RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Awal Pertemuan


__ADS_3

Namaku Rania, aku kuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Aku bisa terdampar di Yogya karena suatu alasan tertentu. Bukan murni pilihanku.


Tahun 2005 aku pertama kali menginjakkan kaki di sini. Berasal dari salah satu kota kecil di bagian provinsi Sumatera Selatan. Awalnya aku merasa seperti anak hilang di Yogya, sendirian, nge-kos, jauh dari orng tua. Ah, aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku selanjutnya. Tapi ternyata tidak sesulit yang ku bayangkan, buktinya aku menetap disini, sampai detik ini.


********


"Woy Ramen ngelamun aja." Suara Via teman satu kos ku membuyarkan lamunanku. Ya, dia memangilku Ramen.


"Kaget aku, lama banget sih ke perpus doang, dapet nggak buku yang dicari?"


"Ora ki, mungkin lagi dipinjem orang yo, apa aku tak beli aja ya?" tanya nya meminta pertimbanganku.


"Ya nek memang penting, dan bisa buat jangka panjang, beli aja. Daripada nunggu yang di perpus, kan nggak tau kapan baliknya."


"Yo wes Ran, temenin aku ke toko buku yah nanti abis maghrib."


Aku ingat, habis maghrib nanti aku sudah ada janji dengan mas Farhan untuk kopi darat pertama kali dan aku nggak mau menunda itu. Jujur aku sangat penasaran dengan sosok nya.


"Walah, kalo abis maghrib ini aku nggak bisa vi, aku dah ada janji ketemu sama orang, besok piye?"


"Weeeeh, mie Ramen janjian sama orang? Siapa? Tumben."


Ya, Via adalah orang yang paling tau bagaimana aku, dari sekian banyak teman satu kos, dia adalah yang paling akrab dengan ku. Sering tidur bareng, kadang di kamarku, kadang di kamarnya.


Sering saling minjemin duit kalau kebetulan kiriman dari orang tua telat datangnya, sering curhat-curhatan soal apapun. Pokoknya dia adalah teman satu kos, satu fakultas yang sekaligus merangkap menjadi sahabatku.


"Ada lah, baru kenal kok, kenal lewat radio," jawabku sambil tertunduk malu.


"Hah? Hahahaha, kaaan kemakan omongan sendiri, jare lebay, alay, kurang gawean, nyari temen kok lewat radio, di kampus yo banyak, lah ternyata?" cerocosnya dengan suara brisik dan membuat beberapa orang yang duduk disitu melihat ke arah kami.

__ADS_1


"Sssst, jangan keras-keras, malu tuh orang pada ngeliatin," kataku sambil sedikit mencubit lengannya.


"Lah kamu lucu kok, sejak kapan kamu ikut acara kenalan lewat radio begitu? Kamu kan sering ngece aku nek aku cerita soal program itu, lah kok sekarang kamu dengerin, ikutan, eeee malah udah dapet kenalan dan mau ketemuan lagi. Aku aja baru SMS dan teleponan doang," cerocosnya tanpa memberiku kesempatan bicara.


"Aku iseng aja waktu itu, entah kenapa pas program itu aku nyimak, biasanya nggak pernah tak simak, kamu tau sendiri toh, dan entah kenapa aku tertarik dengan satu nama yang disebutkan sama penyiarnya, yaudah aku catet aja nomernya, terus iseng tak hubungi, eh kok malah berlanjut sampai sekarang, dan hari ini dia ngajak aku ketemuan," jelasku padanya.


"Siapa namanya? Emangnya udah berapa lama kenalnya?"


"Ada deh, kurang lebih tiga bulan ini lah."


"What? Tiga bulan? Kok aku nggak tau toh? Kok kamu nggak cerita, iisssh sopo jenenge?"


"Kapan- kapan aku kasih tau namanya, lagian kan kamu tau, sebelum ini setiap kamu nyeritain tentang program itu ke aku, aku selalu ngece, terus sekarang ujug-ujug aku malah dapet kenalan dari situ, yo aku malu mau ceritanya."


"Hahaha, makanya men Ramen, jangan asal ngece sesuatu sekarang ketulah toh," ejeknya.


"Wes ah, aku mau pulang ke kos, mau mandi. Nanti abis maghrib mau pergi," ujarku sambil berlalu dari si bawel itu.


Selesai sholat maghrib, aku bersiap untuk pergi. Celana jeans, kaos hitam biar nggak keliatan gendut, sedikit bedak, dan lipgloss.


Ringtone khas kolopaking pun tiba-tiba berbunyi dari Hpku.


"Dek, udah siap? Tak jemput sekarang ya?" pesan masuk dari mas Farhan.


"Oke Mas, tak tunggu," jawabku.


Sembari menunggu kedatangan mas Farhan, aku pun tidak beranjak dari depan kaca, ku lihat pantulan diriku di cermin. Ada yang kurang nggak ya? pantes nggak ya kayak gini? bedakku ketebelan nggak? lipglossku ketebelan nggak? Ya, aku khawatir penampakanku memalukan.


Jujur saja, jantungku gugup seperti orang mau ditagih hutang, deg-deg an. Semoga saja pertemuan ini lancar, baik-baik saja, jangan sampai dia meninggalkan aku di pinggir jalan gara-gara wujudku yang tidak sesuai dengan bayanganya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ada Sms masuk, dan itu dari dia. "Dek, aku dah sampe, aku tunggu di depan ya?"


"Oke mas, sebentar ya."


Aku pun keluar, aku melihat mas Farhan masih di atas motornya. Motor yang menurutku cukup besar, motor macan. Dia masih memakai helm, masker dan sarung tangan. Aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari postur tubuhnya dia terlihat tinggi, jaket hitam yang dipakainya membuat penampilannya terlihat keren.


"Farhan." Dia memperkenalkan diri sekali lagi, kali ini secara langsung, sambil menyodorkan tangannya untuk mengajakku bersalaman.


"Rania." Sambutku sambil tersenyum.


Aku bisa merasakan tangan kami sama-sama dingin dan basah.


Apa iya dia juga deg-degan sepertiku?


"Monggo dek, naik, kita cari tempat ngobrol," ajaknya.


Aku pun agak kesulitan naik ke atas motor itu, motor itu terlalu tinggi bagiku, dan kali ini dia membuat jantungku jauh lebih berdebar lagi ketika dia menyodorkan tangannya supaya bisa ku jadikan pegangan untuk menopang tubuhku yang pendek ini. Saat ku pegang tangannya, aku mencium aroma parfume yang cukup kuat dari tubuhnya, demi apa? Dia wangi banget!


Akhirnya motor itupun melaju. Aku sama sekali nggak tau dia mau membawaku kemana, dan entah kenapa aku tidak khawatir ataupun takut, pergi bersama orang yang baru saja ku kenal. Bahkan saat motor itu sudah melaju cukup jauhpun aku belum tau wajahnya seperti apa.


Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tidak ada pembicaraan, karena dia mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi bagiku, 80-100 km/jam.


Akhirnya kami pun sampai di suatu tempat, Bukit Bintang Wonosari.


Sumpah, itu pertama kali aku kesana, karena tempat itu lumayan jauh dari kosku. Jalannya yang berliku dan menanjak membuatku tidak pernah tertarik mendatanginya, karena aku ringkih, aku mudah pusing kalau harus melalui jalanan yang berputar atau berliku. Tapi hari ini nggak, aku nggak pusing, aku nggak mual, aku happy.


Saat aku mau turun dari motor lagi-lagi dia menyodorkan tangannya agar bisa ku pegang, supaya aku tidak jatuh dan bisa dengan mudah turun dari motor tinggi itu. Jangan ditanya, jantungku semakin menggila. Walau aku belum tau seperti apa wajahnya.


Sesaat setelah aku turun, aku memperhatikannya membuka sarung tangan, helm, lalu masker yang dari tadi dia kenakan. Aku tidak berkedip sama sekali dan saat wajah itu terpampang di depan mataku, jantung ini semakin tidak terkendali, ada suara hati yang seolah mau meneriakkan sebuah kata.

__ADS_1


"MasyaAllah"


Bersambung....


__ADS_2