, asal ngomong aja tadi kok, sebel aku)," ocehnya.


"Pokoknya aku minta maaf ya Dek," kata Mas Farhan lagi.


"Iya, nggak papa Mas. Yaudah kami pulang dulu ya, banyak istirahat dan minum air putih. Cepet pulih lagi," ucapku sambil tersenyum.


"Sekarang juga udah pulih, ini obatku," ucapnya sambil menggoyangkan tanganku yang dari tadi digenggamnya.


"Tsaaaahh, mulaaiii. Wo koyo ABG wae, ayo bali(wo, kayak ABG aja, ayo pulang)," ledek Via.


"Yaudah hati-hati dijalan ya, kalau sampai kos kabari aku," kata Mas Farhan.


Akhirnya aku dan Via pun pulang. Sepanjang perjalanan aku mendengarkan Via yang ngedumel mengomentari Sekar.


Andai Via tau, hatiku ini juga pengen ngedumel sebenernya. Tapi sayang tadi di rumah orang. Kalau misalnya tadi dia berulah seperti itu di luar, bukan di rumah Mas Farhan. Sudah kujambak kali rambutnya. Aku ini perempuan biasa yang juga bisa emosi, bukan seperti karakter bawang putih di sinetron yang walaupun dijahati dan diganggu masih baik dan sok-sokan ramah. Aku nggak bisa begitu.


**********


Lima hari berlalu sejah hari dimana aku menjenguk Mas Farhan, akhirnya Mas Farhan sudah benar-benar pulih. Dia pun sudah bisa kerja lagi.


Hari itu sebelum kerja dia berpamitan pada ku lewat SMS. Aku senang mendengar Mas Farhanku sudah pulih kembali, itu artinya aku bisa bertemu denganya lagi. Tanpa harus ke rumahnya dan bertemu Sekar lagi. Jujur saja, aku nggak mau kalau pas ke rumah Mas Farhan harus berbarengan dengan dia lagi.


Pokoknya aku nggak sanggup kalau harus melihat tingkah perempuan satu itu. Bisa darah tinggi rasanya.


Malam harinya di hari itu Mas Farhan menjemputku dan mengajakku makan malam. Kali ini dia mengajakku ke Angkringan Kopi Jos Lek Man yang berlokasi di dekat Stasiun Tugu.


Ini bukan pertama kalinya sih aku ke Angkringan Lek Man. Karena beberapa teman juga sering mengajakku makan di sini.


Sesampainya di sana, Mas Farhan memesan Kopi Jos yang sangat legendaris itu. Segelas kopi hitam yang disajikan dengan arang yang membara. Kopi Jos adalah salah satu menu utama dari Angkringan itu. Sementara aku memesan wedang jahenya.


Kami pun kebagian tempat duduk di bagian lesehan. Karena memang angkringan itu tidak pernah sepi pengunjung, bahkan kadang sampai antri. Tempat duduk yang disediakan ada lesehan dan ada juga yang di bangku serta meja kayu.


"Dek, sepertinya Ibu sudah mulai bisa menerimamu," ucap mas Farhan memulai pembicaraan.


"Hah? Gimana? Ulang-ulang," tanyaku ingin memastikan pendengaranku.


Mas Farhan pun merubah posisi duduknya agar bisa lebih berhadapan dan dekat denganku.


"Rania Ainun Sofia, sepertinya Ibuku sudah bisa menerima mu," katanya sekali lagi sambil memegang kedua tanganku.


"Kok bisa? Memang Ibu bilang apa?" tanyaku sok kalem.


"Waktu kamu dateng jenguk aku beberapa hari lalu, malemnya ibu bilang kalau dia nggak nyangka kamu mau datang jenguk aku. Padahal kamu baru sekali aku ajak kerumah, itu artinya kamu berusaha mencari alamat rumah ku hanya untuk menjengukku," jelasnya.


"Masa' cuma karena itu? Mudah sekali meluluhkan hati Ibumu." tanyaku meragukan penjelasan Mas Farhan.


"Sebenarnya ada beberapa alasan lain. Kata Ibu kamu sopan, dan Mbak Ani juga bilang kamu baik. Terus aku juga memberi pandangan pada Ibu kalau kelak seumpama kita memang jodoh, kamu mau ikut aku," jelasnya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah," jawabku singkat.


Sebenarnya hatiku girang banget saat itu. Tapi nggak mungkinkan aku lompat-lompat di tempat se-ramai itu. Jadi aku mencoba menahannya. Kusembunyikan kebahagiaanku di dalam hati.


Setelah pembicaraan itu aku dan Mas Farhan pun membahas banyak hal lainnya. Ngobrol dengan Mas Farhan adalah salah satu hal yang selalu aku rindukan. Karena Mas Farhan selalu punya topik pembicaraan.


Setelah selesai menikmati beberapa makanan khas angkringan yang sangat lengkap yang tersedia di Angkringan Lek Man itu kami pun memutuskan untuk pulang.


Di perjalanan pulang aku meminta Mas Farhan untuk mampir ke salah satu Indomaret yang ada ATM nya, karena aku mau mengecek kiriman Ibuku tadi pagi.

__ADS_1


Aku pun masuk ke indomaret itu, dan Mas Farhan menungguku di parkiran. Masih duduk diatas motornya. Saat selesai mengecek saldo, aku pun berjalan menuju pintu keluar indomaret itu dan tidak kusangka aku akan bertemu dengan Bima. Iya, Bima adalah mantan pacarku sebelum Mas Farhan.


"Rania," sapa nya.


"Lah, Mas Bima, kok disini?" tanyaku kaget.


"Iya, baru dua minggu lalu aku balik ke Yogya, kamu apa kabar?" tanyanya.


"Alhamdulillah baik, kamu?"


"Alhamdulillah baik, dari mana malem-malem gini?" tanyanya.


"Abis dari makan di Angkringan Lek Man," jawabku.


"Sama siapa?"


"Sama Mas Farhan," jawabku lagi sambil melihat Mas Farhan yang memperhatikan ku dari balik kaca indomaret.


"Yang baru ya?" tanyanya sambil senyum.


"Iya, soalnya yang lama udah terbang ke Kalimantan," jawabku.


"Tapi ini sudah ada di Yogya lagi loh yang lama," jawabnya menggodaku.


"Ah udah ah becandanya, aku mau pulang. Bye," kataku sambil berlalu meninggalkannya.


Aku pun berjalan keluar menuju Mas Farhan yang masih menungguku di atas motornya. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan pulang menuju kosku.


Bima, aku pernah berpacaran dua tahun dengannya dari tahun 2006 sampai tahun 2008. Jauh sebelum aku mengenal Mas Farhan. Dulu kami satu kampus, dia kakak angkatan satu fakultas denganku. Kami putus bukan karena orang ketiga atau masalah lainya. Kami putus karena dia harus pindah ke Kalimantan. Ya, setelah lulus, dia ke Kalimantan untuk kerja dengan Omnya yang berdomisili di sana. Dia pergi dariku tanpa berpamitan. Lalu setelah dia di sana satu bulan, dia baru menghubungiku lagi. Tapi karena dia terlalu sibuk, komunikasi kami jadi sangat-sangat kurang. Lagian saat itu perasaanku sudah hambar dibuatnya. Aku tau kalau dia punya ambisi untuk menjadi seorang wiraswasta. Jadi dia kerja sambil belajar bagaimana caranya buka usaha sendiri seperti omnya. Tapi ku akui, dari awal pacaran dengan Bima aku merasa semua biasa saja. Sangat biasa, aku tidak punya perasaan sedalam yang aku punya untuk Mas Farhan sekarang ini. Oleh sebab itu saat putus dengannya aku pun biasa saja. Sedih memang karena ditinggal tanpa pamit. Lalu setelah sebulan baru memberi kabar. Tapi kesedihan itu tidak terlalu dalam. Rasa kehilangan sesaat, lalu memudar hanya dalam hitungan hari.


*********


Beberapa saat kemudian akhirnya aku dan Mas Farhan pun sampai di depan kos. Aku turun dari motor, dan kami mengobrol sebentar di depan gerbang kos.


"Dek, yang tadi siapa?" tanya Mas Farhan padaku.


"Oh, itu Bima. Mantan ku yang dulu," jawabku jujur.


"Kamu nggak pernah cerita soal dia ke aku, seperti aku cerita tentang Zahra padamu," ucapnya.


"Buat apa? Aku putus sama dia jauh sebelum kenal Mas, dan sejak putus sampai detik ini aku sama sekali nggak pernah komunikasi sama dia lagi," jelas ku.


"Ganteng ya," katanya sambil tersenyum menggodaku.


"Kenapa? Naksir?" tanyaku.


"Iya aku naksir," jawabnya.


"Dih, Mas yang benar saja." Aku pun tertawa mendengar pernyataan Mas Farhan.


"Aku naksir sama mantan pacarnya," katanya sambil melihat mataku.


"Mulai," ucapku sambil tersipu malu.


"Tapi bener, aku naksir sama mantan pacarnya sejak pertama ketemu," ucapnya lagi sambil memegang tanganku dan kembali menatap lekat mataku.


"Mas, kamus gombalmu setebal apa? Makin kesini makin jago gombalnya," ucapku menggoda Mas Farhan.


"Aku nggak pernah gombal, aku serius," ucapnya dengan wajah yang memang berubah serius.


"Iya, iya. Aku tau kamu naksir aku, sama kalau gitu," ucapku sambil tersenyum.


"Ngomong-ngomong, sampai detik ini kamu nggak pernah mengembalikan note yang pernah aku kasih Dek. Sudah diisikah?" tanyanya.


"Belum," jawabku singkat.


"Kenapa?"


"Itu note untuk nulis kesalahan, kekurangan, dan sikapmu yang membuatku nggak nyaman kan? Dan sejauh ini semua itu nggak ada," ujarku sambil menatap wajahnya.


"Masa' nggak ada sama sekali, kan nggak mungkin aku sesempurna itu."


"Siapa bilang kamu sempurna?" tanyaku.


"Nah itu nggak ada kekurangan dan kesalahan yang bisa kamu tulis di notenya."


"Ada kekuranganya dan kesalahannya, tapi sudah tercover dengan kebaikannya, kasih sayangnya, perhatiannya, jalan-jalannya, dan senyuman manisnya," kataku sambil tersenyum melihat matanya.


"Aku berasa kayak ABG loh Dek kamu gombalin gini," katanya tersenyum malu.


"Aku nggak gombal, aku serius," kataku meniru ucapannya.


Kami pun tertawa bersama. Setelah ngobrol beberapa saat, Mas Farhan pun pamit pulang, dan aku masuk ke kos. Tidak mengulur waktu, aku langsung mandi, ganti baju, dan bersiap untuk istirahat.


Sebelum tidur aku sempat menyalakan radio seperti biasa untuk menjadi teman tidurku, dan melihat HPku, yang ternyata sudah ada tiga SMS dari Mas Farhan di situ.


SMS 1 : "Dek, aku sudah sampai rumah."


SMS 2 : "Dek, sudah tidur kah?"


SMS 3 : "Dek, kalau sudah ada waktu pegang HP dan baca SMSku, langsung balas ya. Aku nunggu."


Apa ini? Nggak biasa-biasanya Mas Farhan SMS sebanyak ini. Biasanya kalau aku belum balas dia akan menunggu sampai aku balas sendiri, tumben banget ini SMS sampai berjejer lima menit sekali.


"Apa mas? Ni abis mandi, sekarang udah siap mau istirahat," balasku.


Tidak menunggu lama tiba-tiba HPku pun bergetar.


"Aku nunggu balasanmu dari tadi," balasnya.


"Tumben banget ditunggu, biasanya kalau aku balasnya besok pun nggak papa."


"Malam ini lain, aku juga heran."


"Lain apa nya?" balasku.


"Aku mau ngomong sesuatu, dan aku mau kamu langsung membacanya," balasnya.


"Ngomong apa?"


"Ini serius, jangan dibilang gombal, jangan diledek. Aku juga nggak tau kenapa aku bisa merasakan ini, dan ini baru pertama kali."


"Apa sih mas? Bikin penasaran," balasku dengan rasa penasaran yang cukup kuat.


"Aku mencintaimu Rania Ainun Sofia."


Aku tidak langsung membalasnya, aku membaca kalimat itu berulang-ulang, yang tadinya aku berbaring seketika itu juga aku langsung bangkit dan duduk.


Hah? Ini serius? What? Hampir setahun aku mengenalnya, baru pertama kali ini dia mengucapkan kalimat pamungkas seperti ini. Raniaaa, kamu yang nggak seberapa ini bisa membuat seorang Mas Farhan mencintaimu, dan kini dia pun sanggup mengucapkanya walau sekedar SMS. Mimpi apa kamu Rania? Mimpi apa?


"Boleh tau apa yang membuatmu mencintaiku? Sampai akhirnya bisa mengucapkan hal itu?" balasku sok kalem.


Padahal kelakuanku di kamar sudah persis seperti jungkat-jungkit anak TK, sambil memeluk gulingku. Silahkan dibayangkan saja.


"Semua hal yang ada padamu aku suka, tidak perlu ada alasan spesifik untuk mencintai seseorang bukan? Cukup di rasakan saja," balasnya.


Oh Raniaaa, selow Ran, selow. Jangan berlebihan, perjalanan ini masih jauh, jangan terlalu terbang tinggi. Karena jatuh dari ketinggian itu akan sangat sakit. Kendalikan perasaanmu Rania.


"Terimakasih Mas sudah mencintai Rania, terimakasih sudah menemani Rania sampai sejauh ini," balasku.


"Sama-sama dek, yaudah istirahat ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Malam itu adalah salah satu malam terindah dari semua malam yang kulalui semenjak aku mengenalnya. Mas Farhannya Rania.


Bersambung...


__ADS_2