
Bab 1
Brak!
Tubuh Daisy menegang seketika, keringat dingin mulai keluar melalui pori-pori kulitnya. Manik mata gadis itu membulat lebar melihat apa yang baru saja ia saksikan.
Brak!
Sekali lagi suara hantaman terdengar, di depan sana. Ethan duduk manis menyilangkan kaki menyaksikan seorang asistenya tengah memukul dengan stik golf. Memukul tubuh pria yang telah lalai menjalankan tugas dengan sangat fatal.
Suara erangan terdengar, suasana di ruangan itu terasa sangat tegang dan mencekam. Terlebih aura yang Ethan pancarkan lebih gelap dan dingin. Pria tampan bertubuh atletis itu bangkit dari duduknya. Ethan dengan setelan jas mahal berdiri dan berjalan mendekat. Tiga orang anak buah Ethan perlahan menyingkir dari jalannya. Satu orang yang membawa stik golf menyerahkan benda itu saat Ethan menengadahkan tangannya.
Suara langkah kaki Ethan membuat pria yang terbaring berlumur darah di lantai bergerak mundur menyeret tubuhnya.
"Ma- maafkan saya, tuan." Rengek pria malang itu dengan tubuh yang bergetar hebat karena terlalu takut."Ampuni saya, tuan."
Tanpa kata, dengan dingin Ethan mengayunkan tongkat golf nya seolah ia sedang memainkan permainan itu. Ujung tongkat itu tepat mengenai kepala pria malang yang memohon ampun padanya. Hingga pria malang itu tak mampu lagi menegakkan kepalanya.
"Singkirkan!" Suara Ethan terdengar berat dan dingin.
Dua orang anak buahnya bergegas menyeret tubuh pria malang itu. Mata Daisy semakin membulat lebar melihat hal kejam yang baru saja terjadi tepat di depan matanya.
__ADS_1
"Dia... Bukan manusia." Batin Daisy mencengkram kuat kepalan tangan sisi tubuhnya.
Ruangan itu semakin terasa mencekam dan tegang. Aura ketakutan makin terasa di wajah setiap orang yang berada di sana. Para pelayan dan pengawal terlihat tak ada yang berani bergerak dari tempatnya berdiri, termasuk Daisy. Gadis cantik berusia 22tahun itu masih mematung dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Penyiksaan dan teriakan kesakitan terdengar tanpa ada seorangpun yang berani menolong.
Kali ini, ia melihat lagi kebrutalan Ethan menyiksa satu orang anak buahnya yang lain yang turut membuat kesalahan.
"Am-ampuni saya, tuan." Mohon orang yang berikutnya menjadi sasaran kemarahan Ethan.
Ethan tak mengatakan sepatah katapun. Tapi satu gerak ujung jarinya dapat menggerakkan semua anak buahnya untuk menyiksa. Begitulah mengerikannya seorang Ethan. Pria tampan itu memainkan stik golf di tangan. Senyum tipis tersungging di wajah tampannya yang dingin.
Daisy sudah tak tahan lagi, walau ia juga merasakan hal yang sama, takut. Tapi, melihat seseorang mendapatkan penyiksaan di depan matanya, ia tak bisa tinggal diam. Apalagi ini juga menyangkut dirinya.
Gadis cantik yang masih menggenakan dres berwarna biru laut setinggi lututnya, melangkah lebar ke arah Ethan yang melempar stik golf dan berganti mengeluarkan sebuah pistol. Sebelum pria itu menarik pelatuknya, Daisy sudah berada di depan benda itu dan menatap Ethan.
Semua orang di ruangan itu terperangah melihat keberanian Daisy. Untuk pertama kalinya, seorang wanita berdiri depan Ethan dan menyuarakan keberatan atas tindakan pria itu.
Ethan menyeringai, dan itu membuat tangan Daisy gemetar.
"Aku akan menyelesaikan urusanku denganmu nanti. Jadi, gadis kecil, menyingkirkan dari hadapanku." Suara Ethan masih terdengar berat dan dingin."Atau, kau juga ingin timah panas ini menembus kulitmu yang mulus?" Seringainya, semakin membuat siapapun bergidig ngeri.
Daisy masih tak bergerak meski sudah mendapatkan peringatan dari Ethan. Gadis itu masih tetap menatap Ethan dengan matanya yang bertekad meski terlihat ketakutan disana. Ini menarik bagi Ethan, pria berwajah dingin itu tersenyum tipis. Ujung pistol kini berpindah ke wajah Daisy.
__ADS_1
Pupil mata Daisy melebar dan ia berusaha menguasai diri. Ethan yang melihat sekilas rasa takut di mata Daisy tersenyum samar. Pria itu semakin senang dan menarik pemicu nya dengan jempol. Mata Ethan dapat melihat leher Daisy yang berusaha menelan ludahnya, tapi masih tetap bertahan tanpa mau menyingkir dari hadapan.
"Akan tiba giliranmu setelah ini." Ucap Ethan menurunkan pistolnya tapi tetap menatap wajah Daisy.
"Kurung dia di kamarnya." Perintah Ethan pada kepala pelayan wanita yang selama ini berinteraksi dengan Daisy.
Bibi Marta mendekat dan menuntun Daisy untuk menjauh meski wanita cantik itu masih enggan untuk melangkah. "Ayo nona, buat ini mudah untuk saya."
Daisy melihat wajah tua bibi Marta yang tampak memohon. Kakinya enggan melangkah, matanya menatap benci pada Ethan. Tapi, ia sangat sadar akan posisinya. Ia tau jika ia tak menurut maka hanya akan memberi masalah bagi bibi Marta, si pelayan tua yang baik hati. Daisy masih menatap Ethan dengan nyalang sebelum ia melangkah bersama bibi Marta.
Di dalam kamar, Daisy hanya duduk diam. Bibi Marta meninggalkannya setelah mengantar ke ruangan itu. Daisy teringat bagaimana ini bisa terjadi.
Beberapa hari yang lalu, ia sedang bertemu dengan salah satu kliennya di sebuah galeri lukisan. Saat ia berada di basemen, tiba-tiba saja ia disergap oleh kawan pria berbaju hitam yang membiusnya. Saat ia terbangun, ia udah berada di mansion milik Ethan. Meski merasa aneh, Daisy justru mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan ramah. Ia curiga, tapi bibi Marta mengatakan jika Daisy adalah kekasih tuan Ethan, dan mereka harus melayani dengan baik. Daisy sendiri bingung, karena ia bahkan merasa tidak mengenal tuan Ethan. Bebas melakukan apapun, tapi tak boleh menginjakkan kaki keluar mansion.
"Bagaimana ini? Apa yang sebaiknya aku lakukan?" Gumam Daisy pada dirinya sendiri dengan gelisah."Apa yang akan dia lakukan padaku? Apa sebaiknya aku kabur? Atau melihat situasi lebih dulu? Tapi, jelas ia bukan manusia."
Terdengar suara pintu yang dibuka. Di ambang pintu Ethan berdiri, gagah namun terasa dingin dan menakutkan. Pria itu melangkah masuk tanpa kata, semakin menambah jumlah tetesan keringat ditubuh Daisy. Wanita cantik yang menunggu di kamarnya. Aura yang Ethan pancarkan membuat Daisy meneguk ludahnya. Sangat menyeramkan.
'Sekarang, sudah tidak mungkin untuk kabur.' batin Daisy.
"Nona kecil, apa yang membuatmu begitu berani menentang ku?" Ethan terus mendekat.
__ADS_1
Daisy masih diam, sorot matanya masih terus melihat ke arah Ethan. Memindai pria itu dengan sangat hati-hati. Ini pertama kalinya ia melihat dan bertemu dengan Ethan.
"Apa kamu kehilangan mulut untuk berucap, nona kecil?"