RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Cobaan Terberat


__ADS_3

Juni 2010


Genap 1 tahun sudah perkenalan ku dengan mas Farhan. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, walaupun kami tidak bertemu setiap hari, tapi bagiku sejak perkenalan itu mas Farhan justru mengisi setiap jam dalam hidupku.


Sepanjang proses perkenalan, pertemuan, dan timbulnya rasa, sampai pada tahap merasa saling memiliki hati masing-masing, hubungan ini sama sekali tidak mengganggu studi ku, aku justru merasa punya semangat baru. Dan skripsi ku pun hampir selesai.


Aku tidak pernah absen meminta pada Allah, agar hubungan ini baik-baik saja, aku selalu berharap ini semua akan indah pada waktunya.


Tapi manusia boleh berencana, boleh berharap, di wajibkan berdoa, namun Allah tetap penentu segalanya.


Siang itu di pertengahan bulan juni aku mendapat telepon dari ayah. Ibuku sakit dan harus di rawat, jadi ayah mau aku pulang ke Sumatera.


Dan aku pun pulang.


Setelah aku berpamitan dengan mas Farhan, dia memintaku selalu jaga diri dan cepat kembali.


Setelah tiba dirumah, sepuluh hari aku fokus menjaga ibu, dan akhirnya ibu pulih. Ya, ibu punya sedikit masalah dengan jantungnya, tapi masih dalam tahap wajar.


Saat ibu sudah benar-benar pulih, aku berencana untuk pulang ke Yogya. Dan melanjutkan kuliahku yang tinggal sedikit lagi. InshaAllah kalau tidak ada halangan Desember aku bisa wisuda.


"Bu, dua hari lagi Rania balik ke Yogya yah, ibu udah bener-bener pulih kan?" tanyaku pada ibu.


"Udah mbak alhamdulillah, iya boleh kalau mbak mau balik ke Yogya lagi." Jawab ibu.


"Gimana Bima?" tanya ayah yang saat itu sedang duduk di sebelah ibu.


"Kayaknya baik-baik aja, Rania jarang komunikasi sama dia." jawabku.


"Kenapa?" tanya ayah.


"Ya karena Rania udah nggak berhubungan deket lagi sama mas Bima, kita cuma sekedar temen biasa aja."


"Ayah suka sama anak itu, gigih, rajin, ambisi nya ke arah yang bagus." kata ayah memuji Bima.


Aku hanya menunduk saat mendengar ayah mengatakan hal itu, aku malas sebenarnya membahas soal Bima lagi.


"Rania sudah ada orang lain ya?" tanya ibu.


Aku tidak langsung menjawabnya, aku melihat ke arah ayah yang menatapku dan seolah penasaran.


"Jawab mbak." kata ayah.


"Iya." jawabku.


"Siapa? Kuliah dimana? Atau udah kerja?" tanya ayah.


"Namanya mas Farhan, kerjanya teknisi disalah satu perusahaan pengadaan barang elektronik untuk hotel dan perkantoran." jawabku jujur.


"Sudah berapa lama mbak kenal dia?" tanya ibu.


"Satu tahun." jawabku.


"Kira-kira masa depannya lebih bagus mana sama Bima?" tanya ayah.


"Hah? Ayah kok nanya nya gitu? Kesannya membandingkan." kataku agak kesal.


"Mbak, pernikahan itu nggak cukup makan cinta, tapi butuh banyak hal yang lain, yang bisa menjamin kebahagiaanmu, bukan hanya cinta."


"Jadi maksud ayah gimana? Arah pembicaraan ayah ini kemana?" tanyaku dengan nada bicara selembut mungkin sambil menahan sedikit emosi yang melintas di dadaku.


"Selesaikan hubungan mu dengan siapa tadi namanya?"


"Farhan." jawab ibu.


"Iya, si Farhan itu, ayah punya rencana nanti abis wisuda, kamu menikah dengan Bima." kata ayah sambil menatapku.


"Hah? Ayah? Maksudnya apa? Kok tiba-tiba membahas pernikahan, dengan Bima lagi, ayah nggak pernah bilang apa-apa sama Rania sebelumnya, kok sudah ada rencana seperti itu?" tanyaku sambil sedikit gemetar.


"Ya makanya ini sekarang ayah ngomong, ayah mau nya mbak Rania sama nak Bima, ayah lebih tau apa yang terbaik untuk mbak, mbak bisa membantunya memanage usaha barunya nanti." kata ayah tegas.


"Saat Rania pengen kuliah jurusan seni, kata ayah jangan, nggak ada masa depannya, management aja, Rania nurut, saat Rania mau kuliah di Jakarta sambil tinggal di rumah tante yani, kata ayah jangan, di Yogya aja, biar mandiri, oke Rania nurut, semua hal dalam hidup Rania sampai hari ini, itu semua menuruti apa mau ayah, sekarang bahkan soal hati, soal pernikahan pun, rania HARUS ikut ayah?" aku sudah tidak tahan menahan tangisanku. Dan akhirnya tangisan itupun pecah.


"Sejak kapan mbak berani ngelawan ayah? Sejak kapan berani JAWAB? sejak kenal sama si FARHAN itu?" Ayah pun membentakku.


"Nggak, mas Farhan orang yang baik ayah, sholatnya rajin, sabar, dia nggak pernah ngajarin Rania hal yang buruk, ini semua mutlak dari hati Rania." ucapku sambil menunduk menahan sakit di dada karena tangisanku.

__ADS_1


"Pokoknya kalau kata ayah kamu menikah dengan Bima ya dengan Bima, ayah nggak akan pernah kasih restu kalau sampai bukan dengan Bima . TITIK!" kata ayah dengan nada tinggi dan langsung berlalu pergi.


"Astagfirullah, astagfirullah, sakitnya dadaku ya Allah, apa semua ini? Kenapa kok harus ada hal semacam ini." hatiku pun menangis.


Ibu mendekatiku, duduk disebelahku, dan mengelus kepalaku yang masih tertunduk.


"Ibu, bantu Rania bu." ucapku sambil menangis dan memeluk ibu.


"Sabar mbak ya, nanti ibu coba bicara sama ayahmu. Sudah sejak dulu memang ayah berencana mempersatukanmu dengan Bima, waktu itu saat Bima telepon ayah, dan bilang sedang sibuk merintis usaha walaupun baru kecil dan baru permulaan, ayah senang sekali mendengarnya, dan ayah jadi semakin yakin ingin mempersatukanmu dengan Bima." kata ibu.


"Ibu, soal hati tidak bisa di paksakan bukan? Hati Rania bukan untuk mas Bima, tolong Rania bu." kata ku memohon pada ibu.


"Iya, nanti ibu coba bicara sama ayah ya, udah jangan nangis. Sana ke kamar, istirahat dulu."


Aku pun melangkahkan kakiku ke kamar, entah kenapa rasanya aku limbung, kakiku lemas sekali.


Dikamar aku tak henti-hentinya menangis, rasanya aku ingin mas Farhan ada di hadapanku saat itu, aku ingin memeluknya, memintanya membawaku pergi jauh saja.


Selama ini aku terlalu memikirkan tentang Ibu mas Farhan yang ku pikir akan menjadi cobaan hubungan kami, lalu Zahra, kemudian Sekar. Dan aku sudah yakin kalau aku bisa mengatasi itu semua perlahan. Tapi aku tidak sadar, bahwa ini lah cobaan terberatnya. AYAH!!


Aku sama sekali belum memberi tahu mas Farhan soal ini, rasanya aku tidak sanggup untuk memberi tahu nya.


"Ya Allah, aku mohon padaMU, lembutkan lah hati ayah, setidaknya agar ayah mau mengenal mas Farhan terlebih dahulu sebelum menilainya." doa ku sebelum tidur malam itu.


Akhirnya waktu aku berangkat ke Yogya pun tiba, dari pagi aku sudah packing, dan sejak malam itu, saat ayah memintaku putus dengan mas Farhan, aku dan ayah tidak banyak bicara, aku mencoba menghindar, agar ayah tidak membicarakan itu lagi, aku tidak sanggup mendengarnya.


"Ibu, Rania pamit, ibu jaga kesehatan, jangan sakit lagi." kataku sambil sungkem sama ibu.


"Iya sayang, mbak hati-hati di jalan ya. Jaga kesehatan juga, yang utama jangan tinggal sholat." kata ibu menasehatiku.


"Ayah, Rania balik Yogya dulu, ayah juga jaga kesehatan ya." kataku sambil sungkem juga ke ayah.


"Asal mbak nurut, mbak mau dengar apa kata ayah, InshaaAllah ayah akan selalu sehat dan bahagia, ingat ucapan ayah, restu itu tidak akan pernah turun, kalau mbak berhubungan bukan dengan Bima." kata ayah sambil mengelus Rambutku.


"Ayah, anaknya mau balik, ini nanti dalam perjalanan malah stress kalau ayah ngomongnya gitu." kata ibu.


Ayahpun hanya diam. Dan aku pun menahan tangis sampai dadaku terasa sangat sesak.


Di pesawat aku tidak bisa lagi menahan tangisanku. Rasanya sudah benar-benar menyesakkan dada. Di kepalaku hanya ada mas Farhan, aku ingin sekali segera bertemu dengannya.


Aku sungguh tidak pernah menyangka akan ada episode seperti ini dalam kehidupanku, dari dulu aku memang tidak pernah bisa menentang ayah, apapun kata ayah semua anaknya harus patuh, harus nurut.


"Ya Allah, tolong Rania."


Sore itu aku sampai di Yogya, sesampainya di kos aku tidak langsung istirahat. Aku langsung menceritakan semuanya kepada Via sahabatku.


Via pun hanya bisa terdiam dan mengelus bahuku, menguatkanku.


"Sabar yo Ran, aku nggak tau mau bilang apa, ini urusannya sama restu orang tua." ucapnya.


"Nggak papa Vi, aku cuma mau cerita aja, setidaknya aku bisa membagi bebanku denganmu, karena aku belum sanggup kalau mau mengatakan ini pada mas Farhan, aku nggak kuat Via." kataku sambil menangis sesegukan.


Via pun memelukku, aku menangis sejadi-jadinya saat itu, hanya Via yang bisa menguatkanku.


Malam nya aku tidak bisa tidur sama sekali, aku selalu teringat ucapan ayah,


'Nggak akan ada restu kalau bukan dengan Bima'.


"Ayah, kenapa ayah tega sama Rania. Ayah, tak bisakah beri Rania kesempatan untuk memperkanlan mas Farhan ke ayah dulu, tidak bisakah ayah melihatnya bahkan walau cuma sekali saja, tidak bisa kah ayah melihat kesungguhannya terhadap Rania, sekali saja ayah, sekali saja." ucapku dalam hati sambil terus menangis.


Paginya kepalaku terasa berat, pusing yang luar biasa, dan aku meminum obat pereda sakit kepala. Aku tetap pergi ke kampus untuk menyerahkan bab terakhirku ke dosen pembimbing. Walau dengan tenaga yang hanya setengah, dan tubuh yang terasa sedikit gemetar. Karena selain tidak tidur, aku juga tidak makan apapun sama sekali, hanya minum air putih saja.


Mas Farhan tau kalau aku sudah balik ke Yogya, aku sudah memberi tahu nya tadi pagi.


Sore itu pulang dari kampus aku langsung pulang ke kos, aku benar-benar merasa lemah, bahkan seharian ini sama sekali tidak ada makanan yang ku telan. Pikiranku rasanya kacau, terlebih lagi saat subuh tadi nggak biasa-biasanya ayah SMS, dan isi SMS ayah adalah hal yang sama seperti yang di ucapkanya saat aku mau pamit kemarin.


"Ran, kok pucet?" tanya mas Iwan yang sedang duduk di teras bersama Via.


"Ho oh Ran, matamu rodo sembab, mbok uwes Ran, ojo di pikir jeru-jeru, malah loro engko." kata Via mengkhawatirkanku.


"Aku nggak papa kok, aku masuk dulu ya." kataku sambil berlalu meninggalkan mereka.


Aku pun masuk ke kamarku dan berbaring, rasanya penglihatanku berkunang-kunang. Tapi aku tetap tidak bisa tertidur, mataku terpejam, hanya saja pikiranku kemana-mana.


Maghrib pun tiba, aku masih mendengar suara mas Iwan lagi ngobrol dengan Via di depan.

__ADS_1


Tak lama ku dengar Via mengetuk pintu kamarku. Dan aku pun mencoba berjalan dan membukanya.


"Ada apa Vi?" tanyaku sambil menatapnya lesu.


"Ada mas Farhan di depan." kata Via.


"Oh iya bentar, aku cuci muka dulu." jawabku sambil berjalan ke kamar mandi.


Saat aku keluar mas Farhan, Via dan mas Iwan pun melihat ke arahku.


"Dek, kok pucet banget?" tanya mas Farhan.


"Biasa, lagi kedatangan tamu bulanan." jawab Via memberi alasan agar mas Farhan tidak khawatir.


Tapi memang kebetulan juga hari itu aku sedang halangan.


"Iki loh di maem, Farhan bawa martabak." kata mas Iwan.


"Iya monggo mas, di maem aja." jawabku lesu.


"Mau ke dokter nggak dek?" tanya mas Farhan.


Aku bisa merasakan suara nya terdengar khawatir akan keadaanku.


"Nggak usah mas, nggak papa kok, besok juga enakan." jawabku.


"Tapi matamu sembab, wajahmu pucat, aku pertama kali ngeliat kamu gini." katanya.


"Ho oh ke dokter wae Ran." sela mas Iwan.


"Nggak usah, aku tak ambil minyak kayu putih dulu sebentar ya." kataku sambil berdiri.


Dan pertahananku pun runtuh, aku tumbang, aku jatuh, tapi bukan pingsan.


Aku masih sadar, aku masih bisa mendengar mas Farhan memanggilku saat badanku ambruk.


Aku bisa merasakan badanku di angkat mas Farhan dan mas Iwan.


"Minum dulu Ran." kata Via memberi minum sambil menopang separuh badanku yang tergeletak di kursi ruang tamu kos.


Aku pun minum, aku bisa merasakan Via mengoleskan minyak kayu putih ke pelipisku.


"Ke rumah sakit ya dek." kata mas Farhan sambil menggenggam tanganku.


"Nggak usah, aku mau tidur di kamar aja." jawabku lirih.


Mereka pun membopong ku masuk ke kamar. Dan membaringkanku di kasur.


"Yakin dek nggak mau ke dokter?" kata mas Farhan sambil tetap menggenggam tanganku.


"Mas Farhan." ucapku sambil menahan tangis.


"Iya, adek butuh apa? Coba bilang." katanya sambil tangan kirinya mengusap rambutku.


"Mas." hanya kata itu yang bisa ku ucapkan, dan ku rasakan air mataku mengalir. Aku tidak bisa menahannya lagi.


Aku pun tidak bisa mengatakan apa-apa sama sekali, hanya bisa sesegukan, dan beristigfar dalam hati.


"Rania kenapa Vi? Coba cerita sama aku." kata mas Farhan


Via tidak langsung menjawab, dia melihat ke arahku, dan aku menggelengkan kepala perlahan memberi kode agar dia tidak menceritakan apapun.


"Besok aja mas tanya ke Rania sendiri, nek Rania udah pulih ya, sekarang biarin dia istirahat dulu ya." kata Via.


Mas Farhan pun menatapku, menggenggam tanganku, mengelus rambutku, aku yakin dia tau kalau ada susuatu yang tidak biasa terjadi padaku.


Dan akhirnya mas Farhan dan mas Iwan pun pamit pulang.


"Aku pulang dulu, besok aku kesini lagi, cepet pulih, jangan nangis lagi, ada aku." ucapnya sambil mencium keningku.


Tangisku semakin pecah, dadaku semakin sesak, aku yakin mereka bisa melihat aku sesegukkan, karena akupun bisa merasakan badanku bergetar karena tangisan yang begitu menyesakkan dadaku.


"Yaudah mas Farhan, mas Iwan, keluar dulu yuk, biar Rania istirahat." ajak Via.


Mereka pun keluar dan menutup pintu kamarku.

__ADS_1


"Mas Farhan, maafkan aku, sudah membuatmu khawatir, maaf sudah membuatmu melihatku seperti ini, maafkan Rania, maaf." kataku lirih saat pintu kamarku tertutup.


Bersambung...


__ADS_2