RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Alun-alun utara Yogya


__ADS_3

Malam itu setelah masuk ke kamar, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa selain memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara mas Farhan dan Zahra. Bahkan Via yang berusaha bertanya padaku pun sama sekali tak ku hiraukan, karena aku pun bertanya-tanya, ada apa?


Aku sama sekali tidak menghubungi Mas Farhan, karena aku tau pasti Mas Farhan pun sedang tidak ingin diganggu. Buktinya yang biasanya dia selalu SMS kalau sudah sampai di rumah, malam itu dia sama sekali tidak ada mengabariku, bahkan aku menunggu SMS nya sampai jam dua malam. Tapi tak kunjung datang.


***********


Pagi nya aku melakukan aktivitasku seperti biasa. Membereskan kamar, nyuci, dan lain sebagainya. Ku lakukan sebanyak mungkin hal yang bisa kulakukan, agar pikiranku tidak selalu tertuju pada Mas Farhan. Aku tidak mau terlalu memikirkannya, karena itu akan membuatku tidak nyaman sendiri nantinya.


Siang itu setelah kuliahku selesai, aku tidak langsung pulang. Aku duduk sebentar di taman kampus sambil membayangkan kembali apa yang terjadi di malam sebelumnya.


Apa mungkin Zahra adalah wanita yang fotonya pernah ada di dompet Mas Farhan? Kalau iya, berarti dia yang dulu pernah menjadi rasa yang singgah di hati Mas Farhan. Rasa yang pernah menghilang, dan sekarang dia kembali? Lalu? Aku bagaimana? Aku harus apa? Kalau nanti ternyata Mas Farhan kembali padanya aku harus bagaimana ya ALLAH? Toh aku sadar diri bahwa aku bukanlah siapa-siapa Mas Farhan. Aku hanyalah wanita yang sering jalan bareng, merasa nyaman, dan merasa tidak mau kehilangan dia. Sementara status? Aku belum berstatus apapun. Jadi apa hak ku untuk cemburu? Apa hak ku untuk bertanya? Ah, pikiranku kacau.


Itu pertama kalinya aku merasa ingin menangis saat memikirkan Mas Farhan. Biasanya apapun tentang Mas Farhan selalu membuatku tersenyum. Tapi kali ini lain, aku takut, aku bingung.


Oh Rania, baru saja kemarin kamu mendapatkan hadiah yang membuatmu begitu bahagia. Tapi hari ini justru semua berubah, kebahagiaan itu luntur seketika karena sosok Zahra.


Aku merasakan pipiku panas, dan ada air mata yang tiba-tiba mengalir di sudut mataku, dan akupun berusaha menghapusnya, mengusap wajahku dengan tangan, dan menutupi seluruh wajahku.


“Astagfirullah," Ucapku lirih.


“Ran, kamu baik-baik aja?” via mengaggetkanku.


“Oh, Via. Iya aku nggak papa.” Kataku sambil berusaha menyembunyikan air mataku.


“Kamu nangis?” Tanya nya.


“Ah, nggak. Kelilipan," jawabku singkat.


“Kalau mau bohong jangan sama aku Ran,” ucapnya sambil duduk di sampingku.


“Tenan Vi, aku ndak papa,” ucapku lagi.


“Nggak mungkin kamu nggak papa, aku tau apa yang kamu pikirkan, soal Zahra dan Mas Farhan kan? mending kamu tanya dulu sama Mas Farhan langsung Ran. Biar jelas, jadi kamu nggak asik sama pikiranmu sendiri. Semalem aku sempet nanya sama Zahra lewat sms.”


“Hah? Terus? Apa kata Zahra?” tanyaku penasaran.


Via tidak langsung menjawab, dia memutar tubuhnya sehingga berhadapan denganku.


“Mas Farhan dan Zahra pernah punya hubungan sebelum ini, sekitar dua tahun lalu. Tapi kandas karena Zahra harus pindah ke Bogor dan tinggal bersama budhe nya, dan saat Zahra mau pamitan, dia datang ke rumah Mas Farhan. Tapi nggak ketemu Mas Farhan, dia ketemu sama Ibu Mas Farhan dan akhirnya dia pamit sama Ibu Mas Farhan, dan ibunya bilang kalau bisa setelah pindah ke Bogor nggak perlu hubungin Mas Farhan lagi. Jadi itu sebabnya dia sama sekali nggak menghubungi Mas Farhan lagi. Nomer HP nya yang lama langsung dibuang supaya Mas Farhan juga nggak bisa menghubunginya lagi,” jelas Via panjang lebar.


“Hah? Kok nggak boleh berhubungan lagi, alasannya?” tanyaku.


“Nah kalau soal itu Zahra nggak menjelaskan. Dia cerita ya cuma sebatas yang tak ceritain barusan. Makanya mbok mending kamu nanya langsung sama Mas Farhan, kalau dari Mas Farhan gimana ceritanya. Biar jelas gitu Ran, dan sekalian tanya soal arah hubungan kalian itu mau gimana. Meskipun kamu dan Zahra sama-sama sahabatku, tapi aku yo ndak rela nek kamu akhirnya tersingkir karena Zahra balik lagi. Itu ndak adil buat kamu, toh selama hampir setahun ini kamu udah ngisi hari-harinya Mas Farhan, dan aku liat semenjak itu kamu bahagia terus,” cerocosnya.


“Nggak ah Vi, aku nggak akan nanya, aku akan nunggu Mas Farhan menceritakannya sendiri padaku. Kalau dia sudah siap dan dia mikirin aku, dia pasti akan cari aku dan cerita semuanya sama aku,” jelasku.


“Yowes kalau gitu, kamu jangan sedih lagi, kita tunggu aja ya,” katanya sambil memelukku.


“Makasih ya Vi, udah nenangin aku,” ucapku.


“ho oh, yok pulang ke kos,” ajaknya.


*******


Tiga hari berlalu, dan mas Farhan pun belum menghubungiku. Jujur saja aku khawatir, aku bertanya-tanya kemana dia, apa yang terjadi padanya.


Ah mas Farhan, kamu dimana? kamu baik-baik aja kan? apa kamu sama sekali nggak inget aku? Nggak pengen ngabarin aku? Sebegitu berpengaruhnya kah kehadiran Zahra ini?


*********


Hari minggu pun tiba. Biasanya setiap hari minggu yang sepi begini Mas Farhan selalu nemenin aku lewat telepon, kadang juga sesekali dia ke kos untuk sekedar ngobrol. Bahkan biasanya mengajakku jalan-jalan. Karena seperti biasa, semua temen kos mudik ke kampung masing-masing, termasuk Via.


Daripada suntuk, akhirnya aku menyalakan radioku. Mendengarkan acara kirim salam dan request lagu. Salah satu acara favoritku. Karena biasanya banyak lagu cinta yang bagus di request pendengar lain.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian entah kenapa tiba-tiba terpikir olehku untuk mengirim salam dan me- request satu lagu untuk Mas Farhan, dan aku melakukannya walau ragu.


“Oke next, ada SMS lagi dari RANIA. Salamnya : Mas Farhan, dimanapun kamu berada, aku berharap kamu baik-baik saja. Kalau sudah siap berbagi cerita, kabari aku ya. Lagu yang di request ‘aku jatuh cinta’ dari Roulette. Oke sebentar lagi kita kasih lagunya ya Rania, next.” Penyiar pun membacakan SMS dariku.


Aku sungguh berharap Mas Farhan mendengarnya. Meskipun aku nggak tau apakah Mas Farhan di rumah dan sedang mendengarkan radio atau nggak. Yang penting aku sudah mencobanya.


Setelah beberapa lagu lain diputar, tibalah saatnya lagu yang ku request pun diputar, entah kenapa tiba-tiba aku menangis mendengarnya. Ah Rania, kamu kenapa sih? Sebegitu sesarnya kah perasaanmu untuk Mas Farhan? Bahkan kamu sendiri belum tau perasaan Mas Farhan sendiri gimana.


Hari itu minggu yang sangat panjang menurutku, aku ingin secepatnya berlalu, karena suasana kos yang sepi dan suasana hatiku yang suntuk sangat membuatku tidak nyaman.


Sekitar pukul 15.00 saat sedang membaca komik untuk menghibur diri tiba-tiba aku mendengar ada suara ketukan pintu kos.


Siapa yang datang minggu-minggu begini, rasanya aku tidak janjian dengan siapapun. Apa mungkin salah satu teman dari anak kos yang lain?


Aku pun keluar kamar dan menunju pintu depan.


Tak ku sangka, ternyata yang datang adalah Mas Farhan dan seketika itu juga jantungku berdebar tidak biasa.


“Sibuk nggak dek?” tanyanya.


“Hah? Nggak,” jawabku singkat karena masih kaget melihatnya tiba-tiba ada di depanku. Sungguh jantungku tidak bisa ku kendalikan lagi.


“Keluar yuk,” ajaknya.


“Kemana?”


“Jalan aja.”


“Oke bentar aku ganti baju dulu,” aku pun berlalu masuk menuju ke kamarku


Dia ni hobi banget kayak gini, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngasih sesuatu. Nggak ada kabar, nggak ada apa, ujug-ujug nongol. Suka banget bikin aku shock. Dia nggak tau kali yah kalau dia suka tiba-tiba muncul begitu membuatku gugup, berdebar, dan entah rasa apa lagi. Pokoknya kaget banget!


***********


“Aku minta maaf, mengabaikanmu beberapa hari ini,” ucapnya memulai obrolan.


“Oh, nggak papa mas, aku paham,” jawabku sambil menyembunyikan kegundahan hatiku.


“Zahra adalah orang pernah aku ceritakan waktu itu, yang fotonya kamu liat di dompetku," katanya to the point.


“Iya,aku tau,” jawabku sambil sedikit menundukkan kepalaku.


“Tau dari Via ya? Dia teman Via ya?” Tanya nya.


Aku hanya mengangguk, dan membelakanginya. Saat itu posisi kami hanya berdiri di dekat motor.


“Dialah rasa yang pernah singgah di hatiku dulu. Lalu pergi begitu saja, tanpa pesan apa-apa. Tanpa pamit dan lainya. Dia membuatku mencari dan menunggu, sampai hari ini bahkan aku nggak pernah tau apa alasannya. Itu kenapa saat melihatnya kemarin di kos mu, aku nggak ngomong apa-apa dan langsung pergi begitu saja. Aku masih merasa ada sedikit sakit berdesir di hatiku karena dulu dia pergi begitu saja. Lalu sekarang dia ada lagi di Yogya dan tidak memberitahuku sama sekali,” ucapnya panjang lebar.


Aku hanya terdiam sambil menyimak penjelasannya. Akhirnya aku tau kalau Mas Farhan tidak tau soal larangan ibunya ke Zahra, dan aku memang tidak akan mengeluarkan kalimat apapun sampai dia menyelesaikannya, itu rencanaku saat itu.


“Beberapa hari ini aku menetralkan perasaanku, aku tau kamu pasti bertanya-tanya tentang semua ini. Tapi aku butuh hati yang tenang untuk menjelaskannya, dan hari ini aku sudah tenang. Itu sebabnya aku menemuimu untuk menjelaskan nya,” ujarnya sambil tersenyum dan memiringkan sedikit kepalanya untuk melihatku lebih dekat.


Aku pun tersenyum melihat sikapnya, lagi-lagi aku berusaha menyembunyikan jantungku yang berdebar karena senyuman itu. Sungguh senyuman itu selalu membuatku salah tingkah.


“Perasaan mu ke dia masih sekuat dulu kah?” tanyaku tanpa basa basi.


Dia tidak langsung menjawab. Dia menatap mataku,memperhatikan wajahku, dan aku bisa merasakan itu. Hal itu membuatku semakin salah tingkah setengah gila!


“Nggak,” jawabnya singkat.


Sesingkat itu? Ah, aku nggak percaya. Mana mungkin nggak, orang pas ketemu langsung pergi, dan butuh berhari-hari untuk menetralkan perasaan. Jadi nggak mungkin nggak. Pasti masih ada perasaan, hanya saja dia nggak mau jujur padaku.


“Lalu sekarang apa rencana mas Farhan? Mau menemuinya lagi kah? Untuk meminta penjelasan tentang kepergiannya dulu? Atau ada rencana lain?” tanyaku tanpa jedah.

__ADS_1


“Entahlah, aku belum ada rencana apapun soal itu,” jawabnya.


Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tanyakan, tapi aku menahannya, jujur saja aku nggak siap mendengar jawaban yang akan membuat hatiku sakit. Ya, aku takut. Aku tidak tau apa yang akan dilakukan dan dipikirkan wanita-wanita lain di luar sana jika berada di posisiku. Apakah akan sama sepertiku? Memilih menahan perasaan dan menyembunyikan nya, atau justru akan langsung meminta penjelasan dan meminta kepastian saat itu juga? Entahlah, yang jelas pilihanku saat itu adalah menahan semua yang bergejolak di hatiku.


Akhirnya Mas Farhan pun mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. Walau aku sempat juga sedikit memancingnya dengan mengatakan bahwa aku pernah bertemu Zahra di Mall sebelumnya, aku bilang kalau Zahra cantik, ayu, manis, wajahnya lembut khas perempuan Jawa. Tapi Mas Farhan sama sekali tidak mau melanjutkan pembahasan tentang Zahra saat itu.


Maghrib pun tiba, dan dia mengajakku sholat di Masjid Gedhe Kauman yang ada di komplek Alun-Alun Utara itu. Masjid yang cukup megah menurutku. Dengan bangunan khas jawa, ukiran-ukiran dan interior design yang sangat bersejarah. Bahkan sampai hari ini, masjid itu adalah tempat paling bersejarah dalam hidupku. Masjid yang masih sering mengingatkanku akan sosoknya. Mas Farhan.


Selesai sholat, kami kembali ketempat tadi, tapi kali ini pindah ke bagian tengah Alun-Alun, tepat berhadapan dengan bangunan keraton. Karena semakin malam, tempat itu semakin ramai, banyak orang yang mungkin sama seperti kami. Suka ngobrol di sana, karena walaupun ramai privasi obrolan kita masih terjaga. Dikarenakan jarak yang cukup jauh antara satu dengan yang lain.


“Mau minum? Aku beliin ya.” Mas Farhan menawarkan kepadaku.


“Boleh, kalau ada air mineral aja,” jawabku.


“Oke, sebentar ya.” Dia pun berlalu.


Rania, walau dia nggak mau menjelaskan tentang perasaannya terhadap Zahra kepadamu, tapi kamu harus siap dengan apapun yang bisa saja terjadi. Kalau suatu saat nanti dia meninggalkanmu dan kembali kepada Zahra, kamu harus kuat. Karena bagaimanapun kamu nggak punya hak apapun atas dia, kamu nggak punya status apapun sama dia. Jadi persiapkanlah hatimu dari sekarang. Sebelum semuanya terlalu dalam.


“Ini dek minumnya,” ucap Mas Farhan membuyarkan lamunanku.


“oh, makasih mas.”


“Ngelamunin apa?” tanya nya.


“Ah nggak, nggak ada,” jawabku ngeles.


“kalau nggak salah tadi siang ada yang kirim salam dan lagu di radio buat ku,” ucapnya sambil tersenyum dan menatap mataku.


Ya salam Rania! Dia denger ternyata. Mana lagu nya ‘Aku jatuh cinta’ pula. Malu nggak kamu? Malu nggak?


“Oh, mas denger ya? iya itu tadi iseng aja. Soalnya mau SMS atau telepon nggak enak. Jadi ya lewat radio aja walau nggak yakin juga si didenger apa nggak,” jawabku sebiasa mungkin sambil menyembunyikan merah di wajahku.


“Denger kok, lagunya juga bagus, jatuh cinta ya?” godanya sambil memiringkan kepalanya, dan wajah itu terasa begitu dekat dengan wajahku.


Akupun hanya bisa tersenyum malu, aku bisa merasakan wajahku panas dan sepertinya semakin memerah. Jantungku? Nggak usah di tanya, udah dugeman dari tadi.


“Sejak kapan?” tanya nya lagi.


“Apanya?” tanyaku bingung.


“Jatuh cinta sama yang tadi dikirimin lagu,” ucapnya sambil senyum dan terus menatap mataku.


“Oh, entah sejak kapannya, tapi sejauh ini masih,” jawabku nekad. Walau sebenarnya aku malu dan rasanya jantungku benar-benar mau melompat keluar saat itu.


“Kenapa bisa jatuh cinta?” tanya nya lagi.


Harus banget ya dia nanya sampe begitu? Dia nggak tau kalau aku bingung atas pertanyaan-pertanyaannya itu.


“Nggak tau, terasa aja di hati. Walaupun sebenarnya aku sama sekali nggak tau, apakah orang yang ku kirimi lagu itu tadi punya perasaan yang sama atau nggak ke aku. Ya kalaupun nggak, nggak papa aku mundur,” jawabku semakin meluapkan semuanya. Entahlah aku lega setelah mengatakan itu. Walaupun sesungguhnya itu adalah hal yang cukuo berat untukku. Karena aku belum pernah mengucapkan hal semacam itu sebelumnya.


“Jangan mundur, teruslah maju, karena dia pun merasakan hal yang sama,” ucapnya sambil tersenyum dan memegang tangan kananku.


Raniaa, woy Raniaa!


Oh My God Rania, mimpi apa kamu Ran? Mimpi apa? Jangan lompat ya Ran. Jangan Ran, rame nih! Tempat umum loh ini, kakimu tolong dikondisikan.


“Jadi maksud Mas Farhan, Mas juga punya perasaan yang sama seperti yang Rania rasakan? Lalu itu artinya hubungan ini?” tanyaku semakin blak-blakan untuk mendapatkan sebuah kepastian lagi.


“Apapun nama status hubungannya, yang jelas mulai sekarang kamu berhak cemburu. Kamu berhak meminta apapun padaku. Kamu berhak melarangku melakukan sesuatu yang menurutmu nggak seharusnya ku lakukan," jawabnya sambil memegang kedua tanganku dan tersenyum.


Ya salam Rania! Jantungmu Ran. kalem Ran, kalem! Saat itu rasanya hatiku heboh sekali. Walau wajah yang ku perlihatkan biasa saja. Tapi sungguh hati dan jantung ini sangat tidak biasa. Aku sudah tidak bisa lagi menggambarkan apa yang aku rasakan saat itu, dan aku pastikan hanya dia sajalah yang bisa membuatku merasakan semua itu.


Kami pun menghabiskan waktu bersama malam itu sampai pukul 22.00. Malam itu adalah malam terindah dari semua malam yang lain selama aku bersama Mas Farhan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2