RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Jiwa yang hambar di hari lamaran


__ADS_3

Desember 2010


Hari wisuda itu pun datang. Seharusnya aku bahagia, tapi tidak, aku tidak terlalu bahagia. Bahkan sepertinya aku sudah lupa bagaimana kebahagiaan yang sebenarnya.


Sejak perjalanan ke semarang bulan Agustus 2010, aku tidak pernah bertemu lagi dengan mas Farhan. Karena waktu pulang dari Semarang, saat sedang di depan gerbang kos, mas Farhan pernah berkata :


"Mulai hari ini, aku tidak akan menemui dek Rania lagi atas keinginan sendiri, kecuali kalau Rania yang minta aku temui. Aku tidak akan tiba-tiba muncul lagi, karena aku tau itu akan membuat kesedihan mu tak berkesudahan, dan aku tidak mau itu, meskipun aku tau, tidak bisa membahagiakanmu, tapi setidaknya aku tidak mau membuatmu sedih, kalau suatu saat butuh aku, SMS dan telepon aja, aku selalu ada."


Dan sejak hari itu aku memutuskan untuk tidak bertemu dengannya lagi, aku tau bagaimana perasaanku, walau rindu itu sangat terasa, walau sangat ingin melihat wajahnya, tapi aku sama sekali tidak ingin menghubunginya, tidak memintanya datang dan menemuiku. Aku mencoba membiasakan diri tanpa nya. Walau itu tidak mudah. Percayalah.


Ayah dan ibu sudah tiba di Yogya tiga hari sebelum hari-H, aku bisa merasakan kebahagiaan mereka, anaknya sudah lulus. Dan itulah impian ayah.


Saat acara wisuda selesai, aku pun langsung keluar gedung, menemui beberapa teman-teman ku dan memberi selamat kepada mereka, termasuk Via. Setelah sesi foto dengan kedua orang tua, aku pun meminta ayah dan ibu pulang duluan ke kos, aku masih mau di kampus dan menemui beberapa teman lain.


Saat sedang mengobrol dengan beberapa teman dan berbagi kebahagiaan bersama, tiba-tiba Via menarik tangaku tanpa mengucapkan apapun. Dia terus menarik tanganku dan itu menuju ke taman tempat kami biasa ngobrol.


Tiba-tiba dia memberikan sebuah surat dak kotak kecil padaku.


"Apa ini? Alah Via repot-repot loh, aku aja nggak nyiapin apa-apa buat kamu." gurauku.


"Buka." katanya singkat.


Yang ku buka pertama kali adalah kotak kecil berwarna hitam, dan saat ku buka ternyata isinya sebuah bross cantik bebentuk kupu-kupu. Dan seketika itu aku teringat mas Farhan. Aku teringat jepit rambut kupu-kupu yang pernah dia berikan.


"Ini dari kamu?" tanyaku sambil menatap Via.


Dan Via memutar kepalaku ke arah kanan. Dan aku sungguh terkejut ternyata mas Farhan sedang berdiri di balik pagar pembatas antara jalan dan kampusku.


Kalau ikut kata hati, aku ingin sekali berlari dan menemuinya, tapi aku tidak sanggup untuk menangis lagi, menangis di depannya. Bukan karena tangisan itu akan membuatku sakit, tapi justru melihatnya menangislah yang akan membuatku merasa jauh lebih sakit.


Dan akupun hanya tersenyum dari kejauhan, melambaikan tangan yang sedang memegang surat yang belum ku baca. Dan mas Farhan pun tersenyum ke arahku, kemudian berlalu pergi.


Akupun menunduk dalam waktu yang cukup lama.


"Ran, kamu nggak papa?" tanya Via.


"Lama aku nggak ketemu mas Farhan, dulu setiap berjumpa denganya hari-hariku hanya diisi dengan senyum dan tawa, tapi sekarang, bahkan melihat dia dari kejauhanpun aku sedih sekali Via." kataku menahan tangisku.


"Sabar ya men, aku nggak bisa bantu apa-apa, cuma ini aja yang aku bisa, tadi aku suruh dia masuk aja, tapi dia nggak mau. Katanya tolong berikan ini aja ke kamu. Tapi aku bilang jangan langsung pergi, dia harus liat kamu pake toga ini, awalnya dia nggak mau, katanya dia udah janji nggak akan menemuimu tanpa kamu minta, tapi menurutku dia harus lihat kamu dengan toga ini, setidaknya dia juga kamu sebut dalam skripsimu kan, terimakasih yang tak terhingga kepada pemilik senyum terindah, iya kan?"


"Kamu baca ya Vi?" tanyaku.


"Iya, awalnya aku cuma mau liat, namaku kamu sebut ndak, dan alhamdulillah ada, dan aku liat namanya ndak kamu sebut, tapi aku baca ulang, ternyata pemilik senyum itu, dia kan? Bener?"


Aku hanya mengangguk, dan hanya Tuhan sajalah yang tau perasaanku saat itu.

__ADS_1


Dan Via pun memelukku, air mataku ku pun tak tertahankan lagi, entah kenapa, apakah hanya aku sendiri, atau ada orang lain diluar sana yang pernah merasakan perasaan semacam ini, kadang aku bertanya, apakah ini berlebihan? Apakah ini tidak normal? Tapi terserahlah, yang jelas aku merasakannya, sedih yang tak mampu ku gambarkan.


Dua hari setelah wisuda ayah dan ibu pun pulang, dan sebelum pulang ayah mengatakan sesuatu.


"Mbak, bulan maret Bima dan keluarganya bakalan dateng ke sumatera untuk melamarmu secara resmi, katanya sekitar tanggal 20, kalau bisa tanggal 15 kamu udah pulang ya, kita persiapkan sambutan. Nanti saat lamaran yang datang hanya keluarga saja, sederhana saja, yang penting sakral."


Dan aku sama sekali tidak mengucapkan apapun, hatiku hambar, hatiku tidak bisa merasakan apa-apa. Sama sekali.


Setelah ayah dan ibu pulang, beberapa teman kos yang lain juga ada yang pulang kampung untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga mereka, termasuk Via, dan saat itu aku merasakan sepi yang teramat sangat.


Surat yang mas Farhan berikan waktu itu sama sekali belum ku baca, lagi-lagi aku takut untuk membuka nya. Tapi hari itu sambil memutar lagu-lagu yang mewakili perasaanku, akupun memberanikan diri untuk membukanya, dan isi surat itu :


Assalakualaikum dek,


Aku berharap kamu selalu baik dan berada dalam lindunganNya. Selamat ya atas wisudanya, akhirnya perjuangan yang kamu tempuh selama ini membuahkan hasil yang membanggakan, maaf aku tidak bisa hadir dan melihatmu memakai toga kebanggaan itu, tapi aku yakin, kamu akan terlihat cantik.


Maaf aku tidak bisa memberikan apa-apa, aku hanya bisa memberikan hadiah kecil yang nilainya nggak seberapa, tapi aku berharap kamu suka.


Aku rindu kamu Rania, rindu saat kamu ngelamun, rindu saat kamu tersenyum, rindu dengan celotehmu yang selalu terdengar lucu di telingaku. Aku rindu semua yang ada padamu.


Memang aku tidak bisa memiliki ragamu dan tidak bisa bersamamu seperti bayanganku dulu. Tapi percayalah, aku sangat bersyukur karena memiliki banyak kenangan indah bersamamu.


Pesanku, tetaplah menjadi seorang perempuan yang kuat dan tegar, aku sudah melihat sendiri perjuanganmu, walau di hantam masalah yang besar, kamu tetap berdiri. Mungkin yang orang lain lihat kamu terus menangis, kamu rapuh, tapi percayalah, tidak mudah untuk tetap kuat dan fokus agar segera wisuda, sementara hati sedang terluka. Dan kamu, ternyata kamu bisa. Kamu mampu.


Wasaalamualaikum,


Yang tadinya aku berdiri di depan jendela kamarku sambil membaca surat itu, seketika itu juga aku berlutut, aku mengeluarkan semua sesak yang sudah terasa dari bawal membaca surat itu, sampai akhir.


Aku bisa saja menelponnya, bisa saja SMS dan memintanya menemuiku saat itu, tapi aku tau, sudah tidak akan ada lagi kebahagiaan ketikapun kami bisa bertemu, karena aku hanya akan menangis, menangis, dan menangis. Karena aku tau, benar-benar sudah tidak ada harapan lagi.


Malamnya aku semakin kesepian, tidak ada satupun anak kos yang tertinggal, semua keluar, selain beberapa pulang kampung, ada juga yang merayakan kelulusan dengan makan bareng teman-teman yang lain. Dan aku memilih untuk tinggal, aku yakin tidak akan bisa merasakan kebahagiaan itu.


Dan malam itu aku tidak bisa lagi menahan kerinduanku, benar-benar tidak mampu. Aku pun memberanikan diri untuk SMS mas Farhan.


"Assalamualaikum mas." sapaku.


Sepuluh menit kemudian aku baru mendapatkan balasan.


"Waalaikumsalam dek, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik, mas lagi apa?" tanyaku.


"Lagi dikamar, lagi ngeliat foto-foto di kamera, di kamera ini tersimpan beberapa senyum Rania." katanya.


Dan aku merasakan rindunya padaku lebih besar dari yang aku kira.

__ADS_1


"Kamu mau menyimpan semuanya kah? Apa nggak akan sedih kalau mengenangnya nanti?" tanyaku.


"Sedih itu pasti, tapi untuk saat ini aku belum bisa mengarsipkannya, kadang kalau aku rindu, ini lah pengobatnya."


"Tapi aku yakin, nanti kalau kamu sudah mendapat penggantiku, kamu perlahan akan melupakannya." balasku.


"Tidak akan pernah ada pengganti."


"Hah? Masa' kamu nggak bakalan menikah?" tanyaku.


"Kalaupun suatu saat aku menemukan orang lain, itu bukan pengganti, tapi orang baru, karena sampai kapanpun, Rania tidak akan pernah terganti."


"Mas Farhan, kenapa kita nggak lari aja sih, kenapa kita nggak bisa berontak, kenapa kita nggak bisa kayak orang-orang diluar sana yang kawin lari, ya Allah kuatkan Rania, hapuskan kesedihan ini, Rania nggak kuat rasanya." ucapku dalam hati.


Dan SMS itu berakhir sampai disitu, karena aku sudah tidak mampu lagi melanjutkan kesedihanku.


Maret 2011


Tanggal 15 aku sudah berada di sumatera, dan selama disana aku seolah menjadi robot yang bisa dikendalikan oleh seluruh keluargaku, tidak ada penolakan lagi, tidak ada bantahan lagi, bahkan tidak ada tangisan lagi, saat prosesi lamaran berlangsung aku hanya terdiam, sebelumnya saat persiapan berlangsung, dari mulai pemilihan kebaya, make up dan yang lain, aku hanya terdiam, aku mengiyakan semua rancangan ayah dan ibu, kadang sesekali aku memakasakan senyumuku untuk menghindari pertanyaan dari keluarga yang lain, terutama keluarga Bima. Dan prosesi itupun berjalan baik. Lancar dan mengalir begitu saja.


Aku bisa melihat kebahagian itu mengiringi kedua orang tua ku. Ya, aku sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan perasaanku.


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan yang lebih besar." ucap Bima memulai obrolan saat kami sedang berdua di teras rumahku.


"Sama-sama." jawabku tanpa melihatnya.


"Aku harap kita.."


"Jangan terlalu banyak berharap, karena aku sedang menata hatiku yang sudah menjadi debu." kataku memotong ucapan Bima.


"Aku tidak akan memaksa itu, aku akan menunggu sampai hati itu kembali utuh dan bisa menerimaku, selama apapun itu." katanya.


"Farhan tau nggak kalau hari ini kita lamaran?" tanyanya.


Aku langsung melihat ke arahnya dan berdiri.


"Jangan pernah menyebut nama itu, karena nama itu sudah tertanam jauh di sudut hatiku. Dan satu hal yang perlu kamu ingat, usahamu untuk meraih hatiku mungkin akan berhasil suatu saat nanti, tapi aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa menyingkirkan dia di bagian terdalam hatiku, kecuali aku sendiri yang bisa mengikhlaskannya." ucapku tegas.


Dan aku pun pergi berlalu meninggalkan Bima, dan ternyata saat aku berjalan masuk kerumah, aku melihat ayah berdiri di balik jendela, dan aku yakin ayah mendengar apa yang tadi ku ucapkan.


"Rania, masih belum selesai dengan cintamu yang nggak seberapa itu dengan Farhan, ayah yang sudah membesarkanmu, ayah yang menyayangimu dari bayi, kamu bahkan sama sekali tidak bisa menghargai usaha ayah untukmu, memilih yang terbaik untukmu, ayah lebih tau itu." ucap ayah saat aku melihat ke arahnya.


"Cinta yang ayah bilang nggak seberapa itu lah yang membuat hati Rania mati rasa, Rania sudah menuruti semua mau ayah sampai detik ini, bahkan Rania tidak peduli lagi dengan perasaan Rania, jadi Rania mohon sama ayah untuk tidak mengatakan bahwa itu cinta yang nggak seberapa." kataku selembut mungkin, agar ayah tau betapa aku menahan rasa sakit.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2