
Berada di dalam mobil membatasi gerak Daisy. Ditambah ia memakai gaun yang semakin membuat Daisy kesulitan bergerak. Tangannya langsung terangkat begitu Ethan sudah selesai dengan aktivitasnya. Namun, tangan itu dengan cepat di tangkap oleh Ethan sebelum sempat mendarat di wajahnya. Tatapan tajam langsung terarah pada pria itu.
"Anggap ini sebagai latihan. Ingat, kita adalah sepasang kekasih. Bersikaplah yang wajah dan natural."
Daisy mendengus kesal sambil menarik tangannya. Keduanya keluar dari mobil dan berjalan beriringan menuju restoran. Daisy merangkul lengan Ethan untuk menyempurnakan perannya. Ia masih sangat ingat dengan perjanjian mereka tempo hari.
Di dalam restoran mereka menyapa pasangan relasi Ethan. Calon clien Ethan nanti. Yang laki-laki orang kulit putih, sementara istrinya orang Cina. Mereka makan malam sambil berbincang ringan.
"Selama ini saya selalu penasaran siapa wanita beruntung yang menjadi kekasih tuan Ethan. Tidak menyangka, rupanya gadis secantik ini." Puji, Miss Liu.
"Aaahh, nyonya Liu, anda terlalu memuji. Saya hanya gadis biasa dengan darah campuran. Kebetulan, kakek saya dari yang-nam." Sahut Daisy,
"Yang-nam?"
Daisy mengangguk.
"Benarkah?" Nyonya Liu antusias.
"Iya, sampai seusia ini saya baru dua kali kesana. Ditempat kelahiran kakekku, di sana ada sungai yang sangat jernih dan segar. Setiap musim panas sekalipun tidak pernah kering. Tapi sejuk saat musim dingin." Terang Daisy,"aaahh, apa ya nama sungai itu..." Sambil mengetuk keningnya dengan jari sambil mengingat-ingat.
__ADS_1
"Sungai Yan-an?" Tebak nyonya Liu.
"Iya benar, sungai Yan-an,"sahut Daisy antusias,"eh, bagaimana nyonya bisa tau?" Tanya Daisy heran.
Nyonya Liu tertawa kecil, "tentu saja aku tau, aku juga dari sana." Ungkap nyonya Liu.
"Benarkah?" Daisy semakin tampak antusias dan bersemangat. Kedua wanita itu terus berbincang tentang tanah Yan-an yang terpencil namun sangat indah. Hingga lupa dengan keberadaan Ethan dan tuan Samuel.
"Sepertinya, kita tidak punya dialog apapun di sini, tuan Ethan." Celetuk tuan Samuel berkelekar karrna sedari tadi hanya perbincangan antara Daisy dan nyonya Liu saja.
"Benar, mereka sudah mengambil semuanya." Sahut Ethan melirik kedua wanita yang justru tertawa mendengar sindiran dua pria beda generasi itu.
"Dance?"
Daisy mengalihkan pandangan pada nyonya Liu dan Samuel. Keduanya mengangguk pertanda tidak keberatan. "Silahkan, kami masih ingin di sini. Nanti menyusul." Ucap Nyonya Liu mengulas senyum.
Daisy kembali memandang Ethan yang masih mengulurkan tangannya. Ia pun masih ingat dengan kesepakatan mereka untuk berakting sebagai pasangan. Karena itulah, Daisy akhirnya menyambut tangan itu dan berjalan bersama ke lantai dansa.
"Untung saja kamu menyambutnya, jika menolak, bisa kupastikan kau sampai di neraka jalur ekspres." Ucap Ethan pelan agar tak terdengar oleh Sam dan Liu.
__ADS_1
"Terima kasih, akan aku ingat itu." Sahut Daisy.
Di lantai dansa, Ethan dan Daisy berdansa selayaknya pasangan yang serasi. Berputar dan saling menempel, menatap dengan sangat intens meski pembicaraan mereka tidak seromantis yang terlihat.
"Sepertinya aku cukup berhasil mengambil hati nyonya Liu."
"Jangan berbesar diri, hasilnya baru akan terlihat setelah makan malam." Ujar Ethan mengusap ke bawah punggung Daisy yang terbuka.
"Tuan Ethan, tolong kondisikan tanganmu." Jujur saja apa yang Ethan lakukan membuat Daisy merinding dan bereaksi sebagai wanita normal. Tangan Ethan berhenti di pinggang Daisy dan memeluk lebih erat. Daisy langsung menatapnya tajam.
"Ingat, sayang, kita adalah pasangan. Kau harus lihat mereka sedang melihat ke arah kita."
Daisy melirik ke arah Sam dan Liu duduk, memang mereka sedang memperhatikan dirinya dan Ethan. Untuk memperlihatkan aktingnya sebagai pasangan Ethan, Daisy menggeser tangannya dari lengan ke atas dan mengalung ke leher Ethan. Tangan itu memeluk kepala Ethan hingga wajah Ethan tenggelam di ceruk lehernya. Daisy memejamkan matanya tanpa ia sadari. Semua mengalir begitu saja, tak berbeda dengan Ethan yang menghirup dalam aroma tubuh Daisy.
"Dia wangi sekali." Gumam Ethan dalam hati. Ia semakin mengenggelamkan wajahnya di sana. Perlahan bibirnya mengecup ringan di sana. Membawa sensasi lain yang bergelayar ditubuh Daisy. Satu sesapan panjang menyadarkan Daisy segera. Ia sedikit mendorong tubuh Ethan hingga wajah itu terangkat dan menatapnya sayu. Kedua tangan Ethan masih melingkar memeluk tubuh Daisy.
"Sebaiknya kita kembali saja." Usul Daisy mengurai pelukan Ethan.
"Ide bagus." Ethan memang menerima usul Daisy, tapi matanya melirik tanda merah yang udah dia buat di pangkal leher Daisy.
__ADS_1
Ethan emang mengikuti langkah Daisy, tapi itu bukan berarti ia akan melepaskan begitu saja. Jika tidak sekarang, pasti nanti. Daisy sudah dengan sengaja membangkitkan gairah liar Ethan.