RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Rindu Senyuman


__ADS_3

Agustus 2010


Ayah dan ibu menjengukku ke Yogya, saat ayah mengabariku kalau mereka mau datang, ada rasa senang dan sedih yang bersaman ku rasakan.


Aku senang karena mungkin aku bisa memperkenalkan mas Farhan pada ayah, tapi aku juga sedih, aku takut ayah tetap menolaknya.


"Mbak, jalan-jalan yuk, ibu pengen ke Pasar Bringharjo, pengen cari batik." kata ibu.


"Boleh, kapan?"


"Besok gimana?" tanya ibu.


"Yaudah, Rania cari mobil dulu ya, kita ngerental aja, biar bisa keliling-keliling." kataku.


"Rentalnya buat 3 hari sekalian aja, biar borongan, ibu sekalian pengen jalan ke candi-candi gitu." kata ibu.


"Ngapain ngerental? Bima kan ada mobil, bima sudah menawarkan ke ayah kok kemarin pas sebelum kesini."


"Hah? Ayah ngabarin Bima kalau mau kesini?"


"Iya, lah itu ibu bawa oleh-oleh yang belum di buka buat siapa? Ya buat Bima." kata ayah santai.


"Ayah, harus berapa kali Rania bilang, Rania nggak bisa sama Bima lagi, oke kalau ayah mau tetap berhubungan sama Bima silahkan, tapi Rania minta jangan libatkan Rania ya, Rania udah sama sekali nggak mau berhubungan sama Bima." kataku kecewa sama sikap ayah.


"Mbak, pengen jadi anak durhaka ya? Pengen ngecewain ayah ya?" tanya ayah serius.


"Ayah, bukan itu maksud nya, tapi apa ayah nggak bisa sedikit saja memperhitungkan perasaan Rania, sedikit saja yah, Rania tuh sampe bingung mau gimana lagi ngejelasin ke ayah. Ayah, mumpung ayah di Yogya, Rania kenalin sama mas Farhan ya, Rania suruh dia nemuin ayah ya, biar ayah liat mas Farhan sekaliiiii aja yah." aku memohon pada ayah.


"Nggak perlu, kalau kamu suruh dia kesini, ayah nggak akan menemuinya, kalau kata ayah nggak, ya nggak."


"Astagfirullah ayah, ayah kok tega sama Rania, sama sekali tidak memberi Rania kesempatan." kataku sudah mulai terasa ingin menangis.


"Ibu, tolong jelasin sama ayah bu, beri Rania kesempatan memperkenalkan mas Farhan sekali saja." aku memohon pada ibu.


"Mbak, ibu minta maaf, ibu sudah coba bicara sama ayah, tapi ya begitulah ayah, kalau sudah A ya A. Dan mbak, mbak harus legowo ya, mbak harus ikhlas ya, ayah sudah woro-woro ke keluarga besar kita, ke keluarga besar ibu, kalau habis wisuda, rencananya mbak akan menikah dengan Bima." kata ibu sambil menggenggam tanganku.


"Hah? Apa? Ayaaaaahh, kenapa ayah mengambil keputusan sepihak, kenapa ayah nggak nanya sama Rania dulu? Kenapa ayah nggak minta pendapat Rania dulu, kenapa ayah setega ini sama Rania yah." ucapku selembut mungkin, agar tidak terkesan menentang ayah.


"Percaya sama ayah, suatu saat kamu akan berterimakasih sama ayah karena sudah memintamu menikah dengan Bima, Bima itu bakalan sukses, dan semua hidupmu akan terjamin, pegang omongan ayah."


"Ayah, Rania tau maksud ayah baik, tapi percayalah sama Rania, Rania bisa kok hidup sederhana, Rania bukan cewek matre ayah, mau se mapan apapun Bima, kalau Rania tidak nyaman bagaimana?" tanyaku.


"Pasti nyaman, ayah yakin, Bima itu kayak ayah, sanggup melakukan apa saja untuk orang yang di cintai, jadi nanti lama kelamaan kamu juga akan cinta sama dia."


Aku diam, aku sudah sangat bingung, rasanya semua ucapanku di tentang sama ayah, seolah ayah sudah 1000% yakin sama Bima. Aku hanya bisa terduduk lesu, aku tidak tau bagaimana caranya supaya ayah bisa merasakan apa yang aku rasakan, ayah selalu menjadikan dirinya sebagai tolok ukur.


"Ayah sama ibu dulu aja bisa, masa' mbak nggak, kalau kata orang jawa witing tresno jalaran soko kulino, nanti juga mbak lama-lama cinta lagi sama Bima, orang dulu juga pernah deket kan." ucap ayah tanpa henti.


Semua ucapan ayah seolah membuat diriku semakin pesimis.


Keesokan harinya kami pergi jalan-jalan, ngikutin semua mau nya ibu, belanja, keliling Malioboro, dan Bima ikut serta.


Selama jalan-jalan aku hanya diam, perasaanku tidak nyaman, aku ingin hari itu segera berakhir, dan selama aku diam, ayah seolah tidak peduli, padahal aku berharap sedikit saja ayah bisa kasihan padaku, tidak kah ayah khawatir melihat anaknya ini bersikap tidak biasa, yang biasanya aku ceria dan semangat, apalagi kalau diajak jalan-jalan dan belanja, tapi kali ini aku sama sekali tidak bahagia. Dan ayah seolah membiarkan aku begitu saja.


Saat makan siang aku sama sekali tidak nafsu makan, Bima menawariku ini itu, aku sma sekali tidak menjawab, aku hanya menggelengkan kepala tanda menolak.


"Mas Bima, apa iya kamu mau jika kita tetap menikah, tapi kamu seolah menikah dengan patung, jangan kan menjadi istri yang baik, bahkan melihatmu saja aku enggan." ucapku dalam hati.


"Mbak, nggak laper kah?" tanya ibu.


Aku hanya menggeleng tanpa bersuara.


"Nanti kalau dia lapar dia makan sendiri, udah ibu makan aja, Bima juga monggo di makan."


Aku benar-benar tidak menyangka ayah bisa se-batu ini, sekeras ini, bahkan aku merasa seperti anak tiri, kenapa ayah bisa setega itu padaku.


Pulang dari jalan-jalan aku langsung masuk kamar, tanpa mengucapkan apapun. Bahkan aku sama sekali tidak peduli Bima mau pamit atau melakukan apapun, aku sama sekali tidak peduli. Saat ayah dan ibu masuk ke kamar, aku pergi ke kamar mandi, aku meluapkan tangisanku di sana.


Seminggu sudah ayah dan ibu di Yogya, dan selama itu pula aku membujuk agar ayah mau bertemu mas Farhan, walau cuma sebentar. Tapi ayah benar-benar tidak mau, bahkan sempat beberapa kali Via kaget karena ayah membentakku dan mengatakan 'Ayah tidak akan pernah mau bertemu dengan dia. Kalau kata ayah tidak ya tidak!'


Dan aku merasa malu karena Via dan teman-teman kos yang lain harus mendengar ayah memarahiku.


Di hari terakhir ayah dan ibu di Yogya, Bima pun datang membawakan oleh-oleh untuk ayah dan ibu. Aku pun di paksa ayah untuk menemui Bima.


Saat aku dan mas Bima duduk di teras, ayah dan ibu membiarkan kami berdua. Aku tau ayah sengaja, karena selama ayah dan ibu disini dan beberapa kali Bima datang, aku sama sekali tidak mau bicara dengannya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" tanya bima membuka obrolan.


"Menurutmu?" tanyaku singkat.


"Aku sudah berusaha semampuku, apakah sama sekali tidak bisa membuatmu memberi kesempatan sekali lagi?"


"Harus berapa kali aku bilang? Aku sudah tidak punya perasaan apapun ke kamu. Masih belum jelaskah?" tanyaku.


Tiba-tiba ada motor berhenti di depan kos. Dan aku sangat terkejut, ternyata itu adalah mas Farhan, padahal aku bilang padanya jangan kesini selama ayah belum pulang dan belum bersedia menemuinya.


"Kenapa mas kesini?" tanyaku.


"Aku nggak bisa biarin kamu berusaha sendiri, aku akan coba menemui ayahmu, siapa tau kalau aku sudah disini beliau mau menemuiku." katanya.


"Mas, kamu tidak tau bagaimana ayahku, lebih baik jangan sekarang." kataku.


"Nggak papa dek, aku siap apapun respon ayahmu." katanya.


Bima hanya berdiri dan melihat ke arah kami. Dia tidak mengucapkan apapun. Dan tiba-tiba ayah dan ibu keluar dari pintu, aku yakin ayah dan ibu mendengar ada suara lain selain suaraku dan Bima.


"Ajak masuk." kata ayah.


"Hah? Serius ayah?" tanyaku.


"Iya, sini masuk, nggak enak tamu disuruh di depan gerbang gitu." kata ibu.


Jujur aku merasa gugup, aku takut dengan sikap dan respon yang akan ayah tunjukkan.


Dan kami pun duduk bersama di teras kos, karena kalau di dalam aku takut anak kos lain terganggu. Dan di situ ada aku, ibu, ayah, mas Farhan dan Bima.


"Ini yang namanya Farhan?" tanya ayah.


"Iya pak." jawab mas Farhan sambil mengangguk.


"Apa tujuan mu datang kesini?" tanya ayah serius.


"Ingin menjelaskan tentang hubungan saya dengan dek Rania pak." jawabnya.


"Saya sudah tau, Rania sudah pernah cerita soal kamu, tapi maaf dek Farhan, walau sekarang akhirnya saya tau kalau ternyata kamu cukup gentle dengan menemui saya disini, padahal saya yakin Rania pasti sudah bilang kalau saya tidak akan pernah mau menemuimu, tapi saya salut sama kegigihanmu, kamu cukup nekad ternyata. Saya puji itu. Tapi keputusan saya untuk menikahkan Rania dengan Bima sudah finish. Kamu juga pasti sudah tau itu kan, saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya, bukan berarti kamu tidak baik, tapi sebagai seorang ayah, saya mau anak saya hidupnya terjamin dalam segala hal. Kamu juga pasti punya orang tua kan? Dan saya juga yakin orang tua mu juga sama, ingin yang terbaik untuk anaknya." jelas ayah panjang lebar.


"Rania, jangan lancang sama ayah, pokoknya ayah tetap pada keputusan ayah, suatu saat nanti kamu akan tau kenapa keputusan ayah seperti ini, kalau nanti kamu jadi orang tua, kamu akan bisa merasakannya sendiri, silahkan lanjutkan obrolan kalian. Ayah masuk dulu." kata ayah sambil berlalu. Dan ibu mengiringinya dari belakang.


Aku, mas Farhan, dan Bima pun hanya terdiam, bukan aku tidak mau membela mas Farhan di depan ayah, tapi aku sangat tau, ayah paling pantang kalau ada anaknya yang berani menjawab atau menentang ucapannya, apalagi di depan orang lain. Aku takut ayah akan bersikap diluar kendali. Dan aku tidak mau itu terjadi.


"Aku pulang dulu ya dek, nanti kalau sudah sampai rumah aku kabari." kata mas Farhan pamit.


Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku menahan sesak yang luar biasa, aku bisa merasakan kekecewaan mas Farhan. Dan aku membiarkanya pergi begitu saja.


"Ran, aku juga mau pamit...." ucapan Bima terpotong.


Karena aku meninggalkanya masuk kedalam dan menutup pintu kos.


Aku tidak bisa menangis di kamarku, karena ada ayah dan ibu. Aku menahannya sekuat tenaga ku. Besok saat mereka pulang, mungkin aku baru bisa meluapkannya.


Keesokan harinya ibu sudah packing dari pagi. Karena pesawat mereka berangkat siang.


"Rania, ingat pesan ayah, pernikahanmu akan di adakan tahun depan, kamu kan desember wisuda, rencana ayah pernikahan itu akan dilaksanakan pertengahan tahun depan. Bima sudah setuju, dan awal tahun setelah kamu wisuda, di akan membawa orang tuanya ke sumatera. Untuk melamar secara resmi." kata ayah panjang lebar.


"Ayah, Rania nggak pernah nyangka ayah se-tega ini, ayah tega melihat anaknya sedih, demi keinginan ayah yang sampai detik ini Rania nggak paham, apa yang sebenarnya ayah liat dari Bima." ucapku sambil menunduk.


"RANIA, kok lancang mulutmu!" bentak ayah.


"Ayah, Rania tidak pernah tau apa sebenarnya yang ayah inginkan dari pernikahan Rania sama Bima, bahkan hati ayah seolah sekeras karang, seolah tidak bisa merasakan betapa sedih, bingung, dan takutnya Rania karena harus dipaksa menikah dengan orang yang Rania tidak cinta, dan maaf Rania merasa ayah matrealistis, karena menurut ayah, Rania pasti akan bahagia karena si Bima sukses dan punya usaha sendiri, sementara mas Farhan hanya karyawan biasa." ucapku sambil menangis.


"PLAK!" tangan ayah mendarat di pipi kiriku.


23 tahun aku menjadi anak ayah, ini pertama kalinya ayah menamparku, dari kecil sampai sebesar ini ayah tidak pernah menyakiti fisikku, setegas-tegasnya ayah, sekeras-kerasnya ayah, se marah-marahnya ayah, biasanya ayah hanya bersuara, berucap, atau kalau sudah sangat marah, ayah akan mendiamkan ku. Tapi hari itu, ayah menamparku, tepat di depan ibu. Dan seketika itu ibu menangis dan memelukku. Ibu marah pada ayah, karena sikap ayah yang jauh diluar kendali.


Tapi kali ini aku sama sekali tidak menangis, aku terdiam, hanya diam, pipiku memang panas, tapi tidak terasa sakit, yang sakit di sini, di dalam. Di hati.


Akhirnya ayah dan ibu pulang ke Sumatera.


Pulang dari bandara setelah mengantar ayah dan ibu, aku sudah tidak kuat lagi menahan semuanya. Aku menjerit di dalam kamarku, ku tutupi wajahku dengan bantal, agar suaraku teredam.


"Tuhan, Rania sudah buntu, ibu tidak bisa membantu, karena ibupun sangat patuh pada ayah, Bima? Sama sekali tidak bisa di harapkan, justru mungkin inilah yang dia harapkan, Rania harus bagaimana lagi, Rania harus minta tolong ke siapa lagi, Engkau satu-satunya tempat Rania mengadu saat ini, benar-benar hanya menunggu kemukjizatan dariMu, dan jika memang semua ini sudah takdirnya, Rania harap Engkau berikan Rania hati yang kuat untuk menerima semuanya." ucapku dengan tangis yang benar-benar menyesakkan dada.

__ADS_1


Sejak kejadian mas Farhan bertemu ayah, aku dan mas Farhan lost contact. Aku belum siap menghubunginya melalui apapun itu, aku takut mendengar suaranya di telepon, aku takut membaca SMS nya. Mungkin begitupun dengan dia, sama sekali tidak ada SMS atau telepon untukku darinya.


Sampai akhirnya sepuluh hari setelah kejadian, malam sekitar pukul 21.00 aku tiduran di kamar sambil mendengarkan radio.


"Siapa lagi niihhh yang mau kirim salam, boleh buat pacar, sahabat, teman, bahkan dosen juga boleh haha." suara meli si penyiar centil menggema di kamarku.


Tidak lama setelah itu dia membacakan beberapa pesan yang sudah masuk, dan tiba-tiba ada satu pesan yang mengagetkanku.


"Untuk Rania dari Farhan, salamnya: aku hanya bisa berdoa, semoga kamu selalu baik-baik saja disana, kalau memang tidak ditakdirkan untuk bersama, setidaknya kita pernah ditakdirkan bertemu, dan aku bersyukur untuk itu. Ooooowww, so sweeet, tapi kok sedih yaaaa, oke lagunya cinta tak harus memiliki ST12 yah, baiiikk abis ini kita puter okeeey, next." ucap meli membacakan SMS yang masuk.


Dan tidak lama kemudian lagu itu pun di putar.


"Cinta memang tak selamanya bisa indah.


Cinta juga bisa berubah menjadi sakit.


Begitu yang ku rasakan kini


Perih hatiku tinggal kehancuran.


Tak pernah terbayangkan


Dan tak pernah terpikirkan


Cintamu dan cintaku akan berpisah


Namun harus 'ku relakan itu


Untuk hidupmu agar lebih baik


Maafkan aku setulus hatimu


Kepergian diriku itu bukan keinginanku.


Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu.


Jangan bersedih dengan keadaan ini


Jika kamu menangis, aku juga ikut menangis.


Terima saja semua ini 'ku lakukan untukmu.


Saat itu juga aku merasa ingin berlari. Berlari sekencang-kencangnya sampai aku lelah, dan berlari sejauh mungkin. Tapi aku tidak bisa, yang aku bisa lakukan hanyalah menangis sejadi-jadinya sambil memeluk bantalku. Walau sesungguhnya mata ini sudah merasa sangat lelah.


"Rania, menangislah, menangis sampai kamu lelah, sampai kamu terbiasa dengan rasa sesak dan sakit itu, sampai kamu kebal, sampai kamu puas." ucapku dalam hati.


Rasanya aku ingin sekali menelpon mas Farhan, aku ingin sekali bertemu dengannya, tapi aku takut, aku takut melihatnya, aku takut semakin tidak mampu jika harus berpisah.


"Kenapa aku harus dipertemukan dengannya kalau akhirnya dipisahkan? Kenapa aku harus di biarkan merasa sangat bahagia saat bersamanya dan akhirnya dipisahkan dan merasakan sedih yang tak berkesudahan. Entahlah, tapi saat ini aku masih belum mengerti mengapa harus ada jalan cerita seperti ini." jeritku dalam hati.


Tiga hari setelah itu aku memulai aktivitasku seperti biasa. Dan sore nya saat aku baru pulang dari kampus. Dan sedang mengistirahatkan kepalaku yang terasa penuh. Tiba-tiba pintu kamarku di ketuk, ternyata itu Via dan mas Iwan.


"Men, besok ikut aku sama mas Iwan ke semarang yuk." kata Via yang masih berdiri di depan pintu.


"Mau ngapain?" tanyaku.


"Jalan-jalan ajah, kamu juga belakangan suntuk kan? Sedih terus, matamu sampe sembab ngono loh Ran, aku tau kamu tiap hari nangis." kata Via.


"Ho oh Ran, jangan gini terus, nanti sakit lagi, apapun lah masalahmu, kalau sekiranya berat banget, deleh ke, di taro, jangan di angkat terus, bisa-bisa kamu depresi loh." kata mas Iwan.


"Semarang kan jauh Vi, Mas, aku mau sama siapa?" tanyaku.


"Sama aku." tiba-tiba mas Farhan muncul dari belakang mas Iwan.


Aku tidak melihatnya dari tadi, karena berdiri di balik tembok di sebelah pintu.


"Mas Farhan." cuma itu yang bisa keluar dari bibirku.


"Aku pernah janji kan mau ajak kamu ke masjid agung jawa tengah, itu salah satu ikon nya jawa tengah loh, kamu pernah bilang pengen banget kesana kan. Dan aku belum sempat menunaikan itu, jadi selagi masih bisa, ayo kita kesana." kata mas Farhan sambil tersenyum.


Aku hanya bisa mengangguk, entah kenapa aku takut untuk bicara banyak, karena melihat mas Farhan berdiri, dan tersenyum di hadapanku pun rasanya aku ingin menangis.


Kalau dulu senyum itu selalu ku tunggu, membuatku ingin melompat-lompat, membuatku ceria dan membuat ku rindu. Sekarang justru senyum itu membuatku ingin menangis, membuat hatiku sesak, karena takut jika semua itu benar- benar hilang.


Dan senyum itu pun terkadang masih terbersit di ingatanku sampai hari ini.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2