RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'

RANIA 'Takdir Tuhan Membuatku Menangis Di Pelaminan'
Pantai Parangtritis


__ADS_3

Malam itu setelah mandi dan ganti baju seperti biasa aku menyalakan radio ku. Semua anak kos sudah hening, sudah pada tidur, termasuk sahabat bawel ku, Via.


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, sambil mendengar lagu cinta dari Ungu yang sedang diputar di radio.


Ku ambil HPku, dan ternyata ada pesan masuk dari Mas Farhan.


"Dek, aku sudah sampe rumah," isi pesannya.


"Alhamdulillah, aku baru selesai mandi," balasku.


Lama tidak ada jawaban, ku pikir mungkin dia sudah tidur. Karena jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 23.30 wib.


Aku masih belum bisa tidur saat itu, aku masih memikirkan ucapan mas Farhan tadi, dan mulai senyum-senyum sendiri. Tapi aku selalu mengingatkan hatiku kembali agar tidak terlalu GR, tidak berangan terlalu jauh. Karena semua ini masih sangat baru.


Saat sedang asik dengan pikiranku, tiba-tiba HPku pun berbunyi. Ternyata itu adalah pesan balasan dari Mas Farhan.


"Jam segini mandi? Apa nggak dingin? nggak takut masuk angin?" tanya Mas Farhan.


"Nggak dingin kok, aku emang biasa gini, kalo habis pergi kemana-mana pulangnya pasti mandi, jam berapapun itu. Karena kalo nggak mandi biasanya nggak bisa tidur,


Mas belum tidur?" balasku.


"Belum, tadi pulang bikin teh panas dulu, terus ngobrol sebentar sama bapak, ini baru masuk kamar."


"Mas, mau nanya boleh?"


"Boleh," jawabnya singkat


"Yang tadi di depan pintu gerbang maksudnya apa ya?" tanyaku ragu-ragu sambil senyum-senyum sendiri di depan HPku.


"Nggak ada maksud, cuma memang apa yang ku harapkan tadi ya kamu," jawabnya.


"Aku? Harapan semacam apa yang berhubungan denganku?" tanyaku lagi penasaran.


"Berharap kamu selalu sehat," jawabnya singkat dan menyelipkan emote senyum di situ.


"Hah? Berharap aku selalu sehat? Kenapa? Lagian aku emang jarang sakit sih," jawabku.


Jawabannya membuatku tidak puas, tidak seperti yang kuharapkan. Please Rania, sudah dibilangin berkali-kali jangan berangan terlalu tinggi!


"Karena masih banyak tempat di Yogya yang harus kamu datangi, jadi kamu harus sehat terus ya dek," katanya.


"Hahaha, ada-ada aja, iya deh," balasku dengan mood yang sudah melayang.


Jawabannya nggak sesuai sama harapanku! Iiisssshhh...


"Karena kalau kamu nggak sehat, aku mau ngajak siapa?" balasnya lagi.


Hah? Jadi dia berencana mengajakku ke tempat-tempat lain di Yogya gtu? Dia mau jalan-jalan sama aku doang gitu? mood ku kembali, dan seketika itu hatiku girang lagi.


"Emang mau diajak kemana aja?" balasku sok kalem. Padahal hati ini sudah bukan berbunga-bunga lagi, sudah berbuah-buah mungkin.


"Minggu kita ke Waduk Sermo mau?" tanya nya.


"Mana itu waduk Sermo? Waduk bukannya bendungan ya? Ngapain ke bendungan?" tanya ku heran.


"Nanti juga kamu liat sendiri, belum pernah kesana kan?"


Jelas belum pernah, aku ini sebenarnya bukan orang yang terlalu suka jalan-jalan. Dulu pun saat masih punya pacar, aku jarang diajak jalan, paling ya ke tempat-tempat yang dekat saja. Itu juga kalau aku memang lagi mood. Karena biasanya aku lebih suka mengeram di kos seharian sambil menikmati novel-novel kesayanganku, diiringi lagu-lagu cinta dari radio.


" Belum, oke deh, manut aja aku nya mau diajak kemana, tidur yuk mas, besok aku ada kuliah, sampai jumpa hari mingu ya," balasku sambil menyelipkan emote senyum.


"Selamat tidur dek, Assalamualaikum," balasnya.


"Waalaikumsalam."


******


Hari minggu yang ditunggu pun tiba, Mas Farhan menjemputku di kos siang itu, kami berangkat menuju Waduk Sermo selepas dzuhur. Perjalanan kali ini cukup santai, jalannya pun tidak terlalu berliku, tidak banyak tanjakkan seperti daerah Wonosari dan sekitarnya. Sesampainya di Waduk Sermo akupun langsung terpesona melihat lokasi itu.


Ini tidak terlihat seperti bendungan kalau menurutku, justru di mataku pemandangannya terlihat seperti danau. Untuk orang yang sedang pacaran rasanya lokasi ini memang pas. Ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati angin yang semilir dan pemandangan yang indah. Ah, tapi yang belum pacaran seperti kami pun bisa menikmatinya. Terimakasih mas Farhan, sudah memperkenalkan tempat seindah ini padaku. Yang belum menjadi pacarmu.


Hubunganku dengan mas Farhan pun berjalan seperti apa yang pernah dia jalani dulu mungkin.


Sering jalan bareng, pergi bareng, berkabar lewat HP, hampir setiap hari SMS dan telepon-an. Saling memberi perhatian, dan mungkin juga sudah mulai timbul rasa sayang. Yang pasti rasa itu sudah ada di hatiku, entah kalau hatinya.


Tapi ya gitu, tidak ada status. Dia tidak pernah menyatakan apapun dalam bentuk kata-kata. Dia tidak pernah membicarakan tentang mau kemana arah hubungan ini. Tapi aku bisa merasakan kalau dia sangat menjagaku, mengkhawatirkanku, perhatian padaku. Banyak hal yang dia lakukan, yang membuat ku selalu merasa ingin tersenyum bahagia, bahkan sempat terbersit di pikiranku, semoga kami tidak akan pernah berpisah. Aku tidak ingin kehilangan dia. Entah sejak kapan aku merasa bahwa dia adalah salah satu hal yang menjadi alasanku untuk selalu bangun pagi dan sehat, agar aku bisa selalu menyapanya dan bisa menemaninya kemanapun dia mau.


Tanpa terasa ternyata perkenalan itu sudah berjalan selama delapan bulan lamanya. Ya, sudah delapan bulan Mas Farhan mengisi hari-hariku. Tidak, bukan cuma hari-hariku, tapi kurasa dia juga sudah mengisi seluruh hatiku.


Ya, aku memang selalu menghitungnya. Aku selalu mengingatnya, semuanya. Dari mulai perkenalan, pertemuan, dan kemana saja kami pergi. Dalam satu bulan pasti ada dua kali hari minggu yang dijadwalkannya untuk mengajakku ketempat-tempat wisata di Yogya. Dari yang dekat, sampai yang jauh, bahkan hampir semua Pantai di Gunung Kidul sudah kami datangi bersama. Kadang hanya berdua, kadang juga bersama Via dan mas Iwan, dan itu sudah beberapa kali.


Tapi satu hal, selama dengan Mas Farhan aku sama sekali tidak pernah diajak ke Mall. Mas Farhan kurang suka dengan Mall, paling mentok kalau mau membeli sesuatu dia akan mengajakku ke Swalayan. Jadi kalau aku lagi pengen ke Mall, Via lah yang setia menemaniku.


Oh ya, kami berkenalan bulan Juni tahun 2009, kami bertemu pertama kali di bulan September tahun 2009.


Bulan Februari 2010 adalah bulan ke delapan perkenalan kami. Selama berhubungan kami tidak pernah merayakan apapun. Ulang tahunku, ulang tahunnya, tahun baru, atau perayaan apapun tidak pernah menjadi moment special bagi kami. Ya, kami sedikit berbeda dengan pasangan yang lain, ketika mereka selalu menunggu dan antusias jika moment-moment tertentu itu datang, kami justru jarang mengingatnya.


Sebentar, pasangan? Sudah bisakah kami disebut sebagai pasangan? Entahlah, terserah yang menafsirkan. Lagian selama perkenalan kami, aku baru ulang tahun satu kali dan itu lewat begitu saja, sementara Mas Farhan, ulang tahunnya sudah lewat satu bulan sebelum kami berkenalan lewat radio itu.


Kami sama-sama orang yang cuek dan tidak begitu peduli dengan hal-hal semacam itu. Apalagi bulan februari yang katanya diperingati sebagai hari kasih sayang, kami tidak tertarik sama sekali. Biarlah orang lain merayakannya, tapi kami nggak.


*******


"Men, aku masuk yah?" suara Via memanggilku dari luar kamar.


"Masuk aja Vi," jawabku.


"Men besok ke Mall Malioboro yuk, temenin aku nyari cokelat," ajaknya.


"Hah? Cokelat? Buat apaan? Kamu valentinan? Sejak kapan?" cecarku.


"Ora yo, kebetulan aja ini kan musim valentine, nah pasti di Mall lagi banyak cokelat lucu-lucu toh, yang nggak selalu ada di hari-hari biasa."


"Lah ya buat apa? Buat siapa? Buat dimakan sendiri? Ngapain kudu cari yang bagus-bagus, di swalayan biasa kan banyak."


"Buat adekku, kan sabtu aku mudik solo, nah dia nitip, katanya cokelat yang ada boneka beruangnya, temenin ya," bujuknya.


"Oalah yo, tak temenin. Mau pergi jam berapa?"


"Jam sepuluhan aja yo, kan besok kita kosong," jawabnya.


Saat itu kami memang sudah mendekati semester akhir, tinggal menggenapi nilai beberapa mata kuliah saja, jadi tidak terlalu banyak kuliah lagi.


******

__ADS_1


Keesokan harinya kamipun pergi ke Mall malioboro, di dalam Mall semua dekorasi sudah bernuansa pink, nuansa cinta katanya. Banyak stand yang menjual cokelat, bunga, boneka, pokoknya semua yang berbau cinta. Jujur saja, akupun gemas melihat semua pernak pernik itu. Mereka semua terlihat sangat lucu.


Setelah berkeliling melihat-lihat di beberapa stand, akhirnya cokelat yang di maksud adeknya Via pun sudah didapatkan, dan setelahnya kami berencana makan di salah satu restoran cepat saji di Mall itu.


"Via," sapa seorang perempuan berhijab yang berpapasan dengan kami saat kami sedang berjalan menuju ke restoran cepat saji.


"Lah, Zahra, kok disini?" tanya Via dengan wajah kaget.


"Iya, udah tiga bulan aku balik sini, sekarang aku jadi guru TK di Sleman," jawabnya to the point.


"Weee kok ndak ngabarin toh. Tau gitu kan bisa ketemuan. Piye sih, lali po piye ro aku (gimana sih, lupakah sama aku)?" tanya Via setengah bergurau.


"Nomer HPku ganti Vi, HPku yo ganti. Yang lama mati total, rusak, jadi semua nomor HP nya ilang."


"Oalah, sini minta nomer barumu. Kapan-kapan bisa janjian, rumpi-rumpi koyo mbiyen (rumpi-rumpi seperti dulu)," kata Via.


Aku pun terdiam melihat dua orang yang seperti nya sudah lama tidak bertemu itu.


"Eh, ini temenku Rania, Ran kenalin ini Zahra," kata Via memperkenalkan kami berdua.


Akupun bersalaman dengan perempuan Jawa yang ayu itu, wajahnya manis, khas perempuan Jawa. Cara bicaranya pun sama seperti Via, agak medhok dan suaranya lembut sekali.


"Sekalian makan bareng kita yuk, dah makan belum kamu Zah?" Via menawarkan Zahra untuk makan bersama kami.


"Monggo Vi, aku masih mau beli sesuatu dulu di toko buku lantai bawah, lagian aku udah makan," jawabnya menolak halus ajakan Via sambil menyelipkan senyum manis di bibirnya.


"Oh yaudah, nanti SMS-an yo, kita berdua mau maem dulu," kata Via sembari berpamitan dengan Zahra.


Aku dan Via pun lanjut ke restoran cepat saji, memesan makanan dan mencari tempat duduk.


"Itu tadi siapa Vi?" tanyaku pada Via saat kami sudah duduk di kursi dan siap menyantap makanan yang sudah kami bawa.


"Oh itu Zahra, temen ku waktu SMA, dia juga asli Solo, terus pas aku kuliah dia kerja di Yogya sini. Dulu dia kerja di salah satu tempat Les di sini, aku lali jenenge, dia ngajarin anak-anak SD gitu. Terus nek nggak salah kurang lebih dua tahun lalu lah dia pindah ke Bogor ikut budhe nya. Eh ternyata sekarang dah balek Yogya lagi, aku malah ndak tau," jelas Via panjang lebar.


"Manis ya, jawa banget, berhijab lagi, keliatan alim gitu," kataku.


"Dulunya dia nggak berhijab, ntah sejak kapan dia berhijab. Memang dari dulu anake kalem, lembut, bapak nya udah ndak ada, jadi dia cuma sama ibu dan adeknya satu, perempuan juga. Lulus SMA dia langsung kerja soale bantu ibunya, dari dulu dia itu pinter banget, makane bisa ngajar," jelas Via padaku.


Aku pun menyimak cerita Via tentang si Zahra ini, dan entah kenapa aku suka sekali melihat wajahnya, menurutku yang seorang perempuan ini, wajahnya itu manis sekali terutama senyummya. Mungkin kalau aku laki-laki aku bisa cinta pada pandangan pertama padanya.


Selesai makan, kami pun langsung pulang ke kos.


Malam harinya seperti biasa aku melanjutkan membaca Novel Mira W. penulis favorit ku. Di jaman itu novel Mira W sering dijadikan sinetron, dan Via adalah salah satu penggemar sinetronnya, sementara aku penggemar novelnya.


Saat aku sedang asyik membaca, tiba-tiba ada pesan masuk ke HPku, ku buka dan ternyata itu adalah SMS dari Mas Farhan.


"Lagi apa dek?" tanyanya.


"Biasa mas, baca novel sambil denger I radio," balasku.


"Bisa ya, matanya kemana, telinganya kemana," ledeknya.


"Haha, kan telinganya cuma buat denger lagu nya mas, jadi ndak disimak pun tetep bisa menikmati," jawabku.


"Besok sibuk ndak?" tanyanya.


"Nggak, kenapa mas?" Aku balik bertanya.


"Nggak papa, besok habis dzuhur tak jemput ya?"


"Liat aja besok," jawabnya, dan itu membuatku penasaran.


"Oke deh, kemana aja asal sama kamu aku mau," jawabku sambil senyum-senyum sendiri.


"Hahaha, bisa aja dek, bikin kangen jadinya."


Hah? Gimana? Kangen? Mas Farhan bilang kangen? Delapan bulan kami kenal, sebulan bisa lima sampai enam kali kami ketemu, dan baru kali ini dia bilang kangen. Sekali lagi, kangen. Ya Allah Rania, kalem raaaan kaleeem.


"Bisa aja mas nya, baru minggu lalu kita ketemu," jawabku sok cool.


"Memang kangen, kangen sama cerianya, senyumnya, dan bengongnya," jawabnya.


"Bengongnya? Kok bengongnya?" balasku saat membaca kata-kata itu sambil mengernyitkan dahi.


"Iya, kan adek sering bengong kalau pas mikir sesuatu atau pas merasakan sesuatu, dan itu lucu menurutku," balasnya.


Demi apa? Demi apa?, aku memeluk erat gulingku, aaahhh senengnya hatiku ini ya Allah. Ketimbang sms gitu doang, aku rasanya udah kayak dilamar. Memang selama mengenalnya aku selalu bereaksi berlebihan atas semua sikap dan kata-katanya, entah kenapa.


Mungkin semua itu karena Mas Farhan bukanlah laki-laki yang romantis, dia bukan tipe laki-laki yang suka berkata-kata, rindu, sayang, kangen, memuji, atau kalimat-kalimat yang biasanya digunakan untuk gombal.


Mas Farhan sama sekali nggak pernah begitu.


Mas Farhan tidak pernah sadar kalau terkadang ada beberapa hal yang dia lakukan, dan menurutku itu romantis. Bukan kata-kata, tapi perbuatan, dan aku mengingat semua itu, sampai hari ini.


Keesokan harinya, aku pun beraktivitas seperti biasa. Membersihkan kamar, nyuci, dan mempersiapkan baju untuk pergi sama Mas Farhan.


"Ran, wes sibuk isuk-isuk ki arep nandi (sudah sibuk pagi-pagi mau kemana)?" tanya Via.


"Nanti abis dzuhur mau diajak jalan sama Mas Farhan Vi," jawabku.


"Enak yo, diajak jalan-jalan terus, aku kapan yo dapet pacar begitu."


"Hushh, dia bukan pacarku," jawabku.


"Lah terus opo? SMS-an tiap hari, telpon, sering ngajak jalan, namanya apa nek dudu pacar (namanya apa kalau bukan pacar)?" tanya nya


"Temen tapi mesra, eh nggak mesra juga ding, biasa aja," jawabku sambil tertawa.


Kami memang tidak pernah bermesraan, selama ini semua hanya sewajarnya. Dia memegang tangaku kalau mau menyebrang atau kalau pas berjalan di tempat yang tidak datar, atau saat membantuku naik motor.


Dia tidak pernah menyentuh fisik ku kalau bukan karena memang ada sesuatu, misalnya menyibakkan rambutku kalau rambutku menutupi mata. Memegang bahuku kalau aku terlihat mau terjatuh, atau memegang tanganku di motor kalau aku merasa pusing. Pokoknya semua sewajarnya saja. Mas Farhan bukan laki-laki kurang ajar yang berani melakukan hal yang aneh-aneh.


Menurutku Mas Farhan adalah laki-laki yang sopan. Dibandingkan laki-laki lain yang suka main sosor, dengan mengandalkan nafsu mereka.


"Kenapa nggak jadian aja sih Ran?" tanya Via.


"Jadian gimana, dia aja nggak pernah menyatakan apa-apa sama aku," jawabku.


"Ya kamu lah yang nyatain, dari pada nanti diduluin orang lain."


Aku pun tertawa mendengar ucapan Via. "Mana ada sejarahnya aku menyatakan cinta ke laki-laki. Nggak mau lah. Nunggu aja aku nya."


"Halah, gengsi mesthi. Nek aku wes tak tembak ket mbiyen. Mbangane ilang (kalau aku sudah aku tembak dari dulu. Daripada hilang)," kata Via.


"Aku sadar diri Vi, aku ini siapa. Cantik nggak, pendek, tembem, halah wes pokoknya kadang aku mikir nggak pantes nek jadi pacarnya Mas Farhan," jawabku.

__ADS_1


"Eehh, cinta itu nggak mandang fisik, kamu juga nggak jelek kok. Putih, mripat sipit koyo chino (mata seperti orang cina), mukamu tu lucu. Jare sopo ndak pantes buat mas Farhan. Malah lucu nek aku suka liat kalian berduaan tuh, kamu keliatan pendek memang nek di sampingnya, tapi malah keliatan imut," cerocos Via.


Aku pun tertawa kembali mendengar celotehnya. "Bisa aja kamu, tapi jujur ya kadang aku nggak PD aja sama diriku. Entahlah, bagiku Mas Farhan kebagusan buat aku."


"Oalah Men Ramen, nanti nyesel loh nek ndak ada kepastian. Kamu nggak punya hak apa-apa atas dia, jadi kalau dia diambil orang nanti jo nanges yo. Wes aku mau ke kamar dulu, mau beberes juga," katanya sambil berlalu ke kamarnya.


Semua kalimat yang diucapkan Via tadi seketika masuk ke dalam pikiranku.


Ada benernya juga sih apa yang dia bilang, tapi masa' iya aku yang nembak? Dih nggak banget, nggak bakalan. Ya kalau diterima, kalau di tolak? Duh, malu lah aku.


Akhirnya pukul 13.00 pun tiba. Mas Farhan pun sudah datang menjemputku, dan kami pun pergi. Entah mau kemana tujuannya saat iti, aku sama sekali tidak bertanya, pokoknya aku ikut saja. Asalkan bersamanya, kemanapun aku mau.


Ternyata dia membawaku ke Pantai Parangtritis. Memang aku sudah beberapa kali kesana, tapi baru kali ini bersama Mas Farhan.


"Kita di sini sampe sore ya, kita tunggu sunset," katanya.


"Oh oke," jawabku singkat.


Kami pun tiba di Parangtritis pukul 14.00, jadi menunggu sunset bukanlah waktu yang lama jika itu bersama Mas Farhan. Ah, aku bisa ajah. Aku selalu merasa bahwa bersamanya adalah hal yang paling menyenangka, selama apapun itu tidak akan terasa.


Selama di sana kami ngobrol banyak hal, dari mulai pekerjaannya, kuliahku, dan banyak lagi. Mas Farhan kerja sebagai Teknisi di salah satu perusahaan kecil di Yogyakarta. Aku lupa namanya, tapi perusahaan itu menjual dan mengadakan barang elektornik untuk hotel, kantor dan sebagainya.


"Dek," mas Farhan memanggil ku. Saat itu kami sedang berjalan di bibir pantai sambil sesekali berhenti dan menikmati tarian ombak.


"Iya," jawabku sambil menoleh ke arahnya, yang saat itu berdiri di sebelahku.


"Ini buat dek rania," ucapnya. Tepat saat langit mulai jingga dia memberikan sesuatu padaku.


"Apa ini?" tanyaku sambil menerima kotak kecil yang dia serahkan.


"Buka aja," jawabnya sambil tersenyum.


Ku buka kotak itu, dan ternyata isinya adalah sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna hijau pekat, terbuat dari besi dan swarovski kawe. Cantik sekali.


"Buat aku?" tanyaku sambil tersenyum.


"Iya, coba pake," katanya.


"Bagus nggak?" tanyaku setelah menyelipkan jepitan itu di bagian rambut sebelah kiriku.


"Cantik," jawabnya sambil tersenyum.


Senyum itu, senyum yang selalu membuatku berdebar. Bahkan sampai hari ini jika aku mengingatnya, jantungku masih sama seperti dulu, berdebar kencang.


"Oke sebentar, aku mimpi apa ya? Kok dikasih hadiah. Ini dalam rangka apa?" tanyaku masih merasa heran dengan sikapnya kali ini.


"Nggak ada dalam rangka apa-apa, cuma pengen ngasih aja, dan beberapa hari lalu aku nggak sengaja liat ini, sepertinya cocok. Jadi aku ambil," jelasnya.


"Kok pas valentine ya, pas hari kasih sayang, ngepasin apa gimana?" Aku pun tertawa menggodanya.


"Bukan karena valentine, sama sekali bukan, kebetulan aja kemaren liat ini. Suka nggak?" tanyanya.


"Banget, suka banget. Terimakasih banyak Mas. Aku pikir untuk hari kasih sayang," gurauku sambil tersenyum.


"Untuk orang yang disayang mungkin," jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku. Dengan kepalanya yang agak dimiringkan.


Kalem rania, jangan lompat disini, nggak lucu! Netralkan jantungmu yang sudah mau berontak itu, tanganmu jangan goyang, pokoknya kalem ran, tahan!


Aku pun menundukkan kepalaku, menyembunyikan mata dan senyumku yang sudah ku tahan dari tadi. Aku terlalu bahagia, tubuh ini pun bereaksi. Andai saja bisa, mungkin aku sudah lompat-lompat saat itu juga.


Kami pun kembali menelusuri pinggir Pantai Parangtritis sambil menghabiskan sunset, tepian pantai itu panjang sekali. Tapi sama sekali nggak ada rasa lelah, hatiku terlalu bahagia, yang lain sudah tidak terasa lagi. Hanya bahagia saja.


Maghrib pun tiba, kami sholat bersama di mushola yang ada di sana. Selesai sholat Mas farhan mengajakku makan.


Hari ini, luar biasa bagiku. Ke tempat sederhana, membicarakan hal yang sederhana, mendapat hadiah yang sederhana namun terasa mewah, dan diberikan oleh orang yang istimewa. Sangat istimewa bagiku.


Akhirnya Mas Farhan mengajakku pulang. Sudah pukul 19.30 wib saat itu, dan sepanjang jalan aku hanya menikmati perasaanku, bahagia, membayangkan semua kejadian tadi, tersenyum tanpa henti. Sampai akhirnya kami pun tiba di kosku.


"Terimakasih Mas atas jalan-jalanya, terutama hadiahnya," ucapku sambil memegang jepit yang masih terpasang di kepalaku.


"Sama-sama, aku suka lihat kamu bahagia," jawabnya sambil senyum.


Huwaaa Rania! Jangan pingsan oke, selow.


Tiba-tiba kegiranganku buyar saat mendengar suara Via dari depan pintu kos, entah dia bicara dengan siapa, aku pun menoleh ke arahnya.


"Ati-ati loh, makasih udah kesini, kapan-kapan kesini lagi. Kita rumpi-rumpi lagi. Weh, itu si Rania dah pulang, Ran," ucap Via sambil menyapaku.


Ku lihat ada Zahra di situ, sepertinya dia dari tadi main di kos dan baru mau pulang. Mereka pun berjalan menuju gerbang kos dimana aku sedang berdiri, dan Mas Farhan masih duduk diatas motornya. Aku pun menyapa Zahra.


"Zahra, kok udah mau pulang? Udah dari tadi po?" tanyaku sambil cipika-cipiki dengannya.


"Njih Ran, kapan-kapan kesini lagi, makasih ya, aku tak pamit dulu," ucapnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti.


Dia melihat ke arah Mas Farhan, dan akupun menoleh ke arah Mas Farhan yang masih duduk di motornya. Ku lihat Mas Farhan membuka maskernya.


"Mas Farhan," ucap Zahra.


Ku lihat matanya tidak berkedip memandang Mas Farhan. Begitupun ku lihat Mas Farhan menatap Zahra seolah ada sesuatu di antara mereka. Aku dan Via pun saling menatap karena merasa heran dengan situasi itu.


"Zahra," ucap mas Farhan.


"Kalian saling kenal?" tanya Via.


Mereka tidak ada yang menjawab. Hanya diam seribu bahasa. Mas Farhan langsung memasang masker dan helm nya.


"Dek rania, mas pulang dulu ya, Vi pulang dulu. Assalamualaikum," ucapnya tanpa menunggu jawaban kami.


Mas Farhan langsung melaju, dan menurutku tidak biasa, karena dia hilang dengan begitu cepatnya.


Sementara itu Zahra masih terdiam , aku dan Via pun masih mmatung merasa heran dengan semua ini.


"Zah, kamu kenal Mas Farhan?" tanya Via mengagetkan Zahra.


"Vi, aku pulang dulu ya, takut kemaleman," jawab Zahra tanpa menjawab pertanyaan Via.


Aku bisa lihat matanya berkaca-kaca, lalu Zahra pun melaju dengan motornya.


Apa ini? Ada apa? Kenapa? Siapa Zahra? Kenapa dia kenal mas Farhan? Kenapa matanya tadi berkaca-kaca. Ada apa?!


Aku hanya bisa berteriak dan bertanya-tanya dalam hati, ada debaran tak biasa yang membuat jantungku terasa sangat tidak nyaman.


Apa semua ini? Baru saja tadi hatiku cerah ceria, kini seolah mendung tak berarah. Aku bertanya-tanya, ada apa?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2